
Mengabaikan suara ketukan tidak sabar di pintu kamarnya, Gilang memiringkan tubuhnya kemudian menutup kepalanya dengan bantal. Sungguh memekakkan telinga mendengarkan omelan Ibunya dari luar pintu kamarnya. Ia sangat tahu saat ini kedua orang tuanya pastilah heran dengan sikapnya, yang sejak kemarin mengurung dirinya di dalam kamar. Bahkan bisa dibilang sejak kemarin ia tidak ada makan sama sekali.
Perasaan bersalah yang menggerogotinya semenjak pertemuannya dengan Radit sore kemarin mengakibatkan ia kehilangan nafsu makan. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi temannya itu. Mengungkapkan fakta kalau ia memang benar memiliki perasaan pada istrinya pastilah akan membuat dirinya mendapatkan pukulan dari temannya itu. Setelah dipikirkan baik-baik, mungkin itu bukanlah ide buruk.
Merasa lega setelah tidak terdengar lagi suara di luar kamarnya, Gilang menatap hampa pada langit-langit kamarnya. Mengangkat ponselnya, ia menatap sendu pada foto Widya yang ada di layar ponselnya. Sekarang apa yang harus dilakukannya, renung Gilang, mengurung dirinya terus-menerus di rumahnya tidak akan menyelesaikan masalah.
Selama apa pun ia menunda masalah ini, tetap saja suatu saat nanti ia harus menyelesaikan masalah perasaannya yang tidak pada tempatnya ini secepat mungkin. Menyimpan perasaan suka terlalu lama pada istri teman masa kecilnya itu bukanlah tindakan yang bijaksana. Meskipun Radit pernah berkata mereka menikah atas dasar keterpaksaan, tetap saja, Widya sudah sah menjadi istri Radit. Berharap keduanya akan berpisah hanya akan membuat dirinya terlihat jahat.
Sejak dulu, entah mengapa, Gilang selalu saja menyukai perasaan pada perempuan yang menjadi milik Radit. Beberapa kali ia merasa tergoda untuk merebut pacar temannya itu. Perasaan iri terhadap Radit yang selalu mendapatkan perempuan yang diinginkannya membuatnya ingin menghancurkan hubungan temannya itu. Mungkin karena itulah, dulu ia merasa agak senang saat Nadin meninggalkan temannya itu, karena memilih kariernya.
Hantaman ponselnya yang jatuh menimpa wajahnya membuat Gila mengerang kesakitan. Menghempaskan ponselnya di kasur, Gilang melotot marah pada ponselnya. Sepertinya, ponselnya pun mengkritik tindakan Gilang yang merasa senang di atas penderitaan temannya itu. Ya, ia akui, ia bukanlah teman yang baik. Berteman lama dengan menyimpan perasaan iri pada temannya itu memanglah tindakan yang tercela. Apalagi Radit tidak pernah sekali pun bersikap buruk padanya.
Menggosokkan wajahnya dengan marah, Gilang bangkit dari posisi tidurnya. Baiklah, ini bukanlah saatnya bersikap pecundang seperti ini, sudah saatnya ia mengutarakan isi pikirannya pada Radit. Namun, sebelum itu ia harus mengisi perutnya dulu. Sangatlah konyol, kalau nanti dia tiba-tiba tersungkur jatuh karena kekurangan tenaga.
Melangkah cepat ke pintu kamarnya, Gilang tidak sengaja mendengarkan percakapan kedua orang tuanya di luar kamarnya.
"Ya ampun! Beneran nih, Pak? Malang sekali istri Radit harus mengalami hal buruk seperti itu," desah Ibunya.
"Tapi, Bapak dengar keduanya sudah mendapatkan ganjaran dari Nenek Aya. Baguslah kalau begitu, jadinya kedua perempuan nakal itu akan berhenti menganggu Widya lagi," ujar Ayahnya, mendecakkan lidah.
"Ibu heran sama kelakuan Tika dan Nita, kenapa sih mereka harus bersikap kekanakan begitu. Kasihan sekali Widya harus mendapati kakinya terkilir lagi oleh ulah kedua perempuan itu," cela Ibunya.
Sebenarnya ada apa ini? Padahal belum sampai sehari ia mengurung dirinya di dalam kamarnya, tapi apa? Widya terkilir? Bagaimana mungkin! Perempuan setangguh Widya bisa kalah oleh Tika dan Nita. Terakhir kali ia melihat pertarungan ketiga perempuan itu, ia bisa tahu kalau Widya bukanlah perempuan selemah itu. Lalu bagaimana mungkin, sekarang ini dia terkilir karena diserang lagi oleh Tika dan Nita?
__ADS_1
Membuka pintu kamarnya dengan kasar, Gilang mengagetkan kedua orang tuanya, yang menatap terkejut padanya.
Mengabaikan panggilan orang tuanya, Gilang bergegas keluar rumah untuk mencari tahu kejadian sebenarnya, yang menimpa Widya. Meskipun benaknya menjerit keras agar ia menghentikan dirinya berlari seperti orang kesetanan, ia tidak bisa menghentikan rasa khawatir yang dirasakannya saat mengetahui Widya sekarang sedang terluka di luar sana.
Dalam benaknya, ia sangat mengetahui dengan jelas, kalau hal ini tidak ada hubungannya dengannya sama sekali, tetapi tanpa bisa dihentikannya, kakinya terus melangkah pergi mencari keberadaan Widya.
Setelah beberapa menit berlari, Gilang menyandarkan tangannya di pepohonan yang rindang, mengistirahatkan dirinya dari rasa lelah. Inilah akibat kelakuannya tidak ada menyentuh makanan selama seharian, sekarang kakinya terasa lemah seperti lilin yang meleleh. Bahkan rasa pusing di kepalanya pun telah membuat jalanan yang ada di hadapannya terasa berputar-putar.
Memaksakan dirinya melanjutkan perjalanannya hanya akan membuat dirinya tergelatak lemas di jalanan, seperti selembar kertas yang jatuh ditiup angin. Menundukkan kepala menatap kesal pada tanah yang dipijaknya, sebuah kerikil kecil menarik perhatiannya. Dengan kesal ditendangnya kerikil itu dari hadapannya.
Memberengut kesal pada kerikil yang sudah terlempar jauh darinya, Gilang tersentak kaget saat sebuah tangan menepuk bahunya. Perasaan merinding menjalari punggungnya, sebelum ia membalikkan badan menghadap seseorang yang berada di belakangnya. Entah mengapa ia sudah merasa bahwa seseorang itu adalah Radit, tentu saja, dugaannya sangat benar. Perasaan buruk memang tidak pernah salah.
Temannya itu menyilangkan tangannya sembari memandangnya dengan mata berkilat kesal, sekaligus ada rasa puas juga di sana. Mungkin dia akhirnya senang karena sudah menemukan keberadaan Gilang yang telah bersembunyi darinya.
"Ternyata kamu ada di sini," ujarnya ketus. "Bagaimana rasanya bersembunyi layaknya tikus dariku? Kenapa pula rona wajahmu itu, apa kamu setakut itu padaku sampai pucat begini?"
"Rona wajahku ini nggak ada hubungannya denganmu. Dan, asal kamu tahu saja aku nggak bersembunyi darimu," sahut Gilang, kesal oleh tingkah menyebalkan Radit mengejeknya seekor tikus.
"Oh, ya?" Radit menaikkan sebelah alis, ekspresinya menunjukkan ketidakpercayaan. "Kalau begitu, kenapa hari ini aku susah sekali mencarimu, wahai temanku yang pembohong?"
"Itu nggak ada hubungannya denganmu! Aku hari ini sibuk melakukan sesuatu."
"Tentu saja, ini ada hubungannya denganku. Kalau urusanmu itu berkaitan dengan istriku," geram Radit.
__ADS_1
"Omong-omong tentang istrimu, aku dengar hari ini dia bertengkar lagi dengan Tika dan Nita. Apa dia baik-baik saja?" Gilang berusaha keras agar suaranya terdengar tak terlalu peduli.
Menyipitkan matanya curiga, Radit berkata dengan ketus, "perihal keadaanku istriku, kamu nggak perlu mengkhawatirkannya. Aku bisa mengurusnya." Melangkah mendekat, Radit mengecilkan suaranya. "Sekarang katakan padaku, sobat, apa dugaanku benar kalau kamu memiliki perasaan pada istriku?"
Membalas tatapan amarah Radit dengan rasa amarah yang hampir sama, Gilang menjawab pertanyaan temannya itu sambil mengertakkan giginya.
"Ya, benar, aku menyukainya! Kenapa nggak? Bukannya kalian nggak saling menyukai, jadi apa salahnya kalau aku menyimpan perasaan pada istrimu?"
Menarik kerah baju Gilang dengan marah, Radit mengepalkan tangannya, seolah bersiap-siap menghajar wajahnya.
"Ada apa denganmu?" Dorongnya kasar badan Gilang pada pohon yang ada di belakangnya. "Meskipun kami menikah atas dasar keterpaksaan, dia tetaplah istriku, dasar kamu bajing*n!"
"Apa salahnya? Aku hanya menyukainya! Aku nggak ada niat untuk merebutnya darimu. Kamu nggak bisa memaksaku begitu saja melupakannya," balas Gilang ketus. "Aku nggak bisa mengendalikan perasaanku. Lagipula aku sudah muak mengalah padamu."
"Apa maksudmu?"
"Orang sepertimu yang selalu mendapatkan apa pun yang kamu inginkan, nggak akan mengerti perasaanku," dengus Gilang, tersenyum miring pada Radit. "Jangan takut, Bung! Aku nggak akan merusak rumah tanggamu, aku sadar di mana batasku."
"Sialan kamu!" Radit mengangkat kepalan tangannya.
Menutup kedua matanya, Gilang bersiap mendapatkan pukulan temannya itu. Ya, tampar aku! Jangan menahan dirimu, aku memang pantas mendapatkan pukulan darimu.
"Kalian sedang apa?"
__ADS_1
Suara terkejut dari seorang perempuan menyadarkan Gilang bahwa pertengkarannya dengan Radit disaksikan oleh orang lain. Sial. Menengokkan kepalanya, ia mendesah dalam hati, melihat Mila membelalak terkejut menatapnya yang terdiam pasrah di sandaran pohon menunggu pukulan Radit. Bukan ini yang ia inginkan, tapi apalah daya takdir berkata lain.
Kalau dipikirkan dengan baik-baik, ini salahnya memilih tempat terbuka seperti ini untuk menyulut kemarahan Radit padanya. Tetapi setidaknya, ia harus bersyukur karena tidak ada orang lain yang melihat, selain Mila, yang masih terdiam membeku di tempatnya menatap melongo pada Gilang dan Radit.