Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Berakhir Ketika Belum Memulai


__ADS_3

Menatap melongo, Gilang dan kedua temannya berdiri terdiam memandang kepergian teman mereka, Radit, yang berlari seperti hembusan angin meninggalkan mereka bertiga. Menyadarkan dirinya, Gilang berjalan melewati Dimas untuk menyusul Radit yang sudah berada jauh dari pandangan mereka. Namun, Dimas yang juga sudah sadar dari kekagetannya, menarik lengan Gilang untuk menghentikan langkahnya.


"Mau ke mana kamu?" tanyanya, menahan Gilang pergi.


"Tentu saja pergi menyusul Radit. Bukannya kamu bilang istri dan adiknya mengalami kecelakaan?" ujar Gilang bertanya balik, merasa heran oleh perilaku Dimas menghalanginya menyusul Radit.


"Aku memang berkata begitu, tapi aku tadi belum menyelesaikan ucapanku," jawabnya sambil menggarukkan kepalanya.


"Apa maksudmu?" tanya Deni ikut menimbrung.


"Jadi, maksudmu, ada hal lain yang menimpa istri dan dan adik Radit, selain kecelakaan, begitu?" Gilang menatap kebingungan pada temannya.


"Bukan begitu. Istri dan adik Radit memang mengalami kecelakaan, tapi mereka baik-baik saja. Mereka hanya terjatuh dari motor akibat menghindari tabrakan dengan seekor sapi yang melintas," jawabnya menjelaskan. "Tadinya aku berniat menyampaikan hal itu, tapi Radit keburu pergi seperti kesetanan sebelum aku menyelesaikan perkataanku."


"Itu sih salahmu sendiri, menyampaikan berita seperti berita buruk," celetuk Deni.


"Iya nih. Harusnya tadi kamu jangan bilang, 'Ada kabar buruk', bilang saja langsung kalau istri dan adiknya jatuh dari motor, tetapi nggak mengalami luka yang cukup serius," ujar Gilang menasehati.


"Ya, maaf. Aku tadi terlalu panik atas kejadian itu," lirih Dimas, tertunduk lesu.


"Ya sudahlah, toh nanti Radit tahu sendiri sesampainya di sana. Ayo kita pergi ke sana juga untuk melihat keadaannya sekarang seperti apa," ajak Gilang pada kedua temannya.


"Kita berjalan santai saja, nggak perlu tergesa-gesa. Aku terlalu lelah untuk berlari lagi," pinta Dimas memelas.


Menuruti kemauan temannya itu, Gilang berjalan santai bersama mereka menuju tempat kejadian kecelakaan itu. Dalam benaknya, Gilang mulai tidak sabar untuk sampai ke sana, ia sangat penasaran seperti apa rupa istri teman baiknya itu. Mungkin karena itulah langkahnya agak terburu-buru saat berjalan.

__ADS_1


Apa benar dia secantik seperti yang dikatakan semua orang?


Saat itulah ia kembali teringat lagi pada gadis jelita yang ditemuinya di gudang buku hari ini. Parasnya yang menawan serta pembawaan dirinya yang anggun benar-benar memikat hati Gilang. Barangkali saja di sana ia akan bertemu lagi dengan gadis cantik itu, pikir Gilang. Senyum lebar terukir di wajah Gilang ketika membayangkan kemungkinan itu.


~ ~


Menyeruak di antara kerumunan orang-orang yang berkumpul, Gilang akhirnya menemukan Radit yang berdiri di tengah-tengah kerumunan itu, temannya itu berdiri menghadap seorang perempuan yang berdiri membelakanginya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat kusut, postur tubuhnya agak goyah saat berbicara dengan Radit. Untung saja Radit dengan gesit menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


Tidak jauh dari tempat itu, Ririn yang masih terduduk di tanah dibantu berdiri oleh warga yang lain. Konyolnya, dia malah mengamuk pada mereka yang menolongnya.


Merasa heran oleh sikap Ririn yang tidak wajar itu, Gilang mendengarkan percakapannya dengan lelaki muda yang tetap ngotot membantunya berdiri, nada suaranya yang begitu lantang terdengar jelas oleh semua orang yang menonton kejadian itu.


"Sudah aku bilang, aku bisa berdiri sendiri! Nggak perlu membantuku. Aku baik-baik saja!" seru Ririn kesal, menampik uluran tangan yang menariknya berdiri.


"Ririn!" bentak Radit pada adiknya. "Kamu ini ditolongin, bukannya berterima kasih, malah berperilaku nggak sopan. Biarkan orang lain membantumu."


Memutar kedua bola matanya, Radit menghela napas frustasi oleh sikap kekanakan adiknya itu. Lalu sebuah jemari mungil putih menarik lengan baju Radit untuk mendapatkan perhatiannya. Perempuan yang ada di depannya itu lalu berjalan ke samping Radit, berjinjit setinggi yang dia bisa, dia membisikkan sesuatu di telinga Radit.


Selagi menyampaikan ucapannya, matanya bergerak melihat ke segala arah pada semua orang yang berkerumun mengelilingi mereka. Sampai akhirnya, tatapan matanya bertemu pandang dengan Gilang. Saat itulah matanya membeliak kaget ketika menatap pada Gilang yang berdiri tak jauh dari mereka, tangannya yang menutupi mulutnya saat berbisik tadi kini terkulai lemas di sampingnya.


Terperangah melihat secara jelas sosok perempuan yang berdiri di samping temannya itu, Gilang mengenalinya sebagai gadis cantik yang ditemuinya di gudang buku beberapa waktu lalu. Mengucek kedua matanya, Gilang mencoba kembali melihat perempuan itu--yang kali ini kembali membelakanginya--dengan kedua mata membelalak lebar demi memastikan apa ia tak salah lihat. Akan tetapi, melihat sikap tubuh perempuan itu, yang terlihat kaku dari belakang, membuktikan padanya bahwa perempuan itu memanglah gadis yang sama di gudang buku tadi.


"Nah, itu dia istri Radit. Cantik, bukan?" bisik Deni di telinganya. "Aku tahu kamu terpesona dengan kecantikkannya, tapi jangan terlalu lama memandangnya. Nanti orang lain bisa salah paham jika melihat caramu memandangnya," tegur Deni, menyalahartikan tatapan terperangah Gilang sebagai rasa takjub.


Mendengarkan teguran itu, Gilang segera sadar dari rasa kagetnya, dan berpaling menatap Deni. Ia hanya memberikan senyuman terpaksa pada temannya itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dirinya masih terlalu syok atas kenyataan pahit yang dilihatnya sekarang. Miris sekali perasaan sepihaknya berakhir sebelum ia memulai, cerca Gilang pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sungguh lucu ironi ini. Konyol sekali aku jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap istri temanku sendiri.


"Syukurlah kalian ada di sini." Suara temannya Radit menyadarkan Gilang dari lamunannya. "Aku titip Ririn pada kalian berdua. Tolong seret anak itu pulang. Aku nggak bisa melakukannya, sebab istriku terlalu syok atas kejadian hari ini." Matanya melirik pada istrinya yang bergelayut dalam bopongannya. "Jadi, aku akan mengantarnya pulang dulu."


Nampak sekali jika istri Radit sedang menghindar memandang ke arah Gilang. Dia dengan sengaja menyembunyikan wajahnya di dada Radit.


"Pergilah. Aku dan Deni bisa mengurus adikmu," tepuk Gilang di bahu Radit.


Tepukan itu, lucunya, mengagetkan istri Radit, sebab tubuhnya terlonjak sedikit dalam gendongan temannya. Melihat gerakan kecil itu, Gilang menahan senyumnya.


Gadis yang lucu. Kenapa dia malah setegang itu? Apa dia takut Radit mengetahui pertemuannya denganku? Hmmm, menarik.


"Terima kasih," angguk Radit lalu berjalan melewatinya.


°°


Menenangkan dirinya, Widya berharap Radit tidak mendengar suara degup jantungnya yang berdetak cepat. Jantungnya terasa mencelos saat menyadari teman Radit yang ditemuinya di Rumah Buku berada di tempat itu juga. Dan rasanya, ia juga hampir pingsan saat Radit menghampiri temannya itu.


Terdiam dalam pelukan Radit, ia sengaja memalingkan wajahnya dari teman Radit itu. Saat itu Widya menunggu dalam ketegangan yang begitu mencekam, takut lelaki itu akan menceritakan pertemuannya dengan Widya di Rumah Buku. Yang untungnya tidak dilakukannya, lega Widya dalam hatinya.


"Apa kamu nggak bisa bersikap santai sedikit? Kalau kamu tegang begini malah semakin membuatmu terasa berat," keluh Radit, menghentikan langkahnya.


"Makanya aku 'kan sudah bilang, aku bisa berjalan dengan kedua kakiku sendiri. Salah kamu sendiri bersikap sok heroik dengan menggendongku begini," balas Widya balik marah.


"Kalau aku nggak menggendongmu, mungkin kamu akan jatuh pingsan. Jangan sok kuat, aku tahu kalau kedua kaki pendekmu itu masih gemetaran," ujar Radit mengejek.

__ADS_1


"Kakiku nggak pendek, dasar kamu Raksasa sok baik!" hardik Widya ketus.


"Kalau pendek, ya, pendek saja, dasar Kerdil nggak tahu terima kasih!" Mengangkat tubuh Widya sedikit, Radit kembali melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2