
Hari sudah mulai gelap saat Widya melihat Radit keluar dari kamarnya sambil bersiul-siul riang. Tidak seperti biasanya, Radit malam ini berpakaian begitu rapi. Biasanya jam segini, suaminya itu akan berpakaian sangat santai. Namun, kali ini dia berpakaian layaknya orang yang ingin menghadiri pertemuan penting. Bahkan tercium wangi parfum menyengat dari tubuhnya. Dan itu sudah cukup memancing rasa curiganya.
Menelusuri tubuh suaminya dari atas hingga ke bawah, Widya mengamatinya lekat-lekat. Mencoba mencari sesuatu untuk menguatkan rasa kecurigaannya. Saat itulah matanya tertuju pada jari manis Radit.
Di jari manisnya yang biasanya ada cincin pernikahan mereka yang melingkar di sana, ia tidak melihat apa pun di sana. Cincin pernikahan mereka tak ada di sana! Ini sudah cukup menimbulkan berbagai macam kemungkinan di kepalanya.
"Mana cincinmu?" ucap Widya, dengan mata tertuju pada jari manis suaminya.
"Cincin?' tanyanya balik, mengangkat tangannya yang ditatap oleh Widya. "Oh ini. Sepertinya aku melupakannya saat melepaskannya di peternakan tadi siang."
"Lupa? Apa kamu yakin meninggalkannya di sana, bukannya kamu sembunyikan dengan sengaja?" Widya memberikan raut wajah tidak percaya sedikit pun. "Setahuku kamu nggak pernah sekali pun melepaskan cincin itu, meskipun kamu sedang bekerja. Jadi, kenapa sekarang kamu melepaskannya, bukankah ini aneh?"
"Kenapa kamu mencurigaiku begitu?" ujar Radit, merasa tersinggung oleh tuduhan itu. "Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa mengikutiku ke peternakan untuk mengambilnya di sana. Aku nggak berbohong padamu! Aku benar-benar melupakannya."
"Kenapa bisa lupa? Nggak biasanya kamu pikun begini," sindir Widya.
"Kamu ini kenapa sih? Kenapa sejak tadi sore kamu selalu cari masalah denganku?" ujar Radit, bingung oleh sikap ketus Widya padanya. "Sebenarnya apa yang kulakukan sampai kamu jadi sensian begini? Apa aku sudah melakukan kesalahan?"
Ya, kesalahanmu begitu besar. Kamu membuatku haus akan sentuhanmu! Astaga, apa yang aku pikirkan.
"Ini bukannya aku yang sensian. Kamu saja yang menyebalkan," sahut Widya kesal. "Sayang sekali kamu dan Gilang nggak saling adu tinju tadi. Padahal aku sangat ingin melihat wajahmu babak belur olehnya."
"Jangan ungkit hal itu lagi! Aku nggak mau membicarakan soal tadi sore lagi."
"Padahal kamu sendiri yang memulai," gumam Widya. "Baiklah lupakan soal itu. Omong-omong mau ke mana kamu berpakaian rapi seperti ini? Apa kamu ingin bertemu dengan calon pembelimu lagi di suatu tempat?"
__ADS_1
"Bukan, aku mau ke reuni sekolah kami," jawabnya, kembali merapikan penampilannya. "Apa kamu mau ikut? Tempatnya nggak terlalu jauh dari sini."
"Hmm begitu," Widya berpikir selama beberapa waktu. "Ogah ah, kamu saja yang pergi sendiri. Aku nggak suka jadi bahan tontonan teman-teman sekolahmu. Pergilah, aku nggak apa-apa ditinggalkan sendiri di sini."
"Sudah kuduga kamu akan menolaknya. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungiku," ujar Radit, melangkah pergi keluar rumah.
Santai sekali dia pergi meninggalkanku. Biarlah, aku juga nggak ingin mengantarnya sampai keluar.
"Ingat! Ambil dulu cincinmu yang tertinggal di peternakan," seru Widya dari ruang keluarga.
"Iya, aku tahu," balasnya berteriak dari luar rumah.
Lalu tak berapa lama terdengar suara langkah kaki Radit yang berjalan menjauh. Rumah itu pun seketika menjadi hening. Ada sedikit rasa penyesalan Widya telah menolak ajakan Radit tadi. Tetapi, membayangkan dirinya berada di antara kerumunan teman-teman sekolah suaminya, ia rasa itu bukanlah keputusan yang buruk. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian di sana.
Memusatkan kembali perhatiannya pada tontonan di depannya, tidak tahu mengapa, Widya merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ia beringsut gelisah di tempat duduknya sambil mengingat kembali obrolannya dengan Radit tadi. Rasanya seperti ada yang terlewatkan olehnya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu rumahnya. Terlalu kaget, Widya langsung terlonjak berdiri dari tempat duduknya. Apa itu Radit? Kenapa dia kembali secepat ini? Mungkin ada sesuatu yang tertinggal atau dia ingin mengajak Widya pergi bersama dengannya sekali lagi, pikir Widya penuh harap.
Melangkah terburu-buru membukakan pintu rumah, senyum Widya dalam sekejap menghilang saat melihat orang yang ada di balik pintu rumahnya. Yang berdiri di sana bukanlah Radit, melainkan Ririn yang sedang bercucuran keringat. Dia membungkuk, menyandarkan kedua tangannya di lutut sambil menenangkan napasnya yang memburu.
"Kamu kenapa, Rin?"
"Seharusnya aku yang bertanya begitu pada Kak Widya," ujar Ririn, meluruskan tubuhnya. "Kenapa Kak Widya ada di sini?"
"Pertanyaanmu konyol sekali," tawa Widya. "Tentu saja aku berada di sini. Ini 'kan rumahku, memangnya aku harus berada di mana lagi?"
__ADS_1
"Seharusnya Kak Widya sedang bersama Bang Radit ke acara reuni sekolahnya!" hardik Ririn.
"Kenapa aku harus ke acara reuni sekolahnya? Nggak ada kewajiban aku harus menghadiri acara reuni sekolah suamiku," cetus Widya, tidak memahami kelesalan Ririn padanya.
"Memang nggak ada kewajibannya, tapi Kak Widya harusnya menghadiri acara reuni itu," celetuk Ririn, frustasi dengan ketidakpekaan Widya terhadap situasi ini. "Aku nggak tahu apa yang ada dipikiran Kak Widya membiarkan Bang Radit pergi sendiri ke acara reuni itu. Ini benar-benar masalah besar!"
"Berbicaralah yang jelas, jangan mengoceh nggak jelas begitu," keluh Widya, semakin dibuat kebingungan saja. "Bagaimana aku bisa mengerti, kalau kamu saja menjelaskannya berbelit-belit begitu. Langsung saja ke poinnya!"
"Astaga, jadi Kak Widya benar-benar nggak tahu nih?"
"Nggak tahu apa?"
"Di acara reuni kali ini Kak Nadin akan hadir di sana."
"Nadin? Siapa pula itu Nad...."
Widya terhenti melanjutkan perkataannya saat mulai teringat nama itu. Sekarang ia mulai memahami apa maksud Ririn 'Masalah Besar', ini memang masalah besar. Pantas saja dari tadi ia merasa gelisah. Ternyata tanpa disadarinya, Radit telah berhasil mengelabuinya.
Ingatan bayangan perilaku aneh Radit selama beberapa hari ini padanya kini mulai bermunculan bertubi-tubi dalam kepalanya. Semuanya sekarang menjadi jelas. Penyebab suaminya itu tidak pernah berminat menyentuhnya lagi sejak malam itu, ternyata disebabkan mantan pacar pujaan hatinya dulu telah kembali ke desa ini.
Bodohnya lagi ia tidak menyadari hal itu dan mengira perilaku aneh Radit disebabkan karena dia merajuk padanya. Betapa bodohnya Widya selama ini. Sikapnya yang begitu percaya diri mengira memiliki pengaruh sebesar itu terhadap Radit, sungguh memalukan. Pasti selama waktu itu, Radit mentertawakan kebodohannya yang sangat percaya diri ini.
Ajakannya ke reuni tadi pasti juga sudah direncanakannya supaya Widya tidak menaruh curiga padanya. Lagipula dia tadi juga mengatakan, sudah menduga kalau Widya akan menolak ajakannya itu. Berarti dia memang dari awal tidak pernah berniat mengajaknya ke reuni sekolahnya.
Tentu saja Radit tidak berniat mengajaknya, di sana 'kan ada pujaan hatinya. Jika ia tidak ada di sana, mereka berdua bisa dengan leluasa saling melepas rindu, tanpa dilihat olehnya. Bayangan memuakkan itu sudah cukup membangkitkan amarah dalam diri Widya.
__ADS_1