
Sejujurnya, kenapa Radit hanya berdiam diri membiarkan Widya pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, itu semua terjadi karena ia kehabisan kata-kata. Ia terlalu terpukau oleh kepercayaan diri Widya, di satu sisi ia juga ingin tertawa geli dengan keangkuhan Widya atas kecantikannya.
Memang tidak bisa dipungkiri kalau istrinya itu sangat cantik, tapi mendengar Widya memuji dirinya sendiri seperti itu membuat Radit kebingungan harus merespon seperti apa. Meskipun sebenarnya keangkuhan Widya bukanlah sesuatu yang baru lagi baginya, akan tetapi ia tetap saja tidak bisa menutupi rasa takjubnya. Perkataannya tadi masih terngiang-ngiang dalam kepala Radit, dan tanpa ia sadari sebuah senyuman terukir di wajahnya.
Mungkin istrinya itu sekarang berpikir pembicaraan mengenai pertemuannya dengan Gilang sudah berakhir. Sayang sekali, dia salah besar, Radit masih belum selesai membicarkan hal itu. Masih banyak beberapa hal yang membuatnya begitu penasaran, terutama saat Widya berkata begitu yakinnya kalau dia sudah menyelesaikan masalah itu, yang berarti istri dan temannya itu pasti ada bertemu lagi setelah malam Gilang ke rumahnya.
Memikirkan mereka berdua bertemu lagi tanpa sepengetahuannya membuat suasana hati Radit kembali muram. Ia bukannya tidak mempercayai Widya, tetapi pertemuannya dengan Gilang tadi menjelaskan satu hal, temannya itu masih menyimpan perasaan pada Widya. Dilihat dari sikap Widya tadi, sepertinya istrinya itu tidak menyadari kalau perasaan temannya itu sudah terlalu dalam padanya.
∞ ∞
Selesai mandi, Widya terlonjak kaget saat membuka pintu kamar mandi. Di dinding samping pintu kamar mandinya, dia melihat Radit sedang bersandar miring begitu santainya sambil menghujamkan tatapan begitu tajamnya pada Widya.
"Sejak kapan kamu berdiri di sini, apa kamu mau membuatku terkena serangan jantung?"
"Ternyata kamu mandi lama sekali," keluh Radit muram. "Aku terlalu nggak sabar untuk berbicara denganmu lagi, makanya aku berdiri di sini menunggumu."
"Apa lagi yang perlu dibicarakan, bukannya tadi kita sudah menyelesaikan pembicaraan tentang temanmu itu?" tanya Widya, berjalan melewati Radit. "Atau kamu ingin membicarakan hal lain lagi."
Radit berjalan mengikuti Widya ke kamarnya. "Itu menurutmu, tapi menurutku kita belum menyelesaikan pembicaraan kita tadi."
Duduk di depan meja riasnya, Widya menatap pantulan Radit dari cermin. "Kalau begitu katakan yang ingin kamu katakan!"
"Apa maksudmu tadi mengatakan sudah menyelesaikan masalah ini dengan Gilang? Apa kalian ada bertemu lagi setelah malam itu?"
Seketika tangan Widya yang memegang sisir berhenti menyisiri rambutnya. Menatap tajam pada Widya yang terlihat begitu pucat dari pantulan cermin, Radit mengambil sisir itu dari genggamannya. Berbalik jauh dari raut masam yang ditunjukkannya, Radit menyisiri rambut Widya begitu lembut.
__ADS_1
"Kami memang ada bertemu lagi, tapi aku pastikan padamu, aku nggak melakukan apa pun selain berbicara dengan temanmu itu," lirih Widya, mengalihkan pandangannya dari tatapan Radit.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Bukan hal penting, pokoknya kami sudah sepakat untuk melupakan pertemuan kami di rumah buku waktu itu dan nggak akan pernah mengungkitnya padamu."
"Rumah buku?"
"Ya, rumah buku. Aku lebih menyukainya menyebutnya rumah buku daripada gudang buku," jawab Widya menjelaskan. "Aku nggak tahu bagaimana kamu bisa mengetahui pertemuan kami berdua itu, padahal kami sudah sepakat untuk nggak menceritakannya padamu. Apa mungkin temanmu Gilang itu melanggar perjanjian kami dan menceritakan hal ini padamu hari ini?"
"Kamu nggak perlu tahu bagaimana detailnya aku mengetahui pertemuan kalian itu, yang jadi pertanyaanku sekarang, kenapa kamu begitu inginnya merahasiakan hal ini dariku. Apa kalian sudah melakukan hal-hal terlarang hingga merahasiakan hal ini dariku?"
Kedua mata Widya terbelalak menatap mata Radit yang menyipit curiga padanya.
"Tentu saja nggak!" elak Widya dengan nada agak melengking. "Apa kamu lupa, aku kan tadi sudah mengatakan padamu kalau aku menyembunyikan hal ini karena nggak ingin kamu bertengkar dengan temanmu."
"Benarkah, kamu nggak berbohong, kan?"
"Ya, semua yang kukatakan itu adalah kebenarannya," sahut Widya percaya diri, matanya menatap lurus pada Radit tak tergoyahkan. "Sedikit pun aku nggak memiliki ketertarikan pada temanmu itu, terserah kamu mau percaya atau nggak."
"Baiklah, aku percaya padamu."
Menegapkan tubuhnya, Radit menarik Widya agar berdiri menghadapnya dengan jarak yang begitu dekat.
"Lupakan saja masalah itu. Sekarang ini ada hal penting yang mau aku sampaikan padamu."
__ADS_1
Widya hanya diam membisu menunggu Radit melanjutkan perkataannya.
"Soal ucapanku tadi malam yang sudah menyakitimu, aku minta maaf. Kuakui kalau aku memang salah sudah menuduhmu seperti itu, aku harap kamu mau memaafkan kebodohanku itu," senyum Radit, meminta maaf.
"Kata maaf saja nggak akan membuatku melupakan ucapan menjengkelkanmu itu, aku perlu sesuatu yang lebih dari itu," ucap Widya datar, bersedekap memandangi Radit.
"Aku sudah menduga kamu pasti akan berkata seperti itu, jadi aku sudah merencanakan akan mengajakmu ke kota minggu ini."
Menyipitkan matanya, Widya meneliti wajah Radit penuh perhitungan. "Kali ini kamu nggak membohongiku seperti waktu itu, kan? Aku nggak mau terlihat bodoh lagi dengan meloncat kegirangan seperti pertama kali kamu membohongiku."
"Harus berapa kali lagi aku bilang padamu, kalau aku nggak pernah berniat membohongimu. Situasinya saat itu mengharuskanku membatalkan perjalanan kita." Radit menghela napas frustasi.
"Sama saja, membatalkannya berarti kamu membohongiku," celetuk Widya kukuh.
"Aku pastikan padamu, kali ini aku pasti akan menepati janjiku," ujar Radit dengan nada suara meyakinkan. "Hari ini aku mendapatkan 2 orang pekerja baru, jadi aku bisa punya waktu untuk menemanimu pergi ke kota pekan ini."
Terlalu senang oleh pemberitahuan itu, Widya meloncat girang memeluk leher Radit. Saat sadar apa yang dilakukannya, dia langsung mendorong tubuh Radit menjauh darinya.
Melingkarkan lengannya di pinggang Widya, Radit menarik Widya kembali dalam pelukannya. "Kenapa kamu berhenti? Peluk saja aku seperti tadi, aku nggak keberatan sama sekali."
"Aku tadi cuma terbawa suasana," sahut Widya, tersipu malu.
Melepaskan pelukannya, Radit mencubit kedua pipi Widya begitu kuatnya. "Kamu ini menggemaskan sekali kalau malu seperti ini, membuatku...."
Dengan sengaja Radit tidak menyelesaikan perkataannya, dia hanya menatap Widya penuh damba, yang membuat wajah Widya bertambah merah merona.
__ADS_1
#TBC