Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Ketidakpercayaan


__ADS_3

Setelah kepergian Radit dan Widya, para warga yang menonton pun segera pergi juga untuk kembali melakukan aktivitas mereka, kecuali Tika dan Nita, yang masih bergeming menatap kepergian Radit dengan raut wajah syok. Menghampiri kedua perempuan berpenampilan sangat kacau itu, Gilang menyadarkan mereka dari keterkejutannya.


"Kenapa kalian masih berdiam diri di sini, apa kalian nggak malu dengan penampilan kalian yang seperti orang gila ini?" Gilang mengambil sedikit seuntai rambut Tika yang tergerai kusut.


Menepis tangan Gilang kasar, Tika merengut kesal. "Yang gila di sini bukan kami, tapi Radit dan istri sialannya itu!"


"Perempuan kasar itu sudah meracuni pikiran Radit," gumam Nita menatap kosong ke arah tempat Radit dan Widya pergi tadi.


"Yang kasar justru kalian!" seru Mila dari arah belakang Gilang.


Menoleh dari balik bahunya, Gilang melihat Mila mengarahkan jari telunjuknya dengan mata berkilat marah. Tangan kirinya terkepal di sisi tubuhnya, seolah menahan dirinya agar tidak menghajar Tika dan Nita saat itu juga. Sendi yang berdiri di sampingnya segera menenangkan Mila. Namun, yang didapatkannya hanyalah tatapan kemarahan dari Mila.


"Eh Mil, kamu nggak usah ikut campur deh, urus aja tuh calon suamimu," balas Tika ketus.


"Apa kamu bilang!?" toleh Mila menatap geram. "Kamu tuh yang harusnya urus dirimu sendiri! Ngaca dong, Radit itu nggak akan pernah melirik cewek sok cantik kayak kamu."


"Dasar kamu cewek sialan! Berani-beraninya kamu menghinaku," seru Tika murka.


Dengan cepat Gilang menghalangi Tika yang bergerak maju untuk menyerang Mila. Di belakangnya pun Sendi juga melakukan hal yang sama, dia menahan Mila agar tidak menyerang balik Tika juga.


"Apa yang kalian berdua lakukan, apa kalian berniat menarik perhatian semua orang lagi?" tegur Sendi, menahan tubuh Mila sekuat tenaga.


"Bodo amat orang-orang melihat, aku sudah nggak tahan lagi dengan tingkah mereka berdua. Cukup sudah aku menahan diri dari hinaan mereka selama ini," ronta Mila mencoba melepaskan pegangan Sendi dari tubuhnya.


Menyentuh pelan lengan temannya, Nita tersenyum mengejek pada Mila. "Jangan buang waktumu untuk meladeni perempuan tak tahu diri itu, Tik. Apa kamu lupa? dia itu cuma rempahan tak berguna yang sengaja berkeliaran di sekeliling istri Radit demi bisa mencari celah menggoda Radit agar mau berselingkuh dengannya."


Kedua mata Mila membeliak terkejut mendengarkan tuduhan keji itu. "Aku nggak seperti itu!"


"Elak saja terus, nyatanya kamu masih menyukai Radit, kan? Nggak usah munafik deh," sindir Nita.


"Kamu benar juga, menghabiskan tenagaku untuk orang sepertinya hanya membuang waktu saja. Ayo kita pergi!" tarik Tika pada pergelangan tangan Nita.


Puas melontarkan tuduhan keji itu, keduanya tertawa gembira saat berjalan pergi meninggalkan Gilang dan Sendi bersama Mila yang terdiam terpaku di tempatnya. Kepalanya menunduk lesu menatap tanah, seolah berharap ada lubang hitam di bawah kakinya agar bisa menelannya saat itu juga. Bahkan dia mendorong Sendi menjauh darinya.


Gilang tidak tahu harus menghibur temannya itu seperti apa, ia merasa jika menghibur Mila bukanlah tindakan yang tepat. Temannya itu terlihat tidak ingin ada yang mendekatinya, apalagi mengajaknya untuk berbicara. Yang sayangnya, tidak disadari oleh Sendi, sebab dia mendekati Mila perlahan untuk menghiburnya.


"Jangan dengarkan perkataan para perempuan berbisa itu, Mil, mereka nggak tahu apa-apa tentangmu. Aku tahu kamu bukanlah orang seperti itu," ucap Sendi, tangannya menyentuh pelan bahu Mila.


Menepis tangan Sendi dari bahunya, Mila bergumam. "Nyatanya apa yang mereka katakan benar, aku memang masih...."

__ADS_1


"Apa kamu bilang?" tanya Sendi, mendekatkan telinganya untuk mendengarkan ucapan Mila.


"Biarkan aku sendiri," lirih Mila semakin tertunduk lesu.


"Mil, jangan lesu gini dong," ujar Sendi khawatir.


Tidak tahan melihat tingkah temannya yang tidak peka itu, Gilang langsung menariknya menjauh dari Mila. Protes dijauhkan dari Mila yang sedang bersedih, Sendi mencoba melepaskan diri dari Gilang. Untunglah di tengah perdebatannya dengan Sendi yang bersikap keras kepala, Gilang melihat Ririn datang mendekat ke arah mereka.


Raut kekecewaan terpampang jelas di wajah Ririn saat dia menjulurkan kepalanya ke sana kemari mencari sesuatu, yang Gilang tidak tahu apa itu. Bahunya merosot turun memandangi Gilang dan Sendi dengan tatapan tak terlalu berminat. Setelah menanyakan apa penyebabnya, Gilang akhirnya tahu bahwa Ririn datang ke sini karena mendengar ada perkelahian menghebohkan yang melibatkan kakak iparnya.


"Ah, sial! Kalau aku nggak terlambat pulang sekolah, mungkin tadi aku masih sempat menyaksikan perkelahian itu," cetus Ririn, menghentakkan kakinya ke tanah untuk melampiaskan kekecewaannya.


"Tontonan tadi nggak baik buat anak-anak sepertimu. Sebaiknya kamu hibur Mila sana! Dia butuh teman, tadi kedua mak lampir yang menyerang kakak iparmu menyerangnya juga," suruh Gilang, menggerakkan kepalanya ke arah Mila yang ada di belakangnya.


Seketika mata Ririn berbinar mendengarkan kabar itu. "Benarkah?"


"Kenapa kamu malah senang begitu? Mila diserang kok kamu malah kegirangan," heran Gilang.


"Aku bukan senang karena Kak Mila diserang, tapi.... Ah sudahlah, Bang Gilang tahu apa sih soal cewek. Mana Kak Mila, kok nggak ada?"


"Lho bukannya dia di belakangku ya?" Menoleh dari balik bahunya, Gilang terkejut tidak menemukan Mila ditempatnya berdiri tadi.


"Oh oke. Kalau begitu aku pergi dulu ya, lanjutkan perdebatan kalian yang tertunda tadi," lambai Ririn riang pada mereka berdua.


∞ ∞


Menyentak lepas tangannya dari pegangan Radit, yang menggenggam pergelangan tangannya begitu erat, Widya berseru lantang jika genggaman tangan Radit menyakitinya. Mengabaikan kekesalan Widya, dia kembali menarik tangannya, tetapi kali ini dengan lembut.


Saat pintu rumah mereka menutup di belakangnya, Radit segera melepaskan pegangannya dari pergelangan tangan Widya. Badannya berbalik menghadap pada Widya dengan postur tubuh tegap dan tegang. Matanya berkilat marah saat bertemu tatap dengan Widya. Menduga kemarahan itu sisa amarah dari rasa kesal pada kedua perempuan yang menyerangnnya tadi, Widya bergerak mendekati sofa untuk duduk di sana. Namun, langkah kakinya terhenti karena sentakan Radit pada tangannya yang begitu kasar.


"Mau ke mana kamu?"


"Ya duduklah, memangnya mau apa lagi? Aku perlu beristirahat setelah pertempuran melelahkan tadi."


Menarik lepas cengkraman Radit dari pergelangan tangannya, Widya mendelik marah oleh sikap Radit yang tidak ingin melepaskan cengkramannya.


"Siapa suruh kamu melakukan pertengkaran yang akan melelahkanmu? Jadi, berdiri saja di sini dan dengarkan perkataanku baik-baik," perintah Radit memasang raut serius.


"Apa lagi yang perlu dikatakan, semua sudah jelas tadi, kedua perempuan gila itu menyerangku duluan."

__ADS_1


"Menyerangmu bagaimana?"


"Kamu lihat ini!" Widya mengangkat maskernya yang sudah kucel dan hancur di hadapan Radit. "Kedua perempuan itu merusak masker kesayanganku."


Mengambil kasar masker itu dari tangannya, Radit melemparkannya kasar ke dinding yang ada di belakangnya.


"Apa yang kamu lakukan!" jerit Widya, menengok ke belakang melihat maskernya yang tergeletak lemas di lantai. "Kenapa kamu melemparkan maskerku seperti itu, apa kamu sudah gila, seperti kedua perempuan itu tadi!?"


"Yang gila itu justru kamu, hanya karena sebuah masker sialanmu itu kamu sampai harus baku hantam dengan kedua perempuan yang baru kamu kenal. Jadi, sebenarnya siapa di sini yang gila?" geram Radit, kedua matanya melotot marah. "Dari awal aku sudah nggak menyukai maskermu itu sejak pertama kali aku melihatnya, aku selalu merasa masker itu suatu saat akan membuatmu dalam masalah, dan nyatanya dugaanku memang benar."


"Aku nggak peduli apa yang kamu rasakan selama ini terhadap maskerku, faktanya kamu memang munafik seperti yang aku pikirkan selama ini," tawa mencemooh terlontar dari mulut Widya. "Konyol sekali tadi aku sempat mengira kamu lebih mempercayai diriku daripada kedua ular berbisa itu. Nyatanya yang terjadi kamu cuma berakting supaya semua orang memandangmu sebagai suami baik yang setia. Aku memang bodoh sudah tertipu oleh tipu muslihatmu, dasar kamu bermuka dua."


Menyentak tangannya, Radit menarik tubuh Widya agar lebih dekat dengannya. Kini wajah mereka begitu dekat, kedua mata Radit berkilat marah menatap mata Widya yang beradu tatap dengannya. Walaupun lehernya terasa sakit mendongak menatap Radit, ia tetap tidak ingin menurunkan pandangannya. Ia begitu geram oleh sikap Radit yang sudah menipunya tadi di depan semua orang.


"Aku nggak seperti itu, aku tadi nggak berakting saat membelamu, aku memang mempercayaimu," elak Radit kesal. "Yang nggak aku percayai di sini ternyata penyebab pertengkaranmu dengan mereka hanya karena masker sialanmu itu. Aku kira mereka sudah menghinamu sehingga membuatmu lepas kendali, tapi ini apa? Masker, apa kamu gila?"


"Maskerku memang menjadi titik penyebabnya tersulutnya emosiku, tapi lebih dari itu sebelum menginjak-injak maskerku begitu kejinya, kedua ular berbisa itu juga menghinaku! Mendengarkan hinaan mereka yang tak ada habisnya membuatku ingin menghancurkan mereka saat itu juga."


Tangan yang tak digenggam oleh Radit terkepal begitu erat di hadapannya untuk menunjukkan seberapa kesalnya Widya saat itu.


"Apa kamu yakin mereka duluan yang menghinamu, apa bukan kamu yang memulai duluan?" ragu Radit, mengerutkan keningnya. "Bukan karena aku nggak mempercayaimu, tapi mengingat sifatmu, aku merasa mungkin saja kamu yang duluan menghina mereka secara tak sengaja."


Menanggapi respon Radit yang meragukannya, Widya menendang tulang keringnya begitu kuat hingga Radit menjerit kesakitan. Umpatan kekesalan terlontar keluar dari mulut Radit merasakan sengatan di tulang keringnya yang tidak diduganya sama sekali.


"Apa tadi kamu bilang, mempercayaiku? Ha! Omong kosong," ucap Widya tersenyum miring. "Percayai saja apa yang kamu percayai, aku nggak peduli sama sekali apa yang kamu pikirkan tentangku."


Membalikkan badannya, Widya berjongkok mengambil maskernya yang dilemparkan Radit tadi dari lantai. Lalu melangkah pergi meninggalkan Radit yang mendesis kesakitan di belakangnya untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Widya, kembali ke sini kamu! Aku belum selesai berbicara denganmu," teriak Radit marah.


Menoleh dari balik bahunya, Widya tersenyum kecut. "Nggak ada lagi yang perlu aku bicarakan padamu."


"Widya!"


Memasuki kamarnya, ia menjulurkan kepalanya dari samping pintu. "Bicara saja kamu sana dengan para penggemar sialanmu itu. Jangan pernah mengajakku berbicara lagi, dasar kamu lelaki bermuka dua!"


Setelah menyampaikan hal itu dengan balas berteriak, Widya membanting kasar pintu kamarnya. Di dalam kamar Widya langsung berjalan tertatih-tatih ke tempat tidurnya, mengangkat kaki yang dipakainya untuk menendang Radit tadi, ia memijat pelan telapak kakinya. Ia sama sekali tak menduga tulang kering Radit akan menyakiti telapak kakinya juga. Namun, setelah dipikir baik-baik, mungkin saja, mengingat pergelengan kaki suaminya itu lebih besar darinya.


Syukurlah aku bisa menahan rasa sakitnya di depan brengsek itu. Nggak akan aku biarkan dia tahu kalau menendangnya tadi juga menyakitiku.

__ADS_1


Widya tertawa miris mengingat ucapan bodoh Radit tadi. Apa, mempercayaiku? Bagaimana bisa dia mempercayai Widya jika di lain sisi dia juga meragukan dirinya. Dasar brengsek tak jelas. Ia sangat yakin perdebatan mereka tadi pastilah terdengar oleh para tetangganya. Tentunya kabar itu akan cepat tersebar luas sebelum hari menjelang sore. Biar saja, aku nggak akan pernah memaafkannya sebelum dia bertekuk lutut meminta maaf padaku.


__ADS_2