Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Peringatan


__ADS_3

Setelah melihat Radit menghilang dari pandangannya, Widya langsung bersandar di dinding, kakinya terasa begitu lemas sehingga untuk mempertahankan posisi berdirinya saja sangat membutuhkan tenaga. Merosot turun ke lantai, Widya duduk termenung di ruang tamunya. Otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih setelah apa yang yang diperbuat Radit kepadanya tadi.


Menatap kosong pada tumpukan belanjaannya di meja, Widya tidak bisa memikirkan apa pun selain kalimat yang disampaikan Radit kepadanya barusan. Perkataan penuh godaan itu terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya, belum lagi ucapannya sendiri, yang diutarakannya tanpa disadarinya meluncur keluar begitu saja dari mulutnya.


Menyentuh jantungnya, ia masih bisa merasakan jantungnya berdegup begitu kencang di dadanya, seolah ia baru saja melakukan olahraga berat sehingga memompa jantungnya begitu cepat. Memaksakan dirinya berdiri, ia menghampiri belanjaannya. Sekarang bukanlah saatnya termenung melongo di ruang tamunya seperti orang bodoh. Yang harus dilakukannya sekarang afalah lari ke dalam kamarnya sebelum Radit selesai mandi. Dengan pikiran itu, ia bergegas menuju ke dalam kamarnya dan mengunci pintu itu, seolah hidupnya bergantung pada perlindungan kamarnya.


Menggelengkan kepalanya kuat, Widya menyadarkan dirinya dari ketakutannya yang begitu konyol. Kalau ia tetap gugup seperti ini, itu hanya akan membuatnya jadi bahan tertawaan nanti. Menenangkan dirinya selama sesaat, ia segera menendang jauh bayangan kejadian di ruang tamu tadi dari dalam kepalanya dan memutar kembali kunci kamarnya.


Jangan takut, dia nggak akan memakanmu, berhentilah berpikiran konyol.


Memusatkan perhatiannya sepenuhnya pada kondisi kamarnya yang begitu berantakan, Widya memulai tugasnya merapikan kamarnya seperti sedia kala. Ia tidak tahu sudah berapa lama dia membersihkan kamarnya, tetapi ia merasa tenaganya sudah terkuras habis dan kondisi kamarnya belum juga rapi sepenuhnya. Melemparkan salah satu bajunya ke lantai, ia begitu frustasi melihat beberapa barangnya yang berserakan di lantai. Sungguh ia sangat menyesal melakukan hal mengerikan ini pada kamarnya.


Sewaktu pergi tadi, ia sama sekali tidak memikirkan hasil perbuatannya ini akan membuatnya sangat lelah seperti sekarang. Menghela napas frustasi, ia berjongkok mengambil baju yang dilemparkannya tadi. Namun, saat itu juga ia terlonjak kaget mendengar suara berat dari belakangnya. Terduduk lemas di lantai kamarnya, ia memekik melihat Radit berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Kamu kenapa kaget begitu?" tanya Radit heran, matanya melihat ke sekeliling kamar Widya. "Astaga, berapa lama lagi kamu akan menyelesaikan membersihkan kamarmu ini? Sebaiknya kamu mandi saja dulu, biarkan aku menyelesaikan sisanya."


"Kamu membuatku kaget setengah mati!" seru Widya jengkel. "Apa kamu nggak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk?"


Senyuman menggoda itu kembali lagi di bibirnya. "Ayolah, setelah apa yang terjadi dengan kita tadi, tentu sekarang nggak ada gunanya lagi kita bersikap terlalu menjaga jarak. Masuk ke kamar istriku tanpa mengetuk pintu bukanlah kejahatan."


"Itu memang bukan kejahatan, tapi bagaimana kalau saat kamu memasuki kamarku, aku sedang dalam keadaan berganti pakaian."


"Justru itu lebih bagus lagi," jawabnya riang.


Tertegun mendengar jawaban itu, Widya kehabisan kata-kata untuk merespons. Ia sangat tidak menyangka jika Radit akan bersikap begitu terus terang kepadanya seperti itu. Apa benar dia menyukaiku? Kalau benar begitu, apa yang dia harapkan dariku? Membalas menyukainya atau mengharapkanku melakukan tugasku sebagai seorang istri seutuhnya? Pemikiran terakhir itu membuat wajah Widya menghangat.

__ADS_1


"Apa pun yang kamu pikirkan, aku nggak ada niat seperti pikiran mesum di otakmu itu," ucap Radit menyela pikiran Widya yang berkelana liar.


Menengandah cepat, Widya tidak bisa mengendalikan wajahnya yang semakin memanas. Apa dia bisa membaca pikiranku? Apa semua yang kupikirkan tergambar jelas di wajahku? Oh Tuhan, ini sangat memalukan. Beranjak berdiri, Widya memasang raut datar di wajahnya, ia tidak ingin Radit merasa senang telah mempermalukannya.


"Siapa juga yang memikirkan hal mesum. Kalau ada yang memikirkan hal mesum, itu justru kamu, bukan aku." Mengambil pakaian yang telah disiapkannya di atas kasur, Widya berjalan melewati Radit. "Aku sangat terbantu atas bantuanmu, Suamiku. Permisi."


Berjalan cepat ke arah kamar mandi, Widya masih bisa mendengar tawa menggelegar Radit mengejeknya. Tentu saja, suami menjengkelkannya itu tidak tertipu akting Widya yang bersikap sok tenang di hadapannya. Sungguh menyebalkan!


***


Akibat tidak bisa tertidur begitu lelap sampai pagi, Widya akhirnya memutuskan untuk menonton televisi di ruang keluarga. Ia sudah menyerah memaksa dirinya agar tertidur. Mungkin karena begitu banyaknya pikiran memenuhi kepalanya, ia jadi tidak bisa tertidur pulas. Tentu saja semua pikiran itu dipenuhi oleh bayangan Radit menggodanya sepanjang malam. Mengingat kejadian itu lagi membuat Widya tidak bisa fokus menonton.


Terdengar suara langkah kaki di belakangnya, kemudian suaminya yang sudah berpakaian rapi berdiri di hadapannya.


"Kenapa kamu terlihat melamun begitu, apa ada yang kamu pikirkan?"


"Masa?" tanyanya tak percaya. "Setelah aku lihat baik-baik, kayaknya kamu sedang memikirkanku."


"Sok tahu sekali kamu," ketus Widya. "Sudah sana pergi, kamu menghalangiku menonton."


Mengabaikan permintaannya, Radit malah berjalan mendekat ke arahnya. Badannya menunduk menatap wajah Widya begitu dekat.


"Apa yang kamu lakukan?" Widya mundur menjauh dari Radit.


"Ssttt, jangan bergerak," perintahnya lembut.

__ADS_1


Kedua matanya fokus menatap kening Widya, kemudian tiba-tiba saja Radit memukul keningnya agak kuat hingga membuat kepalanya terdorong ke belakang.


"Kenapa kamu memukul keningku? Sakit tahu," desis Widya, matanya berkilat marah menatap Radit.


"Aku hanya ingin memukul nyamuk yang menempel di keningmu, sayangnya aku nggak berhasil menangkapnya. Nyamuk itu terlalu gesit." Menyingkirkan sedikit rambut Widya dari keningnya, Radit terkekeh melihat keningnya yang memerah oleh pukulannya. "Aku nggak menyangka pukulanku bisa membuat keningmu semerah ini, maafkan aku."


Lalu dia mengecup kening Widya lembut secara tiba-tiba. Tersentak mundur, Widya menutup keningnya yang telah dikecup mendadak tadi dengan telapak tangannya.


"Dasar kamu penipu!" hardik Widya. "Kamu cuma mencari alasan supaya bisa mencium keningku, dasar picik."


Mengangkat bahunya, Radit memasang raut tak bersalah. "Salah kamu sendiri terlalu lengah. Nah, berikutnya di mana lagi yang harus kucium, Istriku?"


Menutup mulutnya membentuk garis tipis, Widya menolak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak akan bertindak bodoh lagi seperti kemarin, kalau ia menjawab pertanyaan itu, sama saja dia menanti ciuman Radit berikutnya.


Tertawa geli dengan aksi bungkamnya, Radit tersenyum cerah padanya. "Nantikan ciumanku yang berikutnya."


Sebelum berbalik badan, dia mengedipkan matanya pada Widya. Lalu dia berjalan sambil melambaikan tangan padanya.


"Nggak akan!" sahut Widya.


"Bersiap-siaplah, Istriku, malam ini mungkin saja aku akan menyerangmu."


Mendengar kesiap kaget Widya, dia langsung tertawa terbahak-bahak saat menutup pintu rumah.


∞ ∞

__ADS_1


Berjalan santai sambil mengamati sekelilingnya, Widya menurunkan maskernya ke dagu untuk menghirup udara segar. Tinggal di desa tidaklah sepenuhnya buruk, setidaknya di desa ia bisa menghirup udara bersih, berbeda jauh ketika ia tinggal di kota, yang udaranya banyak tercemar. Menengandah menatap langit yang teduh, ia bersyukur siang ini tidak terlalu terik seperti hari biasanya.


Hari ini setelah menghabiskan waktunya sebentar di rumah buku, ia berjanji bertemu Mila di persimpangan jalan. Temannya itu telah mengirim pesan padanya untuk mengajaknya ke kebun buah milik orang tuanya. Karena itulah sekarang ia berjalan seorang diri begitu gembiranya menunggu kedatangan temannya menemuinya.


__ADS_2