
Mengibaskan rambutnya, Widya mengangkat dagunya angkuh pada Radit yang sedang memelototinya. Dengan tatapan menantang, mulutnya bergerak mengejek, menanti pembalasan Radit terhadap dirinya. Baru saja Radit membuka mulut untuk mengomelinya, suara ketukan tak sabar di luar pintu rumah mereka menghentikan tindakannya itu.
Sebelum pergi membukakan pintu, Radit memperingatkan Widya bahwa urusan mereka berdua belum selesai. Setelahnya dia pergi membukakan pintu untuk tamunya, yang semakin lama ketukannya makin tak sabar saja. Di ambang pintu berdiri Nenek Aya dan Mila yang wajahnya terlihat begitu khawatir.
"Bagaimana Widya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Nenek Aya gusar. Garis wajahnya yang keriput terlihat makin dalam di wajahnya.
"Kami tadi baru saja mendengar dari Ririn yang diantar pulang oleh temanmu kalau Widya juga ikut jatuh dari motor bersamanya. Apa dia baik-baik saja?" Meremas-remas kedua tangannya, Mila terlihat begitu khawatir.
"Widya baik-baik saja. Dia ada di dalam," jawab Radit menenangkan keduanya.
"Astaga! Kenapa kalian ke sini?" tanya Widya, berseru kaget di belakang Radit.
Tanpa permisi, kedua tamunya langsung menyeruak masuk melewati Radit untuk pergi mendatangi Widya yang ada di belakangnya. Tidak ingin bergabung bersama mereka, Radit menutup pintu di belakangnya seraya berjalan kembali ke peternakannya. Ia merasa tenang dengan kehadiran Nenek Aya dan Mila di rumahnya. Dengan begitu, Widya tidak akan ditinggalkan sendirian di rumahnya.
Berbelok arah dari gang rumahnya, Radit berpapasan dengan orang yang tidak ingin dijumpainya. Suasana hatinya sudah terlalu buruk dengan berita mengejutkan kecelakaan istri dan adiknya siang ini, ia tidak ingin lagi melewati harinya itu dengan melakukan perdebatan, yang tentunya pasti terjadi jika berhadapan langsung dengan penggosip menyebalkan nomor 1 di desanya.
Dari mimik wajahnya, Radit bisa melihat jika Bu Leni ingin menyampaikan sesuatu padanya. Senyum miring di wajahnya menandakan kalau Radit tidak akan bisa lepas dari cengkramannya. Mengulas senyuman ramah di bibirnya, Radit menyapa Bu Leni dan ibu-ibu lainnya seramah yang dia mampu lakukan.
"Ibu dengar istri kamu jatuh dari motor, Dit. Apa itu benar?" tanyanya, memasang ekspresi pura-pura khawatir.
__ADS_1
"Iya, itu benar. Tapi, dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Radit, pura-pura tak menyadari sandiwara itu.
"Jujur saja, ibu ikut bersimpati atas apa yang menimpanya, tapi ibu nggak heran dia mendapatkan bencana seperti itu," ucapnya, tersenyum sinis. "Iya, 'kan, Ibu-ibu?" tanyanya pada ibu-ibu yang berjalan bersamanya.
Mereka semua serempak mengangguk setuju, yang membuat Radit tambah geram. Tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, Radit memberengut kesal menatap sekumpulan ibu-ibu penggosip itu.
"Jadi, maksud Bu Leni, Widya memang pantas mendapatkan kecelakaan hari ini. Begitu maksudnya?" Nada suara Radit terdengar lebih keras dari yang dia maksudkan.
Menyentuh dadanya, Bu Leni mengerjap terkejut pada Radit. "Kamu nggak perlu membentak ibu seperti itu, Dit! Ibu nggak bermaksud berkata seperti itu, ibu cuma bilang istrimu itu terkena kualat. Asal kamu tahu saja, sebelum dia jatuh dari motor bersama adikmu, dia sempat bersikap tak sopan pada ibu." Menyipitkan matanya, Bu Leni menatap Radit ngeri. "Belum sampai sebulan kamu menikah dengan perempuan kota sombong itu, sekarang kamu sudah menunjukkan gejala orang tak berpendidikan seperti dirinya."
Kedua bibir Radit mengatup menjadi garis tipis, napasnya mulai tak beraturan menahan luapan emosi yang menggerogotinya. Kedua tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya, ia berharap ada sesuatu yang bisa dipukulnya untuk melampiaskan rasa jengkelnya.
"Kasar sekali kamu!" bentak Bu Leni murka. "Perempuan kasar itu memang sudah merubahmu, mengerikan!"
"Dia nggak pernah merubahku," balas Radit tegas. "Asal Ibu tahu saja Widya nggak akan pernah bersikap kasar andai saja Ibu nggak pernah memprovokasinya terlebih dahulu. Dan, ucapan Ibu tadi sama saja mensyukuri apa yang sudah terjadi pada istriku, sungguh nggak pantas orang tua seperti Ibu mengucapkan perkataan sekeji itu."
Garis wajah Bu Leni mengerut makin dalam di wajahnya, tangannya gemetar di sisinya seolah menahan dorongan untuk menampar wajah Radit atas ucapan kurang ajarnya. Ia sudah tidak peduli lagi, dirinya sudah cukup lama menahan rasa jengkelnya terhadap hinaan serta fitnahan yang selalu keluar dari mulut Bu Leni selama ini mengenai keluarganya.
Di tengah ketegangan itu, Pak Benny datang dari arah berlawanan. Menyadari terjadi perseteruan yang tengah terjadi di antara Bu Leni dan Radit, dia segera datang menengahi. Melirik anaknya yang menatap geram pada Bu Leni tanpa berkedip sedikit pun, Pak Benny sangat terkejut mendapati anaknya menunjukkan emosinya sejelas itu. Karena yang ia tahu anaknya bukanlah tipikal orang yang akan bersikap kasar seperti itu, kecuali seseorang sudah melakukan sesuatu yang membuatnya tidak bisa lagi mempertahankan sopan santunnya.
__ADS_1
Tersenyum senang dengan kedatangan Pak Benny yang datang tepat pada waktunya, Bu Leni langsung mengadukan sikap kasar Radit terhadap dirinya. Tidak menerima begitu saja dijelekkan di depan Ayahnya sendiri, Radit juga menjelaskan penyebab dirinya berlaku kasar pada Bu Leni.
Selama beberapa menit kepala Pak Benny menoleh ke kiri dan ke kanan mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak yang berseteru. Tanpa mendengarkan penjelesan lebih panjang lagi, Pak Benny mengangkat tangannya menghentikan adu mulut antara Radit dan Bu Leni. Sekarang ia sudah tahu tindakan apa yang akan dilakukannya setelah mendengarkan cerita dari kedua belah pihak.
"Sekarang hentikan ocehan kalian berdua, Bapak sudah mengerti titik permasalahannya," pinta Pak Benny menenangkan kedua orang yang tak henti berdebat itu.
Bu Leni mengulaskan senyum kemenangan di wajahnya, menebak jika dirinya yang pasti akan memenangkan perdebatan itu. Mendorong pelan Radit pergi, Pak Benny menyuruhnya meninggalkan tempat itu sesegara mungkin.
"Kamu boleh pergi, nanti setelah kamu pulang kerja datang ke rumah Bapak, ada beberapa hal yang ingin Bapak bicarakan tentang masalah ini," bisik Pak Benny di telinga anaknya sebelum membiarkan Radit pergi.
"Lho... Lho... Kok malah begini sih, Pak Kades. Seharusnya anak Bapak itu mesti ditegur atas sikap kurang ajarnya pada saya, bukannya malah Bapak biarkan pergi begitu saja," protes Bu Leni terkejut dengan tindakan Pak Benny. "Tidak bisa begini dong, Pak. Jangan mentang-mentang dia anak Bapak lalu bisa seenaknya saja Bapak mengabaikan sikap kurang ajarnya." Ibu-ibu lain berseru setuju oleh ucapan Bu Leni itu.
"Ini bukan karena dia anak saya, tapi di sini yang salah memang Bu Leni. Mengenai perilakunya yang kasar, saya sangat menyesal jika hal itu sudah menyinggung Bu Leni," ucap Pak Benny penuh penyesalan. "Tetapi saya akan menegur Radit atas sikapnya itu setelah kita selesai berbicara. Apa Bu Leni kira selama ini saya tidak mendapatkan keluhan dari banyak orang tentang sikap Bu Leni yang suka memfitnah orang lain ke sana kemari?"
Tersentak, Bu Leni memasang raut tersinggung. "Apa maksud Bapak? Saya tidak pernah sekali pun memfitnah orang lain. Bukan begitu Ibu-ibu?" tanyanya menoleh pada yang lainnya.
Sayangnya, kali ini pertanyaannya itu tidak disahut seperti sebelumnya. Ibu-ibu yang berjalan bersamanya tadi menghindari tatapan matanya, dan pergi terburu-buru mengatakan ada keperluan yang harus mereka urus segera mungkin. Menatap tak percaya, Bu Leni melongo melihat kepergian teman penggosipnya itu. Saat itulah dia sadar jika mereka merupakan salah satu pengadu yang dimaksudkan Pak Benny tadi.
"Nah, sekarang Ibu paham, kan? Kalau begitu ayo ikut saya! Kita perlu berbicara mengenai hal ini di tempat yang tenang," ajak Pak Benny menunggu Bu Leni mengikutinya.
__ADS_1
Menjaga harga dirinya yang masih tersisa, Bu Leni bersikap seolah tak terluka dikhianati oleh temannya sendiri, dia berjalan seangkuh mungkin mengikuti Pak Benny dari belakang.