
Terbangun dari tidurnya, Radit mendengar suara deritan pintu dari kamar Widya yang berada di sebelahnya. Melirik jam weker di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, jam di sana menunjukkan kalau sekarang masih jam 4 subuh. Apa gerangan yang dilakukan Widya di waktu sepagi ini? Memusatkan pendengarannya, Radit mendengar suara pintu menutup pelan berasal dari arah ruang tamunya.
Menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, Radit segera berlari keluar kamarnya. Lalu ia membuka pintu kamar Widya yang menutup di sebelahnya, dan apa yang dilihatnya di kamar itu persis seperti apa yang dia pikirkan. Koper milik istrinya tidak ada di sana, istri pembangkangnya kabur lagi. Menghempaskan tubuhnya telentang di atas kasur Widya, ia menatap kosong pada langit-langit kamar istrinya.
Sejenak terpikir olehnya untuk berlari mengejar Widya, tetapi niatnya itu segera diurungkannya. Cukup sudah, ia tidak akan lagi menjemput istri pembangkangnya itu dari rumah neneknya, biar saja dia di sana selama yang dia inginkan.lagi, setiap ada masalah, dia selalu saja bertindak kekanakan dengan kabur dari rumah, berharap Radit akan selalu datang membujuknya agar pulang. Kali ini ia tidak akan mengalah, Widya harus sadar kalau kebiasaan kaburnya ini bukanlah sebuah penyelesaian dari permasalahan rumah tangga mereka berdua. Sembari memikirkan itu, Radit tidak sadar lambat laun dirinya tertidur pulas di atas kasur Widya.
∞ ∞
Memasuki halaman peternakannya dengan langkah tergesa-gesa, Radit tahu kalau sekarang dia menjadi bahan tontonan para pekerjanya. Bagaimana tidak? Matahari sudah bersinar terik di atas langit, dan dia baru saja datang bekerja, sungguh pemandangan yang tidak bisa dilewatkan. Ini semua akibat ulah istri pembangkangnya yang kabur dari rumah di tengah pagi buta.
Radit benar-benar tak menyangka akan tidur selama itu di tempat tidur Widya. Namun, mengingat istrinya sering tidur tak tahu waktu setiap tidur di atas kasurnya, itu mungkin saja. Barangkali tempat tidur istrinya itu mengandung obat tidur yang selalu membuat orang tertidur lelap ketika membaringkan tubuhnya di sana. Menggeleng kuat kepalanya karena pemikiran bodohnya itu, Radit tidak sadar kalau dia menyekop kotoran sapi dengan kasar sehingga membuat kotorannya melayang terbang ke segala tempat.
"Apa yang sudah diperbuat kotoran sapi itu sampai membuatmu melemparnya begitu kasar? Siapa pun yang melihatmu akan mengira sapi ini sudah membuatmu kesal karena sudah membuang kotoran sembarangan," kekeh Deni, mengambil alat sekop dari tangan Radit.
"Aku lagi nggak ada mood untuk bercanda, Den," ketus Radit, berjalan ke pagar kandang untuk bersandar di sana sejenak.
"Aku bisa melihatnya," ucap Deni santai, tidak terpengaruh dengan sikap ketus Radit. "Aku juga bisa menduga kalau saat ini kamu juga nggak ada mood untuk bekerja, sebaiknya kamu pulang saja, dirimu tak diperlukan di sini. Sikap marah-marahmu itu cuma akan membuat para sapi cantik ini gelisah."
"Hebat sekali dirimu berani memerintah bosmu sendiri," sahut Radit pura-pura tersinggung.
"Oh, ya tentu. Apa gunanya seorang bos di sini kalau tampangnya bersungut-sungut kayak orang lagi sembelit seperti dirimu," ejek Deni, terkekeh geli dengan perbandingan yang diutarakannya. "Pulanglah, selesaikan masalahmu dengan istri cantik jelitamu itu dulu."
"Aku sudah nggak peduli lagi dengannya, terserah dia mau apa lagi, aku sudah muak mengurusinya."
"Kali ini apa lagi yang terjadi pada kalian? Aku dengar kalian bertengkar hebat di rumah setelah kamu membelanya mati-matian di depan semua orang, ngelawak, Dit?"
Memberengut kesal oleh ejekan itu, Radit mengambil kembali sekop dari tangan temannya.
"Kerjakan tugasmu sana! Aku nggak ingin mendengar celotehan menyebalkanmu mengenai tindakanku."
"Yang menyebalkan itu bukan celotehanku, tapi watakmu itu yang menyebalkan. Sebagai seorang lelaki yang sudah menikah lebih lama dari dirimu, tentunya aku lebih berpengalaman dalam menghadapi seorang istri daripada dirimu yang masih amatiran."
__ADS_1
"Ye, ye, ye, Pak Tua," ledek Radit. "Aku bisa mengatasi rumah tanggaku sendiri, aku nggak perlu bantuanmu. Aku sangat berterima kasih oleh tawaranmu, tapi untuk saat ini aku yakin bisa menyelesaikan masalah rumah tanggaku sendiri."
"Baiklah. Kalau kamu sudah berkata seperti itu, aku nggak bisa memaksamu lagi. Semoga kalian cepat berdamai," ujar Deni, memberikan semangat dengan menepuk punggung Radit kuat.
Menggerutu kesakitan oleh tepukan keras itu, Radit berteriak kesal pada Deni yang berlari tertawa terbahak-bahak meninggalkannya. Kembali melanjutkan pekerjaannya, sekopannya terhenti di udara saat salah satu pekerjanya memanggilnya. Dia mengatakan pada Radit bahwa ada hal mendesak yang membutuhkan perhatiannya. Meletakkan kembali sekopnya, ia mengikuti pekerjanya untuk segera menyelesaikan hal mendesak yang dikatakannya.
Hari belum terlalu sore saat Radit pulang ke rumahnya. Mengecek kembali ke dalam kamar Widya, ia masih mendapati bahwa istrinya masih belum pulang juga. Sepertinya kali ini ia memang harus mengalah lagi, saling bersikeras tidak ingin mengalah satu sama lain begini, bukanlah sikap yang bijaksana. Apalagi ia adalah kepala keluarga di rumahnya, tentunya ia jugalah yang harus bersikap lebih dewasa di antara mereka berdua. Menerima takdirnya sebagai pihak yang selalu mengalah, Radit menutup kembali kamar Widya dengan perasaan lelah.
Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, Radit bergegas keluar rumah untuk menjemput Widya dari rumah neneknya. Mengetuk pelan pintu rumah Nenek Aya, ia menunggu Nenek Aya membukakan pintu. Namun, tidak seperti biasanya, Nenek Aya tidak juga menampakkan dirinya. Padahal biasanya saat Widya kabur dari rumah seperti ini, Nenek Aya selalu cepat membukakan pintu untuk dirinya.
Dengan tidak sabar, Radit mengetuk kembali rumah Nenek Aya sambil memanggil. Untungnya, kali ini berhasil, Nenek Aya membukakan pintu rumahnya, tetapi dengan raut wajah yang terlihat sehabis bangun tidur. Anehnya, ekspresi kebingungan pun tampak jelas di wajahnya saat memandang Radit, seolah-olah dia tidak mengharapkan kehadirannya di sana.
Akhirnya, mereka berdua pun saling beradu tatap kebingungan. Radit tidak mengerti sama sekali kenapa Nenek Aya menatapnya seperti itu. Rasanya aneh kalau Nenek Aya tidak mengharapkan kedatangannya sama sekali. Meliukkan badannya, ia melihat ke dalam rumah Nenek Aya yang terlihat begitu sunyi bahkan kamar yang biasanya ditempati Widya untuk bersembunyi terlihat terbuka.
"Kamu cari apa, Dit?"
"Lho bukannya... Widya ada di sini, kan?" tanya Radit dengan nada sedikit ragu-ragu.
"Widya?" tanya Nenek Aya balik. "Memangnya Widya bilang dia mau ke sini ya?"
"Kamu ini ada-ada aja, Dit, baru umur segini kok udah pikun," kekeh Nenek Aya, menepuk lengan Radit.
Memaksakan sebuah tawa, Radit langsung berpamitan kepada Nenek Aya untuk pergi ke rumah Mila. Ia merasa bukanlah tindakan bijaksana menceritakan aksi kabur Widya kepada Nenek Aya, itu hanya akan membuat Nenek Aya khawatir. Tetapi, yang menjadi pertanyaannya sekarang, ada di mana Widya? Radit tidak bisa memikirkan satu tempat pun istrinya itu akan pergi ke mana selain tempat neneknya. Rasanya mustahil dia pergi ke kota mengunjungi orang tuanya saat pagi buta.
Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Radit tidak sadar kalau dirinya sedang berjalan ke arah rumah Mila. Termanggu diam memandang rumah Mila, ia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Otaknya cuma dipenuhi dengan pikiran berbagai kemungkinan tempat yang akan didatangi Widya.
Lalu pintu rumah Mila membuka dan temannya itu terlihat terkejut mendapati Radit berdiri seorang diri di halaman rumahnya.
"Kenapa kamu ada di sini, Dit?" tanya Mila, bergegas mendekatinya. "Ada yang ingin kamu sampaikan padaku?"
"Itu aku... anu... aku...." linglung Radit, melihat ke sana kemari. "Apa Widya ada menghubungimu?"
__ADS_1
"Nggak ada, dia nggak ada menghubungiku sama sekali," jawab Mila, menatap penuh pertimbangan pada Radit. "Malahan aku yang menghubunginya, tapi dia nggak menjawab teleponku sama sekali. Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?"
Kemudian dengan cepat Radit menceritakan semua yang terjadi padanya dan Widya kemarin pada Mila, berharap temannya itu bisa menemukan solusi untuknya.
"Nggak heran Widya kabur dari rumah kalau kamu menuduhnya seperti itu." Mila menggelengkan kepalanya pada Radit. "Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu sih, Dit. Aku kasih tahu ya, Widya itu nggak pernah sekali pun memprovokasi kedua nenek sihir itu, justru kedua nenek sihir itu yang duluan cari masalah, aku saksi matanya."
"Jadi, kamu melihat sendiri Tika dan Nita memprovokasi Widya duluan?"
"Yah kalau soal itu sih aku nggak melihat langsung, tapi... aku melihat dengan kedua mataku sendiri mereka merampas masker dari wajah Widya dengan kasarnya," ucap Mila berapi-api, seolah mengingatnya saja sudah membuatnya kesal lagi. "Aku nggak perlu melihat siapa yang memulai, sebab siapa pun yang berkelahi dengan kedua nenek sihir itu pasti mereka lah yang memulai."
"Kenapa kamu bisa begitu yakin?"
"Tentu saja aku yakin! Ini berdasarkan pengalamanku sendiri, dasar kamu cowok nggak tahu apa-apa!" bentak Mila.
Pertama kalinya dibentak oleh temannya yang selalu terlihat lembut itu, Radit tersentak mundur sembari menyentuh dadanya terkejut.
"Maafkan aku. Aku nggak bermaksud membentakmu, aku cuma terbawa emosi," senyum Mila cengengesan.
"Baru pertama kali ini aku melihatmu berteriak seperti itu. Aku pikir kamu tadi kerasukan setan."
"Salahmu sendiri sih jadi cowok kok buat frustasi. Wajar saja Widya mengamuk padamu, melihat sikapmu yang nggak peka ini. Sedikit-sedikit tanya 'Apa Kamu Yakin?' ck sungguh menjengkelkan."
"Sepertinya berteman dengan Widya membuatmu jadi terlihat seperti dirinya, bentar-bentar emosian," balas Radit, mendecakkan lidahnya.
"Sudah sana pergi cari Widya! Terlalu lama berbicara denganmu cuma membuatku makin emosi saja," keluh Mila, mendorong badan Radit.
"Kalau begitu, sampai bertemu lagi."
"Ya, sampai ketemu lagi." Mila melambaikan tangannya dengan riang.
Menatap punggung Radit dengan muram, Mila menunggu temannya itu menghilang dari pandangannya sebelum berbalik kembali ke rumahnya. Terduduk lesu di lantai depan pintu rumahnya, Mila menyandarkan tubuhnya di daun pintu rumahnya sembari menatap sendu pada tempat Radit berdiri tadi.
__ADS_1
Kerja bagus, kamu sudah berusaha dengan baik. Bersikaplah selalu seperti itu, jangan lagi menyimpan perasaan padanya. Kalian berdua tidaklah berjodoh, buang jauh-jauh cinta monyetmu itu.
Selama ini apa yang dikatakan semua orang benar, cinta pertama memang tidak pernah berhasil. Setitik air mata menetes di tangan Mila.