Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Pertanyaan


__ADS_3

Mengerjapkan matanya, Widya hanya bisa melongo menatap Radit. Ini sangatlah berbeda jauh dari bayangannya. Ia sama sekali tak menduga Radit akan memberikan pujian atas sikapnya tadi sore. Apa yang telah terjadi? Sungguh aneh, pikirnya bingung. Diamatinya Radit tersenyum geli memandang wajahnya, yang pastinya sekarang ini terlihat seperti orang bodoh.


"Apa kamu benar suamiku?" tanya Widya dengan nada sangat serius.


"Tentu saja aku suamimu. Memangnya aku terlihat seperti orang lain bagimu?" jawabnya geli.


Meletakkan telapak tangannya di dahi Radit, ia menyentuh dahinya juga. "Atau mungkin kamu sakit?" Mengerutkan dahinya, Widya tidak merasakan kalau suaminya itu sedang dalam keadaan sakit.


Menepis tangan Widya dari dahinya, Radit menjauhkan diri darinya. Sikap tubuhnya kini terlihat serius lagi, kedua tangannya dikaitkan ke belakang tubuhnya.


"Aku tahu kalau sekarang ini aku terlihat sangat aneh bagimu." Anggukkan cepat dari Widya membuat Radit melemparkan tatapan jengkel padanya. "Aku bukannya membetulkan perilakumu pada Bu Leni sore ini, tapi sudah lama sekali aku menyimpan rasa tak suka pada Bu Leni sejak dia menyebarkan gosip kalau bapakku berselingkuh dengan wanita lain di luar sana."


"Benarkah? Pantas saja!" seru Widya lantang.


"Pantas apanya?"


"Pantas saja tadi ayahmu tidak memarahiku. Ternyata kalian punya sejarah yang buruk dengan Bu Leni," jawab Widya menjelaskan.


"Bukan ayahku saja yang terkena gosip konyol seperti itu, tapi semua orang di desa ini pernah kena fitnah oleh Bu Leni. Makanya, aku peringatkan padamu agar jangan berurusan lagi dengannya," ujar Radit tegas.


"Yang duluan cari masalah itu Bu Leni, bukan aku. Tiba-tiba saja dia datang, pura-pura membantuku mengangkat pakaian dengan niat terselubung untuk mengetahui urusan rumah tangga kita. Menyebalkan sekali kelakuannya," cetus Widya kesal.


"Lain kali jangan terbawa emosi seperti tadi. Sangatlah memalukan beradu mulut dengan orang yang lebih tua darimu. Meskipun sikapnya begitu menjengkelkan, kamu harus menahan dirimu agar kejadian seperti hari ini nggak terulang lagi," tegur Radit. "Parahnya lagi, aku dengar kalian hampir adu jontos. Astaga! Mengerikan sekali. Untung saja para warga datang untuk melerai kalian berdua, terlambat sedikit saja mungkin kakimu yang sudah mulai sembuh itu akan terkilir lagi."


Widya memberengut. "Aku ragu aku bisa menahan diriku, jika nanti bertemu dengan Bu Leni lagi. Tentu saja aku nggak akan beradu mulut dengannya lagi karena aku sudah berjanji pada ayahmu, tapi aku nggak janji akan bersikap ramah padanya."

__ADS_1


"Nggak ada salahnya bersikap ramah pada orang yang kita benci, itu nggak akan membunuhmu. Sebenci apa pun kita pada seseorang, janganlah menunjukkan begitu jelas rasa nggak sukamu."


"Itu sih sama saja munafik. Kalau benci, ya, benci saja. Untuk apa harus berpura-pura bersikap baik di depan orang yang kita benci?" Menyilangkan kedua kakinya, Widya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. "Aku ini nggak sepertimu, yang masih bisa tersenyum pada orang kamu benci."


Mendecakkan lidahnya, Radit menggoyangkan jari telunjuknya di hadapan Widya. "Itu bukanlah munafik, Istriku. Aku hanya bersikap beradab pada setiap orang, terlepas aku membenci orang itu atau. nggak. Apa dengan bersikap kasar pada orang yang kamu benci akan membuatmu terlihat lebih baik, nggak, 'kan? Bersikap jujur itu memang baik, tapi ada beberapa hal yang mengharuskanmu bersikap palsu di depan orang lain, bukan karena kamu munafik, melainkan karena kamu orang yang beradab."


"Jadi maksudmu, aku ini nggak beradab? Begitukah, Suamiku Maha Benar?"


"Aku nggak berkata seperti itu," elak Radit, memperlihatkan wajah tak bersalah.


Menyipitkan matanya, Widya menggoyangkan telunjuknya seperti yang tadi dilakukan Radit padanya. "Jangan bohong, Suamiku. Tampang sok polosmu itu nggak bisa menipuku."


Mengedikkan bahunya, Radit mengalihkan pembicaraan mereka ke hal lain. "Kulihat kakimu sudah mulai sembuh." Tatapan matanya terarah pada kaki Widya yang disilangkan.


"Bagus sekali taktikmu mencoba mengalihkan pembicaraan," sindir Widya.


Memegang kakinya yang disilangkan, Widya meringis sedikit saat pelan-pelan menurunkannya ke lantai. Matanya menatap memelas pada Radit, memohon pengertian darinya jika kakinya belum sembuh sepenuhnya.


"Aku belum terlalu yakin kondisi kakiku sudah sepenuhnya membaik, Suamiku."


"Aktingmu itu nggak mempan bagiku. Kerjakan saja apa yang sudah menjadi tugasmu itu!"


"Cih, dasar suami kejam," gumam Widya mencebik.


Menyilangkan kedua tangannya, Radit menatap kesal padanya. "Aku bukannya kejam, aku ini hanya mengingatkanmu untuk melakukan tugasmu. Bukankah kita sudah menyepakatinya? Jadi, berhentilah bersikap manja dengan meminta bantuanku terus. Aku juga perlu istirahat."

__ADS_1


"Ya, ya, ya," sahut Widya bersikap tak peduli dengan ocehan Radit. "Aku lapar," lanjutnya, beranjak berdiri dari tempatnya duduk.


"Kenapa kamu selalu saja lapar setiap kali aku berbicara denganmu? Apa wajahku ini selalu mengingatkanmu pada makanan?"


"Bukan begitu. Celotehanmu itu, entah kenapa, selalu membuat perutku kelaparan," jawab Widya, tersenyum manis.


Jawabannya itu hanya membuat Radit semakin memberengut kesal padanya. Menyentuh tekuk lehernya, Radit bergumam, kalau tidak lama lagi mungkin dia akan terkena stroke oleh tingkah menyebalkan Widya. Menelan tawanya mendengar gerutuan itu, Widya berjalan riang di belakang suaminya.


***


Keesokan paginya, Radit dibuat terkejut mendapati Widya sudah bangun dari tidurnya saat ia selesai berpakaian di kamarnya untuk berangkat kerja.


Apa gerangan yang dilakukan istrinya itu sepagi ini? Kenapa dia duduk termenung di sofa sembari menatap ke luar jendela?


Melintasi ruangan, Radit berjalan menghampiri Widya di ruang tamu. Suara langkah kakinya mungkin telah terdengar oleh Widya, sebab tatapan istrinya kini telah beralih padanya. Berdiri di hadapannya, Radit menoleh pada jendela yang tadi ditatap oleh istrinya itu. Mungkin ada sesuatu yang telah menarik perhatiannya di luar sana, pikir Radit.


Tak ada hal aneh yang terjadi di luar rumah mereka. Ia hanya melihat ada beberapa tetangga, yang seperti biasanya selalu melakukan rutinitas pagi mereka.


Lalu apa yang dilihat Widya begitu seriusnya tadi?


"Apa yang kamu pikirkan, Dit? Kenapa kamu mengerutkan dahimu seperti itu?" tanya Widya, menelengkan kepalanya heran.


Menolehkan kepalanya, Radit menautkan kedua alisnya. "Yang seharusnya bertanya adalah aku. Apa tadi yang kamu lihat begitu seriusnya di luar sana?" tanyanya balik.


Mengetuk-ngetukan jarinya di lengan kursi, Widya kembali termenung seperti tadi.

__ADS_1


"Aku hanya berpikir, apa kalian semua yang ada di desa ini selalu terbiasa jalan kaki." Ditengoknya kembali melihat pemandangan di luar. "Kulihat semua orang di desa ini selalu berjalan kaki setiap pergi bekerja. Apa kalian nggak punya kendaraan yang bisa dipakai? Apalagi kamu, bukankah ayahmu termasuk orang paling kaya di desa ini? Pastinya dia membelikanmu sebuah kendaraan agar kamu mudah pergi bekerja. Lagi pula aku masih ingat begitu jelas betapa jauhnya peternakanmu dari sini." Tatapannya yang penuh tanda tanya diarahkannya pada Radit.


__ADS_2