Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Tidak Semulus Perkiraan


__ADS_3

Setelah mengantar kepergian Radit dan ayahnya ke teras depan rumah, Widya dan Bu Gina kembali ke dalam untuk melanjutkan pekerjaan mereka di dapur. Hari ini sebelum Widya pergi ke rumahnya, ia berniat menghabiskan waktunya bersama Ibunya untuk mengajarkannya membuat kue kering.


Tadi pagi ketika Widya mencoba membantu pembantu di dapur memasak sarapan untuk mereka, ia malah membuat pembantunya mengerjakan tugas memasaknya lebih lama lagi. Saat itulah Widya undur diri dari dapur, sebab ia tidak ingin menambah pekerjaan pembantu ibunya lebih banyak lagi. Namun, kali ini ia bertekad akan belajar membuat kue dari ibunya yang sejak dulu sangat ahli membuat kue kering.


Sembari menguleni adonan, Widya berbincang ria bersama ibunya. Begitu banyak hal yang mereka bicarakan hingga mereka tidak terlalu menyadari waktu sudah berlalu begitu cepat. Meskipun hari sudah menjelang sore dan kue kering yang mereka olah bersama sudah selesai, tetapi Radit dan ayahnya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan pulang.


Sebenarnya apa yang mereka lakukan sampai menghabiskan waktu sebanyak ini hanya untuk ke pernikahan saja? Sepertinya ayahnya itu telah keasyikan mengobrol dengan teman-temannya sehingga lupa hari telah mulai gelap di langit, renung Widya muram. Sungguh Radit yang malang.


"Mama tadi sudah menghubungi papamu, katanya mereka sebentar lagi akan pulang," ujar Ibunya, menghampiri Widya yang sedang duduk menunggu di ruang tamu dengan gelisah.


"Entah artian 'sebentar' dalam kamus papa itu berapa lama," sahut Widya skeptis, beringsut gelisah di tempat duduknya, menengok ke arah luar tiada henti. "Awas saja kalau dalam waktu setengah jam mereka belum juga menampakkan dirinya, maka aku akan mendatangi mereka langsung ke sana."


"Maklumi sajalah, Wid. Papamu 'kan jarang sekali bertemu menantunya, jadi wajar saja kalau dia jadi lupa waktu begini," ucap Ibunya, menenangkan Widya. "Memangnya kamu mau ke mana sih, kok tidak sabaran begini? Apa kamu mau mampir ke suatu tempat dulu sebelum pergi ke rumahmu?"


Menghela napas, Widya menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat duduknya. "Rencananya sebelum ke rumah kami, aku mau ke Mall dulu, Ma. Ada beberapa hal yang harus kubeli selagi ada di sini. Kapan lagi Radit punya waktu ke sini? Jadi berhubung aku ada di kota, aku akan memuaskan dahagaku berbelanja."


Tersenyum bahagia, tiba -tiba Ibunya memeluk Widya dengan erat.


"Jangan kelewatan belanjanya," tegur Ibunya. "Mama senang sekali kamu terlihat bahagia dalam pernikahan ini, Wid. Awalnya Mama mengira kamu akan merengek setelah hari pertama pernikahanmu, tapi nyatanya kamu mampu bertahan selama ini."


Melepaskan pelukan Ibunya, Widya menatap Ibunya dengan raut kesal.


"Aku ini bukan anak kecil, Ma. Walaupun pernikahan ini di luar kemauanku, tapi aku masih bisa mengatasinya," ujar Widya, menyombongkan dirinya yang bersikap dewasa. "Ada kalanya Radit membuatku berpikir untuk meninggalkannya, tapi aku masih bisa menahan diri. Lagipula, dia nggaklah seburuk yang kupikirkan selama ini. Terkadang dia bersikap sangat toleransi padaku, meskipun aku selalu membuat keributan di mana-mana."

__ADS_1


"Kamu harus bersyukur punya suami seperti Radit. Dia benar-benar bisa menyeimbangi sikapmu yang kekanakan ini. Apalagi kamu sudah membuatnya terlibat masalah terus menerus karena kelakuanmu yang suka buat onar di mana-mana."


"Cukup! Aku nggak mau mendengarnya lagi," cetus Widya, menutupi kedua telinganya, menolak mendengarkan ceramah panjang Ibunya. "Sudah cukup papa memuja-muja Radit di hadapanku selama ini, Mama jangan ikut-ikutan juga."


"Kamu ini dikasih tahu malah ngomel-ngomel. Mama bilang begini demi kebaikanmu juga." Ibunya menarik lepas kedua tangan Widya yang menutupi telinganya. "Jangan sampai nanti kamu menyesal kalau Radit meninggalkanmu karena kamu terus bersikap kekanakan begini."


Melengkungkan senyuman cerah, Widya menatap Ibunya dengan wajah berseri-seri.


"Dia nggak akan pernah meninggalkanku, karena Radit terlalu tergila-gila padaku."


"Ya, Mama tahu. Tapi ..." Ibunya dengan sengaja memberikan jeda panjang sebelum melanjutkan, "bukan Radit saja yang sedang tergila-gila, kamu juga sama tergila-gilanya dengannya."


"Mama salah! Aku nggak seperti itu," bantah Widya keras seraya menggelengkan kepalanya.


Melihat kesempatan melarikan diri dari pembicaraan itu, Widya langsung beranjak berdiri—atau bisa dibilang hampir terlihat meloncat dari tempat duduknya—kemudian berlari ke teras depan rumah untuk menyambut kepulangan suaminya yang sejak tadi ditunggunya.


***


Menenteng berbagai tas belanjaan di kedua sisi tubuhnya, Radit mengerang dalam hatinya saat Widya meloncat-loncat kegirangan seperti anak kecil sambil menunjuk ke arah gaun berwarna pink yang dipajang di sebuah manekin di salah satu toko baju. Nada suaranya yang memekik kegirangan menjadi tanda alarm peringatan di kepala Radit. Sepertinya dia akan membeli baju lagi, yang entah sudah ke-berapa kalinya ini, Radit sudah tidak bisa mengingatnya lagi.


Mungkin karena begitu banyaknya toko baju yang mereka masuki, Radit sudah tidak mampu lagi untuk berhitung di dalam kepalanya. Kalau ia biarkan lebih lama lagi, mungkin seluruh tubuhnya akan dipenuhi dengan bungkusan belanjaan istrinya. Karena itulah Radit menekankan tumit kakinya ke lantai dengan sekuat tenaga saat Widya hampir menyeretnya ke dalam toko baju untuk kesekian kalinya.


"Kamu ini kenapa sih? Ayo, kita ke sana!" bujuk Widya, menarik paksa lengan Radit sekuat tenaga, yang tidak berguna sama sekali sebab Radit tetap bergeming di tempatnya berdiri.

__ADS_1


Menyerah memaksa Radit pergi bersamanya, Widya membalikkan badannya untuk pergi seorang diri ke dalam toko baju itu.


"Ya, pergilah! Tapi ingat, dompetmu ada padaku," seru Radit, menghentikan Widya melanjutkan langkahnya.


Kembali berjalan ke arahnya, Widya mendesis marah padanya, "Sebenarnya apa yang kamu lakukan dengan bersikap konyol begini?"


"Harusnya aku yang berkata begitu. Sebenarnya apa yang kamu lakukan, sejak tadi menghambur-hamburkan uang di mana-mana untuk membeli baju, yang entah kapan kamu gunakan karena begitu banyaknya kamu berbelanja."


"Aku bukan hanya berbelanja untuk diriku sendiri, aku juga membelikan oleh-oleh untuk Ririn dan lainnya," balas Widya, mengacak pinggangnya.


"Begitukah?" Radit menaikkan sebelah alisnya. "Tapi aku rasa kamu membeli terlalu banyak. Lihat apa yang kamu lakukan terhadap kedua tanganku ini!" Mengangkat tas belanja di kedua tangannya, Radit menatap Widya dengan jengkel. "Lagipula, aku rasa kamu nggak memerlukan baju sebanyak ini untukmu. Pakaianmu yang ada di rumah kita sudah lebih dari cukup, nggak perlu lagi menambahnya."


"Itu menururmu, tapi menurutku nggak sebanyak itu."


"Widya?" panggil seorang lelaki di belakang Widya. "Kamu benar Widya, 'kan?"


Dalam sekejap ekspresi cemberut yang tadi menghiasi wajah Widya seketika berubah menjadi kaku. Radit tidak tahu siapa lelaki asing itu, tapi bisa dipastikan kalau keberadaan lelaki itu membuat Widya merasa tidak nyaman.


Berjalan mendekat ke samping Radit, istri mungilnya itu sekali lagi memasang topeng ramah di wajahnya sambil bergelayut mesra di lengannya. Tidak tahu mengapa, tingkahnya itu malah membuat Radit semakin tidak senang saja dengan lelaki asing berperawakan lumayan tinggi di hadapannya ini.


Siapa dia sampai membuat Widya bersikap seperti ini? Apa mungkin dia ini mantan pacar Widya? Sepertinya begitu, jika dilihat dari gerak-gerik Widya yang mencurigakan. Apalagi dia langsung mengenali suara lelaki itu, bahkan sebelum berbalik menghadapnya.


Harinya semakin suram saja. Sudah bangun kesiangan, lalu pergi menjumpai banyak teman ayah mertuanya beberapa jam lalu, sekarang bertemu secara tidak sengaja dengan mantan pacar istrinya. Semenjak kedatangannya ke kota, tidak ada satu hal pun yang berjalan lancar baginya.

__ADS_1


__ADS_2