Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Penemuan Mengejutkan


__ADS_3

Menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tangisan Mila semakin menjadi-jadi. "Candaanmu nggak lucu sama sekali, Wid."


"Maafkan aku. Kumohon berhentilah menangis," panik Widya, kebingungan mencari cara menghentikan tangisan temannya. "Kalau tetangga mendengarnya, mereka akan mengira aku telah menyakitimu. Kamu tahu sendiri 'kan, para warga di desa ini mencapku sebagai cewek kasar."


Menarik napas dalam-dalam, dihembuskannya perlahan napasnya. Mila menarik lengan bajunya untuk menghapus bekas air mata dari kedua pipinya.


"Maafkan aku. Sepertinya aku terlalu emosional," senyumnya muram pada Widya.


"Wow, ada apa ini? Apa aku nggak salah lihat nih, Kak Widya telah membuat Kak Mila menangis. Ya ampun, ini berita besar!" seru Ririn, menyaksikan peristiwa mengejutkan di hadapannya dengan takjub sekaligus sangat antusias.


"Jangan sembarang menyimpulkan, Rin. Ini nggaklah seperti yang kamu pikirkan," jelas Widya meyakinkan adik iparnya.


Masuk ke dalam rumah, Ririn duduk di kursi dekat pintu, kakinya disilangkan penuh gaya sambil bersandar malas di sandaran kursi. "Kalau begitu, jelaskan padaku, Kakak Ipar." Jentik jarinya di udara memberi aba-aba pada Widya agar segera memulai penjelasannya.


"Justru yang harusnya menjelaskan di sini adalah kamu, Ririn. Apa-apaan rambut kusutmu itu, apa kamu baru saja berkelahi?" sela Mila, menyipit curiga pada penampilan Ririn yang terlihat begitu berantakan.


"Mila benar. Setelah kuperhatikan baik-baik, penampilanmu sekarang ini terlihat seperti orang yang baru saja bergulat dengan sekelompok sapi," ejek Widya.


"Pintar sekali kalian berdua mengalihkan pembicaraan. Baiklah, kalau kalian begitu penasaran kenapa penampilanku seperti ini, maka aku akan menceritakannya kepada kalian berdua hingga kalian puas."


Seperti yang dikatakannya, Ririn memang menceritakan kejadian apa yang telah menimpanya. Dia menjeleskan begitu rinci perkelahiannya dengan teman sekelasnya, yang berujung dia dipanggil ke ruang guru bersama temannya itu. Bahkan setelah pulang, ayahnya mengomelinya habis-habisan soal perkelahiannya itu.


Yang membuat Widya sangat terkejut sekaligus tersentuh, Ririn ternyata berkelahi dengan temannya demi membelanya dari hinaan yang dilontarkan temannya itu tentang dirinya. Andai saja kakinya tidak sakit, mungkin saat ini ia akan meloncat untuk memeluk adik iparnya itu.


"Makanya, sekarang aku ada di sini untuk kabur dari cercaan ayahku. Telingaku panas sekali mendengar omelannya yang tak ada habisnya itu," ujarnya, mencebikkan bibirnya.


"Ririn! Kamu nggak boleh gitu. Walau bagaimanapun dia tetap ayahmu, sudah sewajarnya dia menasehatimu," tegur Mila.

__ADS_1


"Ya, ya, ya, apa katamu sajalah, Kak Mila."


Mereka bertiga saling beradu tatap satu sama lain, kemudian tertawa secara bersamaan oleh ucapan yang sering diucapkan Radit itu.


"Dia juga sering mengucapkan kata itu pada kalian? Aku pikir hanya kepadaku saja dia mengucapkan kata menjengkelkan seperti itu," celetuk Widya tak percaya.


"Itu sudah menjadi kebiasaan buruknya yang nggak bisa dihilangkan. Jujur saja, aku selalu ingin menonjoknya setiap kali mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya." Ririn memperagakan gerakan meninju dari kepalan tangannya.


"Aku setuju," timpal Mila, mengangguk-anggukkan kepalanya antusias. "Ucapan itu, entah mengapa, selalu membuatku kesal setiap kali mendengarnya."


Sepanjang siang itu mereka habiskan dengan menceritakan berbagai macam hal tentang Radit yang tidak diketahui oleh Widya. Setelah mendengarkan cerita mereka itu, kini Widya mulai agak memahami perilaku Radit yang selalu bwrsikap baik kepada siapa saja Awalnya ia menduga Radit berperilaku seperti itu karena ingin terlihat sok baik. Namun nyatanya, itu dilakukannya agar tidak mempermalukan nama ayahnya. Makanya, sebisa mungkin Radit selalu menjaga sikapnya di depan para warga di sini.


Widya juga merasa kasihan saat mendengar cerita tentang suaminya itu terpaksa berhenti dari pekerjaannya sebagai akunting di sebuah perusahaan besar yang berada di Yogyakarta. Radit rela meninggalkan impiannya sebagai pegawai kantoran di kota demi mengurusi ayah dan adiknya di desa setelah mereka bertiga ditinggalkan oleh ibunya yang meninggal karena penyakit jantung.


Suamiku yang malang. Pasti itu sangat menyakitkan baginya.


Sekarang rasa bencinya kepada Radit sudah agak berkurang, meskipun Widya belum bisa menyukainya sepenuh hati. Akan tetapi, setidaknya ia bisa berteman baik dengan suaminya itu. Tak ada salahnya menjalin pertemanan dengan suaminya sendiri. Paling tidak itu lebih baik daripada menganggap suaminya orang asing atau musuhnya.


***


Langit sudah hampir gelap saat Radit tiba di rumahnya. Ia tidak menyangka pertemuannya dengan para pembeli banyak memakan waktu. Tentunya sekarang, mesin cuci yang telah dibelinya sudah tiba di rumahnya.


Mengetuk pintu, ia menunggu Widya membukakan pintu untuknya. Rasa dejavu merayapi tulang punggungnya ketika istrinya itu tidak juga muncul membukakan pintu. Memutar gagang pintu, ia bernapas lega karena pintunya tak terkunci. Setidaknya ini berarti Widya berada di dalam rumah.


Anehnya, keadaan dalam rumahnya begitu gelap gulita. Semua lampu dimatikan, kecuali lampu teras rumahnya. Menyalakan lampu, ia memanggil-manggil nama istrinya, tetapi tarap tidak ada respon.


Menduga Widya sedang tertidur di dalam kamarnya, Radit mengetuk pintu kamarnya sebelum memutar gagang pintunya untuk memastikan istrinya memang ada di dalam sana.

__ADS_1


Tidak ada siapa pun. Masuk ke dalam untuk memeriksa lemari Widya, di sana Radit menemukan pakaian istrinya masih utuh, tak ada satu pakaian pun yang hilang. Bahkan koper besarnya ada di samping lemarinya.


Kalau begitu, di mana istri mungilnya itu berada?


Keluar kamar, ditutupnya kembali pintu kamar Widua seperti semula. Berjalan ke dapur, Radit meletakkan oleh-oleh yang dibawanya dari kota ke atas meja makan. Diliriknya mesin cuci yang ada di dekat kamar mandi.


Semuanya ada pada tempatnya. Yang hilang cuma satu, yaitu istrinya. Menggaruk kepala bingung, Radit berjalan masuk ke dalam kamarnya, lalu dinyalakannya lampu kamarnya. Hampir saja ia menjerit keras--seperti yang sering dilakukan Widya ketika kaget--untung saja ia langsung menelan jeritannya sebelum sempat keluar dari mulutnya.


Di atas ranjangnya duduk sesosok perempuan berambut panjang sambil menundukkan kepalanya. Sosok menakutkan itu tidak lain adalah Widya, istrinya, yang sedang melontarkan tatapan, yang anehnya lagi seperti sedang marah padanya.


"Apa yang kamu lakukan di sana? Kamu terlihat seperti hantu! Aku hampir saja kena serangan jantung oleh penampakanmu itu. Apa kamu sengaja melakukannya?" tudingnya, mengelus dada menenangkan degup jantungnya yang masih berdetak kencang.


Mengambil sesuatu dari samping tubuhnya, Widya mengacungkan kotak yang sudah tak asing lagi di matanya. "Apa ini? Apa kamu punya selingkuhan di luar sana!?" Dada Widya kembang kempis, nampak emosi mendapatkan kotak yang berisi cincin dari kamarnya.


"Dari mana kamu mendapatkannya?" tanyanya gugup.


"Jawab saja pertanyaanku!" Histeris istrinya, matanya melotot marah pada Radit. "Apa selingkuhanmu itu berasal dari Yogyakarta, Suamiku?" geramnya, mencengkram kuat kotak cincin itu hingga jarinya memutih.


Terlonjak kaget mendengar kata Yogyakarta, Radit merasakan kini jantungnya berdetak cepat bukan karena terkejut lagi, tapi karena gugup harus menjawab apa.


Berjalan terpincang-pincang menghadapnya, Widya melemparkan kotak cincin itu ke dadanya sekuat tenaga. "Dasar kamu tukang selingkuh!"


Melangkahkan kaki perlahan mendekati Widya, ia meremas pelan bahu Widya untuk menenangkan amukan istrinya itu. "Tenanglah, aku bisa jelaskan."


Menepis tangan Radit dari bahunya, Widya menatapnya jijik. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!"


Betapa kagetnya Radit melihat mata istrinya itu kini berubah berkaca-kaca saat menatapnya. Posisi berdirinya pun agak goyah hingga hampir saja membuatnya terjatuh, jika saja ia tidak cepat menahannya.

__ADS_1


__ADS_2