
Berjalan santai menyusuri jalanan setapak menuju peternakannya, Radit tidak sengaja berpapasan dengan Gilang dan Sendi, yang berjalan berlawanan arah darinya. Saling menyapa satu sama lain, mereka bertiga menghentikan langkah di tengah jalan sembari mengobrol.
"Dari mana kamu, Dit?" tanya Sendi.
"Tadi aku habis dari rumah Nenek Yuli, biasalah bantuin gantikan bohlam lampu yang mati," jawab Radit.
"Kamu ini ya, Dit, masih aja sempat bantu orang disaat kamu sendiri banyak kesibukan," ucap Gilang, menggelengkan kepalanya heran. "Kenapa kamu nggak sekalian aja jadi petugas sosial?"
Kedua temannya tertawa terbahak-bahak membayangkan pemikiran itu.
"Kalau aku masih bisa bantu, ya aku bantu. Emangnya aku kalian, mau bantu kalau ada maunya aja," ledek Radit, tidak terima menjadi bahan ejekan kedua temannya. "Omong-omong kalian berdua mau ke mana, kok cuma berdua? Jangan-jangan kalian...."
Dengan tatapan penuh makna, Radit menyiratkan bahwa kedua temannya itu sedang menjalin hubungan terlarang.
"Kamu kira kami cowok apaan, kami ini masih normal," protes Sendi keras. "Lagian aku sudah punya cewek yang kusuka, mana mungkin aku mau sama si butek ini."
"Aku juga nggak mau kali sama kamu, seleraku lebih tinggi daripada si kutu kupret ini," balas Gilang, menatap jijik pada Sendi.
Radit tidak menyangka jika candaannya malah membuat kedua temannya saling adu mulut satu sama lain. Menahan tawanya, Radit berusaha melerai keduanya, yang malah membuatnya kena semprot. Keduanya kini malah mengalihkan kekesalan mereka pada Radit, yang telah menyulut pertikaian di antara mereka berdua.
Mengaitkan kedua lengannya di leher temannya, Radit menyuruh mereka melupakan candaannya yang sudah menyinggung harga diri kedua temannya itu. Melepaskan diri dari lengannya, keduanya bergumam kesal pada Radit.
"Dasar kalian berdua ini baperan, gitu aja langsung emosi," ejek Radit menatap kedua temannya yang masih bersungut-sungut. "Oh iya, Lang, gimana kabar cewek idamanmu itu, apa kamu sudah bertemu dengannya lagi?"
"Cewek apaan nih, kok aku nggak tahu ya?" bingung Sendi, bola matanya berkilat penasaran.
"Lho Gilang nggak ada cerita ya, beberapa waktu lalu dia bilang bertemu cewek idamannya di gudang buku," ucap Radit menjelaskan.
Kesal baru mengetahui cerita itu, Sendi langsung melancarkan rentetan pertanyaan tak ada habisnya pada Gilang. Namun, anehnya, temannya itu hanya diam tak menjawab dengan wajah terlihat muram. Radit yang menyadari suasana hati Gilang memburuk, segera menghentikan Sendi dari aksi tanya-menanyanya. Ia menjawab sebagian pertanyaan Sendi agar bisa meredakan sedikit rasa penasaran temannya itu.
"Lebih baik jangan membicarakan perempuan itu lagi, dia sudah nggak ada di sini lagi," ucap Gilang, memotong pembicaraan Radit dan Sendi.
Berpaling bersamaan, Radit dan Sendi menatap temannya kaget karena mendengar kabar itu. Secara bersamaan mereka melontarkan pertanyaan mengenai maksud dari ucapan Gilang barusan. Gilang menjelaskan pada mereka kalau perempuan yang ditemuinya di gudang buku sudah tidak pernah lagi menampakkan dirinya di sana dan di mana pun.
"Jadi jangan mengungkitnya lagi, aku sudah melupakannya." Mungkin. "Dia sudah menghilang." Aku nggak sepenuhnya berbohong, nyatanya perempuan desa yang kutemui di gudang buku sudah hilang, yang ada hanyalah perempuan kota yang sudah menjadi istri temanku.
Menepuk ringan punggung Gilang, keduanya menguatkan temannya itu dari rasa patah hatinya. Lalu tiba-tiba Sendi menepuk bahu Radit dan Gilang sambil menunjuk ke arah ujung jalan. Di sana mereka melihat Mila sedang berlari dengan ekspresi penuh tekad dan kelegaan berlari menuju mereka bertiga.
Mungkin karena terlalu mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari, Mila tidak bisa mengontrol kecepatan larinya sehingga saat hampir sampai di dekat mereka, dia terpeleset jatuh ketika menghentikan larinya. Dengan sigap, ketiganya mengulurkan tangan secara serempak untuk membantunya berdiri.
Melirik penuh perhitungan pada ketiga tangan yang terulur di hadapannya, Mila memutuskan meraih tangan Gilang. Seketika itu juga ekspresi kekecewaan terpampang jelas di wajah Sendi.
"Kenapa, Mil, ada sesuatu yang terjadi?" Radit mulai bertanya, tak tahu mengapa ia merasa Mila datang untuk menemuinya.
__ADS_1
Setiap melihat ada yang berlari kencang ke arahnya, Radit selalu merasa itu pastilah berhubungan dengan Widya. Bisa dibilang itu sudah menjadi tanda secara tidak langsung bahwa hal buruk telah menimpa istrinya lagi. Dengan sabar, Radit menunggu Mila mengatur napasnya, walaupun sebenarnya di dalam hatinya ia berteriak frustasi menanti apa yang akan diucapkan Mila pada mereka bertiga. Di lubuk hatinya, ia masih berharap bahwa dugaannya salah.
"Kamu harus pergi sekarang juga, Dit, itu di sana," tunjuk Mila panik, "Widya sedang diserang kedua perempuan gila," lanjutnya, bola matanya membulat besar dengan kilatan ketakutan.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Radit segera menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Mila padanya. Saat berlari ia menyadari kalau Gilang juga berada di sampingnya, dia berlari sama kencangnya dengan Radit. Bahkan ekspresi wajahnya jika dilihat baik-baik terlihat seperti seseorang yang penuh kekhawatiran. Radit yang melihat itu dibuat kebingungan oleh reaksi temannya itu. Apa yang membuatnya khawatir, kenapa dia terlihat sama khawatirnya denganku? Meskipun heran, Radit memutuskan nanti saja memikirkan hal itu, saat ini Widya lebih membutuhkan perhatiannya. Mengingat kegentingan situasi istrinya itu, Radit semakin mempercepat larinya.
Sesampainya di sana, Radit menatap melongo melihat pemandangan di depannya. Ia tidak tahu harus bertindak bagaimana, dilihat dari sisi mana pun, Widya tidak mengalami situasi seperti yang dikatakan Mila padanya. Justru sebaliknya, kedua perempuan gila itu --yang dikatakan Mila tadi-- terlihat begitu lusuh jika dibandingkan dengan Widya. Rambut keduanya mencuat keluar ke mana-mana, bahkan dari tempatnya berdiri Radit bisa mendengarkan makian kasar yang dilontarkan Widya pada kedua perempuan itu. Menengok ke arah Gilang yang berdiri terpaku di sebelahnya, Radit juga sadar kalau temannya itu sama bingungnya dengan dirinya.
Menggeleng kuat kepalanya, Radit segera menyadarkan dirinya dari rasa terpukau oleh ketangguhan Widya melawan kedua perempuan itu. Ini bukanlah saatnya merasa takjub, yang harus dilakukannya sekarang adalah menghentikan perkelahian itu. Terlebih lagi begitu banyak orang sudah datang bergerombol menonton pertunjukkan yang telah disuguhkan istrinya itu.
"Berhenti kalian di sana!" Suara menggelegar Radit langsung menghentikan pertikaian itu.
Dengan langkah mantap, ia berjalan penuh ancaman mendekati Widya dan kedua perempuan itu. Semua mata tertuju padanya dalam keheningan yang begitu menyesakkan. Beberapa orang yang menghalangi jalannya segera menyingkir ke samping memberi jalan padanya. Bahkan dari kejauhan Radit bisa melihat kedua perempuan itu terlihat gemetaran dengan kedatangannya. Hanya satu orang yang tidak terlihat gentar sedikit pun, tentu saja itu adalah Widya. Kedua matanya berkilat menantang menatap Radit dari tempatnya berdiri tegap.
Penampilannya terlihat sama acak-acakkannya dengan kedua perempuan itu. Namun, rambutnya tidaklah sekusut kedua perempuan di hadapannya. Siapa sangka dengan tubuh mungil seperti itu, Widya mampu melawan kedua perempuan yang lebih besar darinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi di sini?" rahang Radit mengeras menatap ketiga petarung itu.
"Istrimu yang memulai, dia yang menyerang kami terlebih dahulu," sahut perempuan jangkung, yang dikenal Radit bernama Tika.
"Iya itu benar, istri gilamu ini yang memulai perkelahian. Kalau kamu nggak percaya, tanyakan saja pada semua orang di sini," ucap perempuan berpenampilan agak berlebihan, yang dikenal Radit bernama Nita.
Sekelilingnya langsung menggumam setuju oleh perkataan itu.
Melingkarkan lenganya di bahu Widya, Radit menyentak istrinya itu menempel erat di sampingnya. Sikapnya itu secara tidak langsung menunjukkan perlindungan pada Widya. Mendongak kaget dengan tindakan Radit melindunginya, mata Widya berkilat kebingungan menatapnya.
"Kamu diam saja, biarkan aku mengurusi hal ini," desis Radit di telinga Widya.
"Dia berbohong! Kami nggak pernah sekali pun memprovokasinya. Kami tadi berniat mengajaknya mengobrol, tapi istrimu terlalu sensi hanya karena beberapa pembicaraan yang menyentuh egonya," elak Tika.
"Apa yang dikatakan Tika benar, istrimu ini cepat sensian, dia memang kasar seperti yang dikatakan semua orang. Lihatlah ini, Dit!" tunjuk Nita pada pergelangan tangannya yang ada bekas tancapan serta goresan kuku seseorang. "Ini perbuatan perempuan gila ini, dia melukaiku!"
"Kamu memang pantas mendapatkannya," ujar Widya tak acuh, mimik wajahnya memperlihatkan rasa tak bersalah sedikit pun.
"Widya!" seru Radit memperingatkan.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, kedua perempuan sialan ini memang pantas dihajar habis-habisan!" seru Widya kesal.
"Jangan percaya omongannya, Dit, mulut perempuan ini penuh bisa," hardik Tika.
Dalam sekejap adu mulut antara ketiganya kembali memenuhi jalanan itu lagi. Ketiganya saling tuduh-menuduh di hadapan Radit. Memijat pelipisnya, Radit mencoba menahan dirinya dari rasa frustasi menghadapi perkelahian itu kembali.
Mila yang datang terlambat menyusul Radit, mendengarkan tuduhan yang dilemparkan kedua permepuan itu pada Widya. Tidak bisa tinggal diam saja, Mila berniat turun tangan untuk membela temannya. Namun, pergelangan tangannya ditarik oleh Sendi dari belakang.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku! Widya membutuhkan pertolonganku untuk membelanya," ketus Mila, menyentak lepas tangannya dari cengkraman Sendi.
"Jangan ikut campur, Mil," geleng Sendi memperingatkan. "Radit bisa menyelesaikannya, campur tanganmu hanya memperkeruh masalah saja."
"Tapi," toleh Mila khawatir melihat temannya disudutkan. "Baiklah, aku akan menurutimu. kali ini. Tetapi, kalau sampai Radit salah ambil tindakan aku akan tanpa segan ikut campur."
"Setuju," angguk Sendi.
Tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi, Radit melepaskan rasa frustasinya yang sejak tadi ditahannya.
"Cukup kalian bertiga!" raungnya, mengagetkan ketiga petarung itu.
Ketiganya menatap ngeri melihat Radit mengatupkan bibirnya rapat membentuk garis tipis. Matanya berkilat marah menatap mereka bertiga secara bergantian.
"Hentikan ocehan kalian bertiga itu, apa kalian nggak malu dilihat banyak orang?" Tatapnya geram. "Kalian ini sudah dewasa, bersikaplah seperti umur kalian, jangan malah bertengkar seperti anak kecil begini. Dan, kalian berdua berhenti mengatai istriku macam-macam. Walau bagaimanapun dia ini tetaplah istriku, aku nggak akan memaafkan kalian menghinanya seperti itu di depanku."
Sontak saja kedua perempuan itu gemetar ketakutan oleh peringatan Radit. Meremas kedua tangan mereka, keduanya menunduk meminta maaf sudah menyinggung perasaan Radit dengan menghina Widya di depannya.
"Kami akui kami memang salah sudah menghina istrimu di depanmu, tapi tetap saja dia harus meminta maaf pada kami berdua," ucap Tika, memaksakan dirinya menatap kedua mata Radit.
"Benar, Dit, dia harus meminta maaf kepada kami, dia sudah melukai kami berdua." Nita ikut menyudutkan Widya.
"Yang harus minta maaf itu kalian, dasar kalian perempuan tak tahu malu," cela Widya, mengerecutkan bibirnya mengejek. "Jangan sok lugu deh, hanya karena banyak orang mencelaku, kalian pikir semua orang akan percaya omongan busuk kalian itu."
"Aku minta maaf atas sikap istriku yang sudah melukai kalian berdua," ucap Radit lembut.
"Radit!" seru Widya marah.
"Tapi," geram Radit menatap Widya. "Istriku nggak sepenuhnya salah, di sini bukan kalian saja yang terluka, istriku juga terluka." Radit memalingkan wajahnya kembali menatap kedua perempuan itu. "Aku mengenal istriku, dia nggak akan menyerang seseorang jika orang itu nggak menyerangnya duluan."
Memasang raut sombong, Widya mengangkat dagunya kembali pada kedua perempuan itu.
"Bisa-bisanya kamu membela istrimu yang sudah salah, dia ini monster mengerikan, sadar dong, Dit!" seru Tika murka.
"Berhenti mengguruiku!" balas Radit berteriak. "Aku nggak membelanya, aku cuma menyampaikan fakta yang sebenarnya."
"Ternyata apa yang dikatakan Bu Leni benar, perempuan berbisa ini sudah merubahmu menjadi sama buruknya seperti dirinya," kedua mata Tika membelalak ngeri menatap Radit.
"Percayai apa yang kalian percayai, aku nggak peduli," sahut Radit datar. "Aku harap kejadian ini nggak terulang lagi, jadi kumohon berhenti mengganggu istriku."
Setelah menyampaikan peringatan itu, Radit meraih tangan Widya, dengan cepat ditariknya Widya pergi dari tempat itu secepat mungkin. Tanpa sepengetahuannya, Widya menoleh dari bahunya untuk mengejek kedua perempuan itu. Senyuman kemenangan tersungging di bibir Widya melihat ekspresi melongo di wajah kedua musuhnya. Dan, saat itu juga Widya tidak sengaja melihat Gilang dari antara kerumunan, senyuman kecil melengkung di bibirnya menatap Widya.
#TBC
__ADS_1
NOTE : Mulai sekarang cerita ini akan di up seminggu 3x, author juga punya kehidupan, terima kasih atas pengertiannya ^^