Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Seorang Diri


__ADS_3

Ini adalah pertama kalinya bagi Widya membuatkan makan malam untuk dirinya sendiri. Sejak ia menikah, Radit yang selalu menyiapkan makan malam untuknya. Bukannya ia tidak ingin mencoba, hanya saja, semenjak hari ia mencoba membuatkan makan siang untuk mereka berdua, Radit meminta padanya agar dia saja yang memasak.


Sebenarnya ia bisa menduganya, mungkin setelah mencoba makanannya waktu itu, suami menyebalkannya itu mengalami sakit perut yang luar biasa. Tentu saja Radit tak akan mengakuinya, walau Widya meminta penjelasan, kenapa dia memintanya untuk tidak mencoba memasak lagi.


Radit selalu punya cara agar Widya tidak merasa tersinggung, dengan mengatakan bahwa Widya sudah mempunyai banyak pekerjaan di rumah. Ha! Omong kosong. Mulutnya bisa mengatakan kebohongan, tetapi matanya tidak bisa menipu Widya begitu saja. Ia bisa melihat kalau Radit trauma dengan masakannya siang itu.


Namun, ada satu hal yang tidak diketahui oleh Radit, meskipun dia telah melarang Widya untuk memasak sesuatu yang tidak pernah ia coba, itu tidak akan menghentikannya untuk mencoba lagi dan lagi. Setidaknya harus ada satu jenis masakan yang dikuasainya. Semua ini dilakukannya agar bisa menjadi seorang menantu yang bisa dibanggakan ayah mertuanya.


Semenjak Widya menikahi Radit, tidak pernah sekali pun ia melakukan hal yang bisa membuat ayah mertuanya bangga. Selalu saja berbagai perilaku buruknya terdengar oleh ayah mertuanya itu. Walaupun ayah mertuanya tidak pernah mengutarakan kekecewaan terhadap dirinya ataupun memarahinya karena selalu terlibat pertengkaran, Widya sadar itu dilakukan ayah mertuanya karena sangat menyayanginya. Di lubuk hatinya, Widya selalu bersyukur memiliki seorang ayah mertua seperti Pak Benny.


Terkadang ia merasa kalau ia tak pantas mendapatkan kasih sayang dari ayah mertuanya itu. Karena ia bukanlah seorang menantu yang baik.


Untuk itulah Widya berusaha keras agar bisa melakukan sesuatu untuk menyenangkan ayah mertuanya dan menebus semua keributan yang sudah disebabkannya selama ini. Jadi, ia sudah bertekad agar bisa memasak sesuatu yang enak dan akan mengundang ayah mertuanya serta Ririn untuk makan malam bersama di rumahnya.


Sayangnya, suami menyebalkannya itu tidak memahami maksudnya itu sama sekali dan melarangnya untuk mencoba berlatih memasak lagi. Sepertinya suaminya merasa Widya tidak akan pernah berhasil berapa kali pun dia mencoba dan merasa kegigihannya agar bisa memasak dengan baik cuma membuang-buang bahan makanan mereka saja. Kalau itu benar, Widya semakin bertekad untuk menunjukkan pada suaminya itu, kalau dia salah besar. Selama ada kemauan. di situ pasti ada jalan. Kegagalan itu diperlukan demi menuju keberhasilan, selama ia tidak menyerah.


Terlalu sibuk dengan lamunannya, jantung Widya terasa mencelos keluar saat mendengar suara kilatan petir menyambar di luar rumahnya. Bahkan layar notebooknya ditutupnya begitu keras karena terlalu kaget. Diliriknya semangkok mie yang ada di meja makannya. Sekarang mienya itu terlihat membengkak di dalam mangkok itu. Ini semua terjadi karena ia terlalu asyik menonton sambil melamun hingga mengabaikan makan malam menyedihkannya itu.


Membuka layar notebooknya lagi, Widya melihat kembali jam yang ada di sana. Entah sudah berapa kali ia melakukan itu. Kalau dipikirkan dengan baik-baik, ia selalu melakukan itu setiap 5 menit sekali sejak ia mulai menonton. Tidak tahu mengapa ia merasa begitu gelisah setelah Radit mengirim pesan kepadanya beberapa waktu lalu bahwa dia akan pulang terlambat dan menyuruhnya untuk makan malam seorang diri.


Kegelisahannya ini diakibatkan oleh suara hujan yang didengarnya semakin lama makin lebat di luar sana. Widya takut hal buruk akan menimpa Radit di luar sana. Apalagi sekarang suara hujan itu diiringi suara gemuruh petir, cahaya kilatnya yang menyambar ke dalam rumahnya terlihat begitu mengerikan. Tiba-tiba sebuah bayangan Radit tertimpa sebuah pohon yang jatuh oleh sambaran petir terbesit dalam benaknya. Bergidik ngeri, Widya menepiskan bayangan liar itu dari kepalanya.


Takut petir akan menyambar notebooknya, Widya dengan cepat mematikannya. Beranjak berdiri, Widya berniat pergi ke dalam kamarnya untuk mengambil ponselnya yang ada di sana. Sebaiknya ia menghubungi Radit untuk menanyakan tentang keberadaannya sekarang serta memastikan dia baik-baik saja di luar sana.


Baru beberapa langkah berjalan, langkah Widya terhenti ketika mendadak lampu rumahnya padam. Sungguh pemilihan waktu yang begitu tepat.


Meraba sekelilingnya, Widya berusaha mengambil lilin yang ada di dalam lemari dapurnya. Namun ia memekik ketakutan ketika mendengar suara gemuruh petir terdengar lagi di atas atap rumahnya. Kali ini suaranya terdengar seperti ada sesuatu yang sedang mengamuk di atas langit sana.

__ADS_1


Merunduk bersembunyi di bawah meja makannya, Widya memejamkan matanya sambil menutup telinganya dengan kedua tangan. Ia sangat berharap saat seperti ini harusnya Radit ada bersamanya. Sudah cukup suara petir menakutinya, sekarang penglihatannya menjadi terbatas akibat lampu rumahnya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan menyala secepatnya. Ketika kedua hal ini disatukan, maka itu akan menjadi sesuatu yang begitu menakutkan baginya. Rasanya persis seperti situasi di film-film thriller dan horor yang sering ditontonnya.


Masih dengan mata terpejam erat, Widya menjulurkan tangannya ke atas meja makan, berniat mengambil notebooknya yang ada di sana. Setidaknya notebooknya itu bisa memberikan secercah cahaya baginya. Ia sungguh menyesal telah mematikan notebooknya tadi. Seharusnya tadi ia biarkan saja notebooknya hidup, dengan begitu akan ada secercah cahaya yang meneranginya.


Rabaan tangannya terdiam membeku saat merasakan ada sesuatu yang terasa begitu dingin menyentuh punggung tangannya. Memekik ketakutan, Widya menarik tangannya dari atas meja makan. Suara dentuman jantungnya terdengar begitu nyaring di telinganya sendiri. Selama sesaat Widya sangat berharap kalau ia adalah seseorang yang lemah, dengan begitu saat ini juga ia akan pingsan di bawah meja makannya ini, bukannya meringkuk ketakutan seperti ini.


Dasar suami nggak bisa diharap, saat aku ketakutan begini kamu malah nggak ada. Lihat saja nanti kalau kamu pulang, aku akan menghabisimu!


Sentuhan dingin itu pun kembali menyentuh lengannya. Menjerit keras, Widya memukul sesuatu yang ada di lengannya itu sekuat tenaga sembari mencoba melarikan diri dari tempat persembunyiannya. Dan bodohnya, untuk sesaat Widya lupa kalau ia sedang berada di bawah meja makannya. Akibatnya ia malah membentur keras mejanya itu hingga membuatnya kembali terduduk di lantai di bawah meja makannya seraya mengerang kesakitan.


Saat itulah ia sadar kalau bukan cuma suara meringisnya saja yang ada di kegelapan itu, melainkan ada orang lain juga yang mengerang kesakitan di dekatnya. Memalingkan wajahnya ke arah sumber suara itu, Widya melihat sesosok lelaki bertubuh besar terduduk di lantai tidak jauh darinya. Oh Tuhan, itu Radit! Dilihatnya secercah cahaya di sebelah kaki Radit. Ternyata itu lampu senter yang berasal dari ponsel suaminya.


"Kamu ini kenapa sih, Wid, dari tadi jerit-jerit terus kayak orang kesurupan saja," keluhnya, merengut kesal. "Terus ngapain juga kamu ada di bawah sana, lagi main petak umpet?"


"Kapan kamu pulang? Aku nggak mendengar suara ketukan pintu ataupun suara langkah kakimu. Apa kamu mengendap-ngendap?" tanya Widya dengat raut melongo kebingungan.


"Berarti itu tadi tanganmu?" seru Widya kaget. "Kamu menakutiku!" Pukulnya kuat di dada Radit. "Aku kira kamu tadi hantu, lain kali jangan mengagetkanku seperti itu lagi! Lagian aku nggak mendengar kedatanganmu karena ketakutan mendengarkan suara gemuruh hujan dan petir di luar sana."


"Seingatku, kamu dulu pernah mengatakan padaku, kalau sesuatu yang kasatmata nggak menakutimu sama sekali," ucap Radit, menangkap tangan Widya yang masih memukulnya.


Senyuman mengejek bermain-main di sudut bibirnya. Bahkan di tengah ketakutan Widya, dia masih bisa menemukan sesuatu untuk dijadikan bahan lelucon untuk mengejeknya.


"Aku memang nggak takut kok!" elak Widya, mengangkat dagunya angkuh. "Hanya saja, siapa pun yang mengalami hal serupa sepertiku pasti akan ketakutan juga. Bayangkan saja di luar sedang lebat-lebatnya hujan turun lalu lampu padam, kemudian tanpa ada aba-aba sebuah tangan dingin menyentuhmu, bukankah itu mengerikan? Jadi wajar saja kalau aku ketakutan."


"Elak aja terus. Apa susahnya sih mengakui kalau kamu memang takut sama hantu?" ujar Radit, tersenyum mengejek.


Membuka mulutnya untuk melakukan pembelaan lagi, Radit membungkam aksi protesnya itu dengan mendekatinya untuk melihat atas kepalanya sambil merabanya, memastikan tidak ada luka yang didapatkannya dari benturan tadi.

__ADS_1


"Apa kepalamu baik-baik saja? Suara benturannya tadi terdengar nyaring sekali."


Nada suaranya yang terdengar begitu khawatir, menghangatkan hati Widya, sampai dia mengucapkan sesuatu yang langsung menghapuskan senyuman di wajah Widya.


"Hmm ... sepertinya kepalamu baik-baik saja. Nggak heran sih, mengingat betapa keras kepalanya kamu selama ini," ujarnya menahan gelak tawanya.


Menepis tangan Radit dari atas kepalanya, mata Widya berkilat marah menatap Radit.


"Kamu sendiri baik-baik saja? Rasanya aku tadi merasakan getaran hebat di lantai rumah kita," balas Widya. "Sini aku lihat, kalau saja kamu mendapatkan luka di--"


Widya tiba-tiba tersadar di mana letak suara nyaring yang berasal dari Radit tadi. Mengerang dalam hati, Widya melihat sebuah senyuman lebar melengkung di bibir Radit saat dia menunggu Widya melanjutkan perkataannya.


Membalikkan badannya, Radit memperlihatkan bagian belakang tubuhnya.


"Nah, periksalah sesuka hatimu!" kekehnya, merasa geli oleh situasi itu. "Sepertinya aku mendapatkan benjolan besar di bokongku akibat doronganmu tadi."


Tanpa diinginkannya, tatapan mata Widya perlahan turun memandang bokong padat milik suaminya itu. Seketika wajahnya terasa panas saat menyadari bahwa ia memandang bagian belakang tubuh Radit itu terlalu lama. Di tengah kegelapan memandang bagian tubuh suaminya itu dengan wajah merah padam seperti ini, sungguh perilaku yang begitu memalukan. Rasanya ia seperti orang mesum saja.


Yang menyebalkannya lagi, Radit rupanya menyadari tatapan Widya pada bagian belakang tubuhnya itu. Padahal dia tidak menolehkan kepalanya sama sekali, tapi entah bagaimana, dia mengetahuinya.


"Jangan memandangnya terlalu lama begitu, nanti matamu akan copot," ledeknya, terkekeh geli.


"Aku nggak memandangnya!" seru Widya, terlalu keras mengelak sehingga terdengar bahwa ia memang melakukannya. "Sebaiknya kamu balikkan badanmu itu, sebelum aku menendang bokong sialanmu itu."


Mengangkat tangannya menyerah, Radit berbalik menghadap Widya kembali dengan wajah masih tersenyum lebar.


"Sayang sekali, kamu melewati kesempatan emasmu."

__ADS_1


__ADS_2