Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Pertama Kalinya


__ADS_3

Widya tidak menyangka kalau semuanya akan berjalan selancar ini untuk Radit. Siapa yang mengira kalau kehadirannya di sini untuk menemui orang tuanya sebelum mampir ke rumahnya akan membuatnya terjebak bersama Radit di dalam kamarnya dahulu. Mengingat tatapan kemenangan di mata Radit di meja makan tadi, ia tahu malam ini akan menjadi hari yang sangat panjang untuknya.


Menghempaskan tubuhnya telentang di atas kasurnya, Widya menatap langit-langit kamarnya. Lalu mengedarkan pandangannya pada sekeliling kamarnya. Melihat kamarnya masih sama seperti terakhir kali ia meninggalkannya, Widya bisa menduga kalau Ibunya tidak pernah mengubah kamar tidurnya.


Mungkin sama seperti dirinya yang masih membiasakan diri dalam pernikahannya, Ibunya pun perlu waktu untuk mengosongkan kamar ini. Tata letak barang-barangnya masih sama seperti dahulu, tanpa ada perubahan sedikit pun. Mengerjapkan matanya berulang kali, Widya menahan air matanya yang mau mengalir keluar. Kembali ke kamarnya ini lagi telah membangkitkan kenangan-kenangan masa kecilnya selama ia tinggal bersama orang tuanya di sini.


Sungguh konyol menangisi hal sepele seperti ini. Walau bagaimanapun ini bukanlah kamarnya lagi, sekarang ia sudah memiliki rumah sendiri bersama suaminya. Ya suaminya, yang sekarang ini sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi. Tiap detiknya indera pendengaran Widya begitu peka mendengarkan suara guyuran air yang berasal dari kamar mandi. Ia begitu gugup menunggu Radit selesai mandi.


Bahkan sampai sekarang pun, Widya masih ingat ucapan yang dia katakan padanya sebelum memasuki kamar mandi tadi.


Bersiaplah, setelah ini akan ada banyak hal yang akan kita bicarakan dan kita... Lakukan.


Begitulah ucapannya tadi sebelum memberikan senyuman penuh makna padanya. Tanpa dia bilang begitu pun, Widya sangat mengetahui bahwa ia tidak bisa kabur lagi dari permbicaraan mengenai malam pertama mereka ini. Mungkin sebelumnya, ia sudah melakukan berbagai macam hal demi menghindari hari ini. Namun, kali ini Widya bisa melihat tekad di mata Radit. Terlihat sekali kalau suaminya itu tidak akan membiarkannya lari lagi dari masalah ini.


Semakin ia terus memikirkan hal ini, semakin Widya ingin bersembunyi di suatu sudut yang tak terlihat oleh Radit. Mendengus memikirkan ide itu, Widya tidak bisa membayangkan di sudut mana tempat yang tidak akan terlihat oleh mata elang suaminya itu.


Ayolah, Widya! Jangan jadi pengecut begitu. Ini sudah menjadi hal lumrah dalam pernikahan. Apa yang kamu takutkan? Dia itu suamimu, ingat suamimu! Berhenti menghindarinya seperti seekor tikus yang takut diterkam oleh kucing.


Menghembuskan napas panjang, Widya sudah berkali-kali mengucapkan hal itu pada dirinya, tapi tetap saja rasa gugup ini tidak pernah berkurang sedikit pun. Malahan setiap waktunya, ia semakin gugup saja.


"Apa yang kamu pikirkan sampai mengerutkan dahi sedalam itu?" tanya sebuah suara di dekatnya.


Dengan secepat kilat, Widya terlonjak dari posisi berbaringnya dan berdiri dengan gugup di hadapan Radit.


"Sejak kapan kamu selesai mandi?"


"Mungkin beberapa menit lalu," jawabnya, agak kurang yakin. "Aku nggak tahu kapan pastinya, yang jelas saat aku keluar dari kamar mandi, kamu sudah menghela napas hahhh hihhh huhhh di atas kasur. Apa yang kamu pikirkan hingga mendesah seperti itu melulu?"


Radit menatapnya dengan penuh selidik. Matanya menelusuri sekujur tubuh Widya dengan seksama.


"Sepertinya aku bisa menebaknya," lanjutnya, sebelum Widya menjawab pertanyaannya. "Kamu pasti sedang memikirkan berbagai macam cara untuk menghindar lagi dariku. Bukankah begitu, Widya sayang?"


"Tentu saja nggak!" seru Widya, mengelak dengan nada lumayan keras. Berdeham, ia berusaha melembutkan nada suaranya. "Tentu saja kamu salah, Radit suamiku. Aku hanya memikirkan kapankah hujan ini berhenti. Rasanya tiap waktunya, guyuran hujan di luar sana tiada hentinya membasahi atap rumah ini. Mungkin nggak lama lagi akan ada kilatan petir menyambar di luar sana."


Seolah membenarkan dugaan Widya itu, tiba-tiba terdengar suara sambaran petir menggelegar di atas langit, kemudian cahaya kilatnya memasuki celah jendela kamar mereka berdua.


Terlalu kaget dengan suara dan cahaya menakutkan itu, Widya berlari ke dalam pelukan Radit. Matanya terpejam erat, menolak membukanya untuk melihat apakah ada cahaya kilat lagi yang bersinar di kamar mereka.


"Apa kilatnya sudah menghilang?" tanya Widya, membenamkan kepalanya semakin dalam di dada Radit.


"Aku rasa begitu," jawab Radit datar. "Aku nggak tahu kalau kamu sangat takut sekali dengan kilatan petir. Apa kamu takut kilatan itu akan menyambarmu karena sudah berbohong?"

__ADS_1


Lagi. Suami menjengkelkannya ini sedang menertawakannya. Sepertinya dia selalu menemukan hiburan setiap kali Widya ketakutan. Menengandahkan kepalanya, Widya melihat mata Radit menari-nari nakal padanya. Walaupun dia berusaha keras memasang raut datar, dia tidak bisa menutupi rasa gelinya dari Widya. Mata hitam pekatnya menunjukkan segalanya.


"Saat seperti ini bisa-bisanya kamu bercanda denganku?" geram Widya, mendelik marah.


"Maafkan aku, kalau sudah menyinggungmu," ujarnya, tanpa ada nada penyesalan sama sekali dalam suaranya. "Berhubung kamu sudah berada dalam pelukanku dengan sendirinya, bagaimana kalau kita melanjutkan ke tahap berikutnya?"


Yang awal mulanya ingin memarahi Radit, seketika pikiran Widya buyar saat mendengarkan saran itu.


"Tahap berikutnya?" tanya Widya mengulangi ucapan Radit, seperti orang bodoh tidak tahu harus merespons bagaimana.


Dalam sekejap Radit melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh Widya dan mencondongkan tubuhnya mendekat.


"Kamu tahu maksudku," bisiknya. "Jangan berpura-pura bodoh begitu. Kamu tahu, sudah saatnya kita menyempurnakan pernikahan ini."


Terlalu linglung, Widya tidak menyadari kalau sekarang ini tubuhnya sudah berada di atas kasur dengan Radit berada di atasnya. Senyum nakal bermain-main di bibir suaminya itu. Menyadari kelinglungan Widya sebagai sebuah kesempatan, Radit perlahan menurunkan kepalanya mendekat kepada Widya.


Bagaikan sapuan halus beludru, mulut Radit mengusap bibir Widya begitu lembut namun posesif. Berbeda dengan kain beludru yang halus dan dingin, ini berbanding terbalik, rasanya begitu panas seolah-olah ada api membara di sana. Ataukah perasaan membara ini berasal dari dirinya? Ia tidak mau memikirkannya. Widya benar-benar tersihir oleh ciuman lembut itu.


Sama cepatnya seperti ciuman manis itu berlangsung, ciuman itu pun cepat pula berakhirnya. Membuka matanya --Widya tidak tahu sejak kapan ia memejamkan matanya-- ia melihat Radit memandangnya dengan tatapan geli. Saat itu pula kesadarannya kembali. Suaminya telah berhasil membuatnya menjadi orang bodoh.


"Aku nggak tahu kalau kamu begitu menantikan ciuman dariku," ujarnya, menahan tawa. "Kalau tahu begitu, sudah sejak lama aku mencium bibir manismu itu."


Mendorong tubuh Radit menjauh darinya, Widya beranjak bangun dari atas kasur dan melayangkan tatapan kesal pada suaminya, yang kini terkekeh geli di sampingnya dalam posisi telungkup.


Radit memalingkan wajahnya menatap Widya. "Bisa-bisanya apa? Ayo, katakan padaku, bisa-bisanya apa?" Lalu dia membalikkan badannya dan menaruh kedua tangannya di bawah kepalanya. "Jangan mencoba melucu, Wid. Dari mananya dari tindakanku tadi yang nggak pantas menurutmu? Hmm?"


Menudingkan jari telunjuknya pada Radit dengan geram, Widya berseru, "Kamu menyerangku!" Menyipitkan matanya, Widya menatap Radit dengan pandangan merendahkan. "Aku nggak tahu kamu bisa selicik itu. Berani sekali kamu menyerangku saat aku sedang lengah!"


Mengeluarkan salah satu tangannya dari bawah kepalanya, Radit menangkap jari yang ditudingkan Widya padanya.


"Konyol sekali kamu mengatakan suamimu ini menyerangmu," celanya, mendecakkan lidahnya. "Aku hanya melakukan yang seharusnya kulakukan selama ini. Kurang bersabar apa lagi aku selama ini padamu?"


Menyentakkan Widya mendekat padanya, Radit menatap matanya dengan tajam.


"Sekarang katakan padaku, apa sebenarnya yang kamu takutkan padaku? Kenapa kamu selalu menghindar setiap kali aku menyentuhmu? Apakah sentuhanku begitu menjijikkannya untukmu sehingga kamu nggak sudi aku sentuh? Atau kamu takut aku akan memaksakan kehendakku padamu, apa aku serendah itu di matamu?"


Rentetan pertanyaan tak ada habisnya itu membuat Widya kewalahan dan kehabisan kata-kata untuk menjawab langsung. Ia bisa melihat mata Radit berkilat terluka menatapnya. Dalam sekejap perasaan bersalah merayapi sekujur tubuh Widya sehingga ia memalingkan wajahnya, tidak sanggup melihat tatapan terluka itu lebih lama lagi di mata Radit. Namun, Radit tidak membiarkannya begitu saja. Dia memaksa Widya kembali menatap wajahnya.


"Mungkin kamu sudah lama tahu, kalau aku memiliki perasaan padamu. Dan, aku juga merasakan hal yang sama darimu. Apa aku salah?" tanyanya ragu-ragu. "Atau semua ini hanyalah khayalanku belaka? Apa kamu nggak menyukaiku? Apa kamu masih membenciku seperti dulu?"


Widya cuma bisa menggelengkan kepalanya, tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

__ADS_1


"Apanya yang nggak? Jelaskan dengan mulutmu itu sendiri, aku perlu kejelasan darimu!" ucap Radit dengan nada tegas.


"Aku nggak membencimu," jawab Widya pelan, matanya menolak menatap mata Radit langsung. "Bisakah kita menghentikan percakapan ini? Rasanya begitu memalukan."


"Apa yang membuatmu begitu malu? Sudah sewajarnya kita meluruskan hal ini agar aku tahu tindakan apa yang harus aku lakukan padamu."


"Memangnya kalau aku menyukaimu juga, kamu akan...akan..." Mata Widya berkilat penuh arti pada kasur di bawah tubuh mereka berdua. "Apa kamu akan benar-benar melakukannya?"


"Menurutmu?" tanya Radit balik.


"Mana aku tahu pikiranmu," sahut Widya, mengangkat bahunya. "Sejujurnya, aku tahu sudah waktunya bagiku melaksanakan kewajibanku sebagai istrimu di sini," dengan suara sekecil mungkin Widya mengucapkan kata-kata terakhir itu, "tapi, berapa kali pun aku mencoba, rasanya aku masih belum siap. Aku tahu kalau ini akan terdengar konyol, tapi pemikiran bersamamu seintim mungkin membuatku sangat malu."


Dengan cepat Widya menarik tangannya yang digenggam Radit dan menutup wajahnya yang terasa panas dengan kedua tangannya.


"Ini memalukan! Sebaiknya kita akhiri saja pembicaraan intim ini," ujar Widya memohon, mengintip memandang Radit dari celah jemarinya.


Menarik kedua tangan Widya dari wajahnya, Radit sekali lagi menyuruh Widya menatap matanya. Yang dengan enggan dituruti oleh Widya.


"Jadi, kamu menyuruhku untuk menunggumu lagi?"


Widya mengangguk cepat. "Apa kamu nggak bisa memberikan waktu lagi padaku? Aku janji ketika aku siap, aku akan mengatakannya langsung padamu."


"Kira-kira berapa lama waktu yang kamu butuhkan, sebulan, dua bulan?" ucap Radit sarkastis. "Aku nggak menjamin bisa bersabar sampai selama itu. Ingat, aku ini pria normal, Widya."


Helaan napas lelah berhembus dari mulut Radit.


"Apa aku sebegitu menggodanya bagimu, sampai kamu susah sekali untuk menahan diri?" ucap Widya, tidak bisa menahan diri menggoda Radit.


"Jangan memprovokasiku, Widya. Aku nggak bisa menjamin yang akan aku lakukan padamu sekarang." Radit memejamkan matanya, seolah menghalau sesuatu yang Widya tidak tahu apa itu.


"Maksudmu menciumku seperti sapuan kapas seperti tadi, begitu?" lanjut Widya, tidak terpengaruh oleh gertakan itu. "Aku hampir nggak merasakannya sama sekali. Aku pikir kamu tadi sedang menggelit...."


Dalam sekejap Widya kembali pada posisinya beberapa waktu lalu, terkukung di bawah tubuh Radit, yang menjulang besar di atasnya.


"Oh, jadi begitu," desah Radit, melengkungkan bibirnya membentuk senyuman penuh arti. "Kenapa nggak kamu katakan dari tadi, kalau kamu menginginkan ciuman yang begitu antusias dariku."


"Bukan begitu maksudku!" elak Widya bergetar, menelan ludahnya gugup. Ia begitu gugup melihat tatapan memangsa di mata Radit. "Aku tadi cuma menggodamu saja, nggak ada maksud apa-apa."


Menurunkan kepalanya, Radit berbisik di telinga Widya, "Apa kamu mau tahu, Istriku, godaan selalu mengarah ke mana? Kalau kamu penasaran aku akan menunjukkannya langsung padamu."


"Nggak perlu, aku nggak penasaran sama sekali," jawab Widya cepat, menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Terlambat."


Mengangkat kepalanya, Radit melemparkan tatapan penuh makna pada Widya. Dengan jantung berdegup kencang, Widya memejamkan matanya erat, gugup sekaligus menantikan apa yang akan dilakukan Radit selanjutnya saat tangannya bergerak perlahan mengelus pinggiran leher bajunya.


__ADS_2