
Suara ketukan pintu mengagetkan Widya. Terlonjak dari tempatnya berbaring, Widya menyentuh pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa pusing. Rasanya baru saja ia memejamkan matanya, tetapi jika melihat jam dinding di ruang tamu sepertinya ia sempat tertidur selama hampir satu jam. Suara ketukan di pintu mengingatkan Widya pada tamu yang telah mengganggu tidurnya yang nyaman.
"Siapa sih siang-siang begini datang. Nggak tahu apa orang lagi tidur." Dengan kasar Widya membuka pintu sambil menunjukkan ekspresi tidak senang.
"Oh! Maaf mengganggu. Ini benar rumah Nenek Aya 'kan?" tanya perempuan yang berdiri di hadapan Widya.
"Iya, benar."
"Kalau begitu, kamu cucunya?"
"Ya."
"Cantik sekali. Perkenalkan namaku Mila dan ini...," tunjuknya pada lelaki di sebelahnya. "Radit."
Lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya dengan sikap acuh tak acuh. Widya langsung tak menyukainya.
"Namaku Widya."
Mengulurkan tangannya, Mila memberi salam. "Salam kenal, ya." Melihat uluran tangannya tak disambut, Mila menarik tangannya kembali. "Astaga! Bodohnya aku." Menggosok kedua tangannya di baju, Mila menyengir. "Aku lupa kalau tanganku kotor, hehe."
Widya hanya membalas dengan tersenyum kecut.
"Ehem... kedatangan kami kesini untuk memberikan ini." Radit menyodorkan plastik hitam pada Widya. "Nenek Aya dari kemarin ingin makan buah mangga. Jadi, hari ini aku memetiknya dari kebun buah Mila."
"Hmmm...." Widya menyentuh plastik itu dengan ibu jari dan telunjuknya. "Terima kasih."
"Kalau begitu, kami permisi." Radit menyeret Mila pergi.
"Sampai jumpa lagi, Widya." Mila melambaikan tangannya pada Widya.
Menutup pintu, Widya segera melempar plastik itu ke atas meja.
__ADS_1
Sungguh cowok menyebalkan, kasar sekali sikapnya.
"Kamu ini kenapa sih, kok kasar begitu dengan Widya?"
"Bukan aku yang kasar tapi dia, La. Memangnya kamu nggak lihat apa tampang dia yang cemberut waktu buka pintu tadi? Benar-benar menjengkelkan."
"Kamu terlalu sensitif, ah. Dia cuma kesal karena kita mengganggu tidurnya."
"Belum lagi caranya menolak jabat tanganmu dan sikapnya mengambil plastik tadi. Astaga! Kasar sekali perempuan itu."
"Jangan sensian gitu dong, Dit. Memang apa salahnya menjaga kebersihan? Lagipula tanganku dan plastik itu memang kotor. Kamu sih melemparnya nggak benar. Jadinya kotor 'kan tanganku akibat memungut buahnya dari tanah. Dan aku juga sudah bilang, plastik bekas itu terlalu kucel."
"Tentu saja kucel, aku 'kan menarohnya dalam saku celanaku. Tapi, plastiknya baru kok." Radit membela diri, tak terima dituduh telah memberikan plastik bekas. "Kamu ini terlalu baik, La. Kusarankan jaga jarak dari perempuan sombong itu."
"Jangan begitu, dia baru saja datang dari kota. Dia pasti butuh teman."
"Orang sombong seperti itu, aku yakin nggak membutuhkan teman."
"Kita lihat saja nanti!"
Sore harinya..
"Wid, ini apa yang di meja?" tanya Neneknya menenteng plastik hitam dari ruang tamu.
"Oh, Itu. Tadi siang ada yang ke sini ngantar, katanya nenek mau mangga dari kemarin," jawab Widya, menoleh dari posisi telungkupnya di atas kasur kamarnya.
""Kenapa nggak kamu bersihin dan taroh dalam kulkas, Wid? Nanti busuk, 'kan sayang. Radit pasti sudah capek-capek dapatin ini untuk nenek."
"Dia siapa sih, Nek? Kelakuannya nggak nyenangin gitu."
"Anak Pak Kades. Jangan konyol, Wid. Radit anak baik, ramah pula."
__ADS_1
"Ha! Ramah apanya," dengus Widya.
Suara batuk-batuk neneknya dari dapur menyadarkan Widya kalau neneknya saat ini sedang sakit. Beranjak dari tempat tidurnya, Widya menghampiri neneknya di dapur.
"Ya ampun, Nek. Sini, biar aku aja yang cucikan. Nenek lagi sakit, jadi, istirahat saja!"
"Kebanyakkan istirahat, kepala nenek jadi pusing. Rasanya badan nenek juga jadi pegal," keluh Neneknya, berjalan menghampiri meja makan untuk duduk di sana. "Oh iya, Wid, kamu sudah makan?"
"Nggak usah mengkhawatirkan aku, Nek. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Tentu saja, nenek khawatir. Kamu 'kan nggak bisa masak, Wid."
Ucapan Neneknya menohok Widya.
"Di luar sana banyak kok yang jual makanan. Jadi, selama ada uang aku masih bisa makan kok."
"Nggak baik makan makanan luar melulu. Sebentar, nenek ingat sesuatu." Beranjak dari tempat duduknya, neneknya menghampiri telepon rumah yang ada di sudut ruang tamu.
Menekan nomor telepon seseorang dengan mantap, neneknya berbicara dengan orang menjengkelkan bernama Radit untuk meminta tolong menjaga Widya selama ia berada di sini. Menghampiri neneknya, Widya menggelengkan kepala, tanda tidak menginginkan hal itu. Namun, neneknya terus mengobrol tanpa menggubris Widya. Selesai menyampaikan permintaannya, neneknya menutup telepon dengan senyuman puas.
"Nenek, aku nggak butuh bantuan cowok nyebelin itu. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Nenek meragukannya. Jangan protes lagi, ini demi kebaikanmu."
Mengetukkan kakinya ke lantai, Widya mengamati neneknya. "Aku curiga, jangan-jangan Nenek berniat menjodohkanku dengan si Radit Nyebelin itu."
"Berhenti mencurigai nenek seperti itu. Nenek hanya ingin kamu berbaur dengan orang di sini, dan Radit sangat cocok menemani kamu berkeliling untuk mengenal desa ini lebih jauh."
"Aku nggak ingin berbaur ataupun mengenal desa ini. Aku sudah nyaman di berada di rumah saja."
"Omong kosong. Nenek tahu kamu orangnya gampang bosanan," sanggah Neneknya. "Nah, ayo kita makan mangga! Pasti rasanya enak sekali."
__ADS_1
Menggosokkan kedua tangannya, neneknya mengambil buah mangga yang sudah dicuci Widya. Di belakangnya, Widya menghela napas pasrah. Ia tidak mau berdebat lebih lama lagi dengan neneknya yang sedang sakit.