
Siang ini, Widya berniat memberikan kejutan untuk Radit. Ia berniat mengantarkan makan siang untuk suaminya. Kali ini ia sangat yakin Radit akan menyukai rasa masakannya.
Widya sudah memastikan hal itu, sebelum memasukkan makan siang buatannya ke dalam rantang makanan miliknya. Meskipun masakannya belum bisa dibilang enak sekali, tetapi setidaknya, masakannya tidaklah seburuk yang pernah diolahnya dahulu.
Yang merepotkan dari perjalanannya ke peternakan suaminya ini adalah ia harus berjalan kaki ke sana. Namun, tidak jadi masalah, jika ia menikmati perjalanannya, mungkin tanpa disadarinya ia sudah sampai di sana.
Untunglah, Tuhan berbaik hati padanya. Dalam perjalanannya, Widya tidak sengaja berpapasan dengan Ririn, yang baru pulang sekolah mengenakan sepeda motor miliknya.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Widya telah tiba di peternakan suaminya bersama Ririn. Berjalan memasuki perternakan suaminya dengan riang, ia berusaha mencari keberadaan suaminya. Anehnya, ia tidak menemukan Radit di mana pun.
Saat itulah ia melihat Deni, sahabat baik suaminya, sedang sibuk mengarahkan salah satu para pekerja di sana.
"Den, apa kamu melihat Radit?" tanyanya langsung, tanpa berbasa-basi sedikit pun untuk menyapa.
Widya dibuat kebingungan saat Deni terlonjak kaget, sebelum membalikkan badan memandangnya. Padahal ia merasa suaranya tidaklah semenakutkan itu, sehingga bisa membuat seseorang bereaksi ketakutan, seperti yang ditunjukkan Deni padanya sekarang.
Wajahnya terlihat pucat pasi saat memandang gugup padanya. Bahkan, dia berusaha menghindari menatap matanya secara langsung.
Ada apa dengannya? Apa dia salah makan?
"Oy, Bang Deni," panggil Ririn, menjetikkan jarinya di hadapan Deni untuk menyadarkannya. "Kak Widya sedang bertanya padamu, bukannya ingin menangkapmu."
"Aku juga tahu itu," jawab Deni, menatap kesal pada Ririn.
"Kalau sudah tahu, kenapa nggak dijawab?" balas Ririn. "Ini aneh. Sikap Bang Deni ini seperti orang yang sedang ketahuan menyembunyikan sesuatu yang mencurigakan. Iya 'kan, Kak Widya? Kakak merasakannya juga, kan?"
Mengamati Deni lebih cermat lagi, Widya merasa Ririn ada benarnya juga. Sikap janggal Deni saat melihatnya, menunjukkan bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Situasi ini juga semakin janggal, saat Widya teringat tidak bisa menemukan keberadaan Radit di mana pun. Bukankah seharusnya Radit berada di sini untuk bekerja? Tidak mungkin dia masih berada di pusat kota sampai selama ini.
Perasaan dingin mengalir di belakang punggungnya. Entah mengapa, ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi sebentar lagi.
Selama ia sibuk dengan isi pikirannya, Deni dan Ririn sedang berdebat satu sama lain.
"Kalian berdua, hentikan sekarang juga adu mulut kalian!" perintahnya tegas, melemparkan tatapan geram pada keduanya. "Aku menunggu jawabanmu, Den. Di mana Radit, suamiku?"
"A-aku kurang tahu juga," jawab Deni terbata-bata, melirik gugup ke belakangnya. "Rasanya tadi aku melihatnya, tapi, entahlah. Mungkin dia sedang pergi ke suatu tempat nggak jauh dari sini."
"Lho, bukannya tadi si Radit sedang mengobrol dengan teman lamanya ya," celetuk salah satu pekerja, yang tadi diarahkan oleh Deni.
Seketika seluruh tubuh Deni menegang. Dia menolehkan kepalanya seraya menyentuhkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Kalau boleh aku tahu, apakah teman lamanya ini seorang perempuan?" tanya Widya, tersenyum manis pada pemuda yang sedang kebingungan itu.
Karena telah dilarang Deni mengucapkan apa-apa lagi, pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya pada Widya.
Terdengar tarikan napas tajam di sebelahnya. Suara itu berasal dari Ririn, yang saat ini menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Jangan bilang itu Kak Nadin," cicit Ririn, membelalakkan matanya.
"Deni, katakan padaku di mana Radit, sekarang juga!" serunya, kehabisan kesabaran menghadapi aksi bungkam Deni sedari tadi.
"Aku nggak bisa memberitahunya, kalau kamu marah-marah begini," tolak Deni, tetap kukuh tidak ingin mengatakan keberadaan suaminya. "Sebaiknya, kamu tenangkan dulu emosimu, setelah itu...."
"Aku nggak meminta nasehatmu tentang apa yang harus aku lakukan!" potongnya, benar-benar dibuat semakin marah oleh sikap Deni yang menasehatinya. "Katakan padaku, atau aku akan mengobrak-abrik seluruh peternakan ini untuk mencarinya!"
"Kak Widya, tenanglah!" pinta Ririn, ragu-ragu menyentuh lengannya.
Membanting keras bekal makan siang yang telah susah payah dibuatnya ke tanah, Widya melemparkan tatapan geram pada adik iparnya. Dengan cepat, Ririn berlari ke belakang punggung Deni untuk berlindung dari amukannya.
"Bagaimana mungkin, kamu menyuruhku tenang, disaat aku tak tahu apa yang sedang dilakukan Radit bersama mantan pacar sialannya itu!" desisnya murka, mengalihkan pandangannya kepada Deni. "Beritahukan padaku sekarang, atau aku akan menghancurkanmu terlebih dahulu, sebelum mencabik-cabik Radit saat menemukannya nanti. Berani sekali dia melanggar janjinya."
"Dia berada di balik pondok sana."
Deni menujukkan jari telunjuknya gemetar ke arah pondok yang berada tak jauh di belakangnya. Melangkahkan kakinya mantap, Widya bersiap menemui suami dan mantan pacarnya itu di sana.
__ADS_1
"Kita nggak bisa membiarkan Kak Widya seorang diri ke sana. Bagaimana kalau nanti dia membunuh Bang Radit dan Kak Nadin di sana?" ujar Ririn, menarik-narik lengan baju Deni.
"Kamu benar juga. Kita harus berada di sana untuk menengahi pertikaian, yang sebentar lagi akan pecah," setuju Deni.
Keduanya pun berlari mengejar Widya. Berharap dapat menghentikan keributan besar, yang sebentar lagi akan terjadi.
Harapan mereka berdua sungguh sia-sia, sebab di sinilah sekarang Widya. Setelah meluapkan emosinya dengan melemparkan Nadin ke tanah, ia sudah bersiap menjambak rambut perempuan jal*ng tak tahu malu itu. Padahal sudah jelas sekali ia katakan tadi malam, kalau ia tak ingin lagi melihatnya menemui Radit diam-diam seperti ini.
Kemarahannya semakin bertambah, saat perempuan jal*ng itu tidak juga bangkit dari sana, seakan-akan berharap ada seseorang yang membantunya berdiri. Melihat tingkahnya yang berlagak seperti korban itu, membangkitkan sisi liar dalam dirinya.
"Widya, tenangkan dirimu!" Radit menangkap lengannya, saat Widya ingin mendekati Nadin.
"Kamu nggak berhak berkata apa pun padaku sekarang!" Widya menepis kasar tangan Radit dari lengannya. "Perempuan tak tahu malu ini harus diberi pelajaran lebih dari ini! Setelah itu, baru giliranmu."
Ririn yang sudah pulih dari rasa terkejutnya, segera berlari menghampiri Nadin di tanah untuk membantunya berdiri.
"Apa Kak Nadin baik-baik saja?" ucap Ririn khawatir, menyentuhkan tangannya lembut di lengan Nadin. "Ya ampun! Kak Widya membuatnya menangis!"
Ririn menolehkan kepalanya sembari melontarkan tatapan menuduh padanya.
"Dia sudah menangis, sebelum aku menjatuhkannya!" balas Widya, meninggikan suaranya.
Teriakannya sontak saja membuat Ririn terduduk lemas di atas tanah, seperti Nadin. Sebelah tangannya menyentuh dadanya, seolah begitu terkejut oleh amukan Widya padanya.
"Kak Widya nggak perlu meneriakiku seperti itu. Kakak menakutiku!"
"Aku nggak akan berteriak, kalau saja kamu nggak berteriak padaku!"
"Kalian berdua, berhentilah saling berteriak!" raung Radit murka.
Memalingkan wajahnya menatap Radit tak percaya, Widya menghantamkan kepalan tangannya di dada suaminya.
"Beraninya kamu berteriak sekeras itu padaku! Dasar kamu suami penyelingkuh barbar tak tahu malu!"
"Aku bukan penyelingkuh! Dasar kamu istri penuduh tak tahu yang mana benar!" balas Radit geram.
"Tahan emosimu!" Radit menangkap pergelengan tangannya. "Ini bukanlah tempat bagi kita berdua untuk berdebat. Semua orang yang ada di sini akan mendengarkan kita."
"Berhenti menasehatiku! Kamu sudah nggak berhak lagi mengatur-ngaturku."
"Aku berhak!"
"Nggak!"
"Widya, bersikaplah rasional!" ujar Radit, frustasi menghadapi sikap keras kepalanya. "Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan."
"Memangnya menurutmu apa yang aku pikirkan, hah?"
Tidak tahan melihat perdebatan itu lebih lama lagi, Deni memberanikan diri untuk menengahi.
"Masalah ini kalian bicarakan saja di rumah kalian, jangan di sini," saran Deni, bolak-balik menatap mereka berdua. "Apa kalian nggak melihat, kalau sekarang ini kalian jadi bahan tontonan orang-orang di sini."
"Biar saja semua orang di sini melihat, supaya mereka tahu seperti apa kelakuan bos mereka ini!" sahut Widya, menolehkan kepalanya memandang Deni dingin. "Sekarang urusanku di sini sudah selesai, permisi."
Sebelum melangkah lebih jauh, Widya berhenti sebentar untuk mengatakan hal terakhir yang ingin disampaikannya.
"Untukmu, Ririn, selamat kamu telah mendapatkan kakak ipar baru."
Mengabaikan suara terkesiap di belakangnya, Widya kembali melanjutkan langkahnya. Sebelum sempat keluar dari peternakan, Radit segera menghentikannya dengan menarik pergelangan tangannya.
Tidak senang ada banyak orang memperhatikan mereka berdua, Radit berteriak marah untuk mengusir para pekerjanya, yang sedang serius memperhatikan. Semuanya langsung lari terbirit-terbirit meninggalkan mereka berdua untuk kembali bekerja.
"Lepaskan tangan kotormu dariku!" desis Widya, menarik-narik tangannya dari genggaman Radit. "Urus saja simpananmu itu!"
"Aku nggak akan melepaskanmu, sebelum kamu mendengarkan penjelasanku," tolak Radit tegas, semakin menguatkan genggamannya. "Aku nggak bisa membiarkanmu pergi dengan kesalahpahaman ini. Kita harus menyelesaikannya sekarang juga."
__ADS_1
"Aku nggak butuh penjelasanmu. Semua yang kulihat tadi sudah cukup menjelaskan padaku, kalau kamu telah mengabaikan peringatan dariku."
"Aku akui, aku memang melanggar peringatanmu, tapi aku nggak melakukannya dengan sengaja," ujar Radit membela dirinya. "Aku melakukan hal itu, karena situasinya membuatku harus mengambil tindakan itu. Kamu bisa bertanya pada Deni, jika tak mau mempercayai perkataanku."
"Kalian berdua tak ada bedanya bagiku," ucap Widya sinis. "Dia 'kan komplotanmu, tentu saja, dia akan memihakmu. Aku nggak bodoh, Pak Penyelingkuh."
"Berhenti menyebutku seperti itu! Aku nggak pernah sekali pun menyelingkuhimu."
"Itu katamu," dengus Widya, menatap remeh pada Radit. "Lepaskan aku, atau aku...."
"Atau aku apa? Menggigitku? Menamparku?" tantang Radit, menatap remeh balik padanya.
"Atau aku... akan melakukan ini."
Mengumpulkan segenap tenaganya, Widya mengayunkan kakinya menendang tulang kering Radit. Tentu saja, rencananya berhasil. Radit dengan cepat melepaskan genggamannya, dia mengangkat kakinya yang tadi ditendang olehnya seraya menggosok-gosoknya kesakitan.
Tidak sampai situ saja, demi memastikan Radit tidak bisa mengejarnya, Widya juga menendang kuat sebelah kakinya. Puas melihat hasil perbuatannya, Widya membalikkan badan, meninggalkan Radit berkutat dengan rasa sakit yang ditinggalkannya.
Berulang kali Radit memanggil namanya, tetapi Widya tetap mengabaikannya. Sekarang ini ia hanya ingin menyendiri, jauh dari pandangan semua orang.
°°
Dengan langkah terpincang-pincang, Radit berusaha mengejar Widya. Namun, Deni menghentikannya dengan menarik lengannya. Saat ia ingin memaki sahabatnya itu, Radit terdiam saat melihat Nadin berlari melewatinya dengan wajah berurai air mata.
Meskipun ia sangat kesal pada Nadin, karena telah menyebabkan pertengkaran di antara dirinya dan Widya, ia juga tidak bisa membiarkannya pergi seorang diri seperti itu. Tidak, setelah istrinya menghempaskannya begitu kasar ke tanah.
"Ririn, sebaiknya kamu antarkan Nadin pulang ke rumahnya," pintanya pada adiknya, yang saat ini sedang berdiri di sampingnya. "Sampaikan permintaan maafku padanya atas sikap kasar Widya tadi."
"Lalu, bagaimana dengan Kak Widya? Apa Bang Radit nggak berniat mengejarnya?"
"Turuti saja perintahku, nggak usah ikut campur urusan rumah tanggaku segala," cetus Radit jengkel. "Kamu ini aneh sekali. Tadi kamu menuduh Widya, sekarang kamu malah mengkhawatirkannya. Apa kamu tahu, sikapmu tadi sudah membuatnya sakit hati."
"Aku nggak bermaksud begitu!" elak Ririn, berupaya keras membendung air matanya yang hampir tumpah. "Aku tadi cuma terkejut saja. Lagipula, luka yang kuberikan nggak separah luka yang Abang berikan."
"Kamu benar." Tunduknya lesu. "Jangan ikut menangis juga. Sana pergi urus Nadin! Soal Widya biar Abang yang menanganinya."
"Abang yang membuat keributan, kenapa harus aku yang direpotkan, cih," gerutu Ririn, berjalan pergi meninggalkannya. "Ingat, Bang Radit berutang hal ini padaku."
"Dasar anak nakal, diminta bantuan sedikit saja nggak bisa."
Memandang kepergian adiknya, yang sudah berjalan menjauh, Radit juga bersiap untuk pergi menyusul Widya. Amarahnya bangkit kembali, ketika mengingat Widya bertindak kurang ajar dengan menendang kedua kakinya tadi.
Masalah mereka tidak akan selesai, jika dia bertindak kasar seperti itu, demi menghentikan Radit memberikan penjelasan padanya. Walau bagaimanapun, mereka berdua harus membicarakan hal ini sekarang juga. Menundanya hanya akan memperparah keadaan saja.
"Mau kemana kamu?" tanya Deni, kembali menahannya lagi. "Bukan keputusan yang bagus membicarakan masalah ini, saat kalian berdua saling marah begini. Kalian harus membicarakannya dengan kepala dingin."
"Kamu nggak mengerti, Den. Semakin kutunda membicarakan masalah ini, Widya akan semakin salah paham."
"Dengarkan aku! Kamu nggak akan mendapatkan apa pun, jika berbicara dengannya sekarang juga. Kalian hanya akan saling balas-membalas berteriak nanti. Setidaknya, berikan waktu untuk istrimu agar tenang dulu."
"Bagaimana caranya dia bisa tenang, kalau dia saja belum mendengarkan penjelasanku?"
"Percayalah padaku. Membiarkannya sendiri sekarang adalah tindakan tepat," ujar Deni, menepuk pundaknya. "Selama dia menenangkan diri di rumah, kamu bisa mengontrol emosimu di sini, sebelum menemuinya. Membicarakan permasalahan dengan kepala panas nggak akan menyelesaikan apa pun."
Selama sesaat, Radit memikirkan saran itu. Merasa tak ada salahnya menuruti saran sahabatnya itu, akhirnya Radit mengurungkan niatnya mengejar Widya.
"Aku mengerti," ujar Radit, lalu melangkah pergi.
"Mau ke mana kamu?"
"Mandi," jawabnya singkat.
"Mandi? Kenapa mandi?" tanya Deni heran.
"Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau aku harus mendinginkan kepalaku. Apalagi yang bisa mendinginkan kepalaku ini, selain mengguyurnya dengan air dingin."
__ADS_1
"Oh, kamu benar juga."
Kemudian, Radit pun masuk ke pondok yang berada di perkarangan peternakannya untuk menjernihkan pikirannya. Sebelum masuk ke kamar mandi, ia menoleh sebentar ke jendela yang terbuka, melihat tempat terjadinya hal mengerikan tadi.