
Baru saja membuka pintu, Ririn langsung menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Dia berlari cepat ke arah Widya yang duduk di atas ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Meloncat ke atas kasur, Ririn memeluk Widya seraya bergumam tak jelas.
Berjalan mendekat, Radit berdiri di pinggir ranjang dan meminta adiknya itu agar menenangkan dirinya. Jika dia terus bergumam tak jelas seperti itu, ia dan Widya tidak akan mengerti apa penyebab kepanikannya sehingga menimbulkan kegaduhan di malam hari seperti ini.
Widya berusaha menenangkan Ririn dengan menepuk-nepuk punggungnya sambil bergumam lembut di sisinya. Perlahan adiknya itu mengangkat kepalanya, lalu memandang secara bergantian pada Widya dan Radit. Sadar kalau dia sudah aman, Ririn akhirnya menceritakan apa yang terjadi padanya.
Betapa kesalnya Radit saat mengetahui sumber ketakutan Ririn disebabkan oleh seekor laba-laba tidak penting, jatuh menimpanya di atas kasur. Ya, ia tahu selama ini adiknya itu sangat takut sekali dengan laba-laba, tetapi perasaan terganggu dihentikan lagi dari malam pertamanya bersama Widya membuat Radit tidak bisa merasakan iba pada adiknya itu.
Mungkin dirinya sudah dibutakan oleh hawa nafsu yang begitu besar pada Widya, sehingga ia begitu ingin menjauhkan adiknya itu dari sisi Widya. Kedua tangannya begitu gatal ingin menguncang-guncang tubuh adiknya itu. Betapa ia merasa begitu hina terhadap isi pikirannya yang kejam itu.
Seharusnya ia ikut menenangkan adiknya itu juga, seperti Widya, bukannya malah kesal begini. Dorongan untuk membenturkan kepalanya di dinding, sungguh begitu menggodanya. Radit merasa sangat bersalah pada Ayahnya, yang sudah mempercayakan Ririn padanya.
"Biarkan aku tidur di sini," mohon Ririn, menatap memelas padanya. "Atau Bang Radit saja yang tidur di sana. Jadi aku bisa tidur berdua bersama Kak Widya di sini malam ini."
Terperangah mendengarkan saran itu, Radit hanya bisa melongo menatap wajah tak berdosa adiknya itu. Bagaimana bisa dia menyarankan hal sekonyol itu padanya? Memangnya dia pikir apa yang sedang dilakukannya, mengusir Radit dari kamarnya sendiri seenak jidat seperti itu.
"Jangan konyol, Rin, kamu nggak perlu melakukan itu," jawab Radit datar, bersikap setenang mungkin. "Abang bisa membuang laba-laba itu dari kamar itu, lalu kamu bisa kembali ke kamarmu lagi."
"Masalahnya ini sekarang bukan terletak pada laba-laba sialan itu harus dibuang atau nggak," protes Ririn, menggerak-gerakkan tangannya dengan gelisah. "Aku rasa aku akan bermimpi buruk kalau kembali tidur di sana. Meskipun laba-laba sialan itu sudah nggak ada di sana."
"Ya sudah begini saja, kamu bisa tidur di sini seorang diri. Lalu aku dan Widya bisa tidur di kamar sebelah."
"Ayolah, Bang, jangan pelit begitu! Hanya malam ini saja." rengek Ririn, menarik-narik ujung bajunya. "Memang apa susahnya sih pisah satu malam aja dari Kak Widya? 'Kan besok kalian bisa tidur bersama lagi. Nggak usah manja gitu lah, Bang."
Radit tarik kembali perkataannya tadi. Adiknya ini memang pantas diguncang tubuhnya. Sepertinya dia perlu disadarkan dari permohonan konyolnya ini. Gampang sekali dia mengatakan hal itu pada Radit? Dia pikir Radit mau menghilangkan lagi kesempatannya mendapatkan Widya di atas ranjangnya.
Apa dia tidak tahu betapa kerasnya usaha yang ia kerahkan demi mendapatkan Widya diatas tempat tidurnya. Apa tadi, hanya malam ini saja? Tidak ada kata yang lebih memuakkan dari perkataan itu.
"Berhenti melihatku seolah Bang Radit ingin mencekikku sekarang ini juga," ujar Ririn, menatap was-was ke kedua tangannya.
"Radit?" panggil Widya hati-hati, "Aku rasa permintaan Ririn bukanlah hal yang sulit untuk dikabulkan. Lagipula dia cuma malam ini saja tidur bersamaku."
Layaknya sebuah tamparan dilayangkan tepat di pipinya, Radit terlihat begitu terpukul saat Widya menyetujui permintaan Ririn itu tanpa berpikir panjang. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu setelah apa yang baru saja mereka lakukan. Apa dia gila? Ingin rasanya Radit menyemburkan kalimat itu pada istrinya yang tidak peka dan tega ini.
"Nah lihat, Kak Widya saja nggak keberatan. Jadi kenapa Bang Radit nggak segera pergi dari sini dan membiarkan kami tidur dengan tenang," saran Ririn, memberi isyarat agar Radit segera keluar dari kamarnya sendiri.
"Ririn, berhenti memprovokasi Abangmu! Apa kamu nggak lihat dia sedang kesal?" bisik Widya, melirik sekilas pada Radit. "Tutup mulutmu atau aku akan meninggalkanmu seorang diri di sini."
Takut oleh ancaman itu, Ririn menuruti perintah Widya sambil memegang lengannya begitu erat. Takut sewaktu-waktu Widya akan meninggalkan sisinya.
__ADS_1
"Radit, aku mohon kali ini saja," bujuk Widya.
Selama sesaat Radit hanya menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali. Kemudian setelah beberapa menit dia meninggalkan kamar itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada mereka berdua.
***
Sudah beberapa hari berlalu semenjak peristiwa menegangkan malam itu. Awalnya Widya mengira Radit akan marah padanya, karena tidak memihak padanya saat itu. Namun nyatanya, dia sama sekali tidak kesal padanya. Bahkan pagi hari setelah kejadian itu, dia bersikap seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda kalau dia merajuk.
Tetapi anehnya, Widya merasa kalau suaminya itu sedang marah besar padanya. Kenapa dia berpikir begini? Sebab sejak malam itu, Radit tidak pernah lagi menyentuhnya! Dia selalu saja bersikap menjaga jarak darinya. Tidak ada lagi serangan-serangan menggoda yang dia lancarkan pada Widya. Bukannya ia mengharapkan hal itu, hanya saja ini bukan seperti sikap suaminya yang biasanya.
Padahal sekarang di rumah mereka tidak ada lagi yang mengganggu, Ririn sudah kembali ke rumahnya bersama Ayahnya. Tetapi, kenapa Radit bersikap sedingin ini padanya? Ke mana perginya suaminya yang hangat dan suka menggoda itu? Apa dia sengaja melakukan hal ini untuk membalas dendam padanya? Kekanakan sekali, merajuk karena hal sepele seperti itu.
Setelah merasakan sentuhannya malam itu, rasanya setiap malam terasa begitu hampa saat Radit tidur membelakanginya. Rasanya sekarang seperti Widya yang begitu mengharapkan sentuhan suaminya itu.
Apa dia sengaja melakukan hal itu agar Widya mendekatinya terlebih dahulu? Kalau itu benar, betapa konyolnya ide suaminya itu. Bagaimana mungkin dia mengharapkan Widya menggodanya terlebih dahulu? Ia tidak begitu pengalaman dalam hal ini.
Sudahlah, biarkan saja pria pemerajuan itu menunggunya. Sampai kapan pun Widya tidak akan pernah mendekatinya terlebih dahulu. Biarlah dia bermimpi menanti Widya bersikap tidak tahu malu dengan cara menggodanya. Membayangkan dirinya seperti itu saja sudah membuat ia menjadi malu setengah mati. Apa lagi melakukannya secara nyata, tentu saja itu mustahil.
"Sampai kapan kamu membersihkan tempat itu terus? Pindahlah ke tempat lain," tegur Radit.
Saat itulah Widya sadar dari lamunan panjangnya. Ia baru ingat kalau sekarang ini mereka sedang berada di rumah buku. Siang tadi Pak Benny, Kepala Desa Manju, yang juga merupakan ayah mertuanya, mengumumkan jika mereka akan melakukan gotong-royong di seluruh desa.
Kenapa dari semua orang yang ada ia harus dipasangkan dengan Radit, suaminya sendiri? Apa mereka tidak tahu kalau ia sedang ingin sendiri, tanpa ditemani suaminya itu. Apalagi sebelum mereka masuk ke dalam rumah buku ini tadi, semua warga menggoda mereka habis-habisan.
"Jangan aneh-aneh lho ya, kita ini sedang bersih-bersih."
"Tahan dulu mesra-mesraannya, jangan sampai terbawa suasana."
"Buka pintunya yang lebar-lebar! Kalau kalian tutup nanti kayak yang dulu-dulu lagi."
Sungguh menjengkelkan kalau mengingat seruan-seruan para warga tidak tahu malu itu. Memangnya mereka pikir, siapa yang menempatkan Widya dan Radit bersama di sini? Itu mereka sendiri, bukan? Widya maupun Radit tidak pernah mengajukan saran itu sama sekali.
Ah, sial! Mengingatnya saja aku jadi tambah kesal.
Menepuk-nepuk buku di rak dengan kuat, Widya terbatuk-batuk saat debu beterbangan ke arah wajahnya.
"Ya ampun, Wid, kamu ini kenapa sih dari tadi nggak ada satu hal pun yang bisa kamu kerjakan dengan benar," ujar Radit, perlahan berjalan mendekatinya.
"Aku tahu. Nggak usah ngomel-ngomel terus padaku, telingaku sakit mendengarkan omelanmu itu," ketus Widya, memberengut kesal sembari menepuk pelan debu yang ada di atas buku.
__ADS_1
Radit menghampiri tempat yang tadi dibersihkan oleh Widya, jemarinya mencolek debu yang masih tertinggal di atas buku itu.
"Lihatlah kemari!" tariknya pada lengan Widya, lalu menggenggam jemarinya untuk mencolek debu yang ada di sana. "Kamu kurang teliti membersihkannya. Lihat saja, debu yang masih tertinggal ini buktinya."
Hembusan napasnya terasa begitu dingin di belakang leher Widya hingga ia bergidik dan kembali teringat pada saat mereka di dalam selimut beberapa hari lalu. Bayangan sepintas itu sontak saja menimbulkan rasa panas di wajahnya.
Apa yang kamu pikirkan? Hapus ingatan itu dari kepalamu! Kenapa dari semua hal yang ada, kamu harus mengingat hal itu. Dasar kamu otak mesum!
"Apa kamu mendengarkanku?" toleh Radit menatap wajah Widya dari sisi wajahnya. "Kenapa wajahmu jadi memerah begini? Apa kamu sakit?"
Menyentuhkan telapak tangannya di dahi Widya untuk mengecek suhu tubuhnya, Radit membandingkannya dengan suhu tubuhnya.
Tidak merasa nyaman dengan kedekatan itu, Widya menepis tangan Radit dari dahinya. Ia mencoba melepaskan diri dari tubuh besar Radit yang memerangkapnya dari belakang.
"Aku baik-baik saja. Sekarang menjauhlah dariku!"
"Jangan melawan begitu, biarkan aku memeriksa kondisimu dulu," tolaknya, tetap gigih mempertahankan posisi mereka.
"Tapi kamu nggak perlu sedekat ini!" seru Widya ketus.
"Apa salahnya kita sedekat ini? Aku 'kan hanya mengecek suhu tubuhmu, bukannya melakukan hal yang aneh," sahutnya, semakin mengeratkan pelukannya dari belakang. "Aku curiga kalau saat ini kamu sedang membayangkan hal-hal mesum di kepalamu itu."
"Aku nggak seperti itu, dasar kamu sok tahu!" Widya menyikut kuat sisi perut Radit.
Upayanya kali ini berhasil, Radit tersentak mundur sembari berteriak kesakitan di belakangnya.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kenapa kamu malah menyikutku?" ujar Radit kesal, menyentuh sisi perutnya.
"Salahmu sendiri. Aku 'kan sudah bilang menjauh dariku," gumam Widya, agak merasa bersalah sudah menyakiti Radit.
Maju selangkah, Radit menutup jarak di antara mereka berdua. Di lorong sempit antara rak buku itu, Radit memojokkan Widya hingga ia merasakan pinggiran rak buku di belakang punggungnya. Panik mendapati dirinya terperangkap di antara rak dan tubuh besar Radit, ia hanya bisa mendongak memandang wajah serius suaminya.
Dari tatapan matanya, Widya bisa melihat kalau suaminya itu berniat menciumnya. Kenapa dari semua tempat yang ada dia harus melakukan hal itu di sini? Bagaimana kalau nanti ada yang melihat mereka berdua? Meskipun begitu, otak dan tubuhnya memberikan respons yang bertolak belakang. Widya malah memejamkan matanya, menunggu ciuman dari Radit antusias, seakan-akan sudah menantikan hal itu sejak tadi.
"Aku harap aku nggak mengganggu kalian berdua," ucap sebuah suara, yang berasal dari seorang lelaki dewasa.
Oh, Tuhan, jangan lagi!
Menolehkan kepalanya, Widya mengerang dalam hati saat melihat Gilang berdiri di ujung lorong itu. Dia tersenyum canggung pada mereka berdua. Ternyata bukan Widya saja yang merasa malu, Gilang juga sama malunya dengan dirinya. Kecuali, satu orang yang tidak merasa malu sedikit pun terhadap situasi itu. Siapa lagi kalau bukan Radit, suaminya yang bermuka tembok.
__ADS_1
Seolah tidak terganggu dengan gangguan itu, dia tetap menyandarkan tangannya dengan santai di kedua sisi Widya. Tidak terlihat ingin segera pergi dari hadapannya.