Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Persiapan


__ADS_3

Rumah neneknya begitu ramai oleh kedatangan para ibu-ibu tetangga yang sibuk membantu neneknya mempersiapkan segala macam hal untuk pernikahannya besok. Karena diburu waktu, mereka semua sibuk bolak-balik ke rumah neneknya membawa bahan-bahan makanan.


Sebelum tempat neneknya ini dipenuhi banyak orang begini, neneknya memberitahu kepada Widya, kalau siang ini orang tuanya akan tiba di desa.


Sejak para warga desa berdatangan ke rumah neneknya untuk memberi selamat dan membantu, Widya hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Ia tidak ingin keluar kamar ataupun menerima ucapan selamat dari orang-orang yang sudah menjeratnya ke dalam pernikahan yang tidak ia inginkan ini.


Dari jendela kamarnya, Widya bisa melihat rumah Radit yang hanya berjarak 3 rumah dari rumah neneknya juga dipenuhi banyak tamu yang datang silih berganti.


Selama ia mengurung dirinya di dalam kamar, Widya banyak mendengar pembicaraan mengenai dirinya dari balik pintu kamarnya. Sepertinya para ibu-ibu itu sengaja berbicara di depan pintunya agar ia bisa mendengarnya. Desahan napas mereka begitu dilebih-lebihkan saat mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap Radit.


Mereka berbicara mengenai betapa malangnya Radit bisa mendapatkan istri seperti dirinya yang memiliki perangai buruk. Sangat lucu. Apa mereka lupa, bukan ia yang menginginkan pernikahan ini, melainkan mereka, orang-orang bodoh di desa ini—yang hanya peduli tentang apa yang dilihatnya bukan fakta yang sebenarnya—memaksakan pernikahan pada mereka berdua.


Tangan Widya begitu gatal ingin membuka pintu dan mengungkapkan pendapatnya kepada para penggosip menyebalkan itu mengenai pembicaraan konyol mereka. Akan tetapi, ia menahan dirinya karena tidak ingin menarik perhatian lebih banyak lagi kepada dirinya.


Percuma saja mengungkapkan pendapatnya mengenai pembahasan bodoh mereka, tidak akan ada yang berubah. Besok ia akan tetap menikah dengan seseorang lelaki yang baru ditemui dan dikenalnya tidak sampai seminggu. Miris memang, tapi inilah takdirnya.


Tidak berapa lama kemudian, ia mendengar suara sambutan meriah orang-orang pada kedua orang tuanya yang baru tiba dari kota di luar sana. Widya bergeming di dalam kamarnya, tidak ingin ikut menyambut kedatangan orang tuanya. Ia sakit hati pada sikap orang tuanya, yang tidak pernah sekali pun menghubunginya selama ia berada di sini. Jadi ia menyimpulkan, jika kedua orang tuanya sudah melupakannya.


Namun, lihatlah sekarang. Kedua orang tuanya segera mendatanginya ke sini, hanya karena mendengar berita pernikahan dari neneknya.


Ketukan di pintu kamarnya memberitahukan pada Widya, jika orang tuanya ingin menemuinya sekarang juga. Membukakan pintu kamarnya, ia mempersilakan kedua orang tuanya memasuki kamarnya. Lalu menutup pintu dari orang-orang yang ingin tahu di luar sana. Para warga di desa ini memang sungguh banyak ingin tahu. Sungguh menyebalkan.


Ibunya segera memeluk Widya setelah ia menutup pintu kamarnya.


“Mama kangen sekali sama kamu, Wid.” Suara ibunya pecah karena isak tangis.


Melepaskan pelukan ibunya, Widya bisa melihat bola mata ibunya berlinangan air mata. “Aku pikir, Mama sudah melupakanku,” ucapnya merajuk.

__ADS_1


Ibunya mengajak Widya duduk di pinggir ranjang bersamanya. “Itu sungguh pemikiran bodoh, Widya. Bagaimana mungkin, mama bisa melupakan satu-satunya anak perempuan yang mama miliki?”


“Kalau begitu, kenapa selama aku di desa ini Mama nggak pernah sekali pun mencoba menghubungiku?” tanya Widya heran.


“Mama takut, jika mendengar suaramu mama akan langsung menyusulmu ke sini. Papamu juga merasakan hal yang sama, Wid.”


Widya mengarahkan pandangannya kepada ayahnya yang sedang berdiri menghadap jendela dengan posisi mengaitkan kedua tangannya ke belakang, persis seperti posisi ayah Radit kemarin malam. Bahkan saat masuk ke dalam tadi, ayahnya tidak memeluk Widya sama sekali. Jadi, Widya tidak yakin kalau ayahnya juga merasakan hal yang sama, seperti yang dikatakan ibunya barusan.


Dilihat dari postur tubuhnya yang sangat kaku, ayahnya malah terlihat seperti orang yang sedang marah. Aneh sekali. Bukankah ini yang selama ini diinginkan ayahnya? Menyuruh Widya menikah secepat mungkin dan memberikannya seorang cucu untuk ayahnya pamerkan kepada para pegawainya di kantor. Lalu kenapa sekarang ayahnya malah marah? Ini sungguh membingungkannya.


Perkataan yang dilontarkan ayahnya, menjawab semua pertanyaan yang ada dalam benaknya. Seolah-olah ayahnya bisa membaca pikiran Widya.


“Papa memang menginginkan kamu menikah, tapi papa tidak menyangka kalau itu akan terjadi secepat ini. Bahkan pernikahan ini terjadi karena kehebohan yang kamu perbuat tadi malam. Nenekmu menceritakan pada papa mengenai semua gosip tentang dirimu selama kamu tinggal di sini.” Membalikkan badan, Ayahnya menatap tajam padanya. “Mungkin keputusan mengirimmu ke sini merupakan kesalahan besar. Bukannya menjaga nenekmu, kamu malah buat masalah di mana-mana.”


“Kalau Papa nggak menginginkan pernikahan ini, Papa bisa membatalkannya,” senyum Widya manis.


“Yang membuat pernikahan ini terjadi kamu, bukan papa. Jadi kamu harus mempertanggungjawabkan masalah yang kamu buat sendiri.”


Seolah tak mendengar perkataan Widya, ayahnya melanjutkan perkataannya.


“Syukurlah laki-laki yang kamu nikahi anaknya Pak Benny, teman papa semasa sekolah dulu. Setidaknya papa lega kamu mendapatkan suami yang baik seperti Radit.”


Memicingkan matanya, Widya curiga orang yang mengurungnya di gudang buku bersama Radit adalah ayahnya. Mungkin saja ayahnya punya mata-mata di sini untuk mengamati setiap gerak-geriknya.


Menghembuskan napas panjang, Widya lelah mencurigai semua orang di sekitarnya. Saat ini hanya satu hal yang diinginkan Widya, yaitu lari dari pernikahan konyol ini. Masalahnya, bagaimana caranya?


Meneteskan air mata dari pelupuk matanya, Widya menangis dalam pelukan ibunya. “Aku nggak mau menikah, Ma. Rasanya begitu menyakitkan harus menikah dengan cowok yang sangat asing bagiku.”

__ADS_1


“Anakku yang malang.” Ibunya memeluk Widya sambil menggumamkan kata-kata menenangkan.


“Hentikan tangis palsumu itu, Widya. Papa tahu hal seperti ini nggak akan membuatmu menangis,” celetuk Ayahnya tepat sasaran.


Menghapus air mata dari kedua pipinya, Widya menatap ayahnya kesal. Ia terlalu meremehkan ayahnya dengan menggunakan taktik murahan seperti ini. Tentu saja ayahnya mengetahui kebohongannya. Perkataan ayahnya pun benar. Hal seperti ini tidak akan membuatnya menangis, melainkan malah membuatnya marah.


“Nanti saja melepas rindunya, Ma. Sekarang kita harus ke rumah Pak Benny. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan dengannya,” ajak Ayahnya, menarik ibunya pelan untuk melepaskan pelukannya dari Widya.


“Papa duluan saja, nanti mama menyusul. Ada sesuatu yang harus mama bicarakan dengan Widya,” tolak Ibunya, melepaskan lengannya dari genggaman ayahnya.


Walau sempat menolak, akhirnya ayahnya menuruti permintaan ibunya, kemudian meninggalkan mereka berdua di dalam kamar untuk berbicara empat mata.


”Nah, Widya, sekarang beritahukan kepada mama, apa benar kamu tidak memiliki hubungan apa pun dengan Radit?”


“Aku pikir hal penting apa yang ingin dibicarakan Mama. Ternyata sesuatu yang nggak penting. Biar aku perjelas, Ma. Aku nggak memiliki hubungan apa pun dengan cowok menyebalkan itu,” jawab Widya, menekankan pada setiap kata yang diucapkannya.


“Baiklah. Mama mengerti. Mama harap suatu saat nanti kalian akan bahagia dengan pernikahan dadakan ini.”


“Aku meragukannya,” celetuk Widya skeptis. “Daripada itu, apa Mama punya rahasia?”


“Rahasia? Rahasia apa maksudmu, Wid?” tanya Ibunya, merasa heran dengan pergantian topik yang begitu mendadak.


"Apa aku punya saudara kembar di luar sana yang nggak aku ketahui?”


“Ya ampun, Widya! Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Tentu saja tidak ada,” tawa ibunya.


“Barangkali saja 'kan, Mama menyembunyikannya tanpa sepengetahuanku. Aku perlu seseorang untuk menggantikan posisi menyedihkanku ini.”

__ADS_1


“Kamu ini ada-ada saja. Sudah, ah, mama mau pergi menemui papamu dulu. Dia pasti akan mengomel kalau mama lebih lama lagi di sini bersamamu.” Ibunya beranjak dari ranjang. Mendadak langkahnya terhenti ketika teringat sesuatu. Matanya tiba-tiba jadi berkaca-kaca. “Oh iya, Wid, hampir saja mama lupa. Mama sudah mengemas semua barang-barangmu yang ada di rumah. Mungkin sore nanti mobil yang mengangkutnya akan datang.”


Selesai menyampaikan kabar itu, ibunya langsung keluar kamar. Widya merebahkan dirinya di atas kasur, kepalanya terasa pusing memikirkan masalah pernikahannya besok. Pemindahan semua barangnya dari kota ke desa ini menjadi pengingat baginya, jika besok ia bukan lagi milik kedua orang tuanya, melainkan milik seorang lelaki bernama Radit. Tetesan air mata keluar dari sudut mata Widya.


__ADS_2