
Dua jam yang lalu..
Radit sedang duduk bersama teman-teman lamanya di sebuah rumah makan yang selalu mereka datangi setiap tahun. Walaupun sebenarnya ini adalah pertama kalinya ia datang ke sini lagi, setelah ia putus dari Nadin bertahun-tahun yang lalu.
Hal itu sengaja ia lakukan demi menghindari bertemu dengan mantan pacarnya itu. Meskipun sahabat dekatnya, Deni, selalu berkata ia tidak perlu melakukan hal itu. Sebab tiap tahunnya Nadin juga melakukan hal sama dengan dirinya. Namun meskipun begitu, ia tidak ingin mengambil risiko bertemu lagi dengan Nadin di reuni sekolahnya ini.
Entah mengapa membayangkan dirinya berjumpa lagi dengan Nadin, hanya akan membangkitkan luka lama dalam dirinya. Akan tetapi, kali ini ia memberanikan diri untuk datang kemari.
Itu dilakukannya karena ia merasa yakin tidak akan terpengaruh sedikit pun oleh kedatangan Nadin, jika dia tiba-tiba muncul di hadapannya kali ini. Keyakinannya itu didapatkannya karena sekarang ia sudah memiliki seseorang sangat berharga dalam hidupnya.
Pertemuannya kembali dengan cinta masa lalunya, tentu saja, tidak akan mempengaruhi dirinya. Lagipula ia sudah tidak memiliki rasa sedikit pun pada mantannya itu. Kenangan indah serta pahit mereka dulu sudah mulai pudar dalam ingatannya. Sekarang ini ia hanya ingin memfokuskan semua perhatiannya pada istri mungilnya, yang sekarang ini sedang berada di rumah.
Itulah yang Radit yakini pada dirinya, sebelum sosok perempuan yang dicintainya dulu berjalan mendekat ke arahnya dengan wajah tersenyum cerah. Ia yang mengira sudah melupakan semua kenangan bersama mereka dulu pun, kini dibuat sadar bahwa kenangan itu masih tersimpan begitu jelas dalam ingatannya.
Semua orang yang hadir dalam reuni pun sontak berdiri secara bersamaan untuk menyambut kedatangan teman lama mereka itu. Mereka sama terkejutnya dengan dirinya atas kehadirannya yang tak terduga.
"Kamu bilang padaku, dia nggak pernah menghadiri reuni ini selama bertahun-tahun," desisnya pada Deni yang duduk di sebelahnya. "Sekarang jelaskan padaku, siapakah perempuan yang berada di hadapanku ini?"
"Aku nggak berbohong, Dit. Dia memang nggak pernah datang sekali pun ke reuni ini setelah kalian putus," bisik Deni, membela dirinya dari tuduhan berbohong.
"Seharusnya aku nggak menghadiri reuni ini," gumam Radit, menunduk lesu.
"Kenapa begitu? Apa pedulimu kalau dia datang ke pertemuan ini juga?" ujar Deni, menatap curiga kepada Radit. "Kecuali, kamu masih memiliki perasaan untuknya. Ingat, Dit, istrimu ada di rumah."
"Kamu nggak perlu mengingatkanku tentang istriku padaku!" cerca Radit, mengertakkan giginya menghadap Deni. "Aku sudah nggak memiliki perasaan apa pun padanya. Aku cuma ... cuma ... cuma merasa nggak nyaman. Itu saja."
"Kalau begitu beres. Nggak perlu merasa nggak nyaman segala. Dia bukan siapa-siapa lagi bagimu."
"Aku tahu. Hanya saja aku merasakan sesuatu yang begitu buruk terhadap pertemuan ini."
"Itu perasaanmu saja."
"Apa sebaiknya aku pulang saja?" tanyanya, meminta saran dari temannya itu.
"Jangan konyol. Justru kepergianmu yang begitu mendadak akan memancing kecurigaan semua orang yang ada di sini," bisik Deni, melirik was-was pada kerumunan di meja makan itu. "Mereka akan mengira kamu masih memiliki perasaan pada Nadin."
"Kamu ada benarnya," angguknya, menyetujui pendapat temannya itu.
"Bersikap santailah seperti biasa," saran Deni, menepuk punggungnya kuat memberi semangat.
Radit tidak sempat menyahut ucapan temannya itu, saat Nadin tiba-tiba menyela percakapan mereka.
"Aku dengar kamu sudah menikah, Dit. Selamat ya." Nadin mengulurkan tangannya.
Meski enggan, Radit menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum berterima kasih.
"Jujur saja, aku benar-benar terkejut mendengarkan kabar pernikahanmu itu dari yang lain. Kenapa kamu nggak mengundangku?"
"Aku pikir nggak ada gunanya mengundangmu ke acara pernikahanku," jawabnya datar. "Lagipula, aku ragu kamu akan menghadiri pernikahanku."
"Kenapa kamu pikir begitu? Tentu saja aku akan menghadiri acara pernikahanmu," sahut Nadin riang, tersenyum semakin lebar padanya. "Nggak ada hal yang membahagiakan, selain mendengarkan teman lamamu sudah menikah."
__ADS_1
"Teman? Oh ya, teman, tentu saja kita ini teman," celetuk Radit sarkastis. "Syukurlah kabar pernikahanku ini membuatmu bahagia."
Menyadari nada sindiran dalam suara Radit, senyuman cerah yang terukir di wajah Nadin tadi seketika sirna.
"Senang sekali rasanya melihatmu bisa tersenyum cerah seperti ini, setelah pertemuan terakhir kita," lanjutnya, tersenyum sinis pada mantan pacarnya yang tidak berperasaan itu. "Sungguh bahagia berada di posisimu, yang bisa melupakan semua hal, tanpa merasa bersalah sedikit pun."
Ah, sial! Dasar lidah sialan. Bisakah kamu berhenti? Ini sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan pada yang lain kalau kamu ini hanyalah seorang lelaki pendendam, yang masih terluka dicampakkan pacarmu dulu.
Kebisingan di sekitarnya mereda mendengarkan percakapan mereka berdua.
Siapa pun, tolonglah dirinya dari situasi memalukan ini.
Kemudian terdengar tawa menggelegar di sebelahnya. Memukul-mukul ringan pundaknya, Deni berusaha mencairkan suasana suram di sekitarnya.
"Astaga, dengarlah! Pak Tua ini baru saja mencoba melucu," seru Deni, kembali tertawa. "Sudahlah, Dit, candaanmu ini sama sekali nggak lucu. Lihat! Nadin hampir menangis oleh selera humor rendahanmu itu. Bahkan semua yang ada di sini mengira kamu masih memiliki perasaan terhadapnya. Yang tentu saja nggak mungkin, mengingat kamu sekarang sudah memiliki seorang istri di luar sana."
Menangkap nada teguran di suara temannya itu, Radit akhirnya mengikuti sandiwara temannya itu. Ikut tertawa, ia segera meminta maaf kepada Nadin karena sudah menakutinya dengan candaan tak lucu itu.
Untunglah, semua orang yang berada di sana mempercayai kebohongan itu. Berkat akting sempurnanya bersama Deni. Ia sangat bersyukur memiliki teman yang dengan sigap menangani situasi buruk yang telah dibuat olehnya.
Hebatnya lagi, Deni dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan ke hal lain.
"Omong-omong, Nad, tumben sekali kamu menghadiri pertemuan ini. Padahal dulu kamu nggak pernah sekali pun menghadiri pertemuan ini."
"Iya nih, ada apa? Apa kamu punya kabar baik untuk kami?" serbu yang lain ikut bertanya.
"Sejujurnya, iya," jawab Nadin malu-malu.
"Bulan depan aku akan menikah," ujar Nadin mengumumkan. "Aku harap kalian semua akan menghadirinya. Terutama kamu, Dit."
Kali ini, meja makan itu dipenuhi gemuruh sukacita yang memekakkan telinga. Semua yang hadir di sana memberikan ucapan selamat kepada Nadin. Tentu saja, ia juga ikut memberikan ucapan selamat pada mantannya itu.
"Mana nih undangannya?" pinta Deni, mengulurkan tangannya.
"Aku masih belum mempersiapkannya," jawab Nadin, tersenyum meminta maaf. "Lagian, apalah arti sebuah undangan, kalau aku sudah datang ke sini untuk mengundang kalian secara langsung."
Sekali lagi, semua yang berada di meja makan panjang itu berseru kencang menyahut ucapan Nadin. Kemudian pembicaraan mengalir membahas perihal persiapan pernikahan Nadin. Sampai akhirnya kedatangan tak terduga istrinya menghentikan percakapan riuh itu.
Lalu kembali ke waktu sekarang. Ia saat ini terjebak di antara dua orang perempuan, yang pernah dan sekarang dicintainya.
Dari semua hal yang ada, kenapa istri mungilnya itu harus datang di saat waktu yang tidak tepat seperti ini? Andai saja dia datang lebih cepat sedikit, mungkin Radit tidak akan merasa tersudutkan seperti ini.
Suara dan raut riang istrinya itu tidak bisa mengelabuinya sama sekali. Radit tahu kalau istrinya itu telah melihatnya menggenggam tangan Nadin tadi. Kobaran api membara dalam kilatan matanya memperlihatkan hal itu.
Widya sedang marah besar terhadapnya! Oh Tuhan, selamatkanlah aku dari amukannya.
"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" tanya Widya polos, bersikap pura-pura bodoh. "Apa kamu kebelet pipis juga?"
Widya memang tersenyum manis, tapi kata yang keluar dari mulutnya bagaikan sebilah pisau. Tentunya Nadin pasti menyadari hal itu.
"Y-yah, begitulah. A-aku ... nggak sengaja berpapasan dengan Radit di sini. Saat dia baru keluar dari ... WC," jawab Nadin terbata-bata.
__ADS_1
Jelas sekali dia merasa gugup, sikapnya itu seperti orang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang buruk. Radit saja bisa melihatnya, apalagi istrinya.
"Oh, begitu." Widya tersenyum polos, seolah-olah mempercayai kebohongan payah itu. "Sungguh kebetulan yang sangat indah, ya. Mendapatkan panggilan alam secara bersamaan."
Nah, itu dia! Sindiran pedas dibalik senyuman manis palsunya.
Tidak ingin memperkeruh masalah lebih panjang lagi, Radit segera menyela, sebelum Nadin sempat menyahut perkataan Widya.
"Kamu sendiri sedang apa di sini? Apa kamu mendapatkan panggilan alam juga?"
Dalam sekejap tatapan setajam pisau itu kini terarah padanya. Nampak sekali jika Widya sangat kesal atas sikapnya yang berani memotong pembicaraannya dengan Nadin.
Biarlah, itu lebih baik daripada istri mungilnya yang pemarah ini melancarkan serangan-serangan mengerikannya pada Nadin. Itu hanya akan membuat mereka bertiga menjadi pusat perhatian semua orang.
"Baik sekali kamu menanyakan keperluanku di waktu yang begitu tepat," sindir Widya, menekankan kata terakhir sambil mengertakkan giginya. "Jika kamu sudah selesai dengan panggilan alammu yang menyenangkan itu, sekarang juga ayo kita pulang."
"Pulang?" semburnya. "Kenapa? Bukankah pestanya masih belum selesai."
"Tiba-tiba aku merasa pusing. Lebih lama lagi aku di sini, mungkin seluruh isi kepalaku ini akan meledak," jawab Widya, menekan pelipisnya. "Tentu saja, jika kamu nggak keberatan dengan permintaanku ini. Nggak masalah, 'kan?"
Pertanyaan itu Widya tujukan pada Nadin, yang sedari tadi berdiri gelisah di tempatnya berdiri.
"Oh?" Nadin memandang Widya kebingungan.
"Lupakan saja. Kalau begitu, selamat tinggal. Semoga ini pertemuan terakhir di antara kita bertiga," ujar Widya, menarik tangannya untuk segera pergi dari sana.
Menengok dari balik bahunya, Radit merasa agak kasihan saat melihat Nadin berdiam terpaku di tempatnya sambil menatap hampa pada kepergian mereka.
Sentakan di pergelangan tangannya menyadarkan Radit jika Widya menyadari dirinya sedang memandangi Nadin secara diam-diam. Satu hal lagi daftar kemarahan istrinya padanya.
Setelah memintanya—atau bisa dibilang memerintahnya—untuk berpamitan pada teman-temannya yang berada di dalam, Widya mengibaskan tangannya, seperti orang yang sedang mengusir anak buahnya, sambil mengetuk-ngetukkan kakinya tak sabar menunggunya di luar.
Untuk kali ini saja ia akan memaklumi sikap kasar Widya padanya. Sebab dia memiliki alasan bagus untuk bersikap seperti itu. Radit mengakui hal itu. Ia memang sudah memancing kemarahan istrinya. Walaupun sebenarnya, ia melakukannya secara tidak sengaja.
"Semoga malammu indah, Bung," bisik Deni di telinganya sembari menyeringai.
"Sialan kau!"
Dasar teman kurang ajar. Masih sempat saja dia meledekku.
Berjalan kembali ke tempat motornya di parkir, Radit menghembuskan napas panjang saat melihat Widya dan Nadin sedang mengobrol berdua saja di sana.
Dari tempatnya, ia bisa melihat kalau istrinya tidak merasa senang sama sekali dengan obrolan itu. Semua itu tergambar jelas di wajahnya.
Astaga, apa lagi kali ini? Kenapa hari ini berjalan begitu buruk baginya.
Berjalan tergesa-gesa menghampiri kedua perempuan yang memiliki sifat bertolak belakang itu, Radit berharap ia tiba tepat pada waktunya. Semoga saja istri bermulut pedasnya itu tidak mengucapkan sesuatu yang mengerikan pada Nadin.
"... Melakukan sesuatu yang salah."
Radit tiba tepat pada saat mendengarkan sepenggal kalimat itu dari Widya. Ia tidak tahu "Kesalahan" apa yang dimaksud istrinya itu. Namun, kalimat itu cukup memberikan dampak pada Nadin. Raut wajahnya terlihat sangat pucat ketika memandangnya. Sebelum ia sempat menanyakan apa yang sedang mereka berdua bicarakan, Nadin berlari melewatinya.
__ADS_1
Mengalihkan pandangannya pada istrinya, ia menelan kembali pertanyaan yang hampir keluar dari mulutnya. Karena raut wajah Widya menunjukkan padanya, jika sepatah kata saja keluar dari mulutnya, maka istrinya itu tidak akan segan-segan untuk membantainya saat itu juga. Begitulah yang Radit tangkap dari kilatan api yang berkobar di mata Widya.