Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Penyesalan


__ADS_3

Keduanya menatap Widya, merasa kaget ia bisa membaca pikiran mereka. Setelah memulihkan diri barulah mereka menjawab pertanyaannya.


“Kami memang penasaran, tapi aku nggak ingin kamu merasa tak nyaman. Makanya, kami menunggu kamu berbicara duluan soal gosip itu. Untunglah, seperti yang kuduga kamu memang cepat tanggap." Seringaian terbentuk di bibir Mila, seperti anak kecil yang sudah mendapatkan keinginannya.


"Jadi? Apa gosip itu benar?” tanya Ririn.


“Gosip yang mana dulu, yang kemarin atau pagi ini? Kalau mengenai gosip pagi ini memang benar, tapi gosip kemarin itu bohong. Salah besar.” Widya menyandarkan punggungnya di kursi, menunggu tanggapan keduanya.


“Kalau soal yang kemarin, aku tahu itu bohong. Apalagi dalang gosip konyol itu....” Lirikan tajam Mila mengarah pada Ririn yang menyengir sambil membentuk tanda V di jemarnya kepada Mila dan Widya.


“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Widya, mengangkat sebelah alisnya.


Menunduk menatap tangannya, Ririn bergumam, “Maaf, Kak. Aku hanya menyimpulkan apa yang kulihat. Kukira aku benar. Maaf.”


“Sudahlah, itu sudah berlalu. Tak perlu dipikirkan lagi. Lagi pula gosip hari ini sudah menutupinya.” Widya mengibaskan tangannya di udara.


Senyuman terima kasih Ririn diabaikan Widya. Ia tidak suka dianggap orang baik. Ia sudah terbiasa dengan gambaran jahat yang selalu dipikirkan orang lain mengenai kepribadiannya.


“Jujur, aku nggak percaya gosip mengenai dirimu yang kudengar pagi ini. Tapi, mendengar dari mulutmu sendiri kalau itu benar, aku nggak tahu harus berkata apa.” Tatapan kebingungan Mila membuat Widya mendecakkan lidahnya.


“Kamu hanya perlu berkata seperti yang lainnya, kalau aku ini kasar. Nggak perlu sungkan, aku sudah terbiasa mendengarnya.” Keduanya menatap kasihan pada Widya.


"Astaga, aku mengatakan ini bukan untuk mendapatkan belas kasihan kalian berdua. Aku nggak peduli sama sekali pendapat orang lain tentangku. Kalau kalian datang ke sini hanya untuk mengasihaniku lebih baik kalian pulang saja. Aku nggak butuh belas kasihan siapa pun.”


“Aku tahu kamu orang baik, Wid. Tenang saja, aku bukan tipe orang yang akan menjauhi seseorang hanya karena gosip tak bermutu. Nah, bagaimana kalau kita membahas hal lain saja? Lupakan gosip bodoh itu!” Mila menepukkan tangannya untuk mengakhiri pembicaraan itu.


“Aku baru ingat. Apa Kak Widya tahu? Hari ini Kak Mila ditembak sama Bang Sendi di depan rumahnya. Dan, ini sudah terjadi untuk kesekian kalinya. Ciee, ciee, ciee.l,” goda Ririn, menyenggol Mila dengan tangannya.


“Apaan sih, Rin. Ini bukan hal yang harus dihebohkan!”


"Menurutku ini menarik. Jadi, apa kamu menerimanya?” tanya Widya. Setidaknya pembicaraan ini tidak terlalu mengusiknya.

__ADS_1


“Mana mungkin aku menerimanya. Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku hanya menganggapnya sebagai seorang teman saja. Tapi dia nggak pernah mengerti.” Mila menghembuskan napas frustasi.


“Ini bukan karena Kak Mila menyukai Bang Radit, 'kan?”


“Kenapa kamu berpikir begitu?” Mila menahan napasnya, terkejut dengan pertanyaan tak terduga itu.


“Bukan aku saja yang berpikir begitu, tapi semua orang di desa ini tahu Kak Mila menyukai Bang Radit. Walaupun itu dulu sih.”


Mila menghela napas lega.


“Tentu saja, itu sudah dulu sekali. Aku sudah nggak menyukai Radit kok.”


“Kalau begitu, kenapa Kakak menolak Bang Sendi?” selidik Ririn, seperti polisi menginterogasi seorang penjahat.


“Seperti yang kubilang tadi, aku hanya menganggapnya teman biasa. Perasaan nggak bisa dipaksakan, Rin. Untuk ukuran bocah SMP, kamu ini terlalu banyak ingin tahu.” Mila menggoyangkan jari telunjuknya, menegur Ririn.


“Aku bukan bocah. Lagi pula apa salahnya ingin tahu segala hal?" cemberut Ririn.


Sisa hari itu mereka habiskan dengan obrolan yang tak ada habisnya. Ketika hari sudah senja barulah keduanya berpamitan pulang. Syukurlah, hari ini suasana hati Widya jadi membaik berkat Mila dan Ririn. Ternyata punya teman di desa tidaklah seburuk dugaan Widya.


***


Widya menarik ucapannya kemarin. Ia menyesal punya teman di desa ini. Ini semua bermula saat Mila mengajaknya berjalan di siang hari bolong untuk mencari udara segar di luar. Tentu saja, Widya berpikir mereka hanya akan berjalan sebentar untuk melihat pemandangan desa ini.


Widya menerima ajakkan Mila karena ia bosan sepanjang hari ini menghabiskan waktunya menonton TV atau berbaring di ranjangnya sambil memainkan ponselnya yang tak ada gunanya.


Percuma saja punya ponsel sebagus apapun, tapi tidak bisa digunakan untuk internetan sama sekali. Sinyal di desa ini sangatlah jelek, ponselnya hanya bisa digunakan untuk SMS dan telepon saja.


Makanya, Widya tanpa pikir panjang menerima ajakkan Mila. Berharap akan mendapatkan udara segar seperti yang dikatakannya. Ternyata yang didapatkannya hanyalah tubuh yang basah kuyup oleh keringat.


Sebenarnya, mereka ini mau ke mana?

__ADS_1


Mila bilang tempat yang mereka tuju sudah dekat, tapi sudah sepuluh menit berlalu dan mereka belum juga sampai di tempat tujuan. Mengistirahatkan dirinya di bawah naungan pohon yang teduh, Widya menolak untuk melanjutkan perjalanannya.


Melepas maskernya dengan kasar, Widya memasukkannya ke dalam kantong jaketnya. Lalu melepaskan jaketnya untuk diikatkan disekeliling pinggangnya.


"Makanya, aku 'kan sudah bilang tadi, kalau kamu akan mati kepanasan karena jaket dan maskermu itu. Kamu nggak dengarin peringatanku sih. Ayo berdiri! Sebentar lagi kita mau sampai," ajak Mila, mengulurkan tangan pada Widya agar sepayung dengannya.


"Sebentar, sebentar, dan sebentar. Tapi, ini sudah 10 menit, dan aku masih belum juga melihat apa pun. Sebenarnya kita mau ke mana sih? Kakiku sudah terlalu pegal untuk berjalan lagi, Mila." Mengambil kerikil di tanah, Widya melemparkannya ke sembarang tempat untuk melampiaskan rasa frustasinya.


"Kita sudah hampir dekat kok. Ayo, Wid! Jangan patah semangat gitu," bujuk Mila.


"Baiklah. Tapi, biarkan aku beristirahat sebentar. Aku perlu mengambil napas dan mengistirahatkan kakiku yang pegal. Ini perjalanan paling panjang yang pernah kulakukan dengan kedua kakiku sepanjang aku hidup. Jadi, aku harap kamu mengerti."


"Baiklah." Mila duduk di sebelahnya, menunggu dengan sabar.


15 menit kemudian..


Beranjak dari batu yang di dudukkinya, Widya sudah siap untuk melanjutkan perjalanan mereka. Meski harus berjalan sepayung dengan Mila. Ini memang memalukan, tapi lebih baik daripada kehabisan napas oleh jaket dan maskernya. Lagi pula, di desa ini tidak ada yang terlalu mengenalnya. Jadi, Widya tidak perlu takut akan bertemu teman lama.


Teman? Ha! lucu sekali. Sejak kapan aku punya teman? Sungguh pikiran bodoh.


Sebentar yang dikatakan oleh Mila ternyata membutuhkan waktu 15 menit lagi agar mereka sampai ke tempat tujuan. Yang tidak lain, tempat peternakan Ayah Radit yang sangat besar. Mila sengaja mengajaknya ke sini agar Widya berbaikan dengan Radit karena ia tahu kalau mereka berdua tidak saling bicara lagi setelah kejadian pagi kemarin.


Bergeming di tempatnya berdiri, Widya menolak melewati pagar untuk masuk ke dalam. Widya menarik kasar tangannya dari genggaman Mila.


"Aku pulang saja."


"Jangan gitu dong, Wid. Kamu harus bertemu dengan Radit untuk berbaikan dengannya." Mila menyambar tangan Widya untuk menahannya pergi.


"Aku nggak ingin berbaikan dengannya. Kalau kamu memaksaku, kita akhiri saja pertemanan bodoh ini," ucap Widya sinis sehingga Mila melepaskan pegangan tangannya.


"Biarkan saja cewek cengeng ini pergi, Mil. Nggak ada guna berteman dengannya," kata Radit, yang berdiri tepat di belakangnya.

__ADS_1


Memberikan payungnya ke tangan Widya, secepat kilat Mila pergi meninggalkan mereka berdua untuk menyapa para pekerja yang ada di dalam.


__ADS_2