
Menyentuhkan tangan di depan jantungnya, Widya merasakan detak jantungnya berdegup begitu cepat. "Kamu mengagetkanku!" tuduhnya kesal, mencoba bangun, tungkainya yang masih gemetar tak sanggup menopang tubuhnya berdiri
Tidak ingin ada orang yang melihat mereka, Radit segera membantu istrinya berdiri. Merangkulkan tangannya di sekeliling bahu istrinya, ia membawanya ke dalam rumah. Ia bisa merasakan kalau istrinya masih begitu syok dengan kemunculannya tadi. Konyol, memangnya sosoknya begitu mengerikan sehingga membuatnya jatuh terduduk lemas, seperti daun layu yang berguguran dari dahannya.
Setelah memasuki rumah, Widya melepaskan rangkulan tangannya. Lalu perlahan duduk di sofa ruang tamu menenangkan dirinya.
"Bagaimana cara kamu masuk?"
"Aku membawa kunci cadangan. Kamu sendiri, dari mana saja baru pulang jam segini?" tanya Radit, menyilangkan tangan di depan dada, menunggu jawaban Widya.
"Aku tadi ke rumah nenekku untuk menumpang makan siang di sana. Tanpa kusadari hari sudah mulai gelap di luar. Kami terlalu asyik mengobrol hingga lupa waktu," ucap Widya menjelaskan, menyilangkan kakinya, ia mengerutkan hidungnya melihat penampilan Radit. "Kamu sendiri kenapa baru pulang? Bukankah kamu bilang akan pulang sore?"
Sekilas kilatan terkejut tampak di bola mata Radit. "Nggak perlu kaget bagaimana aku bisa tahu. Aku bisa menebaknya dari bau badanmu yang belum mandi itu. Mustahil kamu belum mandi jam segini. Apalagi kalau kamu sudah pulang dari tadi, kamu tentunya sudah mencariku."
"Memang benar aku baru pulang, dan tadi aku juga berniat mencarimu. Tapi, aku nggak jadi pergi saat mendengar kamu mencoba membuka pintu."
"Lain kali jangan mengagetkanku dengan muncul tiba-tiba seperti itu! Aku hampir kena serangan jantung olehmu. Syukurlah aku tadi nggak menjerit, kalau nggak, kita akan menjadi bahan tontonan para tetangga."
Memicingkan matanya pada Widya, nada suara Radit begitu geram. "Seperti aksimu tadi siang untuk mempermalukanku di depan semua orang."
Senyum licik melengkung di bibir Widya. "Itu balasan karena kamu sudah menolak permintaanku. Jadi, kita impas." Bangkit dari tempat duduknya, Widya berdiri di hadapan Radit. "Cukup sampai disini saja pembahasan mengenai balas dendamku. Sekarang apa kita akan melanjutkan pekerjaan kita tadi siang atau kita harus mandi dulu?"
__ADS_1
"Apa kamu ingin kita mandi berdua, Istriku?" bisik Radit di telinga istrinya.
Mundur selangkah, wajah istrinya memerah persis seperti tadi malam saai ia menggodanya.
"Bukan itu maksudku! Jangan sok bodoh."
"Nggak perlu marah begitu, aku hanya bercanda."
"Candaanmu nggak lucu," balas Widya jengkel.
Berjalan melewatinya, istrinya berderap ke kamarnya seperti orang dikejar setan. Menyenangkan sekali menggoda istrinya yang pemalu itu.
Menghampiri Widya yang sedang mengambil posisi mengangkat meja rias,
Radit membalas perkataannya dengan nada jengkel, "Nggak perlu berteriak, suara amukanmu itu hanya akan jadi buah bibir para tetangga."
Tegurannya itu hanya dibalas raut masam di wajah Widya. Berjalan mundur sembari mengangkut meja rias keluar pintu, pertanyaan istrinya yang begitu tiba-tiba mengagetkannya hingga membuatnya menjatuhkan sisi meja rias yang diangkatnya.
"Kamu bisa merusak meja riasku!" seru Widya murka, memeriksa sisi meja rias yang tak sengaja dibantingnya ke lantai.
"Apa tadi yang kamu tanyakan?" Radit sengaja bertanya ulang, mengira mungkin saja tadi ia salah mendengar pertanyaan Widya.
__ADS_1
"Aku cuma bertanya, apa yang kamu bicarakan dengan Pak Sugeng kemarin malam? Aku tahu kalian membicarakanku."
Mengangkat kembali sisi yang tidak sengaja dibantingnya tadi, Radit mengabaikan pertanyaan Widya.
"Kita harus cepat menyelesaikan ini, badanku gatal sekali karena belum mandi."
Berdiri diam di tempatnya, Widya tak mau beranjak untuk mengangkat sisi satunya.
"Kenapa kamu malah diam, cepat bantu aku!"
"Kamu belum menjawab pertanyaanku," kata Widya, mengetukkan kaki kanannya di lantai dengan tidak sabar. "Aku masih menunggu."
Melepaskan pegangannya dari meja rias, Radit mengacak rambutnya frustasi. "Itu bukan urusanmu."
"Tentu saja itu urusanku. Kalian berdua membicarakanku!"
"Kami nggak membicarakanmu, itu hanya perasaanmu saja," ujar Radit, menghindari menatap mata Widya.
"Pembohong." Menangkup kedua pipi Radit menghadapnya, Widya menatapnya tajam. "Beri tahu aku apa yang kalian bicarakan!"
Ini pertama kalinya Radit salah tingkah ketika bertatap muka dengan Widya. Pembicaraannya dengan Pak Sugeng tadi malam tidak semudah itu bisa ia sampaikan pada istrinya tanpa merasa malu. Akan tetapi, Widya tidak mungkin melepaskannya begitu saja dari topik pembicaraan ini.
__ADS_1