Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Tidak Bisa Menghindar Lagi


__ADS_3

Berteduh di warung yang sudah tutup, Mila memeluk dirinya sendiri saat angin dingin berhembus menerpanya. Mendongak menatap langit malam di atasnya, Mila dibuat terkejut oleh cahaya kilatan petir dan suaranya yang menggelegar bergumuruh mengerikan. Mundur beberapa langkah, ia mencoba menjauh dari suara menakutkan itu.


Siapa yang mengira kalau Mila akan terperangkap seorang diri di sini saat ia keluar untuk membeli obat nyamuk. Ketika tadi ia keluar rumah, hujan belum terlalu deras seperti sekarang, apalagi sebuah petir menakutkan seperti yang dilihatnya sekarang.


Ingin rasanya Mila mencoba bertindak nekat dengan menerobos hujan lebat ini, tapi Mila takut di tengah jalan ia akan terkena sambaran petir yang sekarang tak henti-hentinya menyambar di langit. Ditambah lagi, jarak rumahnya dari sini cukup memakan waktu sekitar 5 menit meskipun ia berlari cepat. Lebih parahnya lagi, jalanan di sekitarnya begitu gelap dikarenakan sedang mati lampu.


Namun, jika terus menunggu saja di sini, Mila tidak tahu kapan hujan itu akan berhenti. Semakin lama ia menunggu, rasanya rintikan hujan bukannya reda malah semakin deras saja. Memberanikan dirinya, Mila mengulurkan tangan untuk merasakan tetesan air hujan dari pinggir atap warung.


Tidak berapa lama sebuah kilatan cahaya petir menyambar tidak jauh dari tangannya. Memekik ketakutan, Mila kembali mundur ke tempatnya tadi sembari menutup mata dan telinganya, seolah-olah itu akan menghilangkan ketakutannya. Ia meringkuk ketakutan di sudut warung itu sambil berdoa ada seseorang yang menemaninya di sini. Setidaknya kehadiran seseorang akan mengalihkan perhatiannya dari rasa mencekam ini.


"Kamu baik-baik saja, Mil?" tanya sebuah suara tidak jau darinya.


Mila tidak peduli suara siapa itu, tetapi yang pasti dia sudah menolongnya dengan muncul secara tiba-tiba, seperti malaikat turun dari langit.


Menengandah memandang sumber suara itu, Mila terperangah melihat sosok yang sangat dikenalnya dengan baik itu. Kenapa dari semua orang yang ada, harus Sendi yang datang menyelematkannya dari rasa ketakutannya ini. Sepertinya takdir sedang mengejeknya dengan cara mempertemukannya pada seseorang yang tidak ingin ditemuinya. Apalagi di situasi ia sedang rentan begini.


"Mil, kamu nggak apa-apa, kan?" ujar Sendi kembali bertanya seraya berjongkok mendekatinya.


"Aku... Aku baik-baik saja. Aku cuma kaget saja dengan suara petir tadi," jawab Mila, berhasil mengatasi rasa keterkejutannya. "Kamu sendiri sedang apa di sini?"


"Syukurlah kalau begitu, aku pikir kamu tadi hampir pingsan," leganya. "Aku tadi sedang dalam perjalanan ke pos ronda, tapi di tengah jalan suara geledek mengejutkanku. Makanya tanpa pikir panjang aku berlari ke arah sini. Dan betapa kagetnya aku saat melihatmu sedang meringkuk ketakutan di pojok sini."


"Oh begitu."


"Ya begitulah. Apa kamu bisa berdiri?"


Memegang lengan Mila dengan hati-hati --seolah takut sentuhannya akan menakuti Mila-- Sendi membantunya untuk berdiri. Setelah mereka berdua berdiri bersama, keduanya langsung terdiam membisu, canggung harus berbicara apa lagi.


Sekarang setelah Mila tidak sendirian lagi, ia sudah tidak setakut tadi ketika mendengarkan suara gemuruh petir. Namun, yang menjadi ketakutannya sekarang adalah berduaan dengan Sendi, tanpa tahu harus bersikap seperti apa. Mengabaikannya tentu bukanlah tindakan yang pantas, tetapi mengajaknya mengobrol santai di tengah kegelapan serta hujan mengguyur tak henti-hentinya ini juga memberikan kesan terlalu romantis baginya. Seolah-olah mereka berjanji untuk bertemu di sini untuk saling berbagi kasih.


Lebih menakutkannya lagi, Mila takut ada orang lain melihatnya bersama dengan Sendi di tengah kegelapan ini. Terlintas di benaknya untuk berlari keluar saja menerobos guyuran hujan agar bisa terlepas dari rasa gugup ini.


"Aku dengar kamu mau ke kota mengunjungi Kakakmu yang ada di sana," ucap Sendi, memulai obrolan karena tidak nyaman dengan kebisuan di antara mereka.

__ADS_1


Menolehkan kepalanya cepat memandang Sendi yang tetap fokus mengarahkan pandangannya ke depan melihat hujan, Mila mengedip terkejut.


"Siapa yang memberitahumu?"


"Aku mendengarnya dari Ibuku. Dan Ibuku mengetahui hal itu dari Ibumu. Dia berharap aku bisa menghentikanmu untuk pergi ke sana."


Kali ini tatapan Sendi mengarah padanya, kilatan matanya terlihat begitu terluka.


"Apa ini sebabnya kamu selalu menghindariku selama beberapa hari ini? Apa kamu merasa risih oleh sikap orang tua kita yang ingin menjodohkan kita berdua?"


"Itu... Aku... Aku...." Mila tidak bisa menjawab pertanyaan itu, ia sangat merasa bersalah karena telah melukai perasaan Sendi.


"Aku sungguh bodoh karena nggak menyadari hal ini dan mengira kamu menjauhiku karena aku sudah melakukan kesalahan. Siapa sangka kalau ini semua karena ulah Ibuku? Seharusnya kamu bilang saja langsung padaku, jadi aku bisa meminta pada Ibuku agar nggak terlalu memaksamu menerima perasaanku." Nada suara Sendi terdengar begitu terluka. "Aku nggak tahu kalau selama ini perasaanku sudah membebanimu. Kalau kamu mencoba kabur dariku dengan cara pergi ke kota mengunjungi Kakakmu, aku bisa menjamin padamu aku nggak akan pernah lagi mendekatimu."


"Nggak... nggak... bukan begitu. Kamu nggak membebaniku sama sekali, aku... aku... Aku cuma nggak enak saja padamu. Aku...." Mila kebingungan harus menjelaskan perasaannya bagaimana pada Sendi.


"Sejujurnya aku tahu selama ini aku memang nggak punya kesempatan untuk mengisi hatimu, tapi setidaknya aku berharap aku bisa menjadi teman yang baik untukmu," lanjut Sendi, mengabaikan mendengarkan penjelasan Mila. "Aku nggak mengira sikapku itu malah membuatmu risih dan membuat Ibuku mendesakmu untuk menikahiku. Percayalah padaku, aku nggak bermaksud membuatmu berada dalam situasi ini."


Ia mulai kesal karena Sendi menyimpulkan semua itu tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Dari raut wajahnya, Mila bisa melihat kalau Sendi sangat terkejut oleh seruan kemarahannya itu. Akan tetapi, dia pulih dengan cepat dari rasa keterkejutannya itu, sebab dia kembali melanjutkan kalimatnya yang terpotong oleh Mila tadi.


"Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi, Mil, aku sudah paham. Sekarang saja aku tahu kalau kamu merasa canggung berada berdua saja denganku di sini."


Mengacak pinggangnya, Mila melotot marah pada Sendi.


"Nggak, nggak, dan nggak! Kamu nggak tahu apa-apa, dasar kamu keledai keras kepala!" cetus Mila lantang.


"Sepertinya aoa yang dikatakan Radit benar, kamu berubah drastis setelah berteman dengan Widya. Kepribadianmu jadi garang sepertinya," gumam Sendi, menatap Mila melongo, dia memandang Mila seolah ia adalah orang asing.


"Apa tadi yang kamu katakan? Aku nggak mendengarmu, suara hujan menenggelamkan suara kecilmu itu," keluh Mila, mendekatkan telinganya pada Sendi.


"Bukan apa-apa, lanjutkan saja apa yang ingin kamu katakan tadi," geleng Sendi,.menolak mengulangi perkataannya.


"Baiklah, sekarang dengarkan aku baik-baik!" ujar Mila, melantangkan suaranya agar bisa terdengar oleh Sendi. "Kepergianku ke kota nggak ada hubungannya denganmu, aku cuma ingin menengok keadaan Kakak dan keponakanku saja di sana. Lagipula sudah lama aku nggak ke sana. Dan mengenai perilakuku menghindarimu, aku akui itu kulakukan agar Ibumu berhenti mendesakku menerima perasaanmu."

__ADS_1


Sejauh ini penjelesannya itu didengarkan dengan baik oleh Sendi. Meskipun ia bisa melihat kalau Sendi begitu terluka oleh kejujurannya. Dia mengangguk kaku, meminta Mila kembali melanjutkan perkataannya.


"Aku mengaku salah karena sudah menyembunyikan hal ini dirimu. Aku nggak tahu sikap bungkamku ini malah melukaimu, aku cuma nggak ingin kamu berdebat dengan Ibumu karena membelaku."


"Kamu nggak perlu khawatir, aku bisa menyelesaikan hal itu dengan Ibuku," sahut Sendi.


"Dan soal perasaanmu yang membebaniku, itu nggak sepenuhnya benar. Sebenarnya aku...." Mila berdeham, mencoba mengeluarkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya sebenarnya pada Sendi. "Jujur aku merasa senang kamu sudah menyukaiku sampai sekarang, tapi... tapi aku nggak merasa enak padamu karena nggak pernah bisa membalas perasaanmu padaku. Yang membuatku risih bukan karena kamu menyukaiku, tapi karena pandangan orang-orang setiap melihat kita berdua. Rasanya nggak adil bagimu menunggu sesuatu yang nggak pasti seperti diriku ini. Aku nggak yakin kapan bisa membuka hatiku untuk orang lain."


"Jangan bilang kamu masih menyukai Radit?" ucap Sendi ragu-ragu dan takut bahwa tebakannya benar.


Melihat reaksi Mila yang tersentak oleh ucapannya itu, seakan-akan Sendi baru saja menamparnya. Matanya yang berkikat ketakutan, meyakinkan Sendi kalau tebakannya memang benar.


"Dia sudah punya istri, Mil! Bahkan istrinya pun sekarang sudah menjadi temanmu, apa kamu gila?"


"Aku tahu! Nggak perlu kamu mengatakan hal itu pun, aku mengetahuinya dengan sangat jelas," ujar Mila, menelan gumpalan pahit di tenggorokannya. "Aku nggak bisa mengendalikan perasaanku, makanya aku selalu berusaha untuk menghindari Radit selama ini. Dan aku harap kamu nggak akan mengatakan hal ini pada Radit, aku... aku...."


"Aku nggak serendah itu, Mil," sela Sendi, terdengar kecewa.


Menghela napas lega, Mila tersenyum berterima kasih pada Sendi.


"Aku harap kamu mengerti kalau sikapku yang selama ini menjauhimu bukan karena aku membencimu, tapi karena aku nggak ingin kamu membuang-buang waktumu dengan perempuan sepertiku. Kamu bisa mendapartkan yang lebih baik dariku," senyum Mila, lega telah menyampaikan isi hatinya pada Sendi. "Sepertinya hujannya sudah agak reda. Kalau begitu, aku duluan ya!"


Menarik tangan Mila, Sendi melepaskan jas hujan yang dikenakannya dan memberikannya pada Mila. Menolak keras pinjaman jas hujan itu, akhirnya Mila menyerah juga setelah Sendi bersikeras memaksanya mengenakan jas hujan miliknya.


"Aku pasti akan mengembalikannya besok," ucap Mila, masih merasa tak enak hati meninggalkan Sendi dengan membawa jas hujan miliknya.


"Pergilah, jangan mengkhawatirkanku! Aku nggak akan sakit karena hujan seperti ini," suruh Sendi, mendorong tubuh Mila.


Mila menolehkan kepalanya untuk terakhir kalinya pada Sendi dengan raut wajah merasa bersalah. Memayungi kepalanya dengan tangannya, Mila siap berlari menembus guyuran hujan di atasnya. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengarkan Sendi mengucapkan sesuatu padanya.


"Aku akan menunggumu sampai kapan pun."


Usai mengucapkan kalimat itu, Sendi berlari pergi meninggalkannya terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2