Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Penasaran


__ADS_3

Memandang Ririn penuh kasih sayang, Widya sangat senang memiliki adik ipar seperti Ririn. Dia selalu saja membuat Widya tertawa oleh tingkah konyolnya. Berkat cerita Ririn pula kini ia agak mengetahui nama-nama para tetangganya dan mengenali karakter mereka seperti apa.


Sejak kepindahannya ke rumah ini, Widya tidak pernah sekalipun menyapa atau berbaur dengan para tetangganya. Ia merasa melakukan acara ramah tamah dengan orang yang sudah memandangnya buruk berdasarkan sebuah gosip hanya membuang waktu saja. Lagi pula ia sudah merasa puas memiliki keluarga kecilnya dan seorang teman baik seperti Mila.


Mendengarkan ocehan Ririn dengan penuh perhatian, Widya tiba-tiba teringat sesuatu yang menghantui pikirannya selama beberapa waktu ini. Masalah kemarin sore membuat pikirannya buyar, jadi ia lupa menanyakan hal penting, yang pastinya diketahui adik iparnya ini.


Menunggu peluangnya memotong pembicaraan Ririn, ia lega saat adik iparnya itu mengambil jeda sejenak untuk mengambil makanan di meja sebelum melanjutkan perkataannya. Tidak mau kehilangan kesempatannya, dengan cepat Widya mengutarakan isi pikirannya pada Ririn.


"Apa kamu mengenal mantan pacar Radit yang ada di Jogja?" tanya Widya sesantai mungkin.


Sekejap tangan Ririn yang memegang makanan berhenti tepan di depan mulutnya yang terbuka lebar, menurunkan tangannya ke pangkuan, mata Ririn memancarkan kekagetan atas pertanyaan Widya yang begitu mendadak.


"Dari mana Kakak mendengar soal Kak Nadin?"


Tersenyum miring, Widya menyilangkan kakinya. "Oh, jadi nama cewek itu, Nadin?"


Mengangguk antusias, rambut Ririn sedikit mencuat keluar dari jepitan rambutnya. Mulutnya kali ini dipenuhi dengan makanan yang tadi dipegangnya.


"Apa kamu tahu sudah berapa lama Radit dan Nadin itu menjalin hubungan?" tanya Widya tak acuh, tangannya terulur mengambil gelas dari tatakannya.


Mengetukkan jarinya di dagu, Ririn melihat ke langit-langit rumahnya, seolah-olah di atas sana terletak jawabannya. Bahunya merosot turun saat kembali menatap Widya.

__ADS_1


"Aku nggak ingat begitu jelas berapa lama hubungan mereka. Waktu itu aku hanyalah seorang bocah yang nggak tertarik sedikit pun soal hubungan asmara abangku," jawabnya menyesal.


Ucapan konyolnya itu malah membuat Widya ingin tertawa. Sepertinya dia masih tak menyandari kalau sekarang pun dia masih seorang bocah. Menahan senyumnya, Widya mengendalikan dirinya agar tidak tertawa mengejek pada adik iparnya itu. Ia tidak ingin menyinggung perasaannya. Salah bertindak saja, nanti Ririn bisa merajuk, dan tidak akan menjawab pertanyaannya lagi, pikir Widya.


"Kalau begitu, apa kamu pernah melihat wajah Nadin itu?" Lanjutnya bertanya.


Berpose layaknya orang dewasa yang sedang berbagi gosip, Ririn menatapnya dengan senyum penuh makna.


"Tentu saja aku pernah melihatnya, Kak Widya. Bahkan semua orang di desa ini pun mengenalnya dengan baik."


Mengerjapkan matanya, Widya kaget atas jawaban mengejutkan itu.


"Jadi, Radit pernah membawa cewek Jogja itu ke sini?" Widya tak bisa mengendalikan nada suaranya yang agak melengking. Entah kenapa, informasi itu membuat dirinya begitu kesal. Ada apa denganku?


"Aku nggak cemburu," sela Widya. "Aku hanya terkejut. Lanjutkan!" perintah Widya, mengibaskan tangannya di udara.


Ririn menuruti permintaannya dengan tatapan penuh pengertian yang terlihat begitu menjengkelkan. Widya menekan dorongan kekanakan yang tiba-tiba muncul. Betapa ia sangat ingin mengucapkan kalimat pedas kepada Ririn agar bisa menghapus seringaian dari wajah adik iparnya itu.


"Sebenarnya, Kak Nadin juga salah satu warga di desa ini. Dia mulai tinggal di sini saat masih SMP, tapi setelah lulus dia memilih melanjutkan pendidikannya di Jogja."


"Berarti orang tuanya masih ada di sini?"

__ADS_1


Ririn mengangguk kecil. "Iya, orang tuanya masih di sini. Mereka sudah nyaman tinggal di desa ini, dan membiarkan Kak Nadin tinggal di Jogja bersama om dan tantenya." Mengambil napas sejenak, Ririn meneruskan perkataannya, "Semua orang di desa ini memang begitu, saat mereka sudah lulus sekolah, mereka akan melanjutkan pendidikannya di kota. Makanya, di desa ini tidak terlalu banyak anak mudanya."


"Aku sudah menyadarinya. Sejak awal datang kemari, aku memang jarang sekali melihat anak muda di sini. Tapi nggak heran sih, siapa pun akan memilih tinggal di kota daripada di desa terpencil seperti ini, ditambah lagi, susah pula cari jaringan internet di sini," keluh Widya.


"Kalau Kak Widya mau internetan, Kakak hanya perlu pergi ke pusat kota di desa ini. Jaraknya sekitar satu jam dari sini."


"Merepotkan sekali."


"Kalau Kakak mau, kita bisa ke sana sekarang juga. Aku punya motor di rumah," ajak Ririn riang, senyumnya begitu lebar saat menanti jawaban darinya.


"Mungkin lain kali. Sekarang ini aku nggak bisa pergi ke mana pun," sesal Widya, menggeleng sedih. "Kamu tahu sendiri 'kan, kemarin sore aku sudah membuat keributan besar dengan Bu Leni. Jadi, untuk sementara waktu ini, aku akan berdiam diri di dalam rumah dulu. Lagi pula lusa aku akan ke kota."


Senyum riang Ririn sirna dari wajahnya, wajahnya langsung murung. Menepuk bahunya pelan, Widya memberikan semangat seperti yang dilakukan Ririn kemarin padanya. Dukungannya itu hanya dibalas dengan tatapan kesal. Tawanya langsung meledak melihat ekspresi merajuk Ririn.


Tidak ingin merasa murung seorang diri, Ririn sengaja mengungkit soal Nadin lagi di depan Widya.


"Aku baru ingat, dulu ayah sempat mengira Kak Nadin akan menjadi menantunya. Bagaimana nggak coba? Kak Nadin itu sudah sopan, cantik, pintar pula. Sayang sekali, dia lebih memilih kariernya daripada Bang Radit. Sungguh malang abangku itu."


Tawa Widya segera lenyap mendengarkan pujian itu dari Ririn. "Jadi maksudmu, kamu nggak senang memiliki Kakak Ipar kasar sepertiku?" tanya Widya sinis.


"Bukan begitu maksudku, Kak," sahut Ririn panik. Dia langsung meloncat ke tempat duduk di sebelah Widya. "Sudah kubilang semua itu masa lalu. Aku sudah nggak ingat lagi rupa Kak Nadin seperti apa. Tapi, satu hal yang kutahu pasti, Kak Widya 100 kali lebih cantik dari Kak Nadin."

__ADS_1


Sudut bibir Widya berkedut mendengar pujian berlebihan Ririn. "Kamu saja sudah lupa wajah Nadin seperti apa, jadi, bagaimana mungkin kamu tahu pasti kalau aku ini lebih cantik darinya? Ucapanmu itu benar-benar terdengar konyol, Ririn."


__ADS_2