Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Bencana Besar


__ADS_3

Pagi ini suasana hati Widya sungguh buruk. Rasa kesalnya juga semakin bertambah ketika mendapati suaminya, Radit, berulang kali meyakinkannya bahwa apa yang mereka lakukan sekarang ini adalah hal yang tepat dilakukan.


Dari semua ide yang ada, kenapa harus pergi ke pasar bersamanya? Padahal 'kan dia tahu sendiri penyebab semua kebencian pada dirinya ini selama ini bermula dari sana. Lalu kenapa suaminya melakukan hal ini padanya? Ini sih bukan jalan keluar, melainkan jalan menuju kehancuran.


"Ayolah, Sayang, berhenti merengut begitu," bujuk Radit, menarik ujung pinggir bibirnya supaya membentuk sebuah senyuman. "Kamu lebih cantik kalau tersenyum begini."


"Aku nggak berniat terlihat cantik hari ini!" cetusnya, menepis tangan Radit dari wajahnya. "Ini sungguh ide bodoh, Radit."


"Sayang. Panggil aku dengan 'Sayang', bukan 'Radit', Sayangku," koreksi Radit.


"Ini juga bukan saatnya kita saling memanggil sayang-sayangan!" seru Widya, mendelik marah. "Yang harus kamu pikirkan sekarang ini, buang jauh-jauh ide bodohmu ini dari kepalamu, dan biarkan aku kembali pulang ke rumah dengan damai."


"Nggak baik mengatai suami sendiri 'Bodoh', Widya," ujar Radit, sengaja menyebutkan namanya untuk menunjukkan kekesalannya. "Kamu harus membuang jauh-jauh sifatmu yang suka memaki-maki itu. Nggak baik memiliki sifat seperti itu, setiap kali kamu marah-marah."


"Aku nggak bisa menahannya," sesalnya, sadar akan sifat buruknya yang suka berkata kasar. "Lagi pula ini salahmu juga, suka memancing kelakuan burukku."


"Nah, kamu saja sadar itu buruk. Jadi, berusahalah semampumu menahannya lebih baik lagi."


"Pengendalian diriku ini lebih tipis dari sebuah tisu."


"Tenang saja, ada aku yang akan membantumu mengontrolnya."


Radit melingkarkan lengannya di sekeliling bahu Widya untuk menariknya mendekat.


"Sekarang tersenyumlah. Tunjukkan pada semua orang di sini kalau rumah tangga kita baik-baik saja."


Mendongakkan kepalanya, Widya mengernyitkan alisnya. "Apa kamu yakin ini tindakan tepat? Kenapa harus di sini? Nggak bisakah kita melakukannya di tempat lain saja?"


"Justru dengan keberadaanmu di sini, semua orang akan melihat kalau kamu sudah melupakan kejadian yang dulu pernah kamu sebabkan di sini," bujuk Radit. "Ini juga menjadi satu-satunya cara supaya kamu lebih mendekatkan diri pada warga yang ada di desa ini. Sudah saatnya mengakhiri genjatan senjata antara dirimu dan penduduk desa di sini."


"Baiklah. Aku harap keputusanmu ini pilihan yang bijak. Tapi kamu harus tahu, jika kamu menginginkan permintaan maaf dariku kepada ibu penjual ikan pembohong itu, maka kamu akan mendapati aku akan meninggalkanmu seorang diri di pasar."


"Ya, ya, aku tahu. Kita kemari untuk menunjukkan pada semua orang yang ada di sini bahwa apa yang mereka pikirkan tentang kita nggak memengaruhi kita sama sekali."


"Jangan terlalu yakin dulu. Bisa saja mereka nggak peduli sama sekali oleh kedatangan kita berdua. Atau lebih parahnya lagi, mereka akan mengabaikanku."


"Itu nggak akan terjadi."


Nyatanya apa yang dikatakan oleh Widya memang terjadi. Semua pedagang dan pembeli di pasar itu mengabaikannya. Mereka hanya menyapa Radit saja, tanpa menggubris Widya sama sekali. Seolah Widya adalah sesuatu yang kasatmata.

__ADS_1


"Apa kataku," celetuknya di sebelah Radit.


"Jangan biarkan perilaku mereka terhadapmu mempengaruhimu," bisik Radit, meminta Widya mengulaskan senyuman di bibirnya. "Berikan saja mereka senyuman. Tunjukkan pada mereka kalau kamu nggak peduli sedikit pun atas sikap tak ramah mereka padamu."


"Untuk apa aku tersenyum pada orang yang nggak membalas senyumanku," gerutunya, menolak saran itu. "Mereka tak ramah, maka aku akan lebih tak ramah lagi."


"Widya, sekali ini saja turunkan egomu itu. Bersikap sama seperti orang lain memperlakukanmu, nggak akan menghasilkan apa pun. Kecuali, itu hanya akan membuatmu sama buruknya seperti mereka."


"Setidaknya itu lebih baik daripada harus bersikap ramah pada semua orang menyebalkan di sini. Dengan begitu, mereka semua juga akan sadar, kalau aku sama nggak sukanya dengan mereka."


"Kumohon, Widya, dengarkan saranku sekali ini saja. Aku melakukan ini demi kebaikanmu juga."


Menghela napas pasrah, Widya tidak mampu menolak permintaan putus asa itu dari Radit. Meski berat hati, ia memaksakan bibirnya mengulaskan senyuman ramah di wajahnya.


Lalu tak jauh dari tempatnya berdiri, matanya berpandangan dengan seorang pria tua yang sedang berjualan sayuran. Dia mendengus sambil melengkungkan senyuman mengejek pada Widya.


"Lihatlah Pak Tua sialan itu! Dia meledekku, berani sekali dia!" Tunjuknya pada Radit supaya melihat juga pada pria tua yang sedang berjualan sayuran itu. "Makanya sudah kubilang percuma saja ter...."


"Widya, jaga ucapanmu! Mengatai seseorang dengan sebutan 'Sialan' itu nggak baik," sergah Radit. "Jaga sikapmu!"


"Maafkan aku," ujarnya, menunduk. "Aku nggak sengaja mengucapkannya. Tapi, pria tua itu tetap saja salah, dia meremehkanku."


"Radit, sedang apa kamu di sini?" tanya Deni, berjalan mendekatinya bersama istrinya.


"Memangnya apa lagi yang kulakukan, kalau bukan untuk berbelanja bahan makanan. Pertanyaan kamu ini konyol sekali."


Deni memperhatikan Widya sejenak, sebelum menarik Radit menjauh sedikit dati istrinya.


"Ini bukam saatnya bagimu berbelanja di sini bersama istrimu," bisik Deni, terdengar sangat khawatir.


"Kenapa nggak? Apa sekarang aku nggak diperbolehkan berbelanja lagi, setelah masalah yang kubuat kemarin?"


Deni tak langsung menjawab pertanyaannya itu. Dia meminta pada istrinya untuk menemani Widya berbelanja, karena ada hal yang harus dibicarakannya berdua saja dengan Radit. Menuruti permintaannya, istri Deni mengajak Widya berbelanja bersamanya dengan wajah riang.


Menolehkan kepalanya kepada Radit dari balik bahunya, Widya melemparkan tatapan penuh tanya padanya. Istrinya itu kebingungan melihat istri Deni menyeretnya pergi. Ia hanya menganggukkan kepalanya, meminta dalam diam agar Widya mengikuti istri Deni tanpa protes.


Untunglah, istrinya itu mengerti apa yang disampaikannya melalui tatapan mata saja. Dia akhirnya pasrah saja diseret istri Deni ke sana kemari.


"Nah, sekarang katakan apa yang harus aku ketahui?" Radit berbalik menghadap pada temannya. "Melihat gelagatmu, sepertinya kamu sudah mendengarkan hal buruk tentangku. Apa lagi kali ini?"

__ADS_1


"Ini bukan tentangmu, lebih tepatnya ini mengenai istrimu," jawab Deni, memperhatikan sekelilingnya. "Sejujurnya, aku juga baru mengetahuinya saat berbelanja tadi. Aku nggak tahu kalau semuanya akan berubah sedrastis ini."


"Apa maksudmu? Jelaskan padaku, apa maksudmu berkata kalau ini mengenai istriku? Sebenarnya apa yang kamu dengar?" desak Radit tak sabar.


"Tenanglah dulu. Kamu harus mendengarkannya dengan tenang."


"Akan kuusahakan. Sekarang ceritakan padaku apa yang kamu dengar."


Semakin lama ia mendengarkan cerita dari Deni semakin Radit merasa semua yang didengarnya itu tidaklah masuk akal. Bagaimana bisa dalam semalam semua gosip itu berbalik arah menyudutkan Widya? Siapa dalang yang sudah memutarbalikkan semua gosip tak masuk akal ini.


"Aku tahu sekarang ini kamu sedang marah, tapi nggak ada yang bisa kamu lakukan, selain pergi sekarang juga dari sini. Gosip ini sudah semakin parah saja."


"Apa kamu tahu siapa dalang yang pertama kali menyebarkan gosip tak berdasar ini?" tanya Radit geram, seiring waktu amarahnya kian menggelegak. "Aku nggak bisa membiarkan, siapa pun itu, menyudutkan istriku seperti ini. Itu konyol!"


"Aku juga tahu itu, Dit, sebab aku juga berada di sana, ketika pertengkaran itu terjadi," sahut Deni. "Satu hal yang bisa aku pastikan padamu, para pekerjamu nggak mungkin melakukan hal ini. Mereka nggak mungkin menyebarkan gosip yamg akan menyudutkan istrimu seperti ini. Melakukannya sama saja mencari mati."


"Aku nggak meragukan para pekerjaku, kamu tenang saja," balas Radit. Kemudian matanya melebar menatap pada temannya. "Astaga, ini gawat, Den!"


"Apanya yang gawat?" Deni memiringkan kepalanya, kebingungan oleh kepanikannya.


"Ini bukanlah saatnya meninggalkan istriku seorang diri." Radit mengedarkan padangannya, mencari keberadaan Widya di antara kerumunan orang di pasar. "Kalau dia mendengarkan hal ini, dia akan mengamuk, dan itu bukanlah hal yang aku inginkan terjadi."


Kesulitan menemukan Widya di tempat ramai itu, Radit berjalan menyeruak sembari memanggil nama Widya. Firasat buruk mengatakan padanya bahwa sebentar lagi akan terjadi hal buruk di pasar ini, kalau ia belum juga menemukan istrinya.


Di belakangnya, Deni berlari mengejarnya, dia menarik bahu Radit untuk menghentikannya.


"Kamu nggak perlu panik. Kalau kamu lupa, saat ini istriku sedang bersama istrimu."


"Justru itulah yang membuatku lebih khawatir. Istrimu saja nggak akan mampu menangani perangai buruk Widya, yang suka lepas kendali ketika sedang marah. Bahkan aku saja kewalahan mengendalikan perangai buruknya itu, apalagi istrimu."


"Jangan berlebihan, Dit. Nggak mungkin seburuk itu," ucap Deni, terdengar ragu dengan ucapannya sendiri.


Saat itulah suara ribut-ribut di belakangnya, mengalihkan perhatian Radit dan Deni. Oh tidak! Keributannya ternyata sudah dimulai. Radit berlari panik menghampiri tempat keributan itu. Entah apa yang akan menantinya di sana.


Radit semakin panik ketika mendengarkan teriakan melengking seorang perempuan, yang ia tahu suara itu berasal dari Widya. Lebih mengerikannya lagi terdengar jeritan-jeritan memekakkan telinga dari sana.


Tuhan, tolong aku. Jangan biarkan istriku membunuh seseorang di sana.


#***TBC***

__ADS_1


__ADS_2