
Dengan ekspresi kebingungan, Mila menanyakan pada Widya apa maksud dari ucapannya barusan. Menarik napas dalam-dalam, Widya membeberkan peristiwa sebenarnya yang terjadi malam itu di rumah buku. Mengabaikan suara kesiap kaget Mila di sampingnya, Widya tetap meneruskan ceritanya serinci mungkin.
Selesai menyampaikan semua kejadian itu, Widya melirik Mila dari balik bulu matanya. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan temannya itu sekarang, dia terlihat masih mencerna semua cerita itu di kepalanya. Dia menatap kosong pada Widya dengan kedua matanya terbuka lebar tanpa berkedip selama beberapa detik.
Widya sangat memaklumi sikap syok temannya itu. Mungkin dia sedang berpikir apa yang harus dikatakannya setelah mengetahui Radit dan Widya menikah bukanlah karena saling menyukai, melainkan atas dasar keterpaksaan oleh keadaan. Mengulurkan tangan mengambil segelas air di meja, ia meminum air itu sambil menatap Mila dari pinggir gelasnya. Ia tidak ingin Mila tahu jika saat ini ia begitu gugup menunggu responnya.
Mengerjapkan matanya, Mila seolah sadar jika dirinya sudah terlalu lama termenung di hadapan Widya. Berdeham sebentar, dia meluruskan posisi badannya di samping Widya.
"Kalau pun yang kamu katakan itu benar," ucap Mila lambat-lambat.
"Itu memang benar, kejadiannnya memang seperti itu," sela Widya cepat, tidak terima Mila meragukan perkataannya.
"Baiklah, baiklah," tangannya terangkat menyerah. "Meskipun itu benar, itu tetap nggak mengubah apa pun, sekarang ini Radit sudah menjadi suamimu. Walaupun kalian menikah bukan karena rasa ketertarikan, tapi tentunya sekarang sudah nggak begitu lagi, kan?"
"Mungkin," sahut Widya ragu.
"Apa maksudmu dengan mengatakan mungkin?" tanya Mila cepat. "Jangan katakan! Aku nggak mau mendengarnya." Mila menutup kedua telinganya menolak mendengarkan jawaban yang ingin diucapkan Widya. "Bodohnya aku bertanya seperti itu padamu. Itu urusan rumah tangga kalian berdua, aku nggak berhak mencampurinya."
"Kenapa nggak? Jujur saja, Mil, aku sudah mulai agak frustasi nggak bisa menceritakan masalah kehidupan pernikahanku pada siapa pun. Apalagi belakangan ini Radit membuatku agak gelisah oleh sikapnya yang aneh."
"Aneh? Apa dia melakukan sesuatu yang mencurigakan?"
__ADS_1
"Bukan begitu, aku merasa Radit mulai menyukaiku." Suara helaan napas panjang Widya mengisi ruangan itu.
"Itu sih nggak aneh, Wid, justru itu bagus. Aku nggak mengerti pikiranmu, bagaimana bisa kamu menganggap Radit yang mulai menyukaimu sebagai sesuatu yang aneh," geleng Mila menatap heran pada Widya.
"Apanya yang bagus? Aku jadi merinding setiap dia bertingkah...." Kedua mata Widya menerawang ke kejauhan. "Intinya sikapnya itu membuatku nggak nyaman," lanjut Widya sembari menggigil.
"Jadi kamu berharap Radit tetap memperlakukanmu sama seperti saat kalian belum menikah, begitu?"
"Nggak juga sih. Ah, entahlah, aku jadi bingung setelah kamu berkata seperti itu."
"Alangkah baiknya kamu menerima kasih sayang Radit padamu, Wid," saran Mila lembut. "Dengan begitu pernikahan yang awalnya hanya sekadar menutupi skandal, mungkin saja akhirnya menjadi pernikahan yang membahagiakan. Apa kamu nggak memikirkan masa depan rumah tangga kalian kelak? Bukannya aku ingin mengguruimu, aku cuma ingin melihat kedua temanku bahagia."
"Makasih, Mil, aku sangat bersyukur memiliki teman baik sepertimu di desa yang masih terasa asing bagiku ini. Yang kamu katakan benar, tapi aku masih butuh waktu untuk membiasakan diri. Aku selalu merasa kalau pernikahan nggaklah cocok untukku, terlebih lagi mengenai Radit menyukaiku, itu baru dugaanku saja."
Menggenggam tangan Widya erat, Mila memberikan semangat pada temannya. Dia dengan sengaja bergurau untuk menghentikan air mata Widya yang hampir menetes. Untunglah saat itu suara klakson dari luar rumah Widya mengalihkan perhatian mereka berdua.
Beradu tatap satu sama lain, Widya tidak bisa memikirkan siapa yang telah membunyikan klakson di depan rumahnya. Beranjak berdiri, ia mengintip dari celah jendelanya untuk melihat pelakunya. Tertawa senang, Widya segera membukakan pintu rumahnya untuk melambaikan tangan dari ambang pintu pada Ririn dan Ayah Mertuanya, yang balas melambaikan tangan dari dalam mobil.
Turun dari mobil, Ririn segera menghampirinya dan Mila di ambang pintu rumahnya.
"Baguslah ada Kak Mila juga, semakin banyak temanku makin bagus," girangnya mengayunkan lengan Mila. "Nah, ayo siap-siap Kak Widya. Kita hari ini akan pergi ke pusat kota, ayo cepat ganti baju sana."
__ADS_1
Kedua mata Widya berkilat senang mendengarkan pemberitahuan itu. "Benarkah? Oke tunggu sebentar, aku perlu mempersiapkan diriku. Kamu antar Mila ke rumahnya dulu saja untuk berganti pakaian, aku sepertinya perlu persiapan yang agak lama."
Menoleh bolak-balik pada Ririn dan Widya, ekspresi wajah Mila terlihat kebingungan. "Aku nggak perlu ganti pakaian, menurutku penampilanku baik-baik saja. Lagi pula kasihan Ayahmu harus memutar balik mobilnya untuk mengantarku ke rumah."
Memandang dari ujung kaki hingga kepala, Ririn menatap skeptis pada Mila. "Mungkin Kak Mila baik-baik saja, tapi aku nggak. Ayolah, nggak usah sungkan begitu, kita ini sudah seperti keluarga, nggak perlu segan begitu. Aku juga yakin Ayahku pasti nggak keberatan," menyeret Mila bersamanya, Ririn memaksanya masuk ke dalam mobil. "Ayah, kita ke rumah Kak Mila dulu supaya dia bisa berganti pakaian. Kak Widya perlu waktu untuk bersiap-siap jadi kita antar Kak Mila dulu ke rumahnya, setidaknya Kak Mila nggak akan membutuhkan waktu lama untuk bersiap-siap seperti Kak Widya."
"Oke," setuju Pak Benny membentuk tanda OK di jemarinya.
Mila yang duduk di belakang segera meminta maaf pada Pak Benny, yang sedang menyalakan mesin mobilnya. Permintaan maaf itu ditolak oleh Pak Benny, sebab dia sudah menganggap Mila seperti anaknya sendiri. Mendengarkan tanggapan Pak Benny itu, Ririn yang duduk di kursi depan samping Ayahnya langsung mengejek Mila, yang berlagak sok tidak nyaman.
Meskipun keduanya berdebat mulut, mereka tidak lupa melambaikan tangan pada Widya sebelum pergi ke rumah Mila. Membalas lambaian tangan itu sebentar, Widya bergegas ke dalam rumahnya setelah mobil Pak Benny mulai berjalan. Otaknya berputar memikirkan apa saja yang harus dibawanya selagi melemparkan berbagai macam pakaian dari lemarinya ke atas kasur.
∞ ∞
Merogoh saku celananya, Radit mencari-cari kunci rumahnya dengan perasaan jengkel. Semakin lama dia mulai kesal selalu membuka pintu untuk dirinya sendiri, ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap Widya yang selalu jarang membukakan pintu untuknya.
Apa gunanya memiliki seorang istri cantik jika dirinya selalu jarang disambut begitu manis oleh istrinya itu? Apakah begitu susahnya berusaha menyenangkannya setelah ia pulang kerja? Yah, mungkin saja itu susah bagi orang seperti Widya, yang menganggapnya tidak lebih dari seorang teman serumah saja.
Menyentak kasar kuncinya yang tersangkut di saku celananya, suasana hati Radit bertambah muram mendengar suara sobekan di saku celananya. Baguslah, mungkin dengan begini aku bisa menyuruh istriku tercinta menjahitnya. Sambil menggerutu, ditariknya kembali kunci miliknya dari lubang kunci pintu rumahnya.
Menyusuri koridor rumahnya, Radit memanggil Widya berulang kali. Karena tidak mendapat tanggapan, ia mengira Widya sedang tertidur di dalam kamarnya. Berjalan mendekat ke pintu kamar Widya, diketuknya pintu kamar istrinya sebentar sebelum membukanya. Kegelapan memenuhi ruangan itu, hanya secercah cahaya dari lampu ruang keluarganya yang membantu Radit melihat kekosongan di kamar itu.
__ADS_1