
Dalam ruang tamunya, seperti biasanya, Widya sedang bersama kedua temannya. Mereka bertiga sedang bercanda ria membahas berbagai macam hal termasuk perkelahiannya dengan kedua perempuan ular berbisa yang ditemuinya belum lama ini. Berkat itulah sekarang ia mengetahui kedua nama perempuan itu dan ternyata bukan dia saja yang pernah jadi korban penindasan kedua perempuan itu.
Dengan menggebu-gebu, Mila mengungkapkan rasa amarahnya saat dirinya dulu sering dijadikan target pelampiasan kekesalan kedua perempuan itu. Rasa iri mereka terhadap Mila yang berteman dekat dengan Radit membuat keduanya menjadikan Mila sebagai musuh bebuyutan. Namun, karena Mila saat itu masih terlalu muda, dia tidak pernah berani untuk melawan. Dia hanya terdiam membisu saja mendengarkan berbagai macam hinaan yang dilontarkan padanya, layaknya orang bodoh, seperti itulah Mila menjuluki dirinya sendiri.
"Nggak heran sih mereka gitu, sudah sejak lama si jangkung Tika itu menyukai Bang Radit, tapi sayangnya Bang Radit nggak pernah menggubris pendekatannya," ucap Ririn, tertawa kecil.
"Untuk apa juga Radit menggubris kutil kuda itu, hanya membuang-buang waktu," cibir Widya, mengerucutkan bibirnya.
Kedua temannya tertawa keras mendengarkan sebutan yang digunakan Widya untuk menyebut Tika.
"Perumpamaanmu terdengar begutu sadis, Wid," tawa Mila.
"Memang benar, kan?" senyum Widya, tidak merasa bersalah.
"Aneh juga sih si kutil kuda itu," ujar Ririn, mengikuti sebutan yang diberikan Widya, "jelas-jelas Bang Radit nggak tertarik padanya, tapi masih aja ngotot dekatin. Ah, iya, dulu waktu Bang Radit sudah pacaran dengan Kak Nad...."
Tiba-tiba Ririn menghentikan ucapannya saat sadar hampir saja kelepasan membicarakan soal mantan Radit itu lagi di depan Widya. Mengipasi dirinya, Ririn beranjak berdiri dari tempat duduknya kemudian berpamitan pergi untuk pulang ke rumahnya.
"Aku baru ingat, ada beberapa hal yang harus kupelajari hari ini." Dengan terburu-buru, Ririn berjalan keluar dari rumah Widya.
"Sungguh alasan yang sangat lemah," decak Widya, menggelengkan kepalanya.
Tidak berapa lama setelah kepergian Ririn dari rumahnya, Mila juga berpamitan pada Widya. Dia berkata bahwa sekarang adalah waktunya membantu ibunya menyiapkan makan siang untuk ayahnya. Melambaikan tangan pada temannya itu, Widya segera masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap merencanakan aksinya. Semoga saja keberutungan memihak padanya, doa Widya dalam benaknya.
***
Memicingkan matanya, Widya melihat kedua targetnya berada tak jauh darinya. Ternyata dewi keberuntungan sedang berpihak padanya, di sekitarnya terlihat begitu sunyi, persis seperti yang diinginkannya. Sekarang yang harus dilakukannya adalah melancarkan aksinya yang sudah dipersiapkannya sejak beberapa hari lalu.
Tersenyum miring, Widya berjalan perlahan mendekati kedua mangsanya. Sepertinya kedua mangsanya itu belum menyadari kalau ia berjalan mengikuti mereka dari belakang. Keduanya terlihat begitu larut dengan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Oy, Tika-Tiki!" panggil Widya lantang, tidak bisa menunggu lebih lama lagi menunggu kesadaran mereka.
Menolehkan kepalanya dari balik bahunya secara bersamaan, keduanya saling bertukar pandang kebingungan saat menyadari kalau Widya yang memanggil mereka.
"Apa kamu memanggil kami?" tanya Tika menunjuk dirinya.
"Memangnya ada siapa lagi di sini, selain kalian berdua?" tanya Widya balik, menyilangkan kedua tangannya.
"Oy, perempuan gila, namaku Nita, bukan Tiki," celetuk Nita, memberengut kesal pada Widya.
Mengangkat bahunya tak peduli, Widya tersenyum kecil. "Sama saja, kan? Kalian berdua ini kan dua sejoli yang nggak bisa dipisahkan, jadi apa salahnya kalau aku memanggil kalian dengan sebutan 'Tika-Tiki'?"
"Wah, ini orang ngajak ribut," ucap Tika, merenggangkan tubuhnya, bersiap mengajak Widya berkelahi.
Berjalan mendekat, dia melotot marah pada Widya. Sebelum dia melakukan sesuatu, tangan Nita terulur menghentikannya.
Menoleh pada temannya, Tika tersenyum picik. "Oh, iya, kamu benar, Ta. Setelah bertengkar dengan kita waktu itu 'kan, dia kena semprot oleh Radit di rumahnya."
"Astaga! Apa kalian belum mendengarnya?" seru Widya, memasang ekspresi kaget. "Aku sudah berbaikan dengan Radit kemarin malam, bahkan aku sangat berterima kasih pada kalian. Berkat kalian aku bisa berlibur ke kota, sungguh hadiah yang tak terbayangkan atas penyesalan suamiku tercinta."
Menyentuh dadanya dengan gaya dramatis, Widya mendesah begitu berlebihan. Menyapu pelan bahu Tika, seolah-olah ada debu di sana, Widya melengkungkan senyuman cerah.
"Kalian nggak tahu betapa beruntungnya aku memiliki kalian sebagai jalanku pergi dari desa penggosip ini," ujar Widya riang.
Menepis kasar tangan Widya dari bahunya, Tika menyodok pelan bahu Widya dengan jari telunjuknya. Saat itu juga Widya melancarkan aksinya, ia sengaja terjatuh terjungkal ke belakang sambil menjerit keras, yang membuat kedua perempuan itu begitu panik atas teriakan tak terduga itu. Mengerang kesakitan, Widya membersihkan pasir dari sikunya seraya menahan isak tangis.
"Apa yang kamu lakukan? Aku nggak mendorongmu sekeras itu," desis Tika panik.
"Sedang apa kamu di sana, cepat berdiri! Berhentilah melakukan pertunjukan konyol," hardik Nita, memaksa Widya untuk berdiri.
__ADS_1
Tindakannya itu hanya membuat Widya semakin menjerit keras. Tentunya, kali ini jeritannya telah memanggil begitu banyak penonton, yang sudah mengerubungi mereka bertiga seperti ngengat. Menyembuyikan senyuman liciknya, Widya menyapu air mata pura-puranya dari sudut matanya.
"Kenapa kalian melakukan ini padaku? Aku kan cuma ingin berbicara pada kalian saja, tapi kenapa kalian malah mendorongku seperti itu?" tangis Widya, menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
"Dia berbohong! Kami nggak mendorongnya," elak Nita.
"Itu benar, perempuan gila ini memfitnah kami berdua! Padahal aku tadi cuma mendorongnya pelan...." Tika menutup mulutnya dengan kedua tangan, terkejut dirinya mengungkapkan fakta kalau dia memang mendorong Widya. "Nggak, bukan begitu! Aku bisa menjelaskannya."
Suara paniknya terdengar begitu menyenangkan di telinga Widya, yang mendengarkannya dengan keadaan wajahnya tertutup oleh kedua tangannya. Semua orang di sana tidak akan tahu kalau saat ini, ia sedang tersenyum begitu lebarnya dalam tangannya. Lalu berbagai macam cibiran mulai terdengar jelas di sekitarnya saat semua orang mencela tindakan Tika yang sudah mendorongnya terjatuh.
"Kalian jangan percaya omongan perempuan gila ini!" seru Tika dengan nada melengking tinggi. "Dia ini sakit jiwa!"
"Siapa yang kamu sebut 'sakit jiwa'?" tanya sebuah suara berat di antara kerumunan.
Mengintip dari celah jemarinya, Widya merasakan bulu kuduknya meremang saat melihat Radit menyeruak masuk dari antara orang-orang yang berkerumun. Mati aku! Dia akan sadar kalau saat ini aku cuma sedang berakting. Entah mengapa suaminya itu selalu tahu ketika ia sedang berbohong. Sial! Kenapa dia harus muncul di saat yang nggak kuinginkan seperti ini. Habislah sudah riwayatnya kalau Radit mengungkapkan sandiwara yang sedang dilakukannya saat ini, pikir Widya muram.
Oh, tunggu dulu! Radit tidaklah sebodoh itu, dia tidak mungkin mempermalukan istrinya sendiri di depan orang banyak seperti ini. Namun, mengingat sifatnya yang selalu mengutamakan kebenaran, Widya tidak bisa menjaminnya. Ia benar-benar tidak bisa menebaknya. Tidak ingin mengambil risiko besar ketahuan sedang bersandiwara, ia berusaha keras menahan tangannya sekuat tenaga menutup wajahnya dari tarikan Radit pada pergelangan tangannya.
"Widya, apa kamu baik-baik saja?" Suara khawatir Radit terdengar begitu jelas di samping Widya. "Kenapa kamu nggak mau melepaskan tanganmu dari wajahmu, apa mereka berdua melakukan sesuatu pada wajahmu?"
"Sudah aku bilang perempuan gila itu sedang berakting! Lihat saja caranya menyembunyikan wajahnya seperti itu, pasti sekarang ini dia sedang mentertawakan kami," hardik Tika, berseru lantang.
"Bisakah kamu berhenti mengatai istriku sebagai perempuan gila?" ujar Radit dingin. "Widya, lihat aku!"
Menurunkan tangannya perlahan dari wajahnya, Widya menghindari tatapan tajam Radit padanya. Jantungnya berdegup kencang di bawah pengawasan Radit yang menatapnya penuh selidik. Jemarinya tiba-tiba menangkup dagu Widya, lalu mendongakkan kepala Widya menghadapnya. Kedua matanya menghujam tajam pada Widya.
Widya sangat berharap kalau saat ini matanya terlihat kemerahan, seperti orang yang habis menangis.
Oh, Tuhan. Kumohon, bantu aku kali ini saja.
__ADS_1