
Selama beberapa saat Widya menghabiskan waktunya dalam pertemuan reuni sekolah suaminya, dengan menjawab berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan teman-teman suaminya itu padanya. Lebih lama lagi di sini mungkin bibir Widya akan robek karena berusaha sebaik mungkin memasang senyuman riang di wajahnya.
"Hentikan sesi tanya-jawab kalian ini. Apa nggak ada hal lain yang bisa kalian bicarakan, selain menganggu istriku dengan banyaknya pertanyaan yang kalian ajukan padanya," tegur Radit, memberikan tatapan peringatan pada semua orang yang ada di meja makan.
Setidaknya suaminya ini cukup sadar diri kalau kesabarannya sudah mulai habis menghadapi teman-temannya yang penuh rasa ingin tahu itu.
Di bawah meja makan Widya merasakan Radit meremas pelan tangannya yang berada di atas pangkuannya. Seketika sekujur tubuh Widya tegang merasakan sentuhan suaminya itu.
Mungkin dia berniat menenangkan Widya agar meredakan rasa kesalnya pada teman-temannya. Tetapi, dia tidak menyadari kalau sentuhannya itu hanya membuat Widya ingin menepis tangannya dengan kasar.
Sangat memuakkan mendapati suami penyelingkuhnya ini masih berani menyentuhnya seintim ini setelah dia kepergok menemui mantan kekasih tercintanya, yang sekarang ini sedang menunduk muram menatap minumannya.
"Aku baik-baik saja. Kamu nggak perlu menegur temanmu seperti itu," bisik Widya, memaksakan senyuman manis di wajahnya sembari meremas balik tangan Radit di atas pangkuannya.
"Senyuman palsumu itu nggak bisa menipuku. Aku tahu kamu sangat terganggu dengan semua pertanyaan ini," balas Radit berbisik, menyipitkan matanya tanda tak percaya pada Widya.
"Lihatlah pengantin baru ini! Mereka nggak segan sama sekali menunjukkan kemesraan mereka di depan kita," seru salah satu teman Radit.
Cukup sudah! Saatnya mengakhiri pembicaraan tak penting ini.
Melepaskan tangannya dari genggaman suaminya, Widya mengaitkan tangannya dengan manja di lengan suaminya.
"Seperti yang kalian lihat. Suamiku ini memang nggak pernah segan menunjukkan kasih sayangnya padaku di depan orang lain," setuju Widya, memberikan senyuman semenawan mungkin pada suaminya. "Lihatlah wajahnya yang terpahat bagaikan bongkahan batu ini langsung berubah menjadi mentega cair saat melihatku memberikan kejutan padanya. Bukankah begitu, Suamiku, kamu senang aku datang kemari, kan?"
Mencubit keras pipi suaminya dengan sebelah tangannya, Widya menunggu tanggapan apa yang akan diberikan suaminya itu.
"Tentu saja aku senang." Radit melepaskan cubitan Widya dari pipinya. "Memangnya aku harus bereaksi seperti apa lagi?"
Widya bisa melihat tatapan pertanyaan dari mata suaminya itu. Dia terlihat kebingungan dengan pertanyaan terselubung yang dilontarkan Widya padanya.
Ah, jadi begitu. Kamu tetap mau bersikap sok polos di hadapanku. Baiklah, kalau itu maumu, maka aku akan meladeni sandiwaramu ini dengan sama polosnya juga.
"Terkejut mungkin. Misalnya kunjungan dadakanku ini telah mengganggu pertemuan rahasiamu dengan seseorang."
Seraya mengucapkan hal itu, Widya melirik penuh makna pada seorang perempuan, yang sedari tadi tetap diam di tempat duduknya.
Semuanya yang berada di meja makan itu mengikuti arah tatapan Widya. Kala itu juga semuanya terdiam membisu menyadari maksud dari ucapannya. Bahkan ada yang sampai tersedak minumannya. Yang tidak lain seorang lelaki yang duduk di sebelahnya.
Deni, sahabat karib sekaligus pegawai suaminya itu, seluruh wajahnya terlihat begitu kemerahan, seolah-olah dia yang sedang tertangkap basah berselingkuh, bukannya suami tak tahu malunya ini.
Tidak merasa nyaman dengan tatapan tajam Widya padanya, mantan pacar suaminya itu memaksakan bibir merah mencoloknya itu untuk tersenyum padanya. Yang sayangnya tidak berhasil. Sebab senyuman yang dia tujukan padanya terlihat begitu canggung.
__ADS_1
Puas telah mempermalukan perempuan munafik itu, Widya mengalihkan perhatiannya kembali pada suaminya.
"Ya ampun. Kenapa suasananya jadi suram begini?" ucap Widya, pura-pura tidak menyadari keadaan suram itu diakibatkan oleh ucapannya barusan. "Aku hanya bergurau. Aku nggak tahu kalau gurauanku akan membuat suasananya jadi suram begini."
"Bergurau, katamu?" tanya Radit, tidak mempercayai sedikit pun kebohongannya. "Entah kenapa aku nggak merasakan nada gurauan dalam ucapanmu barusan."
"Oh, ayolah! Kenapa kamu jadi sinis begini padaku?" Widya menarik-narik manja lengan baju suaminya. "Nggak ada alasan kamu sinis begini padaku. Kecuali... ucapanku barusan sudah menyinggung seseorang, yang membuatmu jadi kesal begini padaku."
"Widya!" seru Radit, melemparkan tatapan menegur padanya. "Cukup sudah omong kosongmu ini. Lebih baik kita pulang saja, kalau kamu terus melantur begini."
Berdiri dari tempat duduknya, Radit memaksanya agar berdiri juga dengan menarik pergelangan tangannya.
Melepaskan genggaman Radit dari pergelangan tangannya, Widya kembali duduk di tempat duduknya dengan tenang. Tidak terpengaruh sedikit pun oleh amukan Radit padanya.
"Pestanya belum selesai. Jadi, nggak ada alasan bagiku untuk pergi dari sini sekarang juga," ucap Widya, mengendalikan nada suaranya setenang mungkin. Meskipun yang ia inginkan sekarang ini adalah balas berteriak pada suami sok berkuasanya itu. "Kalau kamu mau pulang, kamu bisa melakukannya seorang diri. Aku masih mau di sini."
"Kalau kedatanganmu ke sini hanya untuk membuat keributan, maka sebaiknya kamu urungkan niatmu itu. Di sini bukan tempat bagimu meluapkan amarahmu yang tak berdasar itu," ujar Radit memperingatkan. "Kita bisa membicarakan hal ini di rumah."
Mendongakkan kepalanya, Widya berdecak pada suaminya.
"Memangnya apa yang perlu kita bicarakan, Suamiku?" tanya Widya polos. "Tak ada hal yang perlu kita bicarakan di rumah, atau di mana pun. Dan, berhentilah bersikap seperti seekor sapi yang nggak diberi makan. Kamu telah menakuti semua orang yang ada di sini."
Widya memutar bola matanya atas sikap heboh Radit.
"Apa katamu? Sapi? Kamu... kamu...." Radit kehabisan kata-kata mendengarkan ejekan itu.
Lalu suasana tegang di meja makan itu pun berubah menjadi gelak tawa. Semuanya ikut mengejek Radit dengan sebutan yang dilontarkan Widya tadi padanya.
"Inilah akibatnya kalau kamu nggak bisa mengendalikan sifat pemarahmu itu. Sekarang lihatlah kamu jadi bahan tertawaan oleh yang lain," ucap Widya, tersenyum meledek pada suaminya.
"Dan kalau kamu lupa, berkat siapa aku mendapatkan gemuruh tawa ini," gerutu Radit. "Lanjutkan tawa menyebalkan kalian. Aku mau ke WC dulu."
Setelah menyampaikan hal itu, Radit berjalan keluar untuk mencari WC yang terletak di luar rumah makan itu.
Kemudian pembicaraan di meja makan itu berlanjut lagi seperti sedia kala. Dari sudut matanya Widya menangkap sosok Nadin yang sedang berpamitan pada yang lain untuk pergi keluar juga.
Aha! Li**hatlah rubah tidak tahu malu itu. Berani sekali dia diam-diam pergi keluar untuk mengikuti suaminya. Oh, atau mungkin ini salah satu rencana mereka. Bisa saja mereka merencanakan hal ini supaya bisa berbicara dengan leluasa tanpa ada yang melihat.
Widya tidak akan tinggal diam begitu saja. Ia akan memergoki pertemuan rahasia kedua pasangan penipu itu. Sayangnya, tidak mudah baginya untuk lepas dari pertanyaan tak berujung dari orang-orang di sekitarnya.
Mengambil tindakan darurat, Widya menginjak keras kaki Deni, yang berada di bawah meja. Sontak saja Deni menjerit kesakitan oleh injakan itu
__ADS_1
"Sepertinya ada hal yang ingin disampaikan Deni pada kalian. Bukankah begitu?" Senyum Widya tak berdosa seraya memberikan kode pada Deni agar mengambil alih pembicaraan itu.
Untunglah dia segera memahami kode dari Widya. Dengan sigap dia mengalihkan semua perhatian padanya, selagi Widya menyelinap diam-diam menyusul Radit dan Nadin, yang pastinya sekarang ini sedang melepaskan rindu di luar sana.
Usai bertanya letak WC pada kasir yang berada di depan, Widya berjalan begitu tergesa-gesa saat ingin berbelok ke samping rumah makan. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengarkan samar-samar obrolan di belokan itu.
Bersembunyi di balik tembok, Widya mengintip ke tempat suara itu berasal. Tak jauh dari tempatnya bersembunyi, ia melihat Nadin sedang berdiri membelakanginya. Di depannya berdiri suaminya, Radit, memandang terkejut pada mantan pacarnya itu.
Dari ekspresi keterkejutannya itu, Widya menduga kalau suaminya itu tidak mengharapkan kemunculan Nadin di sana. Yang berarti, suaminya itu tidak merencanakan pertemuan itu.
Desahan lega meluncur keluar dari mulut Widya. Setidaknya dugaannya salah, mereka berdua tidak merencanakan pertemuan ini sama sekali.
Sadarlah Widya! Sekarang ini bukan saatnya bagimu untuk merasa lega. Pertemuan tak terduga ini belum sepenuhnya membuktikan kalau Radit tidak bersalah sama sekali.
Kembali memusatkan perhatiannya pada kedua pasangan yang berada di hadapannya, Widya berusaha mendengarkan pembicaraan mereka dari tempatnya bersembunyi.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Radit, merasa gelisah berada berdua saja bersama Nadin di sana.
"Aku nggak punya cara lain lagi, selain menemuimu diam-diam seperti ini. Ada hal yang ingin kusampaikan. Sebenarnya...."
"Aku nggak peduli sama sekali apa yang ingin kamu sampaikan padaku." Radit mengangkat tangannya, menghentikan Nadin untuk melanjutkan kalimatnya. "Kamu berada di sini saja sudah membuatku merasa nggak nyaman. Aku nggak ingin orang lain melihatku berdua saja denganmu di sini. Apalagi untuk berbicara padamu."
Usai mengucapkan hal itu, Radit berjalan melewati Nadin. Kemudian tangan Nadin terulur menggenggam pergelangan tangan Radit. Mencoba menghentikannya pergi dari sana meninggalkannya.
"Kamu harus mendengarkan ucapanku sampai selesai. Kamu perlu tahu hal yang sebenarnya," bujuk Nadin, menatap memelas pada Radit.
Sialan! Berani sekali jal*ng itu menyentuh suamiku.
"Aku nggak perlu tahu hal yang sebenarnya, dan nggak penasaran sama sekali apa yang ingin kamu sampaikan!" tegas Radit, melepaskan pegangan Nadin dari lengannya.
Bagus. Tinggalkan jal*ng sialan itu sekarang juga. Atau aku sendiri yang akan menyingkirkannya untukmu.
"Nggak! Kamu perlu tahu hal ini," ujar Nadin ngotot, kembali meraih pergelangan tangan Radit. "Aku berbohong soal pernikahanku tadi."
What? Nikah? Apa pula maksud rubah sialan itu?
Pemberitahuan itu cukup menghentikan Radit, yang tadinya berniat melepaskan genggaman Nadin di lengannya lagi.
Semakin lama Widya mendengarkan pembicaraan penuh teka-teki ini, ia semakin dibuat geram setiap waktunya. Terlebih melihat tangan suaminya yang sedang menggenggam balik tangan Nadin. Saatnya pertemuan rahasia ini berakhir.
"Sayang, kamu di sana ya. Kenapa lama sekali?" Widya berseru riang menghampiri suaminya.
__ADS_1
Dari tempatnya ia melihat Radit dengan cepat melepaskan genggaman tangannya dari Nadin. Lalu bergerak menjauh darinya. Saat membalikkan badan menghadapnya, raut wajah Radit terlihat sangat panik dan gelisah.
Sudah sewajarnya kamu panik. Mengingat apa yang telah kamu lakukan di luar sini bersama rubah itu.