
Merogoh saku celananya lagi, Radit berniat menghubungi mertuanya, tetapi segera diurungkannya niatnya itu. Mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu, ia menjernihkan pikirannya yang kalut, memikirkan soal kepergian tak terduga Widya, yang ia tak tahu sejak kapan istrinya itu meninggalkan rumah.
Selama sesaat tadi ia memang sempat berpikir bahwa Widya pergi ke kota untuk menemui orang tuanya. Namun, ketika ia pikirkan lebih dalam lagi, Radit merasa itu tidak mungkin. Jika dugaannya benar, pastilah sejak kedatangan Widya ke kota, kedua orang tuanya akan menghubungi dirinya untuk memberitahukan keberadaan istrinya itu.
Bahkan, saat ia menelepon untuk mengabari pembatalan kepergian mereka ke kota tadi siang, ibu Widya tidak mengatakan hal apa pun terkait kedatangan istrinya ke sana. Berarti hanya ada satu kemungkinan, bahwa istrinya telah pergi ke rumah yang dibelikan oleh orang tuanya di kota, renung Radit.
Yang menjadi pertanyaan Radit sekarang, mengapa tidak ada yang mengetahui kepergian istrinya itu dari rumah. Biasanya para tetangga selalu mengawasi gerak-gerik Widya, jadi, kalau istrinya itu kabur membawa koper besarnya, seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu, tentunya gosip itu akan menyebar luas di desa ini.
Apakah dia pergi saat orang-orang tak melihat? Sebenarnya ke mana dia pergi?
Banyak sekali hal-hal ganjal terbesit di benak Radit, tetapi segera ditepisnya. Karena ia tak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu sekarang. Yang harus dilakukannya sekarang adalah mencari keberadaan Widya, dan bersiap memarahinya habis-habisan ketika ia menemukannya nanti.
Di dalam kepalanya ada satu tempat yang pertama harus didatanginya, dan Radit berharap Widya memang ada di sana.
°°
Duduk di sofa dekat telepon rumah neneknya, Widya tidak pernah beranjak meninggalkan tempat itu, sejak neneknya mengutarakan niatnya untuk memberitahukan Radit tentang keberadaannya. Melirik sekilas dari balik bulu matanya, Widya bisa melihat jika neneknya itu menunggu kesempatan mendapatkan telepon itu dari perlindungannya.
"Nyerah aja, Nek. Aku nggak akan membiarkan nenek memberitahukan Radit soal persembunyianku di sini," ucap Widya sembari menyandarkan sikunya di lengan sofa.
"Kasihan Radit, Wid, nanti dia kira kamu ngilang entah ke mana, kalau nggak ada kabar begini. Dia itu suamimu, dia berhak tahu kamu ada di mana, biar dia nggak bingung waktu nyari kamu nanti," bujuk neneknya.
"Tenang saja, Nek, dia nggak akan tahu aku kabur dari rumah. Buktinya sampai sekarang dia nggak nongol, 'kan? Harusnya kalau dia sadar aku nggak ada pasti sekarang dia sudah ke sini, tapi lihat sekarang sudah mau jam 7 malam, dan Radit belum juga menunjukkan batang hidungnya sedikit pun." Nada suara Widya terdengar agak tersekat di akhir.
Tidak bisa dipungkiri jika dirinya agak sakit hati mengetahui Radit belum juga menyadari aksi kaburnya. Meskipun ia memang sengaja menutupi aksi kaburnya dengan mengunci pintu kamarnya agar Radit mengira dia masih mengurung dirinya di dalam kamar. Tetapi, tetap saja ini sangat menyebalkan bagi Widya. Harusnya Radit menyadari kejanggalan dengan sikap diamnya terus-menerus, dan berinisiatif membuka pintu kamarnya dengan kunci cadangan yang berada di dalam laci meja kecil di luar kamarnya.
Mungkin dia lebih senang dengan kebisuanku daripada omelanku padanya.
"Kamu ini sudah berkeluarga, Wid, jangan selalu bertindak kayak anak kecil gini dong, tiap ada masalah selalu saja kabur. Apa kata tetangga?" Suara neneknya menyadarkan Widya dari lamunannya yang muram.
"Soal itu aku sudah membereskannya. Aku kabur saat keadaan sedang sunyi, jadi, nggak akan ada yang menyadari kepergianku." Widya cengengesan, bangga dengan kepandaiannya menghindari gosip lebih banyak lagi mengenai dirinya. "Omong-omong, aku ini bukan anak kecil, Nenek. Ini salah Radit sendiri, karena telah membohongiku dengan bilang akan menemaniku ke kota, eh, nyatanya di cancel, karena kehilangan pegawai doang."
"Lho, itu 'kan bukan salah Radit. Dia 'kan membatalkannya karena nggak bisa meninggalkan pekerjaannya, Widya, bukan karena dia sengaja," bela neneknya.
"Dan seperti yang aku bilang sepeeti sebelumnya, membatalkan janjinya itu sama aja dia telah membohongiku."
__ADS_1
"Aneh kamu ini, masa gitu kok dibilang pembohong. Pemikiran macam apa itu."
Membuka mulutnya untuk mendebat omongan neneknya lagi, Widya langsung mengatupkan bibirnya lagi saat mendengar suara ketukan pintu dari luar. Dengan cepat ia beranjak berdiri dari tempatnya duduk saat mendengar suara familiar yang memanggil-manggil dari balik pintu itu.
Berlari cepat ke kamarnya, Widya mengunci pintunya dengan tergesa-gesa. Tangannya agak gemetar ketika memutar kunci, lalu ia langsung terduduk di kasurnya, jantungnya berdegup kencang di dadanya mengantisipasi kedatangan Radit, seperti beberapa waktu lalu, saat ia kabur untuk pertama kalinya.
"Apa Widya ada di sini, Nek?" tanya Radit langsung setelah Nenek Aya membukakan pintu rumahnya.
"Iya, dia ada di dalam, seperti waktu itu." Tunjuk Nenek Aya dengan gerakan kepalanya.
"Syukurlah," lega Radit.
"Kali ini nenek akan menunggu kalian lagi di teras rumah untuk berbicara empat mata. Hati-hati lho, Dit, jangan sampai kejadian keseleo seperti waktu itu terulang lagi." Kekehan Nenek Aya terdengar di belakang Radit, yang sudah berjalan cepat ke arah persembunyian Widya.
"Aku hanya akan memberikanmu waktu selama 3 detik. Kalau lewat dari itu maka tanpa segan aku akan mendobrak pintu sialan ini," gertak Radit dengan nada suara yang begitu mengancam.
"Kamu nggak akan berani," sahut Widya dari balik pintu.
Radit memundurkan tubuhnya sedikit dari pintu untuk bersiap mendobrak. "Baiklah, kalau ini memang maumu. Satu... Dua... Ti... Ga."
Memejamkan matanya, Widya seolah pasrah dengan tubuh Radit yang siap melayang ke arahnya. Dengan sigap Radit memutar tubuhnya seperti yang lalu agar Widya menimpa dirinya. Suara GEDEBUK pun bergema di dalam rumah itu.
Di atas dadanya, Widya masih terbaring dengan keadaan mata tertutup. Perlahan dibukanya matanya satu per satu, mengerjapkan matanya, dia terlihat agak kebingungan. Nampaknya dia masih agak kelimbungan dengan apa yang baru saja terjadi, kemudian diliriknya tangan Radit yang sedang memeluk tubuhnya erat.
"Apa kamu nggak ada niat untuk menyingkir dari atasku?" Cemberut Radit menatap Widya yang masih terpana memandanginya.
Berpose santai dengan kedua lengannya bertumpu di atas dadanya, Widya tersenyum genit padanya. "Ternyata punya suami berbadan besar ada gunanya juga. Kamu bisa menjadi tempat perlindunganku ketika terjatuh."
"Mungkin kamu merasa nyaman dengan posisi ini, tapi aku nggak merasa nyaman sedikit pun. Berat badanmu membunuhku."
"Aku nggak seberat itu." Widya mencolek dadanya sambil tersenyum nakal.
Dehaman di ambang pintu menyadarkan mereka bahwa di sana ada orang lain selain mereka berdua.
"Nenek pikir tadi ada gempa bumi ternyata...." Nenek Aya sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi kilatan nakal di matanya membuat Radit merasa tak nyaman.
__ADS_1
Ternyata bukan Radit saja yang tak merasa nyaman dengan tatapan itu, Widya juga merasa malu dengan makna tatapan mata neneknya. Secepat kilat dia langsung bangkit dari atas tubuh Radit lalu mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
"Ini bukan seperti yang nenek pikirkan, tadi kami hanya...." Mengibaskan tangannya di udara, Widya tidak menyelesaikan kalimatnya. Rona merah di pipinya terlihat begitu cantik di mata Radit.
"Tadi hanya kecelakaan. Sepertinya kamar ini selalu membuat kami terlihat seperti habis bergulat," canda Radit.
"Iya, iya. Sudah sana pulang! Lanjutkan kemesraan kalian di rumah saja," usir Nenek Aya pada keduanya, binar nakal itu masih bermain-main di matanya.
"Nenek!" seru Widya, wajahnya kian memerah mendengarkan teguran neneknya itu.
~~
Bernapas lega, Widya senang sudah berada di dalam rumahnya. Sepanjang perjalanan kepulangan mereka tadi, begitu banyak pasang mata memperhatikan, hingga rasanya begitu sesak sampai membuat Widya tidak bisa bernapas. Sungguh memuakkan memiliki tetangga yang selalu ingin tahu urusan rumah tangganya, pikir Widya muram.
Terlalu sibuk dengan pikirannya, Widya hampir saja melewatkan tindakan Radit yang mengunci pintu kamarnya dari luar setelah memasukkan kopernya ke dalam sana. Lalu dimasukkannya kunci kamarnya itu ke dalam saku celananya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Widya waspada.
Radit hanya mengendikkan bahunya tak peduli, kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
Menarik tangan Radit agar berbalik menghadapnya, Widya mengulurkan tangannya. "Kembalikan kunci kamarku!"
"Itu hukumanmu."
"Apa maksudmu?"
"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, jika kamu mengulangi aksi kaburmu lagi, maka aku akan menghukummu." Mencodongkan tubuhnya mendekat, Radit berbisik di telinganya. "Malam ini kamu tidur bersamaku."
DUARRRR
Serasa ada petir menyambar di langit saat Widya mendengarkan kalimat itu, kakinya tiba-tiba terasa agak goyah. Yang lebih membuatnya kesal lagi, Radit tersenyum cerah melihat reaksi syoknya itu, dia berjalan santai sambil bersiul ria ke kamar mandi.
"Oh iya, Istriku." Tolehnya pada Widya dengan senyuman nakal melengkung di bibirnya. "Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi kita berdua." Matanya mengedip nakal pada Widya, sebelum akhirnya dia memasuki kamar mandi.
Oh Tidak!
__ADS_1
#TBC