
Satu jam yang lalu..
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 22.20 WIB. Tidak seperti biasanya Radit pulang terlambat dari tugas meronda yang sering dilakukannya ketika gilirannya berjaga tiba. Beranjak dari tempat duduknya, Pak Benny berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Berpikir apa yang akan dilakukannya. Apa ia harus pergi ke pos ronda untuk memastikan Radit ada di sana atau menunggu sebentar lagi. Mungkin saja saat ini Radit sedang asyik mengobrol dengan orang yang bertugas ronda malam dengannya.
Perasaan tidak enak yang dirasakan Pak Benny saat Radit berpamitan beberapa jam lalu sangat mengganggunya. Makanya, ia menunggu di ruang tamu menunggu kepulangan anak lelakinya tersebut. Takut sesuatu terjadi pada Radit di luar sana, Pak Benny bersiap-siap pergi mencari anaknya.
Setelah sampai di pos ronda, Pak Benny tidak melihat anaknya berada di sana. Menanyakan keberadaan anaknya kepada 3 orang yang sedang asyik bermain kartu di pos ronda, jawaban yang didapatkan Pak Benny hanya membuatnya semakin khawatir. Mereka semua mengira kalau Radit sudah pulang setengah jam yang lalu.
“Bukankah tadi kamu bilang begitu, Ton?” tuding Japri pada teman di sebelahnya.
“Iya nih. Tadi kamu bilang melihatnya sudah pulang, 'kan?” timpal Kemal, ikut menuding Toni juga.
“Aku nggak bilang begitu. Aku tadi cuma bilang, mungkin saja Radit sudah pulang ke rumahnya,” jelas Toni, tidak terima dituduh kedua temannya. “Bukankah seharusnya tadi kamu bertugas menggantikan Radit keliling desa, Pri? Kenapa kamu masih di sini?” Toni menyudutkan Japri, jelas tidak ingin disalahkan atas hilangnya Radit seorang diri saja.
Mengangguk setuju, Kemal sekarang beralih menuding Toni. “Benar juga tuh. Coba tadi kamu sudah berkeliling desa, mungkin saja kamu bertemu Radit atau melihat sesuatu yang aneh.”
Lalu ketiganya mulai berdebat siapa yang salah dan tidak. Bukan ini yang diinginkan Pak Benny saat bertanya tentang keberadaan anaknya. Pak Benny mencoba melerai perdebatan sengit tiga sekawan itu.
“Sudah, sudah. Ini bukan saatnya kalian saling menyalahkan satu sama lain. Sebaiknya kalian bertiga bantu Bapak mencari Radit.”
__ADS_1
“Baik, Pak Kades!” sahut semuanya serempak.
Saling menggepak satu sama lain, ketiganya segera bersiap membantu Pak Benny mencari Radit. Semuanya berpencar untuk mencari ke semua tempat yang mereka tahu. Untuk mempercepat pencarian, mereka meminta bantuan banyak orang yang masih belum tidur malam itu.
Beberapa orang ada yang menyarankan untuk membunyikan pentungan, Pak Benny langsung melarangnya. Karena ia tidak ingin membuat keributan di tengah malam dan mengganggu para warga yang sedang tertidur pulas di rumahnya. Lagi pula masih belum terlalu lama Radit menghilang, mungkin saja dia sekarang ada di suatu tempat sedang melakukan sesuatu. Walaupun Pak Benny tidak bisa memikirkan apa yang bisa dilakukan Radit tengah malam begini.
Hanya ada satu kemungkinan kalau anaknya tidak berada di desa. Dia pasti sedang pergi ke kota mencari sesuatu. Tetapi, rasanya mustahil Radit pergi ke kota tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepadanya. Seandainya saja Radit membawa ponselnya pasti Pak Benny akan tahu di mana keberadaannya sekarang. Sayangnya, setiap meronda anaknya selalu meninggalkan ponselnya di rumah. Baginya membawa ponsel saat bertugas bukanlah ide bagus. Dia berkata, tidak ingin diganggu oleh telepon ataupun SMS ketika sedang bertugas.
Kalau nanti Pak Benny menemukan Radit, maka hal pertama yang akan dikatakannya pada anak lelakinya itu adalah selalu membawa ponselnya ke mana pun dia pergi. Biar anaknya tahu kalau kejadian hari ini sudah membuat ayahnya ini sangat khawatir.
Suara jeritan seseorang dari suatu tempat menyadarkan Pak Benny dari lamunannya. Melihat kepada sebagian orang yang ikut bersamanya, Pak Benny tahu bukan ia saja yang mendengar suara jeritan itu. Semua orang mengedarkan pandangan untuk mencari asal suara itu. Di ujung jalan, Kemal berlari ke arah mereka dengan napas memburu.
“Itu apa, Mal?” tanya Pak Benny tak sabar.
“Ikut aku, Pak Kades!” Melambaikan tangannya, Kemal mengajak mereka semua ke tempat yang dia maksud.
Menempelkan jari di bibirnya, Pak Benny memberikan isyarat kepada semua orang yang sedang bersamanya agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat mereka semua mengikuti Kemal dari belakang. Mereka tidak tahu apa atau siapa yang ada di sana. Mungkin saja mereka akan menemui perampok yang membawa senjata tajam. Jadi, tidak ada salahnya jika mereka bersikap waspada.
Berbelok ke kanan, telunjuk yang diarahkan Kemal menunjuk pada sebuah bangunan tua di ujung jalan sambil berbisik kecil kalau suara jeritan yang mereka dengar tadi berasal dari sana. Menyipitkan matanya, Pak Benny mengenali bangunan tua itu. Itu adalah gudang buku yang mereka bangun bertahun-tahun lalu. Sepertinya di sana sedang terjadi sesuatu. Karena suara jeritan itu terdengar lagi dari dalam saat mereka mulai mendekati tempat itu.
__ADS_1
Tiba di depan pintu ganda gudang buku itu, beberapa orang menahan napas menanti apa yang ada di dalam sana. Sebagian orang bahkan bersiap terhadap situasi yang lebih buruk dengan mengambil sebatang kayu di pinggir jalan. Mereka bersiap menyerang seorang penjahat yang mungkin saja berada di dalam gudang itu.
Sebelum Pak Benny membuka pintu, terdengar sebuah suara seorang perempuan dari dalam yang berkata, “Astaga, aku bisa merasakannya. Cepat, Dit!”.
BRAKKK
Pak Benny tak mempercayai apa yang dilihatnya. Di sana berdiri anak kebanggaannya, Radit, yang ingin memasukkan tangannya ke dalam baju perempuan yang Pak Benny tak kenali. Ini pertama kalinya ia melihat perempuan itu.
Mendengar bisikan di dekatnya, ia sekarang mengetahui identitas perempuan itu. Perempuan berparas cantik itu cucu Nenek Aya yang datang dari Bandung beberapa hari lalu.
°°
Radit membuka mulut berniat menjawab pertanyaan ayahnya saat datang tadi, tapi mengurungkan niatnya saat mengikuti tatapan ayahnya yang mengarah pada jaket Radit yang tergeletak di lantai. Siapa pun yang melihatnya pasti akan menyimpulkan hal yang sama. Sesuatu yang sangat mesum baru saja terjadi di sini. Tidak akan ada yang mempercayai ucapannya kalau semua kekacauan ini diakibatkan seekor serangga. Jadi percuma saja Radit menjelaskannya. Keputusan sudah diambil. Radit bisa melihat keputusan itu dari tatapan yang dilemparkan ayahnya.
“Sekarang kalian berdua, ikuti Bapak!” perintah ayahnya dengan nada tidak bisa dibantah.
“Tapi....” Ucapan Widya terputus saat Radit menyentuh lengannya dan menggelengkan kepala padanya, memberikan isyarat supaya dia menghentikan protesnya.
“Cepat keluar dari sana!” teriak ayahnya membelakangi mereka berdua. Kedua tangannya dikaitkan di belakang punggungnya yang terlihat sangat kaku. Sepertinya ayahnya sangat murka oleh kejadian ini.
__ADS_1
Menundukkan kepalanya, Widya menghela napas lelah. Lalu berjalan mengikuti di belakang. Sepertinya mereka akan dibawa ke suatu tempat untuk di sidang, seolah-olah mereka berdua penjahat yang sudah melakukan kejahatan serius. Tamatlah sudah riwayatnya. Kejadian ini lebih serius daripada gosip yang sudah menimpanya beberapa hari lalu. Apalagi kejadian memalukan ini disaksikan secara langsung oleh ayah Radit, yang seorang kepala desa. Lucunya lagi, serangga yang masuk ke dalam bajunya tadi juga menghilang saat para warga menyeruak masuk ke dalam gudang. Mungkin serangga itu sama terkejutnya seperti mereka.