
Menyandarkan dirinya di dinding yang menghadap pada Widya, Radit menjawab dengan nada datar. "Tentu saja aku punya. Aku memarkir kendaraanku di rumah ayahku, sebab aku hanya menggunakannya jika ingin pergi ke pusat kota saja. Aku sudah terbiasa berjalan kak, jadi, aku nggak memerlukan kendaraan hanya untuk pergi ke semua tempat di desa ini. Lagi pula berjalan kaki bagus untuk kesehatan."
"Kamu sih memang terbiasa. Lalu, bagaimana denganku?"
"Memangnya kamu mau ke mana? Kamu 'kan nggak punya keperluan berjalan jauh sepertiku."
Seketika tatapan Widya menjadi sinis. "Apa kamu berharap aku akan selalu berdiam diri di rumah ini seperti tahanan? Aku juga perlu berjalan-jalan keluar rumah. Apalagi aku sudah tinggal menetap di sini, tentunya aku harus tahu seluk beluk desa ini."
"Kamu ada benarnya juga," setuju Radit, mengangguk kecil.
Menjentikkan jarinya di udara, Widya tersenyum cerah. "Kalau begitu, belikan aku mobil! Aku nggak bisa mengendarai motor."
"Yang benar saja! Kita nggak memerlukan mobil untuk kamu bawa berkeliling desa ini. Hal itu hanya akan membuatmu terlihat angkuh di mata para penduduk di sini" protes Radit.
"Masa bodo dengan tanggapan orang, yang penting aku merasa nyaman."
"Aku menolak." Radit mengutarakan penolakannya begitu tegas, nadanya memberitahukan tidak ada lagi kata protes.
Mengatupkan bibirnya hingga terlihat menipis, Widya menunjukkan rasa jengkelnya dalam diam. Matanya melotot marah pada Radit.
Mengibaskan tangannya, Radit seolah menepis obrolan mereka mengenai kendaraan. Mengubah topik pembicaraan, suaranya terdengar penasaran ketika bertanya pada Widya.
__ADS_1
"Omong-omong, tumben sekali kamu bangun pagi? Apa yang sudah merasukimu, biasanya 'kan kamu akan bangun kalau aku membangunkanmu."
Membuang muka, Widya menolak menjawab pertanyaan Radit. Dia masih terlihat kesal karena keinginannya tak terwujud. Tidak ingin memperpanjang masalah di antara mereka, Radit segera pamit untuk berangkat kerja. Ia tidak ingin suasana hatinya menjadi suram pagi ini karena bertengkar dengan istrinya, yang sikap kekanakannya mulai kumat lagi.
Mewujudkan keinginan Widya terus menerus bukanlah tindakan bijaksana, itu hanya akan membuat istrinya itu semakin bersikap manja. Jadi, alih-alih berdebat mengenai keinginannya yang tak ada habisnya itu, lebih baik Radit pergi meninggalkannya. Mungkin dengan begitu akan membuat Widya lebih tenang.
°°
Mengintip dari celah tirai jendela, Widya menatap tajam punggung Radit yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Menutup tirai jendela dengan kasar, Widya meninju sandaran sofanya, melampiaskan rasa jengkelnya karena tidak bisa meninju wajah suami menjengkelkannya itu.
Pintar sekali suaminya itu sekarang, pikirnya kesal. Tidak ingin memperdebatkan masalah itu lebih panjang lagi, dia memilih untuk kabur dari hadapannya.
Menjatuhkan dirinya di sofa, Widya menenangkan saraf-sarafnya yang terasa hampir putus. Sudah saatnya ia menerima kenyataan jika sekarang ia harus berusaha hidup mandiri seperti penduduk desa ini. Tidak ada lagi kemewahan seperti yang ia miliki di kota. Ini adalah tantangan terbesar dalam hidupnya, mencoba bersikap mandiri tanpa harus mengandalkan mesin demi kenyamanan dirinya.
Siang harinya, Widya menghibur diri dengan menonton televisi. Sejujurnya ia sudah bosan dengan rutinitas hariannya yang tidak jauh dari televisi, kamar, dapur, dan lainnya, yang ada di rumah ini. Melirik ke ruang tamu, Widya menghela napas. Setiap hari juga ia selalu menunggu kedatangan tamu untuk menemani harinya yang sangat membosankan ini.
Dirinya dibuat terkejut oleh suara gaduh yang berasal dari luar rumahnya. Ia seperti mendengar ada yang berlari di luar sana. Baru saja Widya beranjak berdiri dari tempatnya duduk untuk mengecek keadaan di luar, seseorang terdengar membuka pintu rumahnya lalu menutup pintunya keras.
Apa itu maling? Apa maling itu sedang bersembunyi dari kejaran para warga? Bodoh sekali dirinya lupa mengunci pintu rumahnya tadi, batin Widya.
Berjingkat ke arah dapur, diambilnya penggorengan yang digantung dekat kompor. Berani sekali maling itu masuk ke dalam rumahku, pikir Widya kesal, kembali mengendap untuk melihat tamu tak diundang yang sekarang ada di ruang tamunya.
__ADS_1
Jantungnya serasa mencelos dari dadanya saat sebuah kepala mencelinguk dari samping dinding ruang tamunya. Tangannya sudah bersiap menyerang maling itu saat kesadaran segera menghentikannya. Akhirnya diturunkannya penggorengan ke sisi tubuhnya.
"Ya ampun, Ririn! Kamu mengejutkanku," seru Widya, menyentuh dadanya.
Menurunkan tangannya yang tadi bersiap menghalangi Widya memukul kepalanya, Ririn menyengir padanya.
"Maafkan aku, Kak. Aku nggak bermaksud mengagetkan Kakak, tapi Bu Leni mengejarku dengan rentetan pertanyaan yang membuat telingaku panas mendengar ocehan cerewetnya. Karena terburu-buru kabur dari kejarannya, aku lupa mengetuk pintu tadi," ucap Ririn tersengal, keringatnya menetes dari keningnya.
"Masuklah! Aku akan mengambilkanmu minuman," ajak Widya.
Ditinggalkannya Ririn seorang diri di ruang keluarga untuk menyediakan minuman bagi adik iparnya itu.
Duduk santai di tempatnya duduk, Ririn tersenyum malu saat Widya memergokinya makan camilan yang tadi dimakannya ketika menonton televisi seorang diri. Meletakkan minuman ke atas meja, Widya tersenyum maklum pada Ririn, dan menyuruhnya bersikap santai, yang langsung dituruti Ririn dengan melahap berbagai macam camilan sekaligus ke dalam mulutnya.
"Berlari tadi menghabiskan energiku," kata Ririn menjelaskan dengan mulut penuh makanan.
"Nggak perlu terburu-buru begitu, nanti kamu bisa tersedak. Santai saja, nggak perlu sungkan. Kakak sudah tahu sejak dulu kalau selera makanmu itu sangatlah besar."
"Ini mungkin karena aku masih sangat muda, jadinya gampang kelaparan. Aku yakin kalau aku sudah dewasa nanti selera makanku nggak akan seperti ini lagi."
"Selera makan nggak ada hubungannya dengan usia, Rin," ujar Widya, tertawa kecil.
__ADS_1
Jengkel oleh perkataannya, Ririn memanyunkan bibirnya seperti bebek, yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan bagi Widya.