Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Cekcok


__ADS_3

Terlalu lama mengobrol dengan ibunya di telepon, Widya hampir saja lupa mengangkat jemuran pakaiannya yang ada di luar. Jam dinding rumahnya sudah menunjukkan pukul 2 siang lewat. Tentunya sekarang ini pakaiannya sudah kering di luar sana.


Meski enggan, akhirnya Widya mengakhiri pembicaraannya dengan ibunya di telepon. Kalau ia lebih mementingkan obrolannya dengan ibunya, nanti Radit akan mengomelinya sepanjang hari.


Mengambil keranjang pakaian untuk mengangkat jemurannya, Widya mendesah saat memandang jemuran pakaiannya yang berada di halaman depan. Astaga banyak sekali. Widya tidak tahu apa ia akan sanggup mengangkat semua pakaian itu dalam keranjang pakaian seorang diri.


Mencoba berdiri dengan kedua kakinya, dengan hati-hati Widya mengerakkan kakinya yang terkilir. Melangkahkan kakinya perlahan-lahan, berat tubuhnya sengaja ia tumpukan pada kaki kirinya. Widya tidak ingin menggerakkan kaki kanannya terlalu berlebihan, bisa saja kakinya akan kembali terkilir lagi jika ia tidak berhati-hati dalam melangkah.


Dimasukkannya satu per satu pakaian ke dalam keranjang. Lalu tiba-tiba seorang wanita tua yang telihat lebih tua sedikit dari ibunya datang menghampirinya. Dibantunya Widya mengangkat pakaian dari tiang jemuran seraya mengajaknya mengobrol.


"Omong-omong, tadi malam ibu dengar ada keributan di rumah Neng Widya. Apa kalian berdua bertengkar lagi? Kali ini apa yang kalian perdebatkan?" tanyanya ingin tahu, tangannya sengaja bergerak lambat mengangkat pakaian di jemuran.


Seperti yang Widya duga pasti ada sesuatu yang diinginkannya sehingga mau membantunya mengangkat pakaian tanpa dimintanya. Mustahil ada orang di desa ini yang mau menolongnya tanpa ada sesuatu yang harus Widya berikan sebagai balasannya. Di mata para warga di sini, Widya hanyalah objek gosip untuk menemani acara minum teh mereka di rumah.


Dengan cepat Widya mengangkat semua pakaiannya yang ada di tiang jemuran. Suaranya terdengar kasar saat ia menjawab pertanyaan dari wanita tua tak dikenal itu.


"Kalau Ibu datang ke sini hanya untuk mencari bahan gosip, lebih baik Ibu cari di tempat lain saja. Aku nggak menyediakan layanan gosip di sini," ketus Widya, dilemparnya kasar pakaian yang diangkatnya ke keranjang.


"Astaga, kamu ini kasar sekali! Ibu 'kan hanya bertanya. Kamu tidak usah ketus begitu dong jawabnya. Memangnya salah kalau sesama tetangga saling mempedulikan?" Cuping hidungnya mengembang saat mengeryitkan dahi menatap Widya.


"Urus saja hidup masing-masing, Bu. Apa Ibu nggak ada kerjaan selain mengurusi urusan rumah tangga orang lain? Yang kasar di sini Ibu, bukan aku! Sok berkedok membantu padahal ada maunya. Munafik sekali," dengus Widya mengejek.


Membanting baju yang ada di tangannya, wanita tua itu melotot marah pada Widya. "Oy, Nak! Apa kamu tidak diajarkan sopan santun sama kedua orang tuamu? Lancang sekali mulutmu itu mengatai orang yang lebih tua sekasar itu!"

__ADS_1


"Perilakuku nggak ada hubungannya dengan kedua orang tuaku! Ibu jangan berani-beraninya ya menghina orang tuaku. Memangnya apa yang aku katakan tadi salah? Memang benarkan Ibu ke sini membantuku hanya untuk mendapatkan gosip yang bisa Ibu sebarluaskan di luar sana. Ini kehidupan rumah tanggaku. Ibu nggak bisa seenaknya gitu aja nyelonong ke sini berharap aku akan menjawab pertanyaan tidak tahu malu Ibu itu. Setiap orang punya privasi yang ingin mereka simpan." Setiap kata yang diucapkan Widya, nadanya semakin lama semakin tinggi.


Tanpa disadarinya, Mila dan Ririn tiba-tiba ada di kedua sisinya. Mereka berdua segera menjauhkan Widya dari wanita tua menyebalkan yang sudah menyulut emosinya itu. Wajah wanita tua itu terlihat sangat merah. Dia sepertinya sangat marah sekali dengan sikap Widya.


Biar saja, setidaknya dia harus sadar kalau sikap ingin tahunya itu bisa membuat orang marah besar.


Para tetangga yang menyaksikan perkelahian itu pun menjauhkan wanita tua itu dari Widya. Mereka semua sadar, jika dibiarkan terlalu lama mungkin Widya dan wanita tua itu akan saling baku hantam saat itu juga.


"Kami minta maaf, Bu. Widya sepertinya kurang istirahat, jadinya dia gampang emosional," ucap Mila, mewakilinya meminta maaf.


Menolehkan kepalanya, Widya melotot marah pada Mila. "Kenapa kamu harus minta maaf? Yang harus minta maaf di sini justru Ibu itu, bukan aku!"


Dari sudut matanya Widya melihat wanita tua itu mengangkat tangannya. Dia seperti hendak bersiap ingin menampar Widya, tapi tindakannya itu segera dihentikan oleh orang yang menahannya. "Kamu ini ya, emang perlu dihajar supaya sadar. Apa kamu tidak malu dengan sikap kasarmu itu?"


Widya mengedarkan pandangan, dilihatnya semua orang berbisik-bisik sambil mengangguk-angguk menyetujui perkataannya. Sayangnya, mereka tidak mau mengutarakan isi pikiran mereka secara blak-blakan seperti Widya.


Tatapan mencela kini diarahkan padanya. Selalu saja begitu, yang salah pastilah selalu dirinya. Hanya karena ia mengungkapkan isi pikirannya pada orang yang lebih tua darinya. Yang muda memang selalu salah.


"Sudahlah, Kak Widya. Jangan makin buat Bu Leni tambah marah," bisik Ririn di telinganya. "Sekali lagi, maaf ya, Bu." Ditariknya paksa lengan Widya agar ikut bersamanya ke dalam rumah.


"Ajarin tuh Kakak Iparmu, Rin, cara bersikap yang benar sama orang yang lebih tua," sembur Bu Leni kesal.


Widya menahan diri untuk tidak membalas perkataan itu. Percuma saja beradu mulut panjang lebar dengan wanita tua itu, ujung-ujungnya tetap saja ia yang akan disalahkan.

__ADS_1


Di belakangnya, Mila mengikuti dengan membawa keranjang pakaiannya, ditutupnya pelan pintu rumah saat mereka semua sudah masuk ke dalam. Mengelap keringat dari dahinya, Mila menghempaskan tubuhnya di kursi dekat pintu.


"Ini benar-benar mengerikan," kata Mila, menggelengkan kepala.


"Nenek sihir di luar sana memang mengerikan," sahut Widya kesal, mengarahkan pandangannya ke jendela melihat semua orang telah bubar di halaman rumahnya.


Tawa cekikikan Ririn membuat mereka berdua berpaling menghadapnya.


"Maafkan aku. Aku hanya setuju dengan julukan itu," ditutupnya mulutnya dengan kedua tangan.


"Kamu benar. Bu Leni memang menyebalkan, dia selalu saja mencari masalah pada semua orang yang ditemuinya. Aku masih ingat dulu dia juga hampir bertengkar dengan ibuku." Mila merengut kesal saat mengingat kejadian itu.


"Benarkah? Apa dia memang selalu begitu, suka mengorek informasi masalah rumah tangga orang lain?" Ririn dan Mila mengangguk mengiyakan. "Kalau begitu, kenapa kalian menghentikanku tadi? Nenek sihir itu harus diberi pelajaran agar nggak mengganggu kehidupan orang lain lagi," protes Widya.


"Nggak ada gunanya, Wid. Melawannya hanya akan membuatmu terlihat lebih buruk di mata orang lain. Apalagi Bu Leni lebih tua darimu, tentu nggaklah baik melawannya seperti tadi," ucap Mila menasihati.


"Kak Mila benar. Orang muda seperti kita ini bukanlah tandingan orang yang lebih tua seperti Bu Leni. Jujur saja, aku tadi hampir pingsan saat melihat Kak Widya ingin adu jontos dengan Bu Leni. Untung saja kami datang tepat pada waktunya," lega Ririn, menghembuskan napas panjang.


"Bayangkan ketika berita ini terdengar oleh Radit dan ayahmu, Rin. Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri." Mila menatap kasihan pada Widya. "Persiapkan dirimu, Wid. Aku yakin pertemuanmu dengan mereka nanti akan sangat menegangkan."


"Ya ampun! Bulu kudukku tiba-tiba merinding membayangkan pertemuan itu di kepalaku," seru Ririn, menunjukkan bulu kuduk di pergelangan tangannya. "Tabahkan dirimu, Kak. Aku akan mendukungmu dari belakang," tepuk Ririn di bahu Widya memberi semangat.


Menyandarkan dirinya di sofa, Widya menghela napas panjang. Ia lupa kalau masalah ini pastilah akan terdengar oleh suami dan ayah mertuanya. Habislah sudah riwayatnya. Tubuhnya tiba-tiba menggigil membayangkan raut murka Radit saat pulang nanti. Ingin rasanya ia menenggelamkan dirinya ke dalam lubang hitam.

__ADS_1


__ADS_2