Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Sesuatu Yang Tidak Ingin Diungkapkan


__ADS_3

Radit sudah tahu hal ini pasti akan diketahui oleh Widya suatu saat nanti, hanya saja ia tak mengira kalau istrinya ini sudah mengetahuinya dari malam kemarin. Apa yang harus dilakukannya sekarang, pembicaraannya dengan Pak Sugeng terlalu memalukan untuk ia katakan dengan mulutnya sendiri.


Jika saja Radit tahu akan disergap oleh Widya seperti ini, lebih baik ia tadi mandi dulu saja. Pertanyaan ini, entah mengapa membuat sekujur tubuhnya gatal, seperti dikerubungi segerombolan semut yang menemukan sebutir gula untuk mereka lahap.


Melirik ke kanan dan ke kiri, bahkan mendongak memandang langit rumahnya, Radit berharap ada sesuatu yang bisa menyelamatkannya dari sergapan istrinya yang sekarang sedang memegang pipinya dan memaksa dirinya menatap matanya. Wajah mereka begitu dekat karena istrinya menurunkan kepalanya agar mata mereka sejajar. Punggungnya terasa pegal dengan posisi yang sangat canggung ini.


Menarik kepalanya menjauh, Radit perlahan melepaskan kedua tangan Widya dari wajahnya. Ia berdeham, tenggorokkannya tiba-tiba saja terasa begitu kering, mungkin ia butuh minum. Mencoba mengambil langkah keluar kamar, rentangan tangan Widya yang langsung berdiri menghalangi jalannya menghentikan langkahnya.


Radit menurunkan kembali kedua tangan Widya yang direntangkan ke sisi tubuhnya. "Aku perlu minum," ucap Radit singkat. Perlahan ia melewati istrinya, yang tentu saja dihentikan istrinya dengan menarik tangannya agar menghadap padanya lagi.


Mata mereka berdua terkunci. "Aku butuh jawabannya sekarang, Radit. Jangan banyak alasan," kesalnya, melemparkan tatapan menusuk seperti sebuah panah yang ditancapkan pada sasarannya. "Sebenarnya apa yamg kalian bicarakan hingga membuatmu menghindar begini. Apa kamu tahu, aku sudah pegal mendongakkan kepalaku agar bisa menatap wajahmu. Jadi, bisakah kamu menundukkan kepalamu itu sedikit saja supaya leher cantikku ini nggak keseleo?" omelnya panjang lebar, menggerakkan tangannya ke sana kemari menunjukkan rasa jengkelnya.


Berjalan ke arah meja kecil di samping tempat tidurnya, Radit membuka laci mejanya kemudian mengambil sebuah botol kecil dari sana. Ia menghampiri Widya yang berdiri menunggunya di dekat pintu sembari memiringkan kepalanya heran dengan apa yang dilakukannya.


Menarik sebelah tangannya, Radit meletakkan botol kecil itu di telapak tangannya.


Menjepitkan kedua jemarinya di bagian atas kepala tutup botol, Widya menggoyangkan botol itu. "Apa ini?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Obat kuat," jawab Radit pelan.


"Apa?"


"Obat kuat. Kamu tahulah, itu lho buat..." Berdeham lagi, ia melanjutkan penjelasannya, "stamina di...." Ia memberi isyarat ke arah ranjang dengan kibasan cepat tangannya.


Mengedipkan matanya, Widya terlihat masih mencerna penjelasannya di kepalanya. "Apa? Sta...." Membelalakkan matanya, akhirnya dia mulai paham. Dilemparnya botol itu ngeri seolah baru saja memegang bom di tangannya.


Beruntunglah mereka berdua karena Radit mempunyai refleks cepat, jadi sebelum botol kecil itu melayang jatuh ke lantai, ia sudah menangkapnya dengan kecepatan yang sangat menakjubkan. Ia begitu bangga dengan dirinya.


"Bukan salahku! Ini salahmu menyimpan botol se-se...." Mengipasi dirinya yang tiba-tiba merasa gerah, Widya tidak sanggup menyelesaikan ucapannya.


"Se-se, apa? Aku nggak pernah bermaksud menyimpannya."


"Kalau begitu, kenapa botol itu ada di laci mejamu, kalau kamu nggak bermaksud menyimpannya?" Sebelum Radit sempat menjawab, Widya menjawab pertanyaannya sendiri, "Ah-ha, aku tahu! Kamu bermaksud meminumnya, bukan?" tuduhnya, menyipitkan matanya curiga.


Tersentak oleh tuduhan itu, Radit menggeleng tak percaya. "Jangan bodoh! Sedetik pun aku tak pernah memikirkan hal itu."

__ADS_1


"Kalau ucapanmu itu memang benar adanya, seharusnya kamu membuangnya!" seru Widya, terlihat sama geramnya dengan dirinya.


"Aku nggak seperti dirimu yang bisa membuang pemberian seseorang tanpa merasa bersalah."


Tersenyum mencibir, Widya membungkukkan badan sambil menyentuh dadanya. "Maafkan istrimu yang kasar ini, Suamiku. Selama sesaat istrimu yang hina ini lupa kalau dirimu sangatlah berbudi luhur." Berdiri tegap kembali, kilatan mengejek di bola matanya menghujam Radit.


Menjepit dagu Widya di kedua jemarinya, Radit menatapnya geram. "Jangan mengejekku! Aku nggak tahu apa yang akan kulakukan padamu jika kesabaranku sudah habis."


"Silakan, lakukan apa saja yang kamu inginkan. Aku ingin melihat seperti apa dirimu saat kesabaranmu itu habis," sahutnya menantang, tatapannya begitu kukuh tak tergoyahkan sedikit pun dengan gertakan Radit. "Atau mungkin kamu akan menamparku, kalau begitu lakukan! Aku nggak takut."


Menatap tak percaya melihat kedua mata Widya tertutup menunggu tamparan darinya, ia memaki dalam hati. Istri pembangkangnya ini benar-benar membuatnya kewalahan, ia tak habis pikir bisa-bisanya Widya menganggap dirinya begitu hina seperti ini. Seburuk apa pun sikap Widya padanya, tak pernah terbesit sekalipun dalam pikirannya untuk menyakitinya, apalagi melukainya secara fisik.


Ada satu hal yang pasti akan membuat istrinya yang begitu angkuh ini bungkam. Mendekatkan bibirnya di telinga Widya, ia merendahkan suaranya. "Aku nggak serendah itu, Istri Mungilku. Satu-satunya hal yang ingin kulakukan pada dirimu saat ini hanya satu, yaitu membungkam mulut pedasmu itu dengan bibirku."


Seperti yang diduganya, istri pembangkangnya tersentak mundur, wajahnya bersemu merah hingga ke telinganya. Mundur beberapa langkah, dia melemparkan tatapan tercengang kepada Radit.


Sikap percaya dirinya yang begitu angkuh tadi kini telah tergantikan dengan sikap waspada. Bahkan dia memalingkan wajahnya, seolah tak sanggup menatap mata Radit begitu berani seperti tadi. Sekarang ia akan menunggu, apa kiranya yang akan keluar dari mulut pedas istrinya ini untuk membalas pengakuan mengejutkannya tadi.

__ADS_1


__ADS_2