
Kesal oleh sikap cuek Radit padanya, Widya berjalan mendekat ke samping ranjang tempat Radit berbaring.
"Apa kamu nggak bisa tidur di lantai saja biar aku bisa tidur sendiri di ranjang ini. Yang penting 'kan kita tidur sekamar, berbeda tempat tidur tentulah bukan masalah besar," saran Widya.
Masih dalam keadaan mata terpejam, Radit menjawab pertanyaan itu ditengah kuapannya. "Kalau begitu, kenapa bukan kamu saja yang tidur di lantai?"
"Tega sekali kamu!"
"Ya, aku memang tega. Makanya, berhentilah mengajakku berbicara, aku sudah mengantuk."
Selama beberapa menit, Widya bergeming sambil mengertakkan giginya, mencoba menahan diri agar tidak menggigit Radit saat itu juga. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, menahan keinginan untuk menjambak rambut suami kejamnya itu begitu brutal.
Membuka sebelah matanya, Radit melirik Widya yang masih berdiri di samping ranjangnya. "Berhenti menatapku dengan tatapan membunuh seperti itu, bisa-bisa nanti aku bermimpi buruk." Mengarahkan jari telunjuknya, Radit menunjuk sebuah kursi yang ada di dekat jendela kamarnya. "Aku lihat kamu ahli bergelung seperti buntelan, kusarankan kamu tidur di situ saja kalau nggak mau tidur di lantai."
Mengikuti arah yang ditunjukkan padanya, Widya melirik penuh minat pada kursi panjang yang ada di dekat sana. Ia merasa setidaknya tempat itu lebih baik daripada tidur satu ranjang dengan Radit, yang sekarang ini sudah mulai tertidur. Mengambil peralatan tidur di samping Radit dengan cepat, Widya tidak lupa juga mengambil selimut yang sedang dikenakan Radit untuk menyelimuti dirinya.
"Kenapa kamu mengambil selimutku!" seru Radit, bangun dari posisi tidurnya, matanya berkilat marah pada Widya yang sedang sibuk mencari posisi nyaman berbaring di kursi dekat jendela.
"Aku lebih membutuhkan selimut ini daripada dirimu, kalau kamu nggak terima, bukakan pintu kamarku supaya aku bisa memakai selimutku sendiri," jawab Widya membelakanginya.
Sarannya itu tidak mendapat tanggapan apa pun dari Radit, menoleh dari balik bahunya Widya melihat Radit kembali tidur lagi dengan bantal menutupi wajahnya, badannya menyamping membelakangi Widya. Sepertinya dia lebih memilih untuk tidur tanpa selimut daripada pergi mengambil selimutnya dari kamar.
Mengangkat bantalnya, Widya ingin sekali melemparkan bantalnya pada suami menjengkelkannya itu. Membanting bantalnya kembali di atas kursi, Widya bersiap untuk tidur. Ia merasa terlalu lelah untuk memulai pertengkaran lagi dengan suaminya. Oleh sebab itu, ia memutuskan lebih baik tidur saja daripada memancing amarah Radit di tengah malam begini.
__ADS_1
Waktu kian berlalu, tetapi Widya tak kunjung juga tertidur. Ia tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu ketika yang dilakukannya sejak tadi hanyalah bolak-balik di atas kursi tempatnya berbaring. Mungkin karena kursi itu begitu keras, Widya tidak merasa nyaman berbaring di sana, terlebih lagi ini pertama kalinya ia tidur di atas kursi.
Frustasi rasa kantuk tidak mendatanginya juga, Widya beranjak bangun seraya mengarahkan pandangan kesal pada Radit yang sudah tertidur pulas di atas ranjangnya. Jengkel oleh sikap Radit yang masih bisa tertidur pulas tanpa merasa bersalah sedikit pun telah menempatkannya di posisi tak menyenangkan ini, ia langsung mengangkut semua peralatan tidurnya yang berada di atas kursi untuk dibawanya kembali ke tempat tidur suaminya.
Dengan sengaja Widya menghempaskan bantal dan gulingnya di samping Radit agar suaminya itu terbangun. Nyatanya, hal itu tidak membangunkannya sama sekali, justru Radit malah berbalik memunggunginya. Melemparkan selimutnya dengan kasar ke atas kasur, Widya mengambil posisi untuk menendang Radit.
Dikerahkannya seluruh tenaganya untuk menendang tubuh suami menjengkelkannya itu, dan tendangannya berhasil, Radit langsung terjatuh dari atas ranjang. Suara GEDEBUK di lantai kamar itu terdengar begitu nyaring di telinganya.
Ternyata apa yang dikatakan neneknya benar bahwa suara jatuh Radit itu terasa seperti gempa bumi, lantainya bergetar kuat sekali di telapak kakinya, pikir Widya geli.
Menggapai sisi ranjangnya, tangan Radit mencengkram pinggir ranjangnya sekuat tenaga sambil berusaha berdiri.
"Apa kamu gila!? Kenapa kamu menendangku seperti itu!" serunya keras, tangannya memegang pinggangnya saat berdiri menghadap Widya dari seberang ranjang.
"Kamu nggak bisa membodohiku, aku tahu kamu sengaja membuatku terjatuh dari ranjang. Kalau kamu memang berniat menggeser tubuhku, kamu nggak akan sekuat itu mendorongku hingga terjatuh." Matanya melotot marah pada Widya. "Belum cukup pinggangku masih nyeri akibat jatuh di rumah nenekmu, sekarang kamu menambah rasa sakitnya dengan mendorongku jatuh dari tempat tidurku sendiri."
Menghempaskan tubuhnya di atas kasur, Widya segera mengambil posisi untuk tidur, ditepuknya bantal di sampingnya dengan wajah polos.
"Daripada berdebat masalah kesalahanku ini, lebih baik kamu kembali tidur saja supaya besok rasa nyeri di pinggangmu itu sudah agak reda." Memposisikan guling di sampingnya, Widya memberikan batas di antara mereka berdua. "Kuperingatkan padamu, jangan pernah melewati batas ini. Awas saja kalau kamu berani menentangnya."
Lalu ia segera menyelimuti dirinya sembari memejamkan matanya.
"Dasar nggak tahu malu. Sudah ketahuan bohong, banyak aturan pula di tempat tidur orang." Dengan perlahan Radit kembali berbaring di tempatnya tidur, ditariknya kasar selimut yang dikenakan oleh Widya. "Ini selimutku, jadi, aku juga berhak mengenakannya. Berhubung selimut ini lumayan besar kita bisa membaginya bersama."
__ADS_1
Raut wajah Widya mengerut kesal oleh saran itu. Akan tetapi, ia menurutinya tanpa protes sedikit pun. Karena apa yang dikatakan oleh Radit memang ada benarnya, selimut itu memang miliknya, jadi, tak ada salahnya jika mereka berbagi.
Saling membelakangi satu sama lain, mereka berdua terdiam selama sesaat. Keheningan itu membuat Widya akhirnya mulai merasa mengantuk. Baru saja Widya hampir terlelap, tiba-tiba saja Radit mengucapkan suatu hal yang membuatnya membuka mata kembali.
"Aku pikir kamu lebih suka tidur di kursi kamarku daripada tidur satu ranjang denganku. Apa yang membuatmu berubah pikiran, apa kursi itu membuatmu nggak nyaman?" tanyanya penasaran.
Widya hanya menjawabnya dengan gumaman karena ia terlalu malas untuk menjawab panjang lebar. Kembali memejamkan matanya, sebuah pertanyaan yang diutarakan Radit membangunkannya kembali.
"Berarti kamu lebih nyaman denganku?"
"Bukan begitu juga maksudku," desis Widya mulai kesal.
"Kalau begitu, apa maksudmu?" tanyanya lagi.
"Apa kamu nggak bisa menutup mulutmu itu selama beberapa jam? Aku sudah mengantuk. Jadi, berhentilah mengajakku berbicara. Kamu bisa menanyakan hal itu besok pagi," jawab Widya dengan nada tidak sabar.
"Aku meragukannya." Radit beringsut di tempat tidurnya.
"Ragu, bagaimana maksudmu?"
"Aku ragu kalau kamu mengantuk. Pasti yang membuatmu tak ingin menjawab pertanyaanku karena kamu malu, 'kan? Buktinya saja kamu membelakangiku," ejek Radit.
Seketika itu juga Widya membalikkan badannya untuk menghadap Radit yang suaranya terdengar begitu jelas di belakangnya. Mulutnya yang sudah siap membuka untuk membalas perkataan itu kembali tertutup lagi saat menyadari wajah Radit berada begitu dekat dengan wajahnya. Mereka berdua saling beradu tatap begitu dalam. Perlahan mata Radit terlihat begitu sayu, matanya menelusuri wajah Widya secara perlahan, hembusan napasnya yang kini mulai memburu begitu terasa di depan wajah Widya.
__ADS_1