Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Hari H


__ADS_3

Tamu datang silih berganti mengucapkan selamat kepada kedua mempelai yang sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Karena pernikahan ini dilakukan terburu-buru, hanya keluarga dekat saja yang diundang. Akan tetapi, meskipun ini pernikahan mendadak, banyak sekali tamu yang datang. Tentu saja, sebagian banyak orang itu dipenuhi oleh warga Desa Manju.


Kelopak mata Widya tiba-tiba hendak terpejam karena terlalu mengantuk. Ini akibat Widya kurang tidur tadi malam, ia terlalu gelisah memikirkan hari pernikahannya. Apalagi sejak pagi hari ia sudah dibangunkan untuk di make up penata rias yang disewa ibunya dari kota.


Selama proses akad nikah, ibunya tidak bisa menahan rasa sedih melepaskan satu-satunya anak perempuannya. Dan kini ia berdiri di pelaminan bersama suaminya. Suaminya. Rasanya kata itu masih terlalu asing di lidah Widya.


Seperti biasa, Radit memasang senyuman palsu di wajahnya. Namun, ia tidak bisa mengkritiknya karena ia juga melakukan hal yang sama. Ia tidak ingin mempermalukan kedua orang tuanya dengan bersikap kekanak-kanakan, seperti cemberut kepada semua orang yang hadir memberi selamat demi menunjukkan rasa tidak senangnya mengenai pernikahan ini. Di antara kerumunan tamu, Widya bisa melihat ibunya yang tadi banyak menangis sekarang sedang tertawa bersama teman-teman lamanya.


"Aku dari tadi nggak melihat temanmu," celetuk Radit di sebelahnya dengan suara pelan.


"Untuk apa juga mengundang temanku datang ke pernikahan yang tak kuinginkan ini," jawab Widya, menggertakkan giginya.


"Bilang saja kalau kamu nggak punya teman," ledek Radit.


"Tentu saja aku punya!" sanggah Widya cepat.


"Apa katamu sajalah. Selama itu membuatmu bahagia, Istri Mungilku," bisik Radit di telinganya.


Melotot marah, Widya balas berbisik, "Apa kamu mengajakku berkelahi, Suamiku Yang Tinggi?"


"Kalau kamu menganggapnya seperti itu." Radit mengangkat bahunya tak acuh.


Tanpa diduga, Widya membalas perkataan Radit dengan berpura-pura jatuh ke sebelahnya untuk menginjak sepatunya sekuat tenaga.


"Astaga! Apa yang kulakukan? Maafkan aku, Suamiku. Aku tadi agak pusing." Widya menatap penuh rasa bersalah dengan memasang wajah polos.


Dasar picik.


Radit menahan rasa nyeri di kaki kirinya sembari membantu Widya duduk. "Nggak apa-apa, Istriku. Sepertinya kamu perlu istirahat." Saat semua mata tidak lagi mengarah pada mereka, Radit melotot marah kepadanya. "Aku tahu kamu sengaja melakukannya."

__ADS_1


"Baguslah kalau kamu sadar. Kamu memang pantas mendapatkannya," ujar Widya, tersenyum licik.


Ya, dia memang pantas mendapatkannya karena sudah menggoda perempuan kasar ini. Radit melakukan hal itu untuk meredakan rasa tegang di lehernya. Ia perlu sesuatu untuk membuatnya rileks. Rasanya mulutnya mau robek karena terlalu banyak tersenyum palsu.


Pernikahan yang didasari atas keterpaksaan ini sungguh membuatnya stres. Jadi, ia sengaja memancing amarah Widya. Tak tahu mengapa, reaksi marahnya selalu menghibur Radit. Ia memang terhibur, dan rasa tegang di lehernya sudah hilang. Akan tetapi, rasa sakitnya kini telah beralih ke kaki kirinya akibat diinjak sepatu hak yang dipakai istri mungilnya yang licik.


"Jangan tertidur. Acaranya masih belum selesai." Peringatan Radit menyadarkan Widya dari rasa kantuknya. Mengedip-ngedipkan matanya, dipaksanya matanya terbuka selebar mungkin. "Jangan melotot juga. Kamu tetlihat seperti ingin membunuh seseorang."


"Berisik. Apa kamu nggak bisa diam, Tuan Maha Benar?" ketus Widya.


"Baiklah, aku akan diam, Istri Mungilku Yang Agung."


Hening sesaat.


"Apa kamu melihar Mila? Aku nggak melihatnya sejak kemarin." Widya mengedarkan pandangan mencari-cari keberadaan Mila. "Apa kamu mendengarku?"


Heran tidak mendapatkan respon, Widya menolehkan kepalanya kepada Radit yang memberi tanda mulutnya sedang terkunci rapat. Dengan berlebihan Widya memutar tangannya, seperti membuka kunci di depan mulut Radit.


"Aku sudah menduganya. Mungkin saat ini dia kesal padaku atau sedang mengurung dirinya di kamar."


"Kenapa kamu berpikir begitu?"


"Orang bodoh sepertimu tak perlu tahu," kata Widya mengejek.


"Apa katamu?"


Pembicaraan mereka terpotong saat ada tamu yang datang untuk memberikan ucapan selamat. Mereka berdua pun kembali berdiri menyambut pegawai ayah Widya yang datang dari kota. Keduanya pun melupakan pembicaraan mereka.


°°

__ADS_1


Bu Susi mengetuk pintu kamar Mila, berniat mengajaknya ke pernikahan Radit. Seperti yang diduganya, Mila menolak ikut. Sejak pernikahan Radit diumumkan, Mila mengurung dirinya di dalam kamar. Menolak kunjungan dari siapa pun.


Mengamati tindakan anaknya, Bu Susi bisa menduga kalau anaknya masih menyimpan perasaan pada Radit. Demi anaknya, ia berbohong kepada yang lain, jika Mila sedang tidak enak badan. Ia tidak ingin orang-orang di luar sana bergosip perihal masalah patah hati anaknya. Sudah cukup anaknya menderita karena menyimpan perasaannya selama ini. Bu Susi tidak ingin menambah kesedihannya dengan menjadikannya bahan gosip.


Kesunyian adalah hal yang diinginkan Mila saat ini. Ia tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Hatinya begitu sakit saat pertama kali mendengar berita pernikahan lelaki yang selama ini dicintainya akan menikah dengan temannya, Widya. Ia tahu tak ada gunanya ia bersedih seperti ini. Suatu hari nanti pasti Radit tetap akan menjadi milik orang lain.


Meskipun begitu hatinya masih belum siap melepas perasaan cintanya selama 10 tahun ini. Tentu saja, ia harus merelakan cinta bertepuk sebelah tangannya ini. Jika perasaan ini belum hilang, ia tidak akan sanggup menemui kedua temannya yang sedang berbahagia itu.


Mungkin satu-satunya jalan keluar untuknya, Mila hanya perlu jatuh cinta kepada lelaki lain. Sayangnya, ia bukan tipe orang yang gampang jatuh cinta. Sungguh menyedihkan. Mila kembali membenamkan wajahnya di bantal, meluapkan semua rasa sedih yang dirasakannya.


***


Hari sudah senja saat satu persatu tamu pulang ke rumahnya. Saat ini Widya berada di kamar Radit untuk berganti pakaian. Mereka bersiap pergi ke rumah yang sudah dipersiapkan ayah Radit untuk mereka berdua tinggali. Radit masih menunggunya di luar kamar mandi. Dia mengetuk tidak sabar, memberitahukan pada Widya, jika orang tua mereka sudah lama menunggu di luar sana.


"Kamu ini berisik sekali," omel Widya saat membuka pintu kamar mandi dan mendapati Radit bersandar di dinding sebelah pintu.


"Ganti baju saja lama sekali. Ayo!" Radit memberikan lengannya untuk digandeng.


"Aku benar-benar lelah berakting selama seharian ini. Aktingku ini memang pantas mendapatkan penghargaan Oscar," oceh Widya, menggandeng lengan Radit begitu mesra.


"Setidaknya ini yang bisa kamu lakukan agar orang tuamu nggak khawatir. Orang tua mana, yang akan bahagia melihat anaknya terlihat sedih saat menikah."


"Aku tahu. Nggak perlu menceramahiku apa yang harus dan nggak kulakukan."


"Sekarang kamu istriku, jadi sudah menjadi tanggung jawabku menasihati perilakumu."


"Sungguh ciri-ciri suami yang menyebalkan."


"Yang menyebalkan itu kamu, dasar keras kepala," balaa Radit jengkel.

__ADS_1


Tiba di halaman rumah, mereka berdua mendekati keluarga mereka yang sudah menunggu di dekat sedan hitam berhiaskan berbagai jenis bunga. Sunggh berlebihan. Padahal rumah mereka berdua hanya berjarak dua menit dari rumah neneknya.


__ADS_2