
Kembali ke masa sekarang, Radit menatap langit-langit kamarnya. Ia menggeleng, mencoba menghapus ingatan itu dari kepalanya. Mengingatnya kembali hanya mengoyak luka lamanya saja. Kenapa juga ua harus lupa membuang cincin terkutuk ini, tatapnya muram pada cincin di jemarinya.
Bangkit dari tempatnya berbaring, diambilnya kotak kecil yang ada di atas laci meja samping ranjangnya, kemudian memasukkan kembali cincin di sana. Sama seperti Widya, ia juga tidak ingin melihat cincin itu lagi. Percuma saja memikirkan masa lalu, hal itu nggak akan mengembalikan masa mudanya yang menyedihkan menjadi lebih baik. Lagi pula Radit nggak ingin mengingat Nadin lagi. Dia hanyalah masa lalu baginya, yang harus dipikirkannya sekarang adalah stri posesif yang ada di sebelah kamarnya.
Teringat sikap cemburu Widya tadi, sebuah senyuman merekah di bibirnya. Lucu sekali melihat istrinya itu menyatakan hak kepemilikannya atas dirinya ini. Namun, Radit tak bisa menyalahkannya karena dirinya pun akan berlaku hal sama pada istrinya itu. Suka ataupun tidak, Radit juga tidak bisa memaafkan jika ada orang ketiga di antara mereka berdua.
Radit sangat menjunjung tinggi kesetiaan. Ia ingin menjalani kehidupan pernikahan seperti kedua orang tuanya yang saling mencintai. Cinta? Konyol sekali membayangkan dirinya akan saling mencintai dengan Widya yang berwatak keras itu. Mereka berdua memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Rasanya akan sangat mustahil tumbuh perasaan suka di antara mereka. Hidup berdampingan seperti ini saja sudah merupakan suatu hal yang menakjubkan baginya.
Meskipun tiap hari ada saja hal yang selalu mereka ributkan, namun mereka selalu bisa menyelesaikannya tanpa saling menyakiti satu sama lain. Belum lama ini Radit juga menyadari kalau dirinya tidaklah sebenci dulu kepada Widya. Ia perlahan-lahan mulai terbiasa dengan sikap Widya yang gampang marah dan blak-blakan itu. Sikap kasar Widya memang sangat menjengkelkan, tapi Radit masih bisa menanganinya.
Menutup kedua matanya, Radit bermimpi hal konyol malam itu. Di dalam mimpinya Widya tersenyum penuh cinta padanya. Mereka berdua terlihat sangat bahagia saat berjalan-jalan mengelilingi desa. Widya berbeda jauh dari dirinya yang sekarang, sifatnya sangat menyenangkan, dia tersenyum manis kepada semua orang yang mereka temui di jalanan.
Tawa riangnya membuat wajahnya terlihat lebih bersinar, langkahnya terhenti ketika dia menghadap pada Radit. Tangan mereka yang bergandengan digoyangkannya sambil menatap manja pada Radit, melangkah mendekat dia berbisik di telinga Radit.
"Sudah kubilang jangan bermimpi, Suamiku. Aku nggak mungkin menyukaimu," ejeknya, mundur untuk memperlihatkan senyum licik di bibirnya.
__ADS_1
Membuka matanya, Radit terbangun dari mimpinya, yang entah bagaimana, harus ia bilang indah atau buruk. Rasanya begitu aneh memimpikan hal seromantis itu bersama Widya, terlebih mimpinya diakhiri kalimat ejekan dari istrinya itu. Mengambil jam tangannya dari atas meja, dilihatnya kalau sekarang masih terlalu pagi baginya untuk berangkat bekerja.
Kembali tidur tidak ada gunanya, rasa kantuknya sudah hilang karena mimpi aneh itu. Menyibak selimutnya, Radit turun dari tempat tidurnya.
°°
Ketukan tidak sabar dari pintu kamarnya membangunkan Widya dari tidur nyenyaknya, seperti biasa suami menjengkelkannya itu selalu saja membangunkannya di pagi buta. Mungkin dia sengaja melakukannya agar Widya terbiasa bangun pagi.
"Sebentar," ucapnya parau, matanya masih setengah mengantuk saat membuka pintu. "Haruskah kamu membangunkanku sepagi ini? Kalau ada yang perlu kamu katakan, tulis saja di kertas lalu letakkan di meja makan agar aku bisa membacanya," omel Widya, memberengut menatap Radit.
Pupil mata Widya melebar mendengar kata 'Cucian', "Apa kamu juga mencuci pakaian dalamku?" bisiknya pelan, matanya memandang lurus pada dada Radit.
"Tentu saja. Kita ini sudah menikah. Bukanlah hal yang aneh jika aku mencuci pakaian dalammu," jawab Radit tegas, berbanding terbalik dengan wajahnya yang terlihat agak merona saat Widya mendongak menatapnya.
"Kamu nggak perlu melakukannya. Aku sengaja memisahkan pakaian dalamku agar aku bisa mencucinya sendiri," desis Widya, melirik ke kiri dan ke kanan, takut pembicaraan mereka akan terdengar oleh orang lain.
__ADS_1
"Nggak perlu semalu itu, dan hentikan berbicara dengan suara pelan seperti itu. Nggak akan ada yang mendengar pembicaraan kita."
Menoleh pada Radit, tatapan skeptis Widya menusuknya. "Kita nggak pernah tahu. Mungkin saja ada banyak telinga yang menguping di balik dinding rumah kita ini."
"Bukankah kamu biasanya nggak peduli dengan hal itu? Setiap hari ketika ada masalah kamu selalu saja histeris, tanpa memikirkan para tetangga akan mendengarnya atau nggak," ledek Radit.
"Ini lain soal
Hal ini sangat pribadi," elak Widya.
"Masalah rumah tangga kita juga harusnya pribadi. Apa kamu beranggapan kehidupan rumah tangga kita ini bersifat umum? Jadi, kamu nggak peduli kalau tiap hari kita selalu menjadi bahan gosip semua orang di desa ini. Begitukah maksudmu?"
"Bukan begitu juga maksudku. Ah, sudahlah." Memutar badan Radit, didorongnya tubuh suaminya menjauh dari depan kamarnya. "Sana kerja! Kepalaku sakit mendengar omelanmu sepagi ini."
Menoleh dari balik bahunya, Radit sengaja meninggikan suaranya. "Jangan lupa angkat jemurannya! Pakaian dalam kita aku jemur terpisah dari yang lain. Aku menjemurnya di samping rumah," tunjuknya pada pintu dekat kamar mandi.
__ADS_1
Pelototan Widya menusuk punggung belakang Radit. Lebih menyebalkannya lagi, suaminya itu dengan sengaja bersiul riang sebelum menutup pintu rumah. Terlihat sekali dia begitu senang menggodanya pagi hari begini.