Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Masalah Lagi


__ADS_3

Membalikkan badannya, Widya melotot galak pada Radit.


"Cengeng, kamu bilang? Aku nggak cengeng, dasar cowok sok tahu!"


"Kalau begitu, kenapa kamu menangis? Apa perkataanku kemarin sebegitu menyakitkannya bagimu?" ledek Radit.


Mengerjapkan matanya, Widya menatap Radit dengan perasaan terkejut.


"Bagaimana... kamu...." Terbata-bata, Widya berdeham untuk menenangkan dirinya.


"Aku tahu dari nenekmu. Katanya kamu pulang dalam keadaan menangis dan langsung mengunci dirimu di dalam kamar," jawab Radit tanpa menunggu Widya menyelesaikan perkataannya.


Nggak mungkin! Widya ingat dengan jelas kalau saat pulang ia tidak menangis. Bahkan ia menutup pintu kamar dan menangis di atas bantalnya supaya neneknya tidak mendengar tangisannya.


Astaga, mungkin saja neneknya menguping dari balik pintu. Widya tidak memikirkan kemungkinan itu sama sekali. Sial, kenapa neneknya harus mengatakan hal itu pada lelaki menyebalkan ini.


"Hanya karena aku menangis sekali bukan berarti aku cengeng. Dan, aku nggak nangis karena ucapanmu, dasar sok tahu!" ujar Widya marah.


"Begitukah? Apa katamu sajalah, kalau itu membuatmu lebih baik." Radit melewati Widya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Dasar kamu cowok menyebalkan. Aku membencimu!"


Suara hentakkan kaki di belakangnya memberitahu tahu Radit kalau Widya pergi penuh rasa amarah.


Biar saja, perempuan kasar itu pantas mendapatkannya.


Mila yang lagi asyik mengobrol dengan salah satu pegawai di peternakan, heran melihat Radit datang seorang diri sambil membawa sekop untuk membersihkan kotoran sapi.


"Lho, Widya mana?" Mila menoleh ke sana kemari mencari Widya.


"Sudah pulang mungkin," jawab Radit tak acuh.


"Kenapa kamu membiarkan Widya pulang sendiri, Dit? Bagaimana kalau dia tersesat? Tempat ini sangat jauh dari rumah neneknya," khawatir Mila.


"Dia pasti bisa menemukan jalan pulang sendiri. Nggak usah khawatir, jalanan desa ini tidak serumit jalanan kota."


"Tetap saja, Dit. Dia belum terbiasa dengan jalanan di desa ini. Bagaimana kalau ada yang mengganggunya di tengah jalan, kalau kamu lupa dia itu seorang cewek, cantik pula. Pasti ada yang menggodanya di tengah jalan nanti. Cepat sana kejar dia!" suruh Mila, melempar sekop yang dipegang Radit dan mendorongnya pergi.


"Hal yang kamu khawatirkan nggak akan terjadi, Mil. Percaya deh. Kalau kamu begitu khawatirnya, kamu saja yang pergi."


"Yang membuatnya pergi itu kamu. Jadi, ya kamu harus yang bertanggung jawab."


Keduanya saling adu tatap menantang satu sama lain.

__ADS_1


°°


Sementara itu, di tempat lain Widya sedang kebingungan untuk memilih arah jalannya. Inilah akibat terlalu sibuk dengan rasa lelahnya saat berjalan dengan Mila tadi. Sekarang, Widya lupa jalan pulang. Mengikuti instingnya, Widya berbelok ke kiri.


Merasa lelah, Widya mengamati sekelilingnya untuk mencari tempat berteduh. Di pinggir jalan, Widya melihat tempat yang terlihat seperti pos ronda dan di sana tidak ada siapa pun. Bergegas menghampiri tempat itu, Widya membaringkan tubuhnya dan mengatur napas.


Desa ini sunyi sekali. Bahkan di jalanan tidak ada siapa pun yang lewat. Sepertinya semua orang sedang bekerja, entah membajak sawah, bertani, atau mengurus peternakan.


Suara motor yang berhenti di dekatnya memberitahu Widya kalau ada yang datang.


Memaksa tubuhnya untuk bangun, Widya Menyipitkan matanya pada dua orang lelaki yang tersenyum menjijikkan padanya.


Dengan cepat ia turun dari tempat peristirahatannya, takut ia akan diserang karena posisinya yang tidak menguntungkan duduk di pos ronda.


"Sendiri aja nih, Neng Cantik. Mau kita temanin?" kata lelaki berambut cepak.


"Kalau kalian sadar aku cantik. Seharusnya kalian juga sadar kalau rupa kalian yang jelek itu nggak mungkin membuatku tertarik," sindir Widya membuat keduanya tersinggung.


Menodongkan ujung payung Mila, Widya mengancam kedua lelaki itu agar tidak mendekatinya saat ia berjalan mundur menjaga jarak.


"Jangan mentang-mentang cantik, kamu bisa menghina orang seenak jidatmu ya." Lelaki berkumis tipis mendekati Widya mengabaikan peringatannya. Raut amarah terukir di wajahnya.


"Aku nggak menghina. Aku hanya mengungkapkan fakta." balas Widya. Degup jantungnya semakin cepat oleh perasaan takut.


Mustahil bisa melawan kedua lelaki ini seorang diri. Menjerit keras, Widya berharap jeritannya akan didengar oleh seseorang.


Anehnya, hal itu tidak terjadi. Membuka sebelah matanya Widya melihat Radit menahan tangan lelaki yang ingin memukulnya. Sosoknya terlihat seperti pahlawan yang sering dibayangkan setiap perempuan dalam benaknya.


Ya, pahlawan... pahlawan kesiangan bau kotoran sapi.


Menarik Widya ke belakangnya, Radit menutupinya dengan tubuhnya yang agak berotot karena sering melakukan pekerjaan berat.


Kulitnya yang kecoklatan serta bahunya yang lebar membuatnya terlihat maskulin. Kedua lelaki ceking di hadapannya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dirinya.


Mengintip dari balik punggung, Widya bisa melihat kedua orang itu langsung ciut nyalinya melihat lelaki besar di hadapan mereka.


"Aku tahu perkataan pedas dari perempuan ini membuat kalian marah, tapi kalian nggak harus menggunakan kekerasan seperti itu, " tatap Radit tajam.


"Apa dia pacarmu, Dit?" tanya lelaki yang dianggap Widya seperti ikan lele karena kumis tipisnya.


"Siapa pun perempuan ini, kalian jangan pernah lagi bersikap kasar padanya. Sekarang, pergi dari sini!" usir Radit ketus, yang langsung dituruti kedua lelaki itu secepat mungkin.


"Apa mereka berdua temanmu?" tanya Widya dari balik punggungnya.

__ADS_1


Memutar tubuhnya, Radit melihat masker yang pernah Widya pakai waktu pertama kali berjalan bersamanya, sekarang ini sedang dikenakannya.


Radit sadar kalau ia bau kotoran sapi, tapi entah mengapa, melihat masker sialan itu lagi membuatnya sangat kesal.


Perempuan kasar ini memang selalu membuat masalah di mana pun dia berada. Kalau orang pertama kali melihatnya, mungkin akan langsung terpukau dengan kecantikkannya. Tunggulah, saat ia membuka mulutnya. Maka kecantikkan itu akan luntur dalam sekejap.


Sifat buruk yang sudah melekat dalam dirinya menutupi kecantikkan yang dimilikinya.


"Semua orang di desa ini saling mengenal."


"Oh begitu. Kamu kenapa menyusulku, mau minta maaf?" tanyanya polos.


"Omong kosong macam apa itu." Radit tertawa sinis. "Kalau bukan karena Mila memaksa, aku nggak akan pernah menyusulmu. Untung saja aku datang tepat waktu, kalau nggak mungkin sekarang kamu sudah babak belur oleh mereka. Kamu ini bisa nggak sih sehari aja nggak cari masalah? Bahkan mengucapkan terima kasih saja nggak, padahal sudah kutolong beberapa kali."


"Aku nggak pernah meminta pertolonganmu. Dan, aku nggak pernah mencari masalah."


"Tentu saja, Tuan Putri Maha Agung... yang pendek," ejek Radit menekankan kata 'Pendek'.


"Jangan sok tinggi deh. Tinggi kita cuma beda beberapa senti saja," tampik Widya.


"Beberapa senti? Tinggi badanmu itu hanya sebatas pundakku saja, Pendek."


"Aku nggak pendek tapi mungil."


"Apa bedanya? Pendek ya pendek saja."


"Mungil terdengar lebih menggemaskan."


"Menggemaskan apanya," gumam Radit.


"Apa katamu sajalah, Pendek. Nah, sekarang biarkan aku mengantarmu pulang. Aku nggak yakin kamu bisa pulang sendiri."


"Kalau kamu memaksa, apa boleh buat."


Mengangkat dagunya angkuh, Widya berjalan mendahului Radit.


"Bukan lewat sana tapi lewat sini, Buta Arah," tunjuk Radit pada jalan di belakangnya.


Berbalik arah, Widya menurupi rasa malunya.


"Aku tahu. Aku cuma agak linglung tadi."


"Ya, ya, ya. Apa katamu sajalah."

__ADS_1


"Berhenti mengucapkan kata itu terus. Aku sudah muak mendengarnya dari mulutmu." Widya berjalan melewatinya dengan raut kesal.


Entah mengapa, Widya selalu mengeluarkan sifat kekanakkan dari diri Radit. Ketika ia bersama Widya, ia akan bertindak seperti bukan dirinya yang biasa. Ini sungguh mengusiknya.


__ADS_2