
Merendahkan tubuhnya, Radit menyajarkan wajahnya dengan Widya, lalu dia meneliti wajahnya, mencari sesuatu yang Widya tidak tahu apa itu. Memajukan sedikit kepalanya, Radit berbisik di telinganya. "Kalau saja aku nggak terlalu mengenalmu, mungkin aku akan mengira jika sekarang ini kamu sedang cemburu." Memundurkan kepalanya, seringai puas tersungging di bibirnya. "Tentu saja aku salah. Bukankah begitu, Istriku?"
Widya bisa merasakan wajahnya sekarang pasti terlihat merona. Bahkan, tenggorokannya terasa tersumbat. Kini mata Radit terlihat seperti menari-nari, mengejek kebisuannya.
"Tentu saja kamu salah," jawab Widya, lega suaranya tidak bergetar. "Cemburu? Ha! Lelucon macam apa itu? Jangan besar kepala dulu, Suamiku. Perlu kamu ingat, kita berdua menikah atas dasar keterpaksaan, bukan karena saling menyukai satu sama lain. Meskipun begitu, apa salahnya jika aku menginginkan kesetiaan darimu? Aku nggak mau dianggap menyedihkan oleh orang-orang karena memiliki suami yang doyan selingkuh. Sampai di sini, apa kamu paham?" tanya Widya meledek.
Seringai menjengkelkan itu belum juga sirna dari wajah Radit. "Aku sangat mengerti, Istriku."
"Sudah kubilang, aku ini nggak cemburu! Aku hanya nggak suka berbagi apa yang menjadi milikku." Widya memukul dada Radit, jengkel dengan tuduhannya.
"Tentu saja, aku milikmu, Istriku Sayang." Senyum Radit penuh makna. "Dan lagi, memangnya tadi aku mengatakan tak percaya padamu, nggak, 'kan? Aku bilang, 'Aku mengerti'. Jadi, di mana letak salahnya perkataanku?" tanya Radit, memasang wajah polos.
"Ah, sudahlah, capek aku menjelaskannya padamu," memalingkan wajahnya, Widya mendorong tubuh Radit ke samping. "Aku mau makan."
"Aku nggak tahu, kalau masalah 'Perselingkuhanku' ini telah membuatmu belum makan sepanjang hari. Apa kamu segitu kepikirannya?" ujar Radit dengan nada geli.
Membalikkan badannya, Widya mengeryitkan dahinya pada Radit. Ia sangat tidak senang mendengarkan ejekan itu dari suaminya. Menarik napas dalam-dalam, Widya mencoba menahan dirinya menggubris provokasi yang dilakukan suami menyebalkannya ini.
Widya tidak akan membiarkan Radit merasa senang karena telah berhasil memancing menyulut emosinyaa. Melirik kotak cincin di sudut dekat lemari pakaian Radit, ia melangkahkan kaki mendekat, kemudian memungut kotak kecil kosong itu. Akibat dari lemparannya tadi, kini cincin yang seharusnya berada dalam kotak itu telah melayang entah ke mana.
Berjalan menghampiri Radit, diletakkannya kotak kosong itu di telapak tangan suaminya. Heran atas sikapnya yang tiba-tiba memberikan kotak cincin itu, Radit menatap kosong pada benda yang ada di telapak tangannya.
"Sebaiknya kamu cari sendiri cincin kenanganmu itu. Saat kamu menemukannya, segera buang cincin itu ke bak sampah. Aku nggak ingin lagi melihat benda itu di rumah ini," perintah Widya.
__ADS_1
Menepuk telapak tangan Radit, sebuah ide tiba-tiba tebersit dalam benaknya. "Aku ada ide. Jangan dibuang! Sebagai gantinya, jual saja cincin itu. Setelah itu, belikan aku sesuatu sebagai hasil penjualannya." Widya tersenyum lebar, takjub dengan ide cemerlangnya.
"Jual?" tanya Radit, terlihat kebingungan.
"Kenapa? Kamu nggak mau? Apa kamu masih belum siap merelakan kekasih pujaanmu itu?" Menyilangkan kedua tangannya, Widya menatapnya dengan tidak sabar.
"Bukan begitu! Aku hanya heran saja dengan berbagai ide yang muncul di kepalamu itu. Baiklah, seperti yang kamu inginkan, aku akan menyingkirkan benda ini secepat mungkin. Kamu bisa memegang janjiku." Dikatupkannya kotak cincin di telapak tangannya.
"Kalau begitu, beres. Masalah terselesaikan."
Meninggalkan Radit seorang diri di kamarnya, Widya berjalan ke arah dapur untuk mencari sesuatu yang bisa menghilangkan rasa laparnya. Di atas meja makan, ia melihat sebuah tas bingkisan yang menarik perhatiannya. Menarik keluar isi yang ada di dalam tas itu, ia memekik senang mendapati kue kering kesukaannya.
Menenteng tas bingkisan itu, Widya hampir saja berlari ke kamar untuk mendatangi Radit, untunglah ia langsung teringat kakinya belum sembuh total. Berusaha sampai di kamar Radit secepat mungkin, Widya melompat-lompat kecil dengan satu kakinya.
"Apa kamu membawakan aku oleh-oleh? Dari mana kamu tahu aku suka kue ini?" tanyanya, mengangkat tas bingkisan di tangannya.
"Benarkah? Ini sungguh dari mamaku?" seru Widya, menggoyang-goyangkan tas bingkisan di tangannya.
"Iya, benar."
Radit ikut tersenyum melihat ekspresi kegembiraan di wajah Widya saat mengetahui kue kering itu adalah pemberian ibunya. Nampak sekali dia sangat merindukan masakan ibunya.
Mengalihkan perhatiannya kembali ke kolong lemari, Radit merasa frustasi belum juga menemukan cincin miliknya. Melirik sekilas pada Widya yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya, Radit meminta bantuannya agar cincin miliknya lebih cepat ditemukan.
__ADS_1
"Apa kamu nggak bisa membantuku? Aku kesulitan mencari cincin yang kamu hilangkan tadi. Bukankah kamu juga bertanggungjawab untuk mencarinya? 'Kan kamu yang melemparnya tadi sehingga terjatuh entah ke mana."
Seketika senyuman bahagia sirna dari bibir Widya. "Aku nggak ingin melihat cincin sialan itu lagi. Itu sudah menjadi tanggungjawabmu untuk menemukannya, dan melenyapkannya dari rumah ini."
Sebelum kata-kata protes keluar dari mulutnya, Widya sudah berbalik meninggalkan kamarnya. Mendesah pasrah, Radit kembali berjongkok mencari cincin yang telah membuatnya menderita sepanjang malam ini.
_Di Kediaman Pak Darman_
Selesai menyajikan makan malam di meja makan, Bu Gina segera duduk bersama Pak Darman di meja makan.
"Oh iya, Pa, tadi siang Radit mampir ke sini," ujar Bu Gina memulai obrolan duluan.
"Benarkah? Apa anak kita, Widya, ikut bersamanya?" tanya Pak Darman, pura-pura bersikap tak peduli.
Tersenyum kecil, Bu Gina melirik suaminya yang berpura-pura tak peduli dengan kedatangan menantunya. Ia bisa melihat kalau suaminya itu sangat ingin mendengar kabar anak kesayangannya, Widya, hanya saja dia terlalu malu untuk mengungkapkannya secara terbuka.
"Papa 'kan tahu sendiri Widya sedang sakit, jadi, dia tidak mungkin ikut bersama Radit ke sini."
"Mama benar juga," setuju Pak Darman mengangguk. "Papa tidak habis pikir sama pikiran anak kita itu, bisa-bisanya dia memutuskan untuk kabur dari rumah hanya karena masalah mesin cuci saja. Untung saja, menantu kita, Radit, orangnya sabar, jadinya dia bisa memaklumi sikap kekanakan Widya."
Meletakkan sendok di piringnya kesal, Bu Gina menatap suaminya tajam. "Papa jangan menyalahkan Widya gitu dong! Anak kita itu belum terbiasa dengan kehidupan barunya sebagai ibu rumah tangga. Semua ini masih sangat baru baginya. Tentunya dia masih membutuhkan waktu untuk membiasakan diri."
Menghela napas, Pak Darman memijat pelipisnya, pusing memikirkan urusan rumah tangga anaknya. "Iya, papa tahu. Tetapi itu juga tidak membenarkan perbuatannya mempermalukan suaminya di depan para tetangga. Papa sangat malu sama Pak Benny oleh tingkah kekanakan anak kita itu."
__ADS_1
"Kita hanya bisa berharap hal ini tidak akan terulang lagi," ucap Bu Gina, menangkupkan tangannya di tangan Pak Darman yang ada di atas meja makan.
"Semoga saja," balas Pak Darman, menepuk balik tangan Bu Gina di atas tangannya.