Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Kebenaran


__ADS_3

Melihat mulut Radit ternganga lebar, Widya sontak saja tertawa terbahak-bahak ketika mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Astaga! Kamu mengira aku kabur dari rumah? Bagaimana mungkin?" mata Widya berkilat geli memandangi Radit.


"Kalau kamu memang nggak kabur, kenapa kopermu nggak ada di kamarmu? Dan juga apa yang kamu pikirkan pergi ke sini dari subuh sampai senja begini ? Jadi wajar saja kalau aku mengira kamu kabur."


"Kalau kamu teliti dan nggak gampang berprasangka buruk, seperti yang sering selalu kamu lakukan," kritik Widya dengan nada mengejek, "kamu pasti akan sadar kalau pakaianku nggak ada yang hilang satu pun di dalam lemariku. Dan, mengenai koperku, itu ada di bawah ranjangku. Terus apa tadi kamu bilang, aku nggak ada pulang ke rumah semenjak subuh tadi ? Itu konyol, aku ada pulang kok."


"Kalau begitu, maksudmu aku sudah salah paham?"


"Sepertinya begitu," jawab Widya, mengangkat bahunya. "Sebaiknya kita membicarakan ini sambil berjalan pulang, badanku terasa gatal karena belum mandi."


Melangkahkan kakinya meninggalkan Radit untuk menutup pintu gudang buku seorang diri, Widya merenggangkan badannya selama menunggu Radit memasang palang pintu di luar. Lalu mereka berdua pun berjalan bersama untuk kembali ke rumah.


"Oh, pantas saja tadi siang aku nggak menemukan makanan di meja makan," ujar Widya, menepukkan kedua tangannya. "Aku kira kamu sengaja melakukannya karena sikapku yang nggak mau memakan makananmu kemarin malam, tapi ternyata...."


Widya kembali tertawa terbahak-bahak di sebelah Radit. Tangannya menepuk punggung Radit keras seraya menatapnya dengan mata berbinar-binar.


"Berhenti mentertawakanku!" Radit merengut kesal. "Ini semua salahmu karena mempunyai kebiasaan kabur setiap ada masalah, jadi nggak heran kalau kali ini aku juga mengira kamu kabur karena perdebatan kita tadi malam."


"Aku nggak sebodoh itu untuk mengulangi kesalahan yang sama. Cukup sekali saja aku mendapatkan hukuman mengerikan darimu."

__ADS_1


Kali ini mata Radit yang berbinar-binar memandang Widya. "Ayolah, itu nggak semengerikan itu, aku tahu kamu menikmatinya juga. Bahkan aku masih ingat matamu terpejam ketika aku...."


Dengan cepat Widya membekap mulut Radit dengan tangannya, kepalanya menengok ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang mendengarkan percakapan mereka.


"Sialan kamu! Jangan mengungkit kejadian malam itu lagi," desis Widya.


Mendorong tangan Widya dari mulutnya, Radit menaikkan alisnya. "Kenapa nggak? Nggak perlu malu begitu, ini bukanlah pembicaraan yang harus kamu tutup-tutupi. Ingat, kita ini sudah menikah."


"Kamu dan perkataan 'Kita Sudah Menikah' itu," gerutu Widya pelan.


Tidak ingin melanjutkan obrolan mereka lagi, Widya berjalan cepat meninggalkan Radit terkekeh geli di belakangnya. Dalam hitungan detik, Radit sudah berada di sampingnya lagi sembari mengaitkan tangan Widya di lengannya, senyuman manis terukir di wajahnya yang begitu menyebalkan.


"Tentu saja aku mengingatnya," sahut Radit riang. "Kalau kamu punya ingatan yang bagus, Istriku Tercinta, tentunya kamu juga pasti ingat pertemuan rahasiamu dengan Gilang, temanku di gudang buku."


Perkataan terakhir itu membuat kepala Widya mendongak cepat ke arah Radit, kedua matanya terlihat bergetar ketika menatap Radit. Melihat reaksi syok Widya itu membuat Radit menggenggam tangannya yang bergelayut di dalam lengannya begitu erat.


"Kamu berutang penjelasan padaku."


"Aku nggak bermaksud membohongimu," lirih Widya, menunduk menatap jalanan.


Setelah memasuki rumah mereka berdua, Widya dengan cepat melepaskan tangannya dari lengan Radit. Dia berusaha lari dari Radit dengan membuat alasan kalau tubuhnya benar-benar terasa begitu lengket. Sayangnya, tangan Radit lebih cepat darinya, dia menarik kerah baju Widya hingga membuatnya tidak bisa kabur.

__ADS_1


Mendesah frustasi, Widya memaki pelan saat tubuhnya tersentak mundur. Membalikkan badannya, dia menengandah menatap kedua mata Radit dengan begitu berani.


"Aku melakukannya demi kebaikanmu."


"Kebaikanku bagaimana?" Radit bersedekap sambil mengerutkan keningnya.


"Apa kamu perlu bertanya? Tentu saja demi kebaikanmu dan temanmu itu," jawab Widya, mengangkat dagunya angkuh. "Inilah resikonya punya istri secantik diriku, lengah sedikit saja, kamu akan melihat begitu banyaknya lelaki terpesona padaku, nggak terkecuali temanmu sendiri."


Widya menjetikkan jarinya di hadapan Radit dengan sikap yang begitu angkuhnya. Sikap percaya dirinya akan penampilannya membuah Radit terperangah hingga tidak mampu mengucapkan apa-apa.


"Tapi, kamu tenang saja, aku sudah menyelesaikan masalah ini. Yah mungkin akan butuh waktu lama bagi temanmu itu untuk melupakanku, walaupun aku nggak heran sih."


"Wah!" seru Radit, menggelengkan kepalanya merasa takjub.


Menganggukkan kepalanya, Widya menepuk pundak Radit. "Aku harap persahabatanmu dengan temanmu itu nggak retak karena masalah ini. Rasanya akan sangat memalukan kalau kalian bertengkar hebat karena memperebutkanku." Widya tergelak membayangkan pertengkaran Radit dan Gilang dalam benaknya. "Cukup aku saja yang selalu menarik perhatian para warga di sini, kamu jangan ikut-ikutan juga. Hal itu hanya akan membuat kita dicap sebagai pasangan suami istri yang suka membuat onar oleh semua orang di desa ini."


"Setidaknya kamu cukup sadar diri kalau selama ini kamu memang suka membuat onar."


"Walaupun aku ini selalu terlibat perkelahian, harus kamu ingat juga aku bukan melakukannya dengan sengaja," ujar Widya, menggoyangkan jarinya di depan wajah Radit. "Warga di sini saja yang terlalu sensian. Nah, Suamiku, kalau kamu mengijinkan, istri cantikmu ini mohon undur diri dulu."


Melangkah mundur, Widya segera berbalik pergi dengan cepat sebelum Radit menghentikannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2