Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Saling Melepaskan Rindu


__ADS_3

Mendongak menatap langit mendung di atas kepalanya, Radit berharap semoga saja mereka bisa sampai ke kota sebelum hujan turun. Akan sangat mengerikan kalau hujan nanti akan sama seperti tadi malam, yang mengakibatkan pohon tumbang di mana-mana dan menghalangi perjalanan mereka. Belum lagi jalanan yang akan menjadi licin. Semoga saja kali ini keberuntungan berpihak padanya sehingga perjalanan mereka ke kota tidak terganggu.


Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Radit memanggil Widya yang masih berada di dalam rumah. Beberapa menit kemudian, Widya keluar dari dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa, seolah takut Radit akan pergi meninggalkannya.


Duduk di kursi sopir, Radit menyuruh Widya segera masuk ke dalam mobil. Ia sangat kaget ketika melihat Widya, bukannya berjalan ke samping untuk duduk di sebelahnya, dia malah berjalan ke pintu belakang. Sungguh konyol, memangnya dia pikir Radit ini sopir pribadinya. Berani sekali dia dengan santai duduk di belakang, layaknya seorang penumpang.


"Apa yang kamu lakukan?" tengok Radit, memandang kesal pada Widya.


"Duduk. Memangnya kamu nggak bisa lihat apa?" jawabnya tak acuh, bersikap seakan-akan di sini Radit yang aneh.


"Aku juga tahu itu. Yang aku tanyakan apa yang kamu lakukan, duduk di belakang sana seperti Tuan Putri menunggu sopirnya mengantarnya ke suatu tempat?" Radit mengertakkan giginya, menahan dirinya agar tidak berteriak kesal.


"Nggak usah kesal begitu hanya karena hal sepele begini! Aku cuma merasa tempat duduk di belakang sini lebih luas daripada tempat duduk di depan." Widya berbalik kesal pada Radit, tidak terima Radit mengatainya bertingkah seperti Tuan Putri.


Memalingkan wajahnya menghadap ke depan kembali, Radit melontarkan kalimat dengan nada tidak sabar.


"Sebaiknya kamu urungkan niatmu itu, sebelum aku menyerermu dengan paksa dari sana. Aku ini bukan sopirmu, duduklah di tempat seharusnya kamu berada. Jangan membuatku mengatakan hal ini untuk kedua kalinya."


Sadar akan nada peringatan menakutkan dari Radit bukanlah ancaman belaka, Widya segera keluar dari kursi belakang dan berjalan ke arah kursi depan. Dengan raut kesal, Widya sengaja menutup pintu mobil dengan kuat. Suara hentakannya itu untuk menunjukkan pada Radit kalau dia sangat kesal oleh sikap Radit yang telah memerintahnya.


"Dasar sensian! Masalah posisi tempat duduk saja harua dipermasalahkan," gerutu Widya, memasang sabuk pengamannya dengan kasar.


"Sensi? Kamu bilang aku sensian?" cetus Radit, menolehkan kepalanya dengan raut sama kesalnya dengan Widya. "Kalau kamu merasa aku ini sensian, bagaimana kalau kamu saja yang menyetir dan aku yang duduk di belakang sana. Nah, bagaimana Tuan Putri? Toh cuma posisi duduk doang."


Ingin membalas sindiran itu dengan sama ketusnya, Widya kesal saat dirinya tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun dari mulutnya. Memalingkan wajahnya, dia menatap lurus ke depan sembari menyuruh Radit agar segera berangkat. Puas perkataannya tidak bisa ditampik oleh Widya, Radit langsung menyalakan mesin mobilnya.


Sebelum sempat menginjak gas, kaca mobil samping Widya digedor oleh seseorang. Merasa kesal oleh gangguan itu, Widya membuka kaca mobilnya dengan raut masam dan hampir saja membentak seseorang yang telah mengganggunya. Untungnya, dia sempat menahan lidahnya sebelum mengucapkan rentetan sumpah serapah pada pengganggu itu, yang tidak lain adalah ayah mertuanya.


Kaget oleh kemunculan Pak Benny yang begitu mendadak, Widya melupakan sikap sopan santunnya untuk menyapa. Dia malah berkedip terkejut saat ayah mertuanya itu mengulurkan sesuatu padanya. Melirik sekilas pada bungkusan di tangannya, Widya segera menyadarkan dirinya dan menyampaikan rasa terima kasih pada ayah mertuanya yang sudah repot-repot membawakan bekal perjalanan untuknya dan Radit.


"Ayah nggak perlu serepot ini, Aku dan Widya sudah menyiapkan makanan untuk kami sendiri," ujar Radit, merasa tidak enak pada Ayahnya.


"Iya, Radit benar," setuju Widya.


"Nggak perlu sungkan begitu. Lagipula itu semua bukan dari Ayah, orang lain juga sudah menyiapkannya untuk kalian berdua." Pak Benny menunjuk ke arah belakangnya.


Di sana ada Nenek Aya yang sedang berjalan bersama Ririn sambil melambaikan tangannya pada Widya. Ternyata keluarga kecilnya datang ke sini untuk mengantarkan kepergian Radit dan Widya ke kota.

__ADS_1


∞ ∞


Mondar-mandir gelisah, Bu Gina sudah tidak sabar menantikan kedatangan Widya beserta menantunya Radit datang berkunjung ke rumahnya. Mereka berdua sudah berjanji padanya, kalau akan mampir dulu ke sini sesampainya mereka di kota. Bu Gina sangat merindukan anak semata wayangnya itu, sudah lama sekali ia tak berjumpa dengan anaknya itu.


Setiap ia ingin pergi mengunjungi Widya ke desa, suaminya selalu saja melarangnga untuk ke sana. Dia mengatakan kalau anak mereka masih pengantin baru dan belum saatnya bagi mereka untuk menganggunya dengan datang ke sana. Lagipula akan sangat buruk jika mereka berdua datang ke sana di saat Widya masih dalam tahap membiasakan dirinya dalam pernikahan. Kedatangan mereka hanya akan membuat anaknya itu merengek dan tidak bisa bersikap mandiri saat menghadapi masalah dalam pernikahannya. Begitulah yang selalu dikatakan suaminya pada Bu Gina.


Melirik sekilas pada suaminya yang bersikap tenang di tempat duduknya, Bu Gina tidak akan tertipu oleh sikap santainya itu. Ia tahu kalau suaminya itu sama gelisahnya sengan dirinya menanti kedatangan Widya ke rumah mereka. Sama halnya dengan dirinya, suaminya itu juga sangat merindukan anak semata wayangnya itu.


Menyembunyikan senyumannya, Bu Gina pura-pura tak menyadari hal itu. Kalau ia mengungkit hal ini, pasti suaminya itu akan menepis perkataannya dengan menggebu-gebu. Dia selalu saja bertindak begitu, setiap kali Bu Gina menyindirnya yang pura-pura tak peduli dengan kedatangan Widya.


"Duduklah, Ma, tidak perlu gelisah begitu! Sebentar lagi juga mereka datang kok," ujar Pak Darman, tidak tahan dengan suara langkah kaki Bu Gina yang sedari tadi berjalan mondar-mandir sambil terus berulang kali melirik jam dinding.


"Mama nggak bisa tenang. Seharusnya mereka sudah datang, tapi sampai sekarang mereka belum juga menampakkan diri," keluh Bu Gina, menghela napas frustasi.


"Mungkin ada hal yang menghalangi mereka sehingga tidak bisa datang tepat waktu. Sudah tenang saja, mereka pasti baik-baik saja."


"Mereka tidak mungkin langsung pergi ke rumah baru mereka sebelum mampir ke sini 'kan, Pa?" tanya Bu Gina khawatir.


"Tidak mungkin! Radit tadi sudah bilang di telepon kalau dia pasti akan mampir dulu ke sini, sebelum mereka pergi ke rumah baru mereka. Dia tidak mungkin membohongi kita," ucap Pak Darman, menepis jauh-jauh kekhawatiran tak berdasar Bu Gina.


Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dengan cepat Bu Gina bergegas untuk membukakan pintu. Di belakangnya, suaminya juga mengikutinya dengan langkah sama tergesa-gesanya dengan dirinya. Merapikan penampilannya terlebih dahulu, Bu Gina sudah siap menyambut anak dan menantunya.


Memekik kegirangan, Bu Gina dan Widya langsung berpelukan erat sambil berlomba-lomba mengungkapkan rasa kerinduan mereka selama ini. Usai memeluk Bu Gina, Widya langsung berlari ke dalam pelukan Ayahnya. Tidak ingin menganggu reuni antara keluarga itu, Radit hanya berdiam diri di belakang Widya, senang melihat istrinya terlihat bahagia ketika berkumpul bersama orang tuanya lagi. Ada rasa penyesalan dalam benaknya karena telah lama membiarkan Widya menahan diri agar bertemu dengan kedua orang tuanya.


Pak Darman yang menyadari kebisuan Radit, menyaksikan reuni penuh haru itu, segera menghampirinya dan mengajaknya bergabung dalam obrolan. Mungkin ayah mertuanya tidak ingin membuat Radit merasa terasingkan.


"Kamu jangan diam aja dong, Dit!" tegurnya, memeluk Radit dengan penuh kasih sayang. "Ayo masuk! Di luar sini terlalu berangin."


"Nggak usah sok malu gitu, Dit! Biasanya juga kamu selalu bertindak nggak tahu malu," ledek Widya, berjalan mendahuluinya bersama Ibunya ke dalam rumah.


Terlihat sekali kalau Ibu dan Anak itu teramat sangat merindukan satu sama lain. Mereka seolah tidak bisa melepaskan diri. Keduanya terus bergandengan tangan ke mana pun mereka pergi. Konyolnya, Radit merasa agak iri pada ibu mertuanya itu, sebab Widya jarang sekali melakukan hal itu padanya. Dia akan bertindak selengket itu kalau ada mau dan tujuannya saja.


"Dasar anak itu, bisa-bisanya dia mengatai suaminya seperti itu," ucap Pak Darman, merasa malu oleh perilaku Widya. "Kamu pasti sangat menderita sekali menghadapi sikapnya yang kekanakan selama ini."


"Nggak juga sih, Pa, aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang blak-blakan itu. Justru itulah daya tariknya," ujar Radit, tersenyum memandang Widya yang asyik mengobrol bersama Ibunya.


"Papa bisa melihatnya," kata Pak Darman, tersenyum penuh makna pada Radit.

__ADS_1


Tidak mengerti arti senyuman itu, Radit hanya membalas ucapan itu dengan tersenyum balik pada Pak Darman.


***


Karena hari sudah malam, Bu Gina dan Pak Darman meminta pada Widya dan Radit agar sekalian saja makan malam bersama mereka di rumah. Menerima undangan itu, Radit duduk berdampingan dengan Widya sembari menyantap hidangan yang sudah disediakan ibu mertuanya.


Awal mulanya percakapan mereka dipenuhi dengan gelak tawa. Sampai akhirnya Pak Darman mengucapkan sesuatu yang mengagetkan Widya sehingga dia tersedak makanannya. Walaupun sama kagetnya, Radit memang menduga kalau suatu saat nanti pasti mereka akan mendapatkan pertanyaan itu. Jadi, ia bisa mengendalikan rasa kekagetannya, dan mengontrol ekspresi wajahnya. Mungkin ada bagusnya juga ayah mertuanya mengungkit hal itu, pikir Radit.


"Kenapa Papa menanyakan hal itu saat kita sedang makan malam?" celetuk Widya, menatap kesal pada Ayahnya.


"Memangnya Papa harus menanyakannya pada saat apa? Ini bukanlah hal yang aneh untuk ditanyakan pada pengantin baru seperti kalian," sahut Pak Darman, merasa heran dengan kekesalan Widya.


"Papa kamu benar, Wid. Apa salahnya kami bertanya mengenai calon cucu kami," setuju Bu Gina, membela suaminya.


"Cucu?" cicit Widya, tanpa sadar menyentuh perutnya di bawah meja.


"Iya, cucu. Memangnya apa lagi sebutannya kalau bukan 'Cucu'?" Pak Darman menggelengkan kepalanya, makin kebingungan dengan sikap kaget Widya.


Mengulurkan tangannya menggenggam tangan Widya di atas meja, Radit tersenyum manis pada istrinya yang kalut itu.


"Aku rasa nggak lama lagi kita akan mendapatkan kabar baiknya. Bukankah begitu, Sayang?"


"Oh?" tengok Widya, tersenyum ragu pada Radit. "Ya, aku rasa begitu."


"Syukurlah kalau begitu. Mama benar-benar nggak sabar untuk menimang cucu," senyum Bu Gina, menyatukan kedua tangannya.


Di sebelahnya, Pak Darman menganggukan kepalanya sambil tersenyum girang.


"Omong-omong, di luar sepertinya hujan sudah mulai turun sangat deras sekali," ujar Pak Darman, mendengarkan dengan saksama suara rintikan hujan di atas atap rumahnya. "Papa sarankan malam ini kalian menginap di sini saja. Apalagi Radit pasti capek sehabis mengemudi tadi. Kalian bisa ke rumah kalian besok saja."


"Papa kamu benar, nggak baik mengemudi di saat gelap dan cuaca buruk seperti ini," angguk Bu Gina, menyetujui saran suaminya.


"Gitu aja terus. Apa pun yang Papa katakan pasti Mama 'Iya, iya aja', selalu begitu," gumam Widya pelan, menatap serius pada piringnya sambil mengaduk-aduknya dengan kesal.


"Kamu ngomong apa, Wid? Mama nggak mendengarnya."


"Bukan apa-apa," senyum Widya, tidak ingin menunjukkan rasa kesalnya. "Dengan senang hati aku menerima tawaran baik hati kalian. Iya 'kan, Suamiku?"

__ADS_1


"Tentu saja, kenapa nggak?" balas Radit, tersenyum cerah pada Widya.


Kamu nggak bisa membohongiku, aku tahu kamu pasti ingin lari secepatnya dari sini. Istriku yang malang, kali ini aku nggak akan melepaskan kesempatanku lagi. Bagaimanapun caranya aku pasti akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya.


__ADS_2