Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Situasi Canggung


__ADS_3

Sibuk memanggang kue kering di dapur, Bu Gina diberitahu jika menantunya, Radit, telah datang berkunjung. Mengelap kedua tangannya di celemek yang dikenakannya, ia dengan cepat melepas celemeknya dan bergegas menemui menantunya yang sedang menunggu di ruang tamu.


Tiba di ruang tamu, Bu Gina sangat berharap kalau di sana ia akan menemukan anak perempuannya, Widya. Akan tetapi, mengingat kondisi anaknya itu, rasanya mustahil dia akan datang bersama suaminya ke sini.


Beranjak dari tempat duduknya, Radit memberikan salam padanya sekaligus meminta maaf tidak bisa membawa Widya bersamanya kemari. Mungkin menantunya itu melihat ekspresi kekecewaan dari wajahnya ketika menyambutnya tadi.


Mempersilakan menantunya agar duduk kembali, Bu Gina mengulas senyuman ramah padanya. "Tidak perlu minta maaf, Dit. Mama tahu kok kamu pasti nggak mengizinkan Widya ikut bersamamu karena kondisinya yang sedang sakit. Kedatanganmu ke sini saja sudah membuat mama sangat berterima kasih dan juga senang."


Melipat kedua tangannya di pangkuan, Radit bergerak-gerak gelisah di tempat duduknya. "Aku tahu kalau Tan... Ehem... Mama pasti sangat merindukan Widya, tapi saat ini dia harus banyak istirahat agar kakinya cepat pulih seperti sedia kala."


"Iya, Mama mengerti. Tidak perlu terlalu tegang begitu, Dit. Kita ini sudah menjadi keluarga, jadi anggap saja mama ini seperti Ibumu sendiri," senyum Bu Gina lembut. "Omong-omong, ada keperluan apa kamu ke kota, Dit?"


Melemaskan otot tubuhnya yang tegang, Radit akhirnya merasa rileks sedikit oleh keramahan Bu Gina padanya. "Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan dengan para pembeli disini, makanya aku sekalian mampir ke sini sebentar."


"Oh begitu," ujar Bu Gina, mendengarkan dengan serius.


Tiba-tiba saja Bu Gina menepuk kedua tangannya dan bangkit berdiri dari sofa. Tersentak kaget oleh suara tepukan itu, Radit mengerjapkan mata kebingungan melihat mata Bu Gina berbinar-binar menatapnya.


"Mama baru ingat. Rencananya hari ini mama mau mengirim kue kering buatan mama untuk Widya lewat sopir kami, Pak Harun, tapi berhubung kamu datang ke sini lebih baik mama menitipkannya padamu saja Kamu tidak keberatan 'kan, Dit, menunggu sebentar di sini sementara mama ke belakang mengambil kue kering yang sudah hampir selesai?" tanyanya, bersiap kembali ke dapur.


"Aku nggak keberatan kok, Ma. Santai saja, nggak perlu terburu-buru," kata Radit, meninggikan sedikit suaranya agar didengar oleh Bu Gina yang sudah berjalan ke dapur.


Radit sangat bersyukur ia tadi memutuskan untuk singgah sebentar kemari. Setidaknya saat ia pulang nanti, Widya akan sangat senang mendapati ia telah membawa oleh-oleh dari Ibunya.

__ADS_1


°°


Mengganti saluran televisi berulang-ulang, Widya merasa bosan ketika tak ada lagi yang datang berkunjung setelah neneknya pergi beberapa waktu lalu. Andai saja kakinya sudah sembuh pasti ia akan keluar rumah mencari kegiatan yang bisa dilakukannya. Walaupun ia tidak bisa memikirkan kegiatan seperti apa yang akan dilakukannya di luar sana dengan keadaan seperti ini. Mematikan televisi, ia berbaring telentang memandang hampa pada langit-langit rumahnya.


Apa yang harus kulakukan demi mengisi waktu luangku yang sangat membosankan ini? Kembali tidur hanya akan membuat kepalaku pusing.


Sebuah ketukan pelan terdengar dari pintu rumahnya. Melirik jam dinding, Widya segera bangkit dari tempatnya berbaring. Itu pasti Ririn yang sudah pulang dari sekolahnya. Akhirnya dia datang juga.


Meladeni kecerewetan adik iparnya itu lebih baik daripada berdiam diri seperti sekarang. Membuka pintu, Widya memandang terkejut melihat Mila membalikkan badan bersiap pergi dari rumahnya.


Mendengar suara bukaan pintu, Mila menoleh dari balik bahunya. Dia terlihat sama terkejutnya seperti Widya. Tersenyum ragu, Mila melambaikan tangan padanya.


"Hai, Wid. Lama nggak jumpa," ucapnya canggung.


"Kamu benar juga," cengir Mila.


Membalikkan badannya, Widya menyuruh Mila masuk dan menyuruhnya menunggu di sofa ruang tamu, selagi ia mengambil minuman dari dapur.


Mencegahnya ke dapur, Mila menyentuh tangannya. "Nggak usah repot, Wid. Aku cuma mampir sebentar."


"Meskipun cuma sebentar, akan terasa nggak sopan jika aku nggak menyuguhkan minuman bagi seorang tamu yang datang berkunjung."


Menuntunnya pelan agar duduk di sofa, Mila tersenyum. "Biar aku saja yang mengambilkan minuman untuk kita berdua. Kamu cukup duduk manis saja di sini."

__ADS_1


Sebelum ia melontarkan protes dari mulutnya, Mila sudah berjalan cepat ke arah dapur. Menghela napas pasrah, ia membiarkan Mila melakukan hal sama, seperti yang neneknya lakukan tadi saat datang menjenguknya. Rasanya begitu konyol membiarkan seorang tamu menyediakan minuman untuk diri mereka sendiri.


Kembali dari dapur, Mila meletakkan nampan berisi sebotol orange juice dari kulkas serta beberapa cemilan dari dalam lemari dapurnya.


"Enak juga punya tamu yang memahami selera tuan rumahnya," canda Widya, mengamati hidangan yang ada di hadapannya.


Tawa kecil meluncur dari mulut Mila mendengar candaannya itu. "Aku merasa terhormat bisa melayani Anda, Tuan Putri," ujar Mila, berpose layaknya pelayan bangsawan.


Mereka berdua tertawa bersama oleh candaan konyol itu. Duduk di sebelahnya, Mila beringsut gelisah saat tawa mereka berdua telah berhenti. Kelihatan sekali temannya ini bingung harus memulai pembicaraan dari mana dulu. Membantunya agar sedikit rileks, Widya akhirnya memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Aku lihat kamu nggak datang ke resepsi pernikahanku." Tubuh Mila seketika berubah menjadi lebih kaku dari sebelumnya. "Jangan merasa bersalah begitu. Aku tahu kamu melakukan itu karena belum siap melihat Radit menikah dengan cewek lain, apalagi orang itu aku," katanya terus terang.


Memilin tangannya yang ada di pangkuan, Mila tak berani menatap matanya. "Aku harap sikapku itu nggak menyakitimu." Mendongak menatapnya, Mila memasang raut wajah sedih. "Tapi kamu tenang saja, aku sudah membuang jauh-jauh perasaanku kepada Radit. Makanya, hari ini aku memberanikan diri menemuimu untuk mengatakan hal ini langsung padamu."


Mila meraih tangannya dan mencengkramnya begitu kuat.


Menepuk pelan tangan Mila demi menenangkannya, Widya tersenyum lembut. "Nggak perlu merasa bersalah begitu, Mil. Aku sangat mengetahui sedalam apa perasaanmu pada Radit, jadi, rasanya mustahil sekali kamu sudah melupakannya secepat ini."


Melepaskan cengkramannya dari tangan Widya, Mila menunduk menatap tangan di pangkuannya lagi.


"Tenang saja, Mil, aku nggak akan memarahimu karena masih menyukai Radit Yah, selama kamu bisa menjamin perasaanmu itu nggak akan mengganggu keharmonisan rumah tangga kami sih. Misalnya, menggoda Radit tanpa sepengetahuanku," ujarnya, bermaksud bercanda.


Sayang sekali, candaannya itu malah membuat Mila menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Astaga, Mil, aku hanya bercanda. Aku tahu kok kamu nggak akan melakukan hal sekeji itu terhadapku. "Widya menepuk-nepuk punggung Mila, mencoba menghentikan isak tangisnya.


__ADS_2