Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Liburan Singkat


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke Desa Manju, Radit hanya ditemani kebisuan dan suasana hati Widya yang begitu muram. Wajahnya yang mengerut kesal tertuju pada pemandangan yang ada di luar kaca mobil mereka. Lebih baik kalau Widya mengamuk seperti biasanya daripada bersikap sedingin ini padanya. Sebab perilakunya yang menjaga jarak ini membuat suasana hati Radit juga ikut muram.


Kenapa dia harus melampiaskan amarahnya pada Radit? Mereka pulang lebih cepat sehari ini pun bukan karena Radit menginginkannya. Ini semua atas permintaan Ayahnya, agar ia secepatnya kembali ke Desa Manju, sebab ada hal yang ingin Ayahnya minta tolong padanya. Ia masih belum tahu apa itu, karena Ayahnya ingin mengatakan hal itu langsung padanya dan Widya setelah mereka tiba.


Sayangnya, istrinya yang kekanakan ini malah merajuk padanya. Lihat saja nanti kalau mereka sudah tiba di rumah dan ada Ayahnya yang menunggu di sana, pasti topeng sok bahagianya itu akan terpampang lagi di wajah muramnya itu. Bahkan, ketika Radit mengatakan hal ini langsung padanya, dia tetap saja diam membisu tidak menanggapi ucapannya. Rasanya ia seperti berbicara dengan sebuah batu besar.


Setibanya mereka di halaman rumah mereka, Widya dengan cepat membuka pintu mobil --padahal mesin mobil mereka belum mati-- lalu meluncur keluar, seperti orang yang bok*ngnya sedang terbakar api. Kesabaran Radit sudah habis menghadapi tingkah lakunya yang menyebalkan ini.


Meluncur keluar dari kursi sopir, Radit dengan cepat menangkap lengan Widya, yang hendak mengambil kunci rumah dari tas tangannya. Tidak senang dengan gangguan itu, Widya menampik tangan Radit dengan kasar dan kembali mencari kunci rumah yang tersimpan di dalam tasnya. Saat dia menemukan kunci rumah itu, Radit secepat kilat merenggut kunci rumah itu dari tangannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Kembalikan kunci itu padaku!" seru Widya, meloncat-loncat untuk menggapai kunci yang diangkat Radit di tangannya. "Berhenti menggangguku! Urusi saja sana barang-barang kita yang ada dalam bagasi mobil."


"Sekarang giliranmu. Aku sudah capek mengalah terus padamu, kali ini kamu yang harus melakukannya."


"Kenapa aku harus mengalah?"


"Karena kamu harus!" geram Radit, membalas tatapan Widya sama tajamnya. "Kalau kamu mau mengamuk dan melampiaskan rasa amarahmu, sampaikanlah hal itu pada Ayahku. Sebab dia yang membuat kita harus pulang cepat, bukan aku. Kamu menujukannya pada orang yang salah."


"Kalau kamu saja cukup, kenapa aku harus melampiaskannya pada Ayahmu juga?" sahut Widya, tersenyum sinis.


"Berhentilah bersikap kekanakan, Widya!"


"Berhentilah sok dewasa, Radit!"


"Dasar kamu mulut berbisa!"


"Dasar kamu mulut berbasi!"


"Nggak mau mengalah!"


"Nggak mau salah!"


"Pemerajuk!"


"Pengomelan!"


Tanpa bisa ditahannya lagi, Radit tersenyum geli pada perdebatan konyol mereka. Dan, bukan hanya dirinya saja yang merasa begitu, sudut bibir Widya juga berkedut, berusaha keras tidak tersenyum juga. Lalu mereka berdua pun sama-sama menyemburkan tawa terbahak-bahak sehingga mengagetkan seseorang yang sedang lewat di depan rumah mereka.


Seperti angin lewat yang berhembus, perang dingin di antara mereka berdua pun segera berakhir. Bersama-sama mereka kembali ke bagasi mobil untuk mengambil barang-barang mereka yang ada di sana.


**


Tepat ketika jam hampir menunjukkan pukul 2 siang, terdengar suara ketukan di pintu rumah Radit. Berjalan berdampingan bersama Widya, Radit membukakan pintu untuk Ayahnya. Setelah mempersilakannya masuk, Widya kembali ke dalam untuk menyiapkan minuman.


"Nggak perlu repot, Wid!" serunya, menghentikan Widya sebelum melangkah lebih jauh. "Bapak cuma sebentar. Setelah ini Bapak akan pergi ke suatu tempat."


Menuruti permintaan itu, Widya menghampiri Radit untuk duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Memangnya Bapak mau kemana?" tanya Radit penasaran.


"Sebelumnya Bapak mau meminta maaf dulu pada kalian...."


"Nggak perlu minta maaf, Yah, kami nggak marah kok," sela Widya, tidak enak hati mendengarkan Pak Benny meminta maaf.


Radit yang duduk di sebelahnya, memberikan tatapan mengejek pada Widya, kemudian berpaling kembali pada Pak Benny dan mengatakan hal yang sama seperti Widya.


"Tetap saja Bapak tidak enak hati sama kalian, pokoknya terima saja permintaan maaf Bapak," ujar Pak Benny, memaksa mereka menerima permintaan maafnya. "Sebenarnya maksud Bapak menyuruh kalian pulang cepat, karena ini sangat mendesak dan tidak bisa ditunda lagi. Bapak ingin meminta tolong pada kalian berdua, kalau kalian tidak keberatan."


"Tentu saja kami nggak keberatan," jawab Radit dan Widya secara bersamaan.


"Katakan saja, Pak, kami akan membantu selama kami mampu," pinta Radit, tidak ingin Ayahnya merasa sungkan meminta tolong padanya."


"Sejujurnya ini bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Awalnya Bapak berniat meminta tolong pada Nenek Aya, tapi berhubung beliau sedang tidak ada di tempat, Bapak tidak punya pilihan lain, selain meminta tolong pada kalian berdua," cerita Pak Benny, melirik sebentar pada Radit, kemudian kembali melanjutkan, "Bapak cuma ingin menitipkan Ririn sebentar pada kalian. Mungkin 2 atau 3 hari, apa kalian tidak keberatan?"


"Oh cuma itu. Tentu saja kami nggak keberatan, Pak," jawab Radit santai. "Bapak bisa meninggalkannya pada kami, berapa lama pun Bapak inginkan. Iya 'kan, Wid?"


"Radit benar, Ayah nggak perlu merasa nggak enak hati menitipkannya pada kami," setuju Widya, tersenyum lembut pada Pak Benny. "Kami justru senang kalau Ririn ada di sini bersama kami. Setidaknya lebih baik dia tinggal di sini bersama kami daripada tinggal seorang diri di rumahnya."


"Bapak hanya tidak enak saja pada kalian, karena sudah mengganggu masa pernikahan kalian yang masih baru ini."


"Pernikahan kami bukanlah hal penting untuk sekarang ini, yang penting Bapak bisa pergi dengan tenang tanpa memikirkan Ririn," sela Radit, tidak senang dengan kesungkanan Ayahnya. "Bapak pergilah mengurus urusan Bapak di luar sana, Ririn aman bersama kami."


"Syukurlah, kalau begitu Bapak bisa lega meninggalkan Ririn sementara waktu di sini. Kalian tenang saja, dia tidak akan terlalu mengganggu kalian. Mungkin dia akan mampir ke sini saat sudah senja saja, yah kamu tahu sendiri Ririn itu gimana, Dit. Anak itu senang sekali keluyuran ke sana kemari, padahal sebentar lagi dia mau ujian."


Setelah membagikan keluh kesahnya bersama anak dan menantunya, Pak Benny kemudian mengubah topik percakapan. Dia mulai menanyakan perjalanan Radit dan Widya di kota. Melirik sekilas ke jam tangannya, Pak Benny pun pamit undur diri untuk pergi. Tidak ingin Pak Benny pergi dengan tangan kosong, Widya memberikan bingkisan kecil kue kering yang dibuatnya bersama Ibunya ketika di kota.


"Gawat! Kita harus bergegas sebelum Ririn datang," kalut Widya, bolak-balik mencari sesuatu yang harus diangkut terlebih dahulu di kamarnya. "Apa kita harus mengangkut lemari riasku terlebih dahulu?"


"Sepertinya itu bukan ide bagus," jawab Radit, berpikir keras seraya mengedarkan pandangannya mengamati benda-benda di kamar Widya. "Kita angkut yang lebih ringan dulu."


"Jangan cuma ngomong doang, ayo cepat bantu aku membawa semua pakaian yang ada di lemariku ini," omel Widya, melemparkan semua pakaiannya ke atas kasur. "Berpikirlah sambil bekerja! Nanti Ririn keburu datang."


"Makanya tidur satu kamar denganku dong, jadinya kita nggak perlu repot begini," balas Radit, mengomel balik seraya meraup semua pakaian yang dilemparkan oleh Widya.


"Mana aku tahu kalau suatu hari nanti Ririn akan menginap bersama kita," sahut Widya, melemparkan tatapan jengkel.


"Perdebatannya cukup sampai di sini, sekarang waktunya bekerja."


∞ ∞


Widya teramat sangat menyesal melakukan aksi pemindahan barang-barangnya begitu terburu-buru. Apa yang dikatakan ayah mertuanya memang benar, Ririn memang suka keluyuran entah ke mana. Bahkan langit di luar saja sudah gelap, tetapi anak bandel itu belum juga menunjukkan batang hidungnya di rumah ini. Sebenarnya ke mana perginya anak nakal itu? Lebih konyolnya lagi, Radit hanya duduk diam saja di sofa sembari menonton dengan riangnya, terlihat tak khawatir sama sekali dengan keberadaan adiknya itu.


Menghalangi pandangan suaminya dari menonton televisi, Widya mengacak pinggangnya di hadapan Radit dengan kesal. Suaminya itu hanya menaikkan sebelah alisnya sambil memasang raut wajah bertanya.


"Kita harus mencarinya!" suruh Widya dengan nada memerintah.

__ADS_1


"Mencari siapa?"


"Tentu saja mencari adikmu, memangnya siapa lagi? Nenekku?" jawab Widya tidak sabar.


"Santai aja jawabnya, Wid. Nggak perlu berapi-api begitu," ujar Radit, merasa heran melihat Widya kehabisan kesabaran padanya. "Kamu nggak usah khawatir begitu, anak cerewet itu bisa menemukan jalan pulangnya sendiri."


"Bagaimana kamu bisa secuek ini? Apa kamu nggak khawatir ada hal buruk yang akan menimpa dia di luar sana?" tanya Widya, tidak mempercayai sikap ketidakpedulian Radit pada adiknya sendiri. "Bagaimana kalau di luar sana ada orang jahat menyakitinya? Membayangkannya saja membuat bulu kudukku merinding."


"Justru yang aku khawatirkan orang jahat itu daripada Ririn," canda Radit, terkekeh membayangkan kejadian itu di kepalanya. "Kamu nggak tahu saja, anak nakal itu bisa bertindak sangat mengerikan ketika ada yang mengganggunya."


"Bisa-bisanya kamu bercanda seperti itu! Itu nggak lucu sama sekali, Dit. Walau bagaimanapun Ririn itu anak gadis."


"Iya, iya aku mengaku salah," ujar Radit menyerah, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Percayalah padaku, dia pasti akan pulang sebentar lagi. Kalau dalam waktu setengah jam dia belum muncul juga, kita berdua akan pergi mencarinya bersama. Bagaimana kalau sekarang ini kita berdua membicarakan tentang kita saja?"


Menjulurkan tangannya, Radit menarik Widya ke pangkuannya. Mengeratkan pegangannya di sekitar pinggang Widya, dia semakin mendekatkan tubuh mereka berdua hingga saling bersentuhan begitu intim. Punggung tangannya membelai tulang pipi wajah Widya dengan perlahan.


"Kamu masih belum menjelaskan padaku mengenai ucapanmu tadi malam. Berhubung kita masih berdua, bagaimana kalau kamu menjelaskannya sekarang, hmm?"


"Tanpa harus aku jelaskan pun, kamu pasti paham apa maksudku. Jangan berpura-pura bodoh, Radit!" Widya mencubit lengan Radit ringan.


"Bagaimana kalau aku memang nggak mengerti, bukannya pura-pura bodoh seperti dugaanmu?" goda Radit, memperlihatkan raut sepolos mungkin.


"Tampang polosmu itu nggak bisa membohongiku sama sekali,", ujar Widya, tak teperdaya sedikit pun. "Sepertinya aku mendengar suara langkah kaki di luar. Apa kamu mendengarnya juga? Sepertinya anak bandel itu sudah pulang."


Dengan lincah Widya melepaskan dirinya dari pelukan erat Radit, kemudian beranjak pergi ke ruang tamu. Sebelum ia sempat menggapai gagang pintu, Radit tiba-tiba saja menangkapnya dari belakang.


"Kamu kalau malu begini, terlihat menggemaskan sekali," peluk Radit dari belakang. "Jangan beralasan mendengar hal yang sebenarnya nggak ada, bilang saja kamu mau kabur lagi dariku."


Sekali lagi Widya melepaskan dirinya dari pelukan Radit dan berbalik menghadapnya.


"Aku nggak berbohong, aku memang mendengarkan suara langkah kaki di luar sana," elak Widya, mengerutkan alisnya kesal.


"Itu hanya ilusimu saja," ucap Radit, kembali merengkuh Widya ke dalam pelukannya. "Melihatmu marah begini membuatku ingin menciummu."


Seolah membuktikan perkataannya, Radit mengecup seluruh wajah Widya.


"Jaga sikapmu, Dit! Bagaimana kalau nanti Ririn melihat kita seperti ini?" ujar Widya memperingatkan setengah hati, tertawa geli saat Radit menciumnya kembali. "Radit, berhenti!"


Tidak ada gunanya, Radit malah mencium bibirnya dengan mesra. Lalu terdengar suara BRAKK mengagetkan mereka berdua.


"Yuhuu aku datang!" seru Ririn riang.


Mendorong tubuh Radit ke samping, Widya pura memukul-mukul udara di sekitarnya, seakan-akan sedang menangkap seekor nyamuk yang sedang berkeliaran. Mengendalikan raut wajahnya, Widya menyambut kedatangan Ririn sesantai yang ia mampu.


"Kamu sudah pulang? Sejak tadi kami berdua menunggumu," ujar Widya, tersenyum canggung. "Kenapa diam saja di sana? Ayo masuk sini!"


"Aku mencium sesuatu yang mencurigakan di dalam sini," selidik Ririn, mengabaikan permintaannya.

__ADS_1


Tatapan mata Ririn kini tertuju pada Radit yang sedang berpose santai di atas sofa sembari melambaikan tangan padanya. Walaupun pose berbaringnya di atas sofa terlihat normal, namun siapa pun bisa melihat kalau Radit merasa tidak nyaman di sana. Wajahnya terlihat seperti orang yang sedang menahan sakit. Tidak heran, mengingat Widya tadi mendorong tubuhnya begitu kuat ke arah sofa.


Astaga, ini memalukan!


__ADS_2