Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Mempernalukan diri sendiri


__ADS_3

Sedang asyik menonton film horor di notebooknya, Widya terlonjak kaget saat mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. Yang lebih lucunya lagi detak jantungnya semakin memacu begitu cepat ketika mendengat suara Radit memanggilnya. Sepertinya kedatangan suaminya lebih menakutkan dari semua penampakan hantu yang pernah dilihatnya di layar notebooknya.


Sungguh lucu! Semua ini akibat perbuatan Radit beberapa waktu lalu, yang melancarkan aksinya menyerang Widya begitu agresif. Karena itulah, sekarang ia gemetar ketakutan mendengarkan suara suaminya itu.


Menutup layar notebooknya, Widya meletakkan notebooknya di atas kasurnya. Lalu berjalan dengan jantung berdegup kencang ke depan pintu rumahnya. Memutar kunci rumahnya, ia langsung berlari tergesa-gesa ke dalam kamar setelah mendengarkan suara Klik dari lubang kunci.


Mungkin sekarang ini Radit akan terlihat kebingungan, melihat Widya tidak ada di balik pintu saat membuka pintu. Mengintip dari celah pintu kamarnya, ia melihat Radit berjalan mendekat dengan raut masam. Mengira kalau suaminya itu akan mendatanginya, ia terburu-buru menutup pintu kamarnya.


Merasa aneh tak mendengar suara ketukan di pintu kamarnya, Widya menempelkan telinga di daun pintu kamarnya. Dari dalam kamarnya ia mendengar ada suara guyuran air yang berasal dari arah dapurnya. Terlalu penasaran dengan apa yang dilakukan Radit di luar sana, ia membuka pintu dan berjalan menuju ke dapur. Di sana berdiri Radit yang sedang sibuk mencuci tangannya.


Selesai membasuh tangannya, Radit berbalik menghadapnya dan berseru kaget dengan kemunculannya yang begitu tiba-tiba di sana.


"Lain kali berjalanlah dengan langkah kaki yang bisa kudengar. Kamu mengagetkanku dengan pakaian putihmu itu!" Radit mengelus dadanya.


Kali ini giliran Widya yang berseru kaget saat melihat bekas luka kemerahan di punggung tangan Radit. Berjalan mendekat, diangkatnya tangan Radit yang terluka itu.


"Apa yang terjadi pada tanganmu? Kenapa bisa merah begini," pegang Widya hati-hati pada bekas goresan di punggung tangan Radit. "Apa kamu baru saja terlibat perkelahian?"


"Bukan masalah besar, aku baik-baik saja. Aku tadi nggak sengaja terjatuh saja."


"Oh, ya?" selidik Widya mengamati wajah Radit dengan curiga. "Luka ini sama sekali nggak terlihat seperti kamu habis terjatuh. Aku ini bukan orang bodoh."


"Siapa juga yang mengatakan kamu bodoh."


"Katakan yang sejujurnya, siapa yang telah membuatmu terluka seperti ini?"


"Memangnya kalau kamu tahu orangnya, kamu akan melakukan apa pada orang itu?" ujar Radit, tersenyum senang.


"Sekarang ini bukan saatnya bagimu untuk tersenyum bahagia begitu," celetuk Widya, memberengut kesal.

__ADS_1


"Dan, sekarang ini bukan saatnya mencari dalang dari luka yang ada di tanganku. Sekarang ini aku membutuhkan perawatan istriku tersayang untuk membalut lukaku ini," balas Radit, menyeringai lebar.


Menghempaskan tangan Radit dengan kesal, Widya mengacakkan pinggangnya.


"Rawat saja lukamu sendiri!"


"Ya ampun, Wid, jangan kasar begitu dong! Suamimu ini sedang terluka," ujar Radit, meringis kesakitan.


"Bukannya kamu tadi bilang kamu baik-baik saja? Kenapa cuma aku begitu 'kan saja, kamu langsung kesakitan?" cibir Widya. "Kalau kamu saja nggak ingin memberitahukan padaku penyebab lukamu itu, maka uruslah lukamu itu sendiri. Hmph!"


Membuang muka, Widya membalikkan badannya, menolak memandang Radit.


"Sikap merajukmu ini persis seperti anak kecil," ledek Radit, terkekeh geli di belakangnya.


Kembali menghadap Radit, dengan geram Widya menusukkan jarinya pada dada Radit.


"Aku bukan anak kecil, dasar kamu suami menyebalkan!"


"Percayalah, aku cuma terjatuh." Tentu saja, itu bohong! Sampai kapan pun aku tak akan mengakui luka ini kudapatkan karena mempermasalahkan fotomu. "Aku tadi nggak konsen saja saat bekerja, mungkin ini efek karena aku terlalu girang membayangkan perjalanan menggairahkan kita lusa nanti."


Berhasil! Kalimat terakhirnya itu sukses membungkam Widya untuk menyanggah ucapannya.


Menarik jarinya cepat dari genggaman Radit, Widya melirik ke sana kemari, menghindari tatapan panas dari Radit. Lirikan matanya berhenti tepat ke arah kulkas.


"Sebaiknya kamu mendinginkannya dulu agar lukamu itu nggak membengkak," ucap Widya, sibuk menyiapkan kompresan es batu untuk Radit. "Sekarang saja aku bisa melihat kalau punggung tanganmu itu sudah mulai membengkak."


Usai membungkus es batu dengan handuk kecil, Widya membawa Radit ke sofa ruang keluarga mereka dan menyuruhnya duduk diam selama ia mengompres lukanya itu.


Dahinya mengerut ketika melihat punggung tangan Radit begitu cermat. Raut kekhawatirannya tampak jelas di wajahnya saat dia begitu hati-hati mengompres luka Radit.

__ADS_1


"Aku mulai curiga, kamu mendapatkan luka ini karena ingin menghindari perjalanan kita ke kota," cetus Widya, menatap curiga pada Radit.


"Itu konyol!" elak Radit cepat. "Bagaimana mungkin aku melukai diriku sendiri karena alasan konyol, seperti yang kamu katakan barusan."


"Mana tahu 'kan. Mungkin saja kamu kehabisan akal untuk membatalkan janjimu lagi, lalu tanpa pikir panjang kamu akhirnya mengambil tindakan drastis dengan melukai dirimu sendiri." Menjentikkan jarinya, Widya menyipitkan matanya pada Radit. "Sekarang semuanya jadi jelas. Inilah penyebab kamu nggak ingin menceritakan asal mula luka mencurigakanmu ini padaku dan membual, bilang ini akibat terjatuh."


"Wah, aku benar-benar kehabisan kata-kata dengan skenario konyolmu itu," geleng Radit, terlalu terpukau dengan isi pikiran Widya mengenai dirinya.


"Tentu saja kamu kehabisan kata-kata. Kamu pasti nggak menyangka aku akan mengetahui muslihat busukmu ini," ujar Widya, bangga dengan tebakannya yang tepat sasaran. "Asal kamu tahu saja, aku bisa menyetir mobil, oh Suamiku Tersayang. Jadi, nggak ada gunanya kamu melakukan ini."


"Aku nggak tahu dari mana asal mula pemikiran konyolmu ini berasal, tapi dugaanmu salah besar."


Widya tetap memasang raut tak percaya sedikit pun mendengarkan elakan payah itu.


"Untuk apa juga aku melakukan semua ini, kalau aku saja sangat menantikan perjalanan kita ini," lanjut Radit, mengabaikan dengusan tak percaya Widya. "Kamu tahu sendiri 'kan perjalanan kita ini akan menjadi perjalanan bulan madu kita berdua. Sekadar ingin mengingatkanmu saja, oh Istriku Tersayang."


Mengerjapkan matanya, Widya terlihat sangat terkejut mendengarkan kata "Bulan Madu" dari mulut Radit. Selama beberapa saat tadi ia sangat meyakini bahwa dugaannya memang benar, tetapi diingatkan Radit tentang keinginannya tidur bersama dirinya membuat ia sadar kalau tadi ia bertindak begitu bodoh.


Kenapa aku bisa lupa soal itu? Bodoh sekali dirinya.


Tentu saja apa yang dikatakan suaminya itu benar. Untuk apa dia melukai dirinya sendiri, kalau dia saja sama dengan Widya, begitu menantikan perjalanan ini. Walaupun mereka memiliki pemikiran perihal perjalanan ini dengan sudut pandang berbeda jauh.


Tujuannya memang sama untuk bersenang-senang. Namun, arti bersenang-senang bagi Radit bertolak belakang dengan perspektif Widya.


"Selanjutnya, kamu urus sendiri saja lukamu ini. Aku mau melanjutkan tontonanku."


"Selalu saja begitu. Kabur ketika aku mulai membahas hal ini," gumam Radit. "Apa tontonanmu itu lebih penting daripada kesehatan suamimu sendiri? Padahal setiap kamu terluka aku selalu ada untuk merawatmu, tapi di saat aku terluka seperti ini kamu malah...."


Sindiran menohok itu berhasil menghentikan Widya melangkah pergi meninggalkan Radit. Mengerang dalam hati, ia kembali ke tempat duduknya tadi dan membantu Radit mengobati lukanya.

__ADS_1


Senyum kemenangan melengkung begitu lebar di wajah Radit saat dia menatap Widya.


__ADS_2