
Kali ini Widya yakin bahwa bekal makanannya pasti akan sampai langsung di tangan Radit. Sebab pertama kalinya ia membawa bekal makan siang untuk suaminya itu, ia mendapati Radit sedang bersama perempuan lain. Tetapi, tidak mungkin rasanya kejadian itu akan terulang lagi. Sekarang ini tidak ada lagi pengganggu yang akan mengganggu hubungan mereka berdua.
Mengangkat rantang yang dibawanya ke depan wajahnya, Widya tersenyum mencium aroma sedap yang berasal dari masakannya. Radit pasti akan ketagihan saat mencicipi masakannya ini. Dan dia juga pasti akan sangat senang dengan kemunculannya yang tak terduga ke peternakan. Memikirkannya saja sudah membuat Widya begitu gembira.
Widya bersenandung seraya menenteng rantangannya dengan hati-hati agar tidak jatuh. Meskipun cuaca di luar sangat panas, ia tetap tersenyum lebar. Hari ini tidak ada yang bisa membuatnya terganggu.
Dalam perjalanannya, Widya melihat seorang anak perempuan sedang bermain seorang diri di ujung jalan. Anak kecil itu berlari ke sana kemari, seperti ada sesuatu yang sedang dikejarnya. Tangan anak kecil itu menggapai-gapai ke atas, seolah ingin menangkap sesuatu.
Memicingkan matanya, akhirnya Widya tahu apa yang sedang dilakukan anak kecil itu. Dia ternyata sedang mengejar seekor kupu-kupu. Sepertinya kupu-kupu itu telah menarik minatnya sehingga dia tidak memperhatikan sekelilingnya. Bahkan anak kecil itu sempat tersandung batu kecil saat hendak menangkap kupu-kupu itu.
Untunglah, anak kecil itu segera bangkit dan kembali mengejar kupu-kupi itu tanpa menghiraukan luka goresan di lututnya. Dan, hampir saja Widya tadi berlari untuk membantunya berdiri. Apalagi ia pikir anak kecil itu akan menangis saat terjatuh tadi. Namun tampaknya anak itu tak mempedulikan apa pun selain kupu-kupu yang sedang dia kejar.
Ketika Widya sudah hampir mendekati anak kecil itu, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kemunculan sebuah motor, tak jauh dari mereka, sedang melaju begitu liarnya ke arah anak kecil yang masih berdiri di tengah jalan itu. Terdengar suara teriakan orang-orang memanggil-manggil nama anak kecil itu.
Sayangnya, itu tak ada gunanya, anak kecil itu tetap sibuk dengan kupu-kupu yang sedang diperhatikannya. Menyadari cuma ia saja yang bisa menyelamatkan anak kecil itu dari bahaya, Widya segera melempar rantang yang dibawanya, lalu berlari menghampiri anak kecil itu sebelum motor yang melaju itu menabraknya.
Semua terjadi begitu cepat, daripada melihat, Widya lebih merasakannya. Ia tak tahu apa yang terjadi padanya dan anak kecil itu. Samar-samar ia mendengar suara jeritan orang-orang di sekelilingnya. Dan entah mengapa, sekujur tubuhnya terasa kebas.
Membuka kedua matanya perlahan, Widya melihat ada banyak orang sedang memandangnya dengan raut khawatir. Apakah aku akan mati? Nggak, nggak, nggak! Setidaknya sebelum aku mati, aku harus melihat wajah Radit dulu. Aku nggak mau mati dalam keadaan para warga menyebalkan ini adalah orang terakhir yang kulihat.
Inilah akibat ulahnya sok-sokan menolong orang, sekarang dia malah berakhir terkapar tak berdaya seperti ini. Lalu perlahan-lahan, Widya merasakan penglihatannya mulai menggelap. Suara-suara di sekelilingnya pun mulai memudar.
Hal terakhir yang dilihatnya sebelum hilang kesadaran adalah masakannya yang tercecer keluar dari rantangnya. Sungguh miris. Tak tahu mengapa, setiap kali ia berniat mengantarkan bekal makan siang untuk Radit, rantangannya itu selalu berakhir di tanah.
°°
"Ada apa itu, Dit?" tanya Mila, menunjuk ke depan.
Mengikuti arah pandangan Mila, Radit memandang penasaran pada kerumunan yang terlihat begitu heboh di hadapannya. Dilihat dari situasinya, sepertinya sedang terjadi kecelakaan di sana. Hal itu ia simpulkan saat melihat sebuah motor beserta pengendaranya tergeletak tak jauh dari kerumunan itu.
"Sepertinya ada kecelakaan yang sedang terjadi. Lihat saja pengendara itu, dia terlihat oleng saat hendak berdiri," simpul Mila, memikirkan hal yang sama dengannya. "Belum lagi reaksi orang-orang di sana. Mereka terlihat sangat geram ketika memaksa pria itu berdiri tegap."
"Dilihat dari kondisinya, sepertinya pria itu sedang dalam keadaan mabuk," ujar Radit, mengamati pengendara itu benar-benar susah untuk berdiri tegap. "Aku harap nggak ada korban karena tingkah sembrononya itu."
"Aku harap juga begitu, tapi...." Mila melirik khawatir padanya. "Dilihat dari kerumunan yang sedang berkumpul di sana, sepertinya ada korban akibat kesembronoan pria pemabuk itu."
"Semoga saja kita salah. Ayo kita ke sana," ajaknya, berderap cepat menghampiri kerumunan itu.
__ADS_1
Radit benar-benar bingung dengan degup jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat di dadanya. Tidak seharusnya ia bereaksi berlebihan begini. Kecelakaan ini tidak berhubungan dengan dirinya. Namun anehnya, ia begitu ketakutan ketika mereka semakin mendekati tempat kejadian kecelakaan itu.
Ketakutannya itu semakin bertambah saat mendapati tatapan mengasihani yang ditujukan orang-orang padanya. Tidak mungkin, mustahil korban dari kecelakaan ini salah satu keluargamya. Atau lebih mengerikannya lagi--Radit tak ingin membayangkannya--korban itu adalah Widya, istrinya.
Dalam ingatannya, Radit masih ingat jelas kecelakaan yang dulu menimpa Ririn dan Widya. Tapi untungnya, saat itu mereka berdua tidak mengalami luka parah akibat kecelakaan itu Meskipun begitu, nengingatnya saja membuat Radit ketakutan.
Akhirnya tiba juga saatnya bagi Radit menyeruak masuk dalam kerumunan itu. Daripada dibilang menyeruak masuk, bisa dibilang ia diberi ruang oleh para kerumunan itu, seakan-akan ia memang seharusnya berada di sana.
Nyatanya, ketakutannya itu terbukti benar adanya. Di hadapannya, Widya sedang berbaring lemah di pangkuan seorang wanita paruh baya dalam keadaan tak sadarkan diri. Sontak saja, Radit berjongkok dan merengkuh Widya dalam pelukannya.
"Widya, Widya, Sayang, kumohon sadarlah!" pintanya, memohon-mohon putus asa. "Jangan menakutiku begini. Kumohon sadarlah. Widya!"
Radit tak tahu apa yang menyebabkan Widya tak sadarkan seperti ini. Padahal di tubuhnya dia tak mendapati luka apa pun. Apa benda keras telah menghantam kepalanya? Mungkin Widya telah mengalami luka dalam. Karena biasanya luka dalam lebih parah daripada luka luar.
Merasa semakin putus asa karena tak mendapatkan respon apa pun dari Widya, ia berniat membopong istrinya itu dan membawanya ke rumah mereka. Saat itulah Radit mendengar pengendara mabuk tadi berteriak-teriak menyalahkan Widya atas kecelakaan itu.
"Aku nggak salah apa pun! Salah si j*lang itu meloncat ke tengah jalan. Dia yang cari mati! Sudah tahu ada motor mau lewat malah meloncat ke hadapanku."
Lalu Radit tak bisa lagi mendengar suara pemabuk itu. Suaranya tenggelam oleh suara beberapa orang yang sedang menyeretnya pergi dari sana. Tidak ingin melepaskan pemabuk itu begitu saja, Radit memanggil Mila, ia meminta tolong pada temannya itu untuk membawa Widya ke rumahnya. Kemudian ia beranjak berdiri dan berjalan cepat menghampiri pemabuk itu.
"Katakan itu sekali lagi, maka kamu akan mendapati dirimu terkubur di dalam tanah." Radit mengguncang-guncangkan kuat tubuh sempoyongan pemabuk itu. "Sudah jelas berbuat salah, kamu malah mengata-ngatai istriku seperti itu."
Dibutakan oleh amarahnya, Radit mengamuk serta meronta-ronta saat beberapa orang akhirnya berhasil menjauhinya dari pemabuk itu. Ia merasa belum puas menghajar pemabuk sialan itu.
"Radit!" seru sebuah suara yang sudah tak asing di telinganya.
Menoleh cepat ke arah sumber suara itu, Radit memandang tak percaya pada apa yang dilihatnya. Widya sedang berdiri ditopang Mila. Dia melemparkan tatapan kesal kepadanya. Kemudian dengan perlahan dilepaskannya dirinya dari topangan Mila, lalu berjalan menghampirinya.
"Kamu pikir kamu ini sedang apa? Kenapa di tengah siang hari bolong begini kamu mengaum-ngaum seperti singa kelaparan?" omel Widya, mengacak pinggang. "Kamu benar-benar membuatku malu!"
Berjalan mendekati istrinya, Radit memeriksa seluruh tubuhnya. Ia harus memastikan bahwa Widya memang baik-baik saja.
Mengerutkan keningnya, Widya menepis tangan Radit yang sedang memeriksamya. "Apa yang kamu lalukan?"
"Kamu sungguh nggak apa-apa? Apa kamu nggak merasa kesakitan di bagian mana pun?"
"Aku baik-baik saja. Untungnya begitu."
__ADS_1
"Apa kamu yakin? Mungkin kamu merasakan sesuatu di sini?" Radit menyentuh belakamg kepala Widya. "Coba ingat baik-baik, apa kamu tadi mengalami benturan di sini?"
Widya menepis tangannya lagi. "Berapa kali harus kubilang, aku baik-baik saja. Justru di sini, kamu yang terlihat nggak baik-baik saja. Suara teriakanmu tadi sangat berisik." Memandangbya dari atas hingga ke bawah, Widya mengamatinya begitu cermat. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu sampai berteriak seperti itu?"
"Apa lagi kalau bukan karena kamu," jawabnya. "Memangnya kamu lupa, kalau beberapa waktu lalu kamu sedang dalam keadaan tak sadarkan diri. Tadi itu kamu benar-benar membuatku takut!"
Bukannya mendengarkan jawabannya itu dengan saksama, Widya malah mengalihkan perhatiannya pada pemabuk yang tadi habis ditamparnya. Mata istrinya itu terbelalak menatap pemabuk yang tak sadarkan itu.
Widya mengarahkan telunjuknya pada pemabuk itu. "Apa yang dilakukan Ikan Lele ini di sini?"
"Kamu ini kenapa tiba-tiba bicara ngelantur sih? Apa mungkin kecelakaan tadi sudah membuatmu kebingungan begini," duganya, mengaitkan tangan Widya di lengannya. "Sebaiknya kita pulang. Kamu perlu istirahat."
Radit sengaja menyeret Widya bersamanya. Istrinya itu nampak masih ingin berada di tempat ini. Terlihat dari keengganannya berjalan di sampingnya.
"Sudah kubilang aku baik-baik saja," sahut Widya, mendongak menatapnya. "Kamu benar-benar lupa ya, Dit? Dia itu laki-laki yang dulu pernah menggodaku. Itu lho yang dulu pernah mau menamparku."
"Maksudmu kejadian sewaktu kita dulu belum menikah?" tanyanya, mulai teringat kejadian saat ia dan Widya bertengkar dulu. "Kamu benar juga, itu memang dia."
"Ternyata selain suka bersikap kasar pada perempuan, dia juga pemabuk berat."
"Jangan pikirkan manusia tak berguna itu lagi. Kita perlu ke rumah sakit untuk memeriksa keadaanmu. Aku takut kamu mengalami luka dalam."
"Nggak usah berlebihan, aku baik-baik saja," protes Widya, menegapkan posisi tubuhnya. "Lihat, aku masih bisa berjalan tanpa merasa sempoyongan sedikit pun. Ini membuktikan bahwa aku sangat sehat."
"Jangan lupa kamu tadi sempat pingsan. Hal itu saja sudah membuktikan bahwa kamu perlu dibawa ke rumah sakit untuk memeriksa keadaanmu," ujarnya mengingatkan.
"Aku? Pingsan? Ya ampun, Dit, itu mustahil!" elak Widya, tertawa meremehkan. "Seumur hidupku, aku ini nggak pernah sekalipun mengalami yang namanya Pingsan."
"Kalau begitu, jelaskan padaku, apa namanya ketidaksadaranmu tadi selain disebut pingsan?"
"Hmm...." Widya berpikir sejenak, "Tidur, mungkin?"
Setelah kejadian menakutkan yang dialaminya tadi--saat takut kehilangan Widya dari hidupnya--Radit akhirnya menemukan kelucuan dari kejadian ini.
"Dari semua alasan yang ada, kamu mengatakan kalau kamu tadi sedang tertidur? Sungguh konyol," tawanya. "Apa alasan konyolmu itu lebih baik daripada mengakui kalau kamu tadi memang sedang pingsan? Sungguh harga diri yang nggak pada tempatnya."
Tidak bisa membantah ejekan itu, Widya hanya bisa mencebikkan bibirnya seraya melepaskan tangannya dari lengan Radit, dan berjalan cepat meninggalkannya. Betapa bahagianya Radit melihat istri pemarahnya telah kembali.
__ADS_1