
Perlahan namun pasti jemari panjangnya yang besar itu semakin bergerak sensual ke arah sisi kulit leher Widya yang sensitif. Merasakan sentuhan itu, ia seketika bergidik dan mulai gemetar. Ia tidak tahu ini gemetar karena ketakutan atau karena merasa tersengat oleh sentuhan tiba-tiba itu. Namun, melihat reaksinya yang tidak langsung lari ketakutan oleh sentuhan itu, Widya rasa kalau ini pasti bukanlah ketakutan.
Apa ini, ada apa denganku? Kenapa aku malah diam saja? Apa aku juga menginginkan hal ini? Astaga, ini memalukan! Kalau aku tahu akan seperti ini jadinya, lebih baik tadi aku nggak mengatakan pada Radit dengan yakinnya kalau aku masih belum siap.
Memejamkan matanya dengan erat, Widya berusaha menghindari tatapan Radit, yang ia duga akan meledeknya karena sudah bersikap jual mahal tadi. Ia sangat berharap suaminya itu tidak akan mengucapkan sepatah kata pun mengenai dirinya yang plin-plan ini.
Ternyata selama ini apa yang dikatakan orang-orang memang benar. Mulutmu memang bisa berbohong, tetapi tubuhmu akan menunjukkan hal yang sebenarnya. Lihat saja sekarang! Dengan tidak tahu malunya, ia begitu menantikan tindakan Radit berikutnya dengan sangat antusias. Bahkan tubuhnya menikmati sentuhan itu.
"Saatnya tidur," bisik Radit di atas kepalanya.
Dalam sekejap mata Widya terbuka lebar. Tidur? Mencoba memahami apa yang terjadi, Widya berusaha keras melepaskan pikirannya dari hal-hal memalukan yang baru saja dipikirkannya. Barulah setelah itu ia sadar kalau sekarang ia berada di dalam pelukan Radit dengan kepalanya bersandar di atas lengan suaminya itu.
Apa yang sudah terjadi? Bukankah tadi dia menyentuhku, lalu kenapa sekarang kami malah sudah dalam posisi tidur dengan aku berada dalam pelukannya? Ini aneh! Bagaimana mungkin sesuatu yang tadinya mengarah ke arah sana, ujung-ujungnya kami malah tidur begitu saja. Astaga, apa yang aku pikirkan? Kenapa sekarang malah aku yang begitu antusias melakukan hal ini? Seharusnya aku lega, bukannya malah kecewa begini.
"Diamlah, Widya! Bisakah kamu nggak terlalu berisik dengan isi pikiranmu itu," tegur Radit.
Kaget mendengarkan teguran itu, Widya mengangkat kepalanya dengan cepat sehingga menyebabkan kepalanya terbentur dengan dagu Radit yang berada di atas kepalanya.
Menjerit kesakitan, Radit menjauhkan kepalanya dari Widya dan melayangkan tatapan kesal padanya sembari mengomelinya yang bersikap sembrono.
Kenapa dia berkata seperti itu? Apa aku mengatakan isi pikiranku dengan suara lantang? Oh tidak!
Terlalu kalut dan panik, Widya mencari-cari kilatan mengejek di mata Radit, tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk meminta maaf atas benturan yang disebabkannya tadi. Mungkin karena terlalu malu, ia juga tidak merasakan rasa sakit sedikit pun pada kepalanya yang terbentur tadi.
__ADS_1
"Padahal kamu berutang banyak maaf kepadaku, tapi kenapa kamu malah menatapku dengan tatapan aneh begitu? Ada apa denganmu?" ujar Radit, heran dengan sikap Widya yang aneh.
"Hah?" sahut Widya singkat sambil mengerjapkan matanya, terlihat masih kebingungan dengan situasi itu.
Menjulurkan tangannya melihat atas kepala Widya yang terbentur dengan dagunya tadi, Radit mencari-cari sesuatu yang menyebabkan sikap aneh Widya. Dia mengira kalau saja benturan tadi sudah membuat benjolan besar di kepala istrinya sehingga Widya bersikap tidak seperti biasanya.
"Aku lihat kepalamu baik-baik saja. Terkadang aku masih takjub dengan betapa kerasnya kepalamu ini," gumam Radit, berbicara pada dirinya sendiri. "Kalau begitu, kenapa kamu bersikap aneh begini?"
Menepis tangan Radit yang asyik meraba atas kepalanya—seperti orang yang sedang mencari kutu di rambut—Widya memandang suaminya itu dengan raut kesal.
"Yang aneh di sini bukan aku, tapi kamu!" tuding Widya, menusuk jari telunjuknya ke arah dada Radit. "Kenapa kamu berhenti? Bukannya hal ini yang ingin kamu lakukan sejak dulu padaku?"
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Radit, mulai kebingungan dengan arah pembicaraan itu.
"Kamu tahu maksudku, jangan pura-pura bodoh!" seru Widya dengan nada kesal. "Aku nggak menyangka kamu mempermainkanku lagi, padahal--"
Butuh waktu beberapa menit bagi Radit untuk memahami maksud dari perkataan Widya. Saat dia sudah mulai mengerti apa yang dibahas oleh Widya, dia langsung membalikkan kembali badan Widya agar kembali menghadapnya.
"Kenapa malah kamu yang kesal, harusnya di sini aku yang kesal!" ucap Radit, menggucang tubuh Widya untuk menunjukkan rasa jengkelnya. "Kamu nggak tahu betapa besarnya usahaku menahan diri saat melihatmu gemetar ketakutan tadi. Kalau saja aku ini pria egois, mungkin tanpa pikir panjang aku akan memaksakan diriku padamu, entah kamu menginginkannya atau nggak. Beruntunglah dirimu mendapatkan suami pengertian sepertiku yang mau menunggumu, entah untuk berapa lama, sampai kamu siap menjalankan tugasmu sebagai seorang istri di kamar tidur."
Widya seketika menganga lebar mendengarkan keluhan panjang lebar dengan penyampaian sangat menggebu-gebu itu. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana. Karena ia terlalu terpukau dan gembira dengan pengakuan itu, sekaligus ingin tertawa juga mendengarkan nada merajuk dalam suara suami manisnya itu. Tidak bisa membendung rasa bahagianya, Widya melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Radit.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan kamu kira aku akan merasa senang melihatmu memelukku seperti ini," ucap Radit, menolak memeluk balik Widya.
__ADS_1
Mendongakkan kepalanya memandang Radit dengan senyuman cerah, Widya berkata dengan lembut, "Terima kasih."
Tidak ingin goyah oleh senyuman manis itu, Radit berusaha keras memasang raut kaku di wajahnya. Lalu tiba-tiba Widya mengecup bibirnya dengan cepat, kemudian kembali bergelayut dalam pelukannya. Mengerjapkan matanya, Radit akhirnya menyerah juga dengan godaan itu, dia langsung memeluk balik Widya dan menghembuskan napas frustasi di samping kepalanya.
"Jangan menggodaku, Widya. Kamu nggak tahu apa yang kamu mulai."
Aku sangat tahu apa yang kulakukan. "Selamat tidur, Suamiku."
"Ini benar-benar membuatku gila. Kapankah penderitaanku ini berakhir?" tutur Radit dramatis, yang kembali menghembuskan napas panjang.
Dalam hatinya, Widya tertawa cekikikan mendengarkan kalimat dramatis itu. Bersabarlah, Suamiku, aku pasti akan menjadi milikmu. Tetapi, untuk sekarang biarkan aku menikmati perasaan bahagia ini. Begitulah janji Widya pada dirinya sendiri sebelum tertidur dengan pulas dalam pelukan hangat suaminya.
∞ ∞
Lihatlah rubah mungil ini. Setelah mempermainkan hasratnya sepanjang malam, bisa-bisanya dia tertidur begitu pulasnya dengan wajah damai seperti ini, pikir Radit muram. Sedangkan ia di sini menahan kedua tangannya agar tidak menggerayangi tubuh istrinya ini seperti pria mesum. Seharusnya tadi ia tidak menyerah terlalu mudah saat memulai sesuatu yang akhirnya malah membuatnya jadi tidak bisa tidur seperti ini. Lalu ia mengingat kembali respons Widya yang gemetar ketakutan di bawahnya dengan tangan terkepal erat di atas perutnya.
Kalau saja tadi ia bersikap pura-pura tidak peduli dengan penolakan itu, mungkin sekarang Widya sudah menjadi miliknya seutuhnya. Akan tetapi, hati nurani sialnya ini tidak tega melakukan hal itu pada istri mungilnya ini. Setidaknya ia menginginkan istrinya itu bersikap sama antusiasnya seperti dirinya ketika berurusan dengan aktivitas di kamar tidur. Sayangnya, itu bukanlah hal yang mudah didapatkannya, karena istri mungilnya ini selalu gugup dan ketakutan setiap kali Radit menyentuhnya.
Teringat kembali dengan kecupan selamat malam yang diberikan Widya padanya tadi sebelum dia tidur, mau tidak mau sebuah senyuman lebar menghiasi bibirnya. Mungkin tidak lama lagi ia akan mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan. Ia harap begitu, sebab semakin lama ia merasa kalau dirinya semakin susah saja menjauhkan tangannya ini dari Widya. Tiap harinya makin banyak saja bayangan liar yang berhubungan dengan aktivitas di atas ranjang memenuhi isi pikirannya. Dan semakin lama ia merasa kalau pikiran liarnya itu akan membuatnya menjadi gila.
Tubuh Radit tiba-tiba menjadi tegang ketika merasakan Widya bergerak-gerak gelisah dalam pelukannya. Apa perempuan ini tidak tahu kalau gerakannya itu akan membangkitkan sesuatu, yang Radit sendiri yakin akan membuat istri mungilnya itu berlari ketakutan menjauhinya. Butuh usaha keras baginya agar tidak menyentil dahi istri nakalnya itu. Menarik napas dalam-dalam, Radit mencoba memikirkan sesuatu yang lain, selain tubuh menggoda yang berada dalam pelukannya ini. Yang tentunya gagal total.
Jika mereka berpelukan seperti ini terus, sepanjang malam ia tidak akan bisa tidur nyenyak. Karena itulah Radit mencoba melepaskan dirinya dari Widya. Radit dengan hati-hati melepaskan pelukan Widya dari tubuhnya agar tidak membangunkan Widya yang masih tertidur pulas. Meskipun rengekan protes sempat terlontar dari mulut Widya, akhirnya Radit berhasil keluar dari perangkap menggoda itu, tanpa membangunkan istrinya itu sama sekali.
__ADS_1
Rasanya ia begitu tidak asing dengan situasi ini. Berusaha tidur tanpa memikirkan sosok menggiurkan di sampingnya.
Lihat saja nanti, Widya. Kamu akan membayar banyak atas perbuatanmu yang membuatku menjadi pria haus akan sentuhan istriku sendiri. Membayangkan balas dendam manis itu, Radit akhirnya tertidur pulas di tempat tidurnya.