Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Perasaan Memiliki


__ADS_3

Mendorong tubuh Radit yang menahannya agar tidak jatuh, Widya mundur beberapa langkah menjauhinya. Ia saat ini tidak ingin berdekatan maupun bersentuhan dengan suami penyelingkuhnya itu.


Padahal tadi siang Widya sudah memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Radit, tapi itu sebelum ia menemukan benda mengerikan yang ditemukannya dalam kantong jaket suaminya itu.


Setelah kepulangan Mila dan Ririn sore itu, Widya berniat merapikan pakaian Radit yang ada di dalam lemari sekaligus mengecek keadaan rak lemarinya yang telah ia kotori beberapa hari lalu. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan kotak cincin di dalam saku jaket suaminya itu. Perasaan marah seketika memenuhi dirinya, membayangkan di luar sana suaminya punya perempuan simpanan yang tidak diketahuinya.


Pikiran liar mulai berkecamuk dalam benaknya. Penolakan Radit mengajaknya ke kota berubah menjadi kecurigaan bahwa suaminya itu ke kota, bukan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan seperti yang dikatakannya, melainkan untuk bertemu selingkuhannya.


Widya menduga selingkuhannya itu berasal dari Yogyakarta, tempat Radit bekerja dulu. Tampang terkejut Radit tadi ketika ia mengajukan asal perempuan selingkuhannya itu membuktikan bahwa dugaannya memang benar. Beraninya dia melakukan hal ini terhadapnya, murka Widya, menatap kesal pada wajah putus asa suaminya yang terkenal baik itu.


Sebuah pikiran tiba-tiba terbersit dalam benaknya, bisa saja selingkuhan Radit adalah kekasih yang dimilikinya sebelum dia menikahi Widya. Kalau itu benar, itu hanya akan membuatnya lebih marah lagi. Meskipun pernikahan ini dipaksakan kepada mereka berdua, Radit tidak bisa melakukan ini padanya. Ini salah. Mereka sekarang sudah sah di mata hukum sebagai sepasang suami istri, entah dia menyukainya atau tidak, Widya tidak akan mentoleransi adanya perselingkuhan dalam pernikahannya.


“Widya, apa kamu mendengarkanku?”


Mengembalikan pikirannya kembali pada situasi saat ini, Widya menatap penuh kebencian pada Radit.


“Nggak ada yang perlu yang aku dengarkan dari mulut penuh dustamu itu. Semuanya sangat jelas bagiku, kamu telah berselingkuh di belakangku!" Melewati suaminya, Widya melintasi ruangan untuk keluar kamar itu secepat yang ia bisa dengan kakinya yang pincang. “Aku akan melaporkan hal ini pada ayahmu sekarang juga, biar dia tahu sebejat apa kamu di luar sana.”


Menarik lengannya agar menghadap padanya, Radit memaksa Widya untuk menatap kedua matanya. Mencoba melepaskan cengkraman Radit pada lengannya dengan tak sabar, Widya tidak bisa menandingi kekuatan suaminya itu, sekuat apa pun ia menarik lepas tangannya, tetap tak ada hasil.


Widya melemparkan kilatan menusuk pada Radit. Andai saja tatapannya itu bisa menusuk seperti pisau, mungkin sekarang suaminya itu akan kesakitan dengan tatapan tajam yang diberikannya.

__ADS_1


“Sudah kubilang, jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!” teriak Widya.


Melepaskan cengkraman dari lengannya, Radit merenggut kedua bahu Widya dan mengguncangnya sedikit untuk mendapatkan perhatian penuh darinya.


“Tenanglah! Jangan bersikap histeris seperti ini. Ini hanya salah paham, aku nggak berselingkuh seperti dugaan konyolmu itu.”


“Konyol, konyol kamu bilang? Aku nggak sembarang menduga, buktinya ada di sana!” tunjuk Widya pada kotak cincin yang tergeletak di lantai sudut kamar. “Apa kamu berharap aku akan mempercayai cincin itu kamu simpan untuk kamu berikan padaku? Jangan bodoh, Suamiku, aku ini nggak sebodoh yang kamu pikirkan. Aku nggak akan mempercayai apa pun yang keluar dari mulutmu itu lagi!"


Kini Radit mengguncang tubuhnya kuat, dia menatap frustasi padanya. “Bisakah kamu bersikap tenang sedikit saja!? Kita nggak akan menyelesaikan masalah ini kalau kamu terus bersikap histeris seperti ini. Jadi, kumohon tenangkanlah dirimu!”


Selama sesaat Widya memikirkan usulan Radit, dadanya masih terasa sesak oleh perasaan murka. Akan tetapi, tak ada salahnya mendengarkan penjelasan suaminya itu, pikirnya, setelah menenangkan dirinya sejenak. Mungkin saja ini memang kesalahpahaman seperti kata Radit tadi, meski ia agak meragukannya, namun semoga saja itu benar adanya. Setidaknya itu akan menghilangkan perasaan terkhianati yang dirasakannya sekarang.


Merasakan perlawanan Widya sudah berkurang, Radit melonggarkan cengkramannya dari bahunya.


Mendesah lega, Radit membiarkan Widya berjalan melewatinya untuk duduk di pinggir ranjang.


“Berbicara saja dari situ!" Tangan Widya terangkat menghentikan Radit melangkah mendekat padanya. "Saat ini aku nggak ingin berdekatan denganmu. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan dari sana.”


“Baiklah.” Berdeham, ditatapnya lurus kedua mata Widya dari kejauhan. “Kamu benar, cincin itu memang bukan untukmu. Aku berniat memberikannnya pada orang lain.” Mengangkat tangannya, Radit menghentikan ucapan yang ingin keluar dari mulut Widya. “Dengarkan sampai selesai dulu! Aku belum selesai,” perintah Radit tegas.


Widya memberengut kesal, bibirnya mengatup rapat membentuk garis tipis, menunjukkan rasa tak senangnya dengan perintah itu.

__ADS_1


“Tapi....”


“Tentu saja, ada tapinya,” gumam Widya mengejek.


Mengabaikan ejekannya, Radit melanjutkan, “Itu dulu. Sudah bertahun-tahun lamanya aku berniat memberikan cincin itu kepada seseorang. Jujur saja, aku sudah lupa jika aku masih menyimpannya.” Tatapan lelahnya terarah pada Widya. “Sampai kamu menemukannya.”


“Omong kosong! Mustahil kamu bisa melupakan cincin yang terihat seperti cincin lamaran itu begitu saja," hardik Widya.


“Kalau begitu, percayailah apa yang ingin kamu percayai. Intinya, aku sudah jujur padamu. Aku nggak punya cewek lain di luar sana, aku hanya memilikimu.”


Jantung Widya sontak berdegup kencang mendengar pengakuan terakhir Radit. Sungguh konyol! Kenapa di saat seperti ini jantungku harus berdebar-debar, renungnya jengkel. Mengabaikan perasaan girangnya, Widya terdiam cukup lama, mencoba menenangkan degup jantungnya yang berdebar tak karuan.


“Kalau yang kamu katakan itu benar, tetap saja itu nggak mengubah kenyataan kamu masih menyimpan kenangan dari masa lalumu itu di rumah ini. Asal kamu tahu saja, aku nggak mentoleransi ada orang ketiga di antara kita. Dasar kamu penyelingkuh!”


Melintasi ruangan, Radit berdiri menjulang di hadapannya. “Aku selama ini tak masalah ketika kamu memanggilku, Tirani, Barbar, Pengangguran, dan beberapa julukan yang sudah kamu berikan padaku, tapi aku nggak akan memaafkanmu jika kamu memanggilku 'Penyelingkuh'. Aku nggak seperti itu!” geram Radit, mengguncang-guncangkan tubuhnya untuk menunjukan rasa kesalnya.


Mengamati tatapan bersungguh-sungguh yang berkilat di mata Radit, kini Widya menyadari kalau suaminya itu memang tidak berbohong padanya. Semua perasaan curiga yang tadi menghantui pikirannya kini telah meluap, digantikan perasaan lega sekaligus pusing. Kepalanya tiba-tiba terasa berputar-putar, mungkin karena tadi ia tidak makan siang, ditambah guncangan yang diberikan suaminya sekarang ini.


Memukul tangan Radit yang mencengkram kuat lengan atasnya, Widya menatapnya dengan sama geramnya. “Aku mengerti. Maafkan aku, jika sudah menyinggung harga dirimu yang tinggi itu. Tapi, bisakah kamu jangan mengguncang-guncang tubuhku seperti ini, rasanya aku mau muntah.”


Menarik lepas tangannya, mata Radit berkilat rasa bersalah. “Maaf, aku nggak bermaksud begitu. Lagi pula ini salahmu! Lain kali, jangan menuduhku seperti itu lagi. Apa kamu paham?”

__ADS_1


“Iya, iya, iya, aku mengaku salah. Aku nggak akan menuduhmu seperti itu lagi,” sahut Widya, membalas pelototan Radit.


Beranjak berdiri, Widya mengacak pinggang di hadapan Radit. “Satu hal lagi yang harus kamu ketahui, aku nggak akan memaafkanmu, jika kamu diam-diam berani memikirkan cewek lain, meskipun hanya sedikit. Karena itu sama saja kamu berselingkuh dariku.”


__ADS_2