
Setelah dirinya mulai agak tenang, Widya menarik napas dalam-dalam sebelum menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya belakangan ini kepada ibunya. Selama mendengarkan ceritanya, ibunya tidak sekali pun menyelanya. Dia hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali sembari mendengarkan dengan saksama cerita Widya hingga tuntas.
Beberapa kali Widya sempat tersendat-sendat ketika meluapkan seluruh emosinya kepada ibunya, tetapi ibunya hanya duduk diam sambil menepuk-nepuk punggung tangannya. Itu sangatlah berarti bagi Widya. Ia merasa sikap bungkam ibunya lebih membantunya untuk melanjutkan ceritanya.
Ketika mengakhiri ceritanya, Widya kembali menangis dalam pelukan ibunya. Padahal ia sudah membulatkan tekadnya agar tidak kembali menangis lagi. Namun, semua emosi yang dirasakannya selama ini tak mampu ia bendung saat melihat rasa sedih sekaligus simpati di bola mata ibunya.
Betapa Widya membenci sikap cengengnya ini. Menangis terus-menerus seperti ini bukanlah seperti dirinya. Tentunya, ibunya pun pasti menyadari hal itu.
Mendorongnya pelan dari pelukannya, ibunya menyeka air mata yang membasahi pipi Widya. Ia bisa melihat air mata tertahan ibunya saat menatapnya begitu lekat.
"Widya ... Mama tahu tidak seharusnya mama mengatakan ini padamu, tapi...." Ibunya terlihat ragu-ragu melanjutkan perkataannya. "Tapi... jika tinggal di sini membuatmu terluka terus-menerus, lebih baik kamu dan Radit tinggal di kota saja."
"Nggak!" tolak Widya tegas, setelah ibunya menyelesaikan ucapannya.
"Kenapa? Bukannya selama ini kamu tidak ingin tinggal di sini?" tanya ibunya, terlihat begitu keheranan atas penolakannya. "Sayang, jangan memaksakan dirimu tinggal di sini bersama orang-orang yang kerjaannya hanya memandangmu sebelah mata saja. Kesedihanmu juga melukai mama. Orang tua mana yang mau melihat anaknya diperlakukan sehina ini."
Widya meraih tangan ibunya dan menggenggamnya lembut.
"Aku nggak bisa melakukan hal itu, Ma. Mama tahu sendiri, seluruh hidup Radit ada di tempat ini. Dia nggak mungkin meninggalkan keluarga, teman-teman serta pekerjaannya di sini hanya demi kenyamananku belaka."
"Dia bisa melakukannya di kota. Lagi pula jarak kota dengan di sini tidaklah terlalu jauh. Dia bisa menemui keluarga dan teman-temannya kapanpun dia inginkan." Ibunya melepaskan tangan satunya dari genggaman Widya untuk balik menggenggam tangannya. "Widya, dengarkan Mama. Kamu sebaiknya membicarakan hal ini dengan Radit. Mama yakin dia pasti akan mengerti."
Selama ibunya berbicara, Widya terus-menerus menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak mau membicarakan hal ini dengannya." Widya melemparkan tatapan tegas pada ibunya, yang hendak memotong perkataannya. "Dia sudah banyak mengalah padaku selama ini. Jadi kali ini, giliranku yang mengalah. Meskipun hatiku sakit mendapatkan berbagai macam hinaan dari orang-orang di sini, aku masih sanggup mengatasinya."
"Ini bukanlah persoalan siapa yang mengalah dan tidak, Widya. Semakin lama kamu berada di sini, itu hanya akan menyakitimu! Mama tidak suka membayangkan anak mama tiap hari terpuruk di dalam rumahnya demi menghindari caci maki para warga di luar sana."
"Aku nggak selemah itu, Mama," protes Widya. "Lagi pula, dengan kabar kepindahanku, itu cuma akan membuat semua orang di sini semakin senang. Mereka pasti akan merasa diri mereka menang, karena berhasil mengusir 'Perempuan Sombong', seperti yang selama ini mereka menyebutku, keluar dari desa ini."
"Jangan pedulikan omongan mereka. Jalani hidupmu dengan nyaman bersama Radit di kota. Mama yakin kalian akan lebih bahagia jika tinggal di kota," desak ibunya, beringsut mendekatinya. "Coba kamu bayangkan, kalau kamu tinggal di kota, kita akan bertemu setiap hari! Bukankah itu menyenangkan?"
Terlihat jelas sekali bahwa ibunya begitu antusias membayangkan dirinya dan Radit akan tinggal di kota. Ia juga sangat menginginkan hal itu. Teramat sangat malahan. Namun, Widya tidak ingin merenggut kebahagiaan Radit di sini.
Tanpa harus membicarakan hal ini pun, Widya yakin pasti Radit akan menuruti kemauannya. Tetapi, Widya tidak akan lagi melihat kebahagiaan di mata suaminya.
Suaminya itu akan selalu memikirkan ayah dan adiknya di sini. Dia pasti akan merasa begitu bersalah jika meninggalkan mereka berdua saja di desa ini.
Widya tahu dengan jelas, meskipun sudah berkeluarga, suaminya itu selalu merasa berkewajiban mengurus dan menjaga keluarga kecilnya itu. Meninggalkan ayah dan adiknya tinggal di sini, sama saja Widya menyuruh Radit menelantarkan keluarganya.
Berbicara memang gampang, tapi semuanya tidaklah semudah yang dikatakan ibunya. Widya tidak bisa meminta Radit berkorban sebesar itu. Biarlah kali ini ia yang berkorban.
"Aku juga menginginkan hal itu, Ma."
"Nah, kalau begitu, apa lagi yang kamu tunggu? Ayo cepat kemasi seluruh barangmu. Lebih cepat lebih baik. Suamimu bisa menyusul."
Ibunya beranjak berdiri, bersiap membantu Widya mengemasi barang-barangnya.
"Tapi," lanjutnya, "aku tetap pada pendirianku. Aku akan tetap tinggal di sini bersama Radit."
Ibunya kembali duduk di sampingnya. Kedua tangannya menangkup wajah Widya menghadapnya.
"Sayang, berhentilah bersikap keras kepala. Mama melakukan hal ini juga demi kamu."
"Aku tahu." Widya melepaskan perlahan tangan ibunya dari wajahnya. "Aku bukannya ingin bersikap keras kepala, Mama. Seperti yang Mama tahu sendiri, saat menyetujui pernikahan ini, secara nggak langsung aku juga memutuskan meninggalkan kehidupanku di kota dan tinggal bersama Radit di sini."
"Tapi, Wid...."
"Mama, kumohon. Jangan paksa aku meminta hal seperti itu pada Radit. Dia juga banyak menderita sepertiku."
Menghela napas pasrah, ibunya akhirnya menyerah juga. "Baiklah. Kalau itu memang maumu, mama tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lagi pula ini hidupmu. Tidak seharusnya mama ikut campur seperti ini."
__ADS_1
"Mama! Berhenti mencela diri mama sendiri. Mama nggak salah apa-apa. Aku tahu mama mengatakan semua itu karena mengkhawatirkanku," sela Widya, tak kuasa melihat raut sedih di wajah ibunya. "Nggak perlu cemas, aku ini kuat, Ma. Apa mama lupa, seperti apa sifat anak mama ini? Meskipun seluruh penduduk desa ini berhasil membuatku sedih, aku jamin aku nggak akan tinggal diam begitu saja."
"Widya, apa yang kamu pikirkan? Jangan melakukan hal yang aneh-aneh," tegur ibunya, merasa khawatir saat mendengarkan ucapannya barusan.
"Mama tenang saja. Aku nggak akan melakukan hal buruk kok," ujar Widya. Matanya berbinar-binar nakal menatap ibunya. "Mungkin aku cuma membalas fitnahan mereka dengan fitnahan juga."
"Widya!"
"Aku bercanda, bercanda. Astaga, Mama ini serius sekali. Aku nggak sebarbar itu, Ma."
"Dasar anak nakal!" Ibunya memukul pelan lengannya sebelum kembali memeluknya penuh kasih sayang.
Betapa Widya sangat merindukan hal ini. Berbagi cerita bersama ibunya seperti ini membangkitkan kenangan-kenangan lamanya saat masih tinggal bersama orang tuanya dulu. Widya sangat berterima kasih dengan kedatangan ibunya kemari hari ini. Setidaknya itu sedikit membantu menceriakan suasana hatinya.
***
Melambaikan tangan pada ibunya, Widya menunggu mobil ibunya menghilang dari pandangan sebelum masuk ke dalam rumahnya. Ia tidak menyangka jika acara berbelanja mereka akan selama ini. Namun setidaknya, perjalanannya bersama ibunya hari ini mampu menghilangkan semua perasaan sedihnya.
Baru saja membuka pintu rumahnya, Widya dikejutkan dengan penampakan suaminya yang berdiri tepat di hadapannya.
"Kamu berniat membuatku kena serangan jantung, ya?"
"Aku nggak bermaksud begitu. Hanya saja kamu membukakan pintu, tepat ketika aku mau keluar," jawab Radit, mencelingukkan kepalanya melihat ke belakang Widya. "Di mana mamamu? Apa dia sudah pulang?"
Menyerahkan bungkusan belanjaannya pada Radit, Widya berbalik menutup pintu rumah.
"Dia sudah pulang."
Radit mendesah. "Padahal aku ingin menyapanya."
"Jangan murung begitu. Kamu bisa menyapanya lain kali." Widya menepuk-nepuk lengan Radit memberi semangat. "Mama tadi titip salam untukmu. Sebenarnya dia juga ingin berjumpa denganmu sebelum pergi, tapi dia sedang terburu-buru. Papaku tak henti-hentinya menelepon menyuruhnya pulang."
"Kenapa kamu belanja lama sekali? Aku pikir...."
Radit menghentikan ucapannya tiba-tiba. Dia terlihat seperti orang yang kelepasan bicara. Melihatnya bertingkah seperti itu, membangkitkan rasa penasaran Widya. Mencodongkan tubuhnya mendekat, Widya mengamati suaminya itu lekat-lekat.
"Aku pikir, apa?"
"Bukan apa-apa. Lupakan saja." Radit menghindar menatap matanya. "Nggak perlu kamu pikirkan. Aku cuma... sudahlah, itu bukanlah hal penting."
"Penting atau nggaknya, itu tergantung padaku. Katakan padaku!" desak Widya, menarik-narik lengan baju Radit. "Penolakanmu melanjutkan ucapanmu barusan, hanya membuatku semakin mati penasaran."
"Lupakan saja, Sayang. Yang terpenting sekarang kamu sudah pulang ke rumah. Lebih baik kamu mandi sebelum terlalu malam."
Tidak membiarkan suaminya lolos begitu saja, Widya menarik Radit yang hendak beranjak berdiri.
"Aku nggak akan mandi sebelum kamu menyelesaikan ucapanmu tadi padaku."
"Widya!"
"Radit!"
"Kamu ini keras kepala sekali."
"Nggak sekeras kepalamu."
Mereka berdua saling beradu tatap. Selama beberapa menit tidak ada satu pun yang mau mengalah. Hingga akhirnya, Radit merebahkan kepalanya di sandaran sofa sambil mendesahkan napas frustasi saat memandangnya.
"Aku bosan mengalah terus padamu."
"Aku juga bosan terus berdebat denganmu."
__ADS_1
Radit memberengut kesal pada Widya. Dia sangat tak senang dengan sikap Widya, yang selalu saja membalas setiap perkataannya.
"Nggak bisakah untuk kali ini saja kamu mengalah?"
Widya ikut merebahkan kepalanya di samping Radit. "Ayolah, Suamiku, katakan padaku. Memang apa susahnya memberitahukan padaku lanjutan dari 'Aku pikir' kamu tadi?"
"Aku pikir... aku pikir kamu ini memang menyebalkan," ujar Radit, tersenyum nakal padanya.
"Radit!"
"Baiklah, baiklah. Jangan memelototiku begitu. Pemarah banget sih."
"Kamu nggak bisa serius sih," omel Widya, mencebikkan bibirnya.
"Oke, cukup sudah ngomelnya! Sekarang dengarkan baik-baik apa yang ingin aku katakan. Jangan harap aku akan mengulanginya lagi."
Widya mengangguk antusias.
"Aku dengar tadi siang ada keributan di sini. Apa itu benar?"
Diingatkan pada sesuatu yang membuat suasana hatinya muram beberapa waktu lalu, Widya tidak mampu mengendalikan ekspresi kesal di wajahnya. Ia hanya menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan suaminya itu.
"Apa kamu baik-baik saja? Aku dengar...." Radit sekali lagi tidak mampu menyelesaikan ucapannya. Tatapannya mencari-cari sesuatu di matanya, yang Widya tidak tahu apa itu. "Aku minta maaf, karena nggak ada bersamamu saat itu." Tiba-tiba, Radit merengkuhnya ke dalam pelukannya. "Andai saja aku ada di sana, pasti kamu nggak akan... Maafkan aku. Ini salahku membiarkanmu seorang diri di rumah."
Ucapan terakhir Radit akhirnya menyadarkan Widya, apa maksud dari omongan suaminya itu. Dia sedang merujuk pada saat ia menangis! Sial. Padahal aku kira nggak ada yang melihatnya. Selain memiliki mulut berbisa, ternyata para tetangga di sini juga memiliki mata elang.
Betapa Widya tidak menyukai menujukkan sisi lemahnya terhadap Radit. Menarik napas sejenak, Widya berupaya keras menahan air matanya, yang sekali lagi hampir tumpah.
Perlahan dilepaskannya pelukan Radit. "Aku baik-baik saja. Lanjutkan ceritamu!"
Seolah bisa membaca pikirannya, Radit pura-pura mempercayai sikap Widya yang sok tegar.
"Makanya, saat mendapatkan pesanmu aku agak khawatir," lanjutnya, melirik hati-hati padanya. "Aku mencoba untuk berpikir positif, tapi seiring berjalannya waktu... Aku mulai berpikir, kamu memutuskan untuk tinggal bersama orang tuamu dulu di kota."
"Jujur saja, pemikiran itu memang sempat terbesit di benakku," ujar Widya mengakui. "Tapi... Yah, seperti yang kamu tahu sendiri, aku ini bukanlah tipikal orang yang suka lari dari masalah."
Radit menatapnya skeptis.
"Kesampingkan masalah kaburku dulu, itu beda cerita."
"Apa katamu saj...."
Widya mengangkat tangannya cepat, membekap mulut Radit sebelum dia menyelesaikan kalimat menyebalkannya itu.
"Aku nggak mau mendengarkan kalimat menyebalkanmu itu lagi!"
Meskipun mulutnya dibungkam, Radit masih punya cara lain untuk membuatnya lebih kesal. Dia tersenyum mengejek dalam telapak tangannya! Belum cukup sampai di situ, matanya juga berkilat mengejek ketika memandangnya.
"Aku lelah. Pembicaraan kita cukup sampai di sini saja. Aku nggak mau kamu mengungkit masalah tadi siang lagi padaku."
Beranjak berdiri, Widya terdiam di tempatnya saat Radit meraih tangannya. Dia menjalinkan jemari mereka berdua.
"Jangan menyimpan rasa sakitmu seorang diri, Sayang. Ada aku di sini. Kalau semuanya terlalu berat untukmu, katakan saja padaku. Nggak perlu sungkan."
Tersentuh oleh ucapan itu, Widya menolak memandang suaminya. Karena ia tahu, saat ini wajahnya pasti terlihat tak karuan.
"Sudahi gombalmu itu. Aku mau mandi."
Perlu upaya keras bagi Widya menyampaikan kalimat itu tanpa terdengar tersekat. Untunglah, Radit tidak mengucapkan apa pun setelah mendengarkan balasannya barusan. Mungkin suaminya itu tahu, jika Widya hanya ingin sendiri.
Saat ini ia hanya ingin menangis seorang diri di dalam ruangan yang tak ada suaminya. Widya begitu benci dengan tingkah cengengnya hari ini.
__ADS_1