Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Perjanjian Yang Tak Terucap


__ADS_3

Siang ini Widya telah memutuskan dia akan pergi seorang diri ke rumah buku untuk mengembalikan semua buku yang telah dipinjamnya. Walaupun sebenarnya ada maksud lain ia pergi ke rumah buku tersebut—selain mengembalikan buku-bukunya—yaitu, ia berharap bisa bertemu dengan Gilang di sana.


Semenjak pertemuannya dengan Gilang malam kemarin di rumahnya, Widya sudah bertekad bulat akan berbicara dengan Gilang secara empat mata. Oleh karena itulah, ia sangat berharap hari ini Gilang akan berada di rumah buku. Ia sangat geram mengetahui akal bulus Gilang sengaja ke rumahnya untuk menggodanya mengenai pertemuan rahasia mereka di rumah buku.


Berani-beraninya cowok sialan itu mempermainkan rasa takutku di depan Radit secara langsung. Awas saja kalau sampai ketemu, akan kuhabisi dia hingga ke akar-akarnya.


Berderap cepat menghampiri pintu rumah buku yang terbuka lebar dari kejauhan, Widya sudah tidak sabar lagi meluapkan semua amarahnya pada Gilang—yang diduganya berada di rumah buku sekarang—langkah kakinya semakin lebar saat mulai mendekati rumah buku tersebut.


Berdiri di ambang pintu, Widya memasuki rumah buku itu secara perlahan. Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan seseorang yang dicarinya. Ia agak bingung mendapati tidak ada siapa pun di sana. Sungguh aneh, kalau nggak ada siapa pun di dalam sini lalu kenapa pintunya terbuka? Otaknya berpikir keras memikirkan hal ganjil itu.


Berdiri termenung memikirkan hal itu, sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang. Terlalu terkejut, Widya secara refleks mengayunkan tas yang dibawanya untuk menghantam seseorang yang mengejutkannya dari belakang.


Menghalangi hantaman Widya dengan lengannya, Gilang meringis kesakitan merasakan tumpukan buku yang menghantamnya diayunkan begitu kuat ke arahnya.


"Aw! Sakit sekali," ringis Gilang, menggenggam lengannya yang terasa ngilu. "Untuk orang mungil sepertimu, pukulanmu sungguh diluar dugaan."


Menjatuhkan tas yang berisikan semua buku yang telah dihantamnya pada Gilang tadi, Widya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membelalak kaget melihat hasil dari hantamannya di lengan Gilang. Akan tetapi, rasa terkejutnya itu segera pulih, digantikan ekspresi menyalahkan terpampang di wajahnya ketika menatap Gilang.


"Salahmu sendiri muncul tiba-tiba dari belakangku, aku hanya membela diriku. Lagian dari mana kamu muncul? Perasaan sewaktu aku masuk tadi nggak ada siapa pun di dalam sini. Kalaupun kamu dari luar, aku pasti mendengar suara langkah kakimu yang berjalan mendekat." Sambil mengatakan itu, mata Widya melirik ke bawah, ia melihat Gilang berdiri di hadapannya dengan bertelanjang kaki.


Mendongak menatap kedua mata Gilang begitu tajamnya, Widya melemparkan tatapan kesal padanya. Mencelingukkan kepalanya, ia melihat sepatu Gilang teronggok lemas di samping pintu yang membuka. Saat itulah ia sadar kalau sejak tadi Gilang pastilah mengawasinya dari balik pintu itu.


"Apa sejak tadi kamu bersembunyi di sana sambil mengawasiku?" tunjuk Widya menggunakan kepalanya, lalu matanya kembali menatap tajam pada Gilang. "Atau sejak semula kamu tahu aku akan datang ke sini, jadi dengan sengaja kamu bersembunyi di sana untuk menakut-nakutiku, begitu?"

__ADS_1


Gilang hanya mengulaskan sebuah senyuman permintaan maaf pada Widya, kemudian beranjak pergi mengambil sepatunya untuk dikenakannya kembali.


"Setelah pertemuan kita tadi malam aku sudah menduga kamu akan datang ke sini, makanya saat mendengar suara langkah kaki yang datang mendekat aku langsung cepat-cepat bersembunyi. Aku nggak ada niat menakut-nakutimu, karena aku tahu kamu bukanlah orang penakut." Gilang melirik sekilas pada buku-buku cerita horor yang berhamburan keluar dari tas Widya. "Aku tadi cuma ingin mengagetkanmu saja, tapi siapa sangka kamu akan bereaksi mengerikan seperti tadi."


Saat mengatakan itu, Gilang memutar-mutar pergelangan tangannya, seolah memastikan tulangnya tidak ada yang patah akibat hantaman itu. Jengkel oleh sindiran secara tidak langsung itu, Widya berjongkok mengambil semua bukunya yang jatuh sambil bergumam meminta maaf.


Tiba-tiba saja Gilang ikut berjongkok membantunya mengambil buku. "Aku nggak mendengarmu."


"Aku minta maaf," desis Widya. "Nggak perlu membantuku! Aku bisa melakukannya sendiri," ditariknya kasar buku yang dipungut Gilang.


"Kenapa sikapmu jadi kasar begini padaku? Apa aku sudah melakukan kesalahan atau kamu masih marah oleh tindakanku yang mengagetkanmu tadi? Kalau benar begitu, maafkan aku, aku nggak akan mengulanginya lagi."


Mengangkat semua buku yang jatuh tadi beserta tasnya, Widya beranjak berdiri dan berjalan ke meja kecil dekat jendela untuk meletakkan semua buku itu di sana. Lalu ia berbalik menghadap Gilang, yang berdiri diam ditempatnya, menunggu jawaban dari Widya atas pertanyaannya tadi dengan sabar.


"Keduanya?" tanya Gilang agak kebingungan.


"Ya, keduanya. Pertama, kamu melakukan kesalahan dengan menggodaku tadi malam. Kedua, hari ini kamu sengaja mengagetkanku, dan jujur aku sangat nggak menyukai kedua hal itu." Menyelipkan seuntai rambutnya yang jatuh ke belakang telinga, Widya melanjutkan perkataannya, "Aku nggak tahu apa maksudmu pura-pura nggak mengenalku di depan Radit tadi malam, yah, walaupun aku melakukannya juga sih, tapi tetap saja aku nggak menyukai sikapmu yang sok bersikap rahasia-rahasiaan denganku. Kalau kamu melakukan hal itu lagi, aku akan tanpa segan mengatakan pada Radit mengenai dirimu yang menggodaku di rumah buku ini. Jangan kamu kira aku merahasiakan hal ini dari Radit karena takut dia marah padaku, aku melakukannya agar pertemananmu dengan suamiku nggak renggang."


Nah, selesai sudah! Sekarang kita lihat apa yang akan dikatakan oleh lelaki sok akrab ini padaku untuk membela dirinya.


"Katakan saja. Aku nggak melakukan kesalahan apa pun, aku hanya melakukan apa yang aku inginkan. Kuakui sejak awal kita bertemu aku memang sudah tertarik padamu, tapi waktu itu aku mengira kamu salah satu gadis dari desa ini. Aku sama sekali nggak mengira kalau kamu itu adalah istri Radit, yang sering digembar-gemborkan semua orang sebagai cewek kasar nan sombong dari kota."


"Bagaimana mungkin kamu mengira aku salah satu gadis dari desa ini?" ucap Widya dengan nada suara tak percaya, kemudian ia teringat baju yang dikenakannya hari itu. "Ah! Baju itu."

__ADS_1


"Ya, baju itu," sahut Gilang menganggukkan kepalanya.


"Lucu sekali kamu mengiraku sebagai salah satu gadis dari desa ini hanya karena sehelai pakaian norak itu." Widya tergelak, kilat matanya bersinar jenaka. "Begini saja, lupakan masalah pertemuan konyol kita itu. Anggap saja itu nggak pernah terjadi, nggak ada gunanya mengungkit hal itu pada Radit. Memberitahukan padanya hanya akan menimbulkan kesalahpahaman."


"Sepakat. Kalau begitu, kita berdamai?" Gilang mengulurkan tangannya sebagai tanda berdamai.


Melirik ragu pada uluran tangan itu, Widya berjalan perlahan mendekati Gilang. "Oke, deal."


Tersenyum lebar, Widya segera menarik tangannya saat menyadari Gilang tidak ingin melepaskan genggamannya secepat mungkin.


"Nggak baik terlalu lama bersalaman denganmu, nanti orang-orang yang melihat akan salah paham," tegur Widya dengan nada sedikit bercanda.


"Aku nggak bisa menahan diriku."


"Maksudmu?" Kedua mata Widya menyipit curiga pada Gilang. "Apa kamu masih tertarik padaku?"


"Mungkin," jawab Gilang ragu.


"Ya atau nggak? Nggak usah segala mengelak dengan mengatakan 'mungkin' padaku."


"Apakah itu sebegitu pentingnya bagimu?"


Ya, penting," sahut Widya mulai tidak sabar.

__ADS_1


Sayangnya, jawaban yang begitu dinanti Widya itu tidak sempat terucap dari mulut Gilang. Karena Mila menyeruak masuk ke dalam mendatangi mereka berdua bersama seorang lelaki yang tidak dikenal oleh Widya. Melihat pertanyaan tak terucap di kedua mata Widya, tanpa basa-basi Mila langsung memperkenalkan lelaki itu pada Widya.


__ADS_2