Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Tindakan Tak Terduga


__ADS_3

Menyesap teh hangat dari cangkirnya, Widya mendengarkan suara seseorang membuka pintu rumahnya. Melirik ke arah jam dinding di atas lemari televisinya, ia bingung dengan kepulangan Radit yang begitu cepat.


Apa ada yang tertinggal?


Tetap duduk di tempatnya, ia melihat Radit berjalan menyusuri koridor sambil menenteng berbagai macam bungkusan plastik di kedua tangannya. Dari tatapan matanya yang melihat ke arah Widya, ia menyadari jika suaminya itu sama terkejutnya dengan dirinya. Mungkin dia heran mendapati Widya sudah bangun tidur lebih cepat dari biasanya pagi itu.


Mencium sesuatu yang amis, Widya segera tahu kalau Radit baru saja pulang dari acara berbelanjanya di pasar. Kemarin malam ia mengetahui jika stok lauk mereka telah habis di dalam kulkas. Mungkin karena itulah Radit hari ini pergi ke pasar dahulu sebelum berangkat kerja, pikir Widya dalam benaknya. Apalagi saat terbangun tadi, Widya agak bingung tidak melihat makanan di atas meja makan, tetapi waktu itu ia menduga kalau Radit agak melandau jadi memutuskan tidak memasak.


"Apa kamu akan tetap duduk saja di sana sambil menyeduh tehmu itu tanpa ada pikiran membantu suamimu ini membawa bahan belanjaan?" sindir Radit menaikkan sebelah alisnya sambil mengangkat bungkusan plastik di kedua tangannya.


"Tenagamu sudah lebih dari cukup membawa barang belanjaan itu seorang diri, jangan manja." Mengalihkan perhatiannya kembali ke acara televisi yang sedang ditontonnya, Widya mengabaikan tatapan tajam menusuk yang dilemparkan Radit kepadanya.


"Yang manja di sini sebenarnya siapa? Siapa pun yang melihat, pasti tahu kalau yang manja itu kamu," gerutu Radit, berderap menuju ke arah dapur.


Menahan senyumnya, Widya pura-pura tidak mendengarkan gerutuan suaminya itu. Sebenarnya ia sangat bersyukur memiliki suami seperti Radit, yang mau belanja seorang diri ke pasar dan tidak pernah memaksanya untuk ikut bersamanya. Dan ia pun sangat mengetahui apa penyebab Radit tidak pernah mengajaknya pergi ke sana.


Sungguh suami yang penuh pengertian.


Mematikan televisi, Widya segera beranjak dari tempat duduknya untuk membantu Radit menyusun bahan belanjaannya. Mereka berdua segera berbagi tugas. Radit menyiapkan bahan untuk memasak, sedangkan Widya membersihkan sampah yang berceceran serta mencuci peralatan yang habis dipakai Radit memasak.

__ADS_1


∞ ∞


Selesai makan, Radit segera bersiap berangkat kerja. Namun, sebelum pergi dia membantu Widya mengganti perbannya terlebih dahulu. Selama melakukan itu, Radit terlalu fokus dengan tugasnya membuka perban Widya secara hati-hati hingga dia tidak ada keinginan untuk memulai pembicaraan. Oleh sebab itu, Widya berinisiatif mengajak Radit berbincang untuk mengisi keheningan di antara mereka berdua.


"Kemarin karena kamu pulang agak malam setelah pertemuanmu dengan ayahmu, aku jadi nggak bisa membahas pertengkaranmu dan Bu Leni. Aku dengar kalian bertengkar karena kamu membelaku, ya? Cieee," goda Widya menyenggol bahu Radit.


"Jangan besar kepala dulu. Aku nggak membelamu, aku cuma nggak bisa menahan diri lagi dari ocehan Bu Leni yang menyebalkan itu," jawab Radit datar.


"Oh, begitu. Aku rasa itu nggak benar," balas Widya skeptis.


"Percayailah apa yang ingin kamu percayai, aku nggak peduli," ucap Radit tak acuh. "Nah, selesai sudah! Mana bayaranku?" pintanya seraya mengulurkan tangan mengharapkan sesuatu dari Widya.


"Walaupun kamu nggak pernah memintanya, tapi sebagai seorang istri yang baik, alangkah baiknya jika membalas kebaikan suamimu ini tanpa diminta, wahai Istriku Sayang," ujar Radit, tersenyum mengejek.


"Sayangnya, istrimu ini bukanlah istri yang baik seperti yang kamu bayangkan, wahai Suami Pengkhayalku," balas Widya, tersenyum masam.


Bukannya merasa kesal, Radit malah senang oleh balasan Widya terhadap sindirannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman gembira.


"Baiklah, aku sudah menduganya. Kalau begitu, antarkan suami tercintamu ini sampai depan pintu," ajaknya, menarik Widya berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Hmph! Tercinta, apanya," cebik Widya, membiarkan Radit menggiringnya sampai depan pintu rumah mereka.


Melepaskan tangan Widya dari genggamannya, Radit berdiri tegap menghadapnya sambil merentangkan tangannya meminta pelukan dari Widya sebelum pergi bekerja. Jengkel digoda terus-menerus, Widya memutar balik badan Radit menghadap pintu, dan menyuruhnya segera pergi.


Menolehkan kepalanya dari balik bahu, Radit memasang ekspresi kecewa. "Hanya pelukan, apa susahnya?"


"Jangan menggodaku terus, sana kerja!" Dorongnya sekuat tenaga pada tubuh Radit yang tetap bergeming di tempatnya berdiri. "Astaga! Apa yang kamu lakukan?" Mengacak pinggangnnya, Widya mendelik marah kepada Radit yang membalikkan badan menghadapnya.


Tanpa merasa bersalah, Radit tersenyum lebar padanya. "Aku baru ingat kamu berhutang sesuatu padaku." Wajahnya mengerut kesakitan seraya menunjukkan bekas gigitan Widya di lengannya kemarin. "Setidaknya aku pantas mendapatkan ciuman darimu atas gigitan beringasmu kemarin."


"Omong kosong macam apa yang keluar dari mulutmu itu? Ciuman, apa kamu gila!" cetus Widya terperangah.


"Aku mengerti." Angguknya paham. "Karena kamu nggak ingin memberikan ciuman padaku, kalau begitu, aku saja yang menciummu."


Sama cepatnya seperti ucapan yang begitu tiba-tiba itu, Radit segera mengecup pipi Widya sebelum dirinya sempat menberikan respon. Menyengir puas, Radit berbalik meninggalkan Widya—yang terdiam membeku di tempatnya—sambil bersiul riang.


Melongo menatap pintu yang menutup di hadapannya, Widya memegang pipinya yang tadi dikecup oleh Radit. Dirasakannya kedua pipinya menghangat, menggeleng-gelengkan kepalanya, Widya menyadarkan dirinya dari rasa terkejutnya. Suaranya tersendat di tenggorokkannya, tidak mampu mengeluarkan suara sekecil apa pun.


Ini gila! Si Barbar itu baru saja menciumku! Apa dia menyukaiku? Nggak mungkin! Kami saling nggak menyukai satu sama lain. Apa mungkin dia melakukan itu untuk menggodaku lagi?

__ADS_1


Begitu banyak berbagai macam dugaan berkecamuk dalam kepalanya, dan semua dugaan itu hanya membuat Widya semakin merasa wajahnya kian memanas. Diputuskannya untuk melupakan kejadian itu, ia tidak ingin Radit mengetahui tindakannya mengecup pipinya telah membuat ia menjadi linglung.


__ADS_2