Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Pertanggungjawaban


__ADS_3

Hari sudah mulai sore ketika Widya bangun dari tidurnya. Ia tidak menyangka kalau ia akan tidur selama itu. Mungkin ini akibat kemarin malam ia kurang tidur ditambah rasa lelahnya menahan rasa sakit saat kakinya diurut.


Mengingat rasa ngilunya tadi pagi membuat sekujur tubuhnya bergidik. Ia berharap itu adalah pertama dan terakhir kalinya ia pergi ke tukang urut, rasanya sungguh tak tertahankan. Jika tidak ada Radit sebagai tempat pelampiasan rasa sakitnya, mungkin saat itu ia akan mengumpat kasar pada Mbah Romlah yang mengurutnya.


Berdeham sebentar, Widya mencoba memanggil Radit. Dirasakannya tenggorokannya begitu kering. Menyibak selimut dari tubuhnya, ia hati-hati menggeser kedua kakinya ke pinggir ranjang.


Kakinya yang sudah diurut tadi tidaklah sesakit ketika pertama kalinya ia terjatuh di kamar neneknya. Setidaknya tukang urut di desa ini melakukan pekerjaannya dengan baik. Namun, untuk berjaga-jaga ia tidak mau menggerakkan kaki kanannya terlalu berlebihan.


Berjalan terpincang-pincang mendekati pintu kamarnya, diputarnya gagang pintu. Membuka mulutnya untuk memanggil Radit lagi, suara dari ruang tamu menghentikannya, sepertinya mereka sedang kedatangan tamu.


Langkah kaki Widya yang terpincang-pincang pastilah terdengar oleh Radit. Karena dia langsung menghampirinya di ruang keluarga. Mengaitkan tangannya dilengannya, dia menuntun Widya ke sofa ruang tamu.


"Kenapa kamu malah memaksakan dirimu berjalan, bagaimana kalau kakimu terkilir lagi?" gerutu Radit, menurunkannya perlahan ke tempat duduk, lalu dia segera duduk di sebelahnya.


"Aku tadi sedang mencarimu, tapi aku mendengar ada tamu yang datang, makanya aku jadi penasaran," memandang ke arah tamunya, Widya tersenyum ceria. "Ternyata yang datang, Ayah. Apa Ayah kemari karena mengkhawatirkanku?"


Membalas senyumnya, Pak Benny melirik khawatir pada kakinya. "Apa kamu tidak apa-apa? Kalau kamu belum terlalu sehat sebaiknya kamu istirahat saja."


Mengaitkan tangannya mesra pada Radit, ia bersandar di sana sembari mengulas senyuman bahagia.


"Aku sudah terlalu banyak istirahat, Yah. Berjalan sedikit nggak akan terlalu menyakitiku." Mendongakkan kepala menatap Radit penuh cinta, ia berujar, "Apalagi aku memiliki suami yang selalu ada untukku."


Mengembalikan perhatiannya pada ayah mertuanya, Widya memasang wajah bersalah. "Dan mengenai masalah kaburku hari ini, Ayah nggak usah terlalu memikirkannya. Itu hanya kesalahpahaman antara pengantin baru. Aku harap Ayah memakluminya."


Sekejap ia melihat kilatan mata Pak Benny terlintas rasa kekagetan, tetapi dengan segera ditutupinya dengan senyuman maklum. Bahkan Radit menengok padanya, terkejut oleh penjelasannya yang tiba-tiba itu.


Mereka berdua pasti terlalu meremehkan kecerdasannya. Saat tiba di ruang tamu tadi, Widya bisa merasakan udara di sekitar sini sarat ketegangan. Tentunya ia bisa menduga, ayah mertuanya datang ke sini untuk menanyakan perihal masalah kaburnya tadi pagi. Walaupun sebagian kunjungannya ini untuk mengetahui keadaan dirinya.


"Syukurlah kalau itu hanya kesalahpahaman belaka. Bapak senang mendengarnya," lega Pak Benny.


"Aku harap Ayah memaklumi sikap kekanakanku hari ini," tatapnya penuh sesal. "Radit tidak pernah melakukan sesuatu yang salah, aku saja yang terlalu cepat emosi sehingga mengambil tindakan bodoh seperti itu."

__ADS_1


Kali ini ucapannya membuat Radit kembali menoleh cepat menatapnya. Di matanya terlihat sebuah pertanyaan tak bersuara, "Apa benar kamu ini istriku?" Ingin rasanya Widya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi syok suaminya itu.


"Jangan berkata seperti itu, bapak tahu kamu belum siap menghadapi pernikahan yang begitu mendadak ini. Bapak cuma berharap kalian bisa hidup akur, mengingat pernikahan ini dipaksakan pada kalian berdua."


"Nggak perlu khawatir, Yah. Kami sudah menerima pernikahan ini dengan lapang dada. Meskipun aku nggak bisa berjanji kami akan selalu akur, tapi ada satu hal yang bisa kupastikan. Kami sangat bahagia hidup bersama, di samping ada beberapa hal yang membuat kami berselisih pendapat," ujarnya meyakinkan Pak Benny.


"Terima kasih, Nak. Ucapanmu itu cukup menenangkan hati bapak." Berdiri dari tempat duduknya, Pak Benny berpamitan pulang kepada mereka berdua. "Kalau ada apa-apa kamu bisa menemui bapak kapan pun kamu menginginkannya."


"Akan aku ingat itu." Widya tersenyum berterima kasih.


Berdiri menatap kepergian Pak Benny di ambang pintu, Widya menunggu ayah mertuanya itu tak terlihat lagi dari pandangan, kemudian melepaskan pegangannya dari lengan Radit, dan kembali ke dalam rumah terpincang-pincang. Duduk di sofa dekat pintu, ia menunggu Radit menutup pintu rumah sebelum mengutarakan maksudnya berakting seperti tadi. Pastinya saat ini suaminya itu sangat penasaran oleh tingkah manis dan merendah hatinya tadi.


Sayangnya, Radit duluan mengutarakan isi pikirannya sebelum ia sempat membuka mulut.


"Apa kakimu yang terkilir sudah membuat watakmu berubah drastis?" tanya Radit bingung, menekankan telapak tangan di dahi Widya sambil membandingkannya dengan dahinya.


Menepis tangan suaminya kasar, ia melotot kesal.


"Kalau begitu, jelaskan padaku kenapa kamu bertindak semanis itu tadi, dan apa tadi? Kekanakan? Jujur aku terkejut mendengarmu mengakui sifat kekanakanmu itu." Radit menggelengkan kepala tak percaya. "Aku pikir, aku tadi salah dengar."


"Aku nggak pernah mengakui diriku kekanakan, aku mengatakan itu hanya untuk menenangkan ayahmu."


"Sama saja. Itu artinya kamu mengakuinya," gumam Radit.


Menatap tajam pada suaminya, Widya melanjutkan perkataannya, "Aku melakukan semua itu untuk menebus kesalahanku hari ini. Jadi, sekarang aku nggak berhutang pertanggungjawaban lagi padamu."


Menegakkan postur tubuhnya di tempat duduk, Radit menatap tak percaya padanya. "Apa? Menebus kesalahanmu? Aku nggak pernah memintamu melakukan hal itu untuk mempertanggungjawabkan penderitaanku hari ini."


"Kamu memintanya atau nggak, yang terpenting aku sudah menyelamatkanmu dari omelan ayahmu. Jadi, kita impas," sahutnya, membalas tatapan Radit sama tajamnya.


"Jika aku boleh bertanya, berkat siapa aku mendapatkan omelan itu, Istriku?" sindir Radit, menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


Mengabaikan sindiran itu, Widya berkata, "Pokoknya sekarang masalah pertanggungjawaban yang kamu inginkan sudah terselesaikan." Menepuk kedua pahanya pelan, ia berdiri dari tempat duduknya. "Aku sekarang ingin makan, apa kamu sudah menyiapkan makan malam, Suamiku?"


Radit tetap terdiam di tempatnya. Dia melemparkan tatapan tak berdaya padanya, garis kelelahan terukir jelas diwajahnya.


"Aku sudah capek menghadapi sikap keras kepalamu ini." Panjangnya hembusan napasnya menyatakan rasa frustasinya. "Dan ya, aku sudah memasak makan malam untukmu."


"Kamu nggak memasak bubur untukku, 'kan? Aku hanya terkilir bukan demam. Jadi, akan aneh rasanya kalau kamu menghidangkan makanan seperti itu untukku."


"Aku nggak bodoh, Istriku."


"Baguslah kalau begitu."


Menyentuh pergelangan tangannya, Radit berdiri di sebelahnya. "Biarkan aku membantumu. Kamu belum sepenuhnya sembuh."


Melepaskan pegangan tangannya, Widya memberikan tatapan terima kasih. "Nggak perlu, meja makan nggaklah sejauh itu. Aku bisa berjalan sendiri."


Mangaitkan tangan Widya di lengannya lagi, Radit menuntunnya ke dapur. "Aku memaksa. Lagi pula kita sejalan."


Pasrah dengan bantuan itu, Widya membiarkan Radit membantunya berjalan ke tempat meja makan. Setelah membantunya duduk di kursi meja makan, Radit bersiap pergi meninggalkannya.


Menarik tangan Radit untuk menghentikan langkahnya, ia bertanya, "Kamu nggak makan?"


"Aku ingin mandi dulu. Kamu makan saja duluan."


"Baiklah. Aku terlalu lapar untuk menunggumu selesai mandi," katanya sambil melepaskan pegangan tangannya.


°°


Baru saja Radit ingin memasuki kamar mandi, suara jeritan Widya mengagetkannya hingga membuatnya lari terburu-buru untuk melihat apa yang sudah membuat istrinya itu berteriak ketakutan.


"Ada apa?" tanyanya, melihat ke sana kemari mencari sumber ketakutan istrinya.

__ADS_1


Memalingkan wajah, Widya menunjuk ke arah meja makan dengan tangan gemetar. Mengikuti arahan telunjuk istrinya, Radit menatap kebingungan pada sumber ketakutan istrinya itu.


__ADS_2