Kebencian Yang Berujung Pernikahan

Kebencian Yang Berujung Pernikahan
Situasi Mendukung


__ADS_3

Duduk bersebelahan bersama Radit, yang memandangnya begitu intens, membuat Widya sulit untuk menelan makanannya. Menyandarkan kepalanya dengan santai dengan menumpukan tangannya di meja, Radit melengkungkan senyuman menawan pada Widya.


Setelah kejadian menghebohkan tadi, sekarang ia duduk di meja makannya melahap pizza yang dibawa pulang oleh Radit dari perjalanannya tadi. Widya tidak menduga kalau candaannya menyuruh Radit membawakannya sekotak pizza akan diturutinya.


Kini suara hujan di luar tidaklah sederas tadi, bahkan kilatan petir pun kini tak terdengar lagi olehnya. Tetapi sayangnya, listrik rumahnya belum juga menyala sejak tadi. Diterangi cahaya lilin yang berpendar melingkupi mereka, Widya merasa keadaan remang-remang dan hawa dingin yang berhembus dari luar membuat suasana rumahnya menjadi sangat romantis sekaligus menakutkan.


Bukan perasaan takut akan sesuatu yang menyeramkan, seperti akan adanya sesosok bayangan mengerikan yang akan keluar dari sudut-sudut rumahnya, melainkan perasaan kalut kalau Radit akan menerkamnya seperti seorang serigala yang kelaparan. Widya menduga, kalau ia lengah sedikit saja, Radit akan mengambil kesempatan darinya. Sungguh pemikiran konyol terhadap suamimu sendiri. Siapa pun akan tertawa jika mendengar penyebab ketakutannya ini.


Widya ingat! Dia ini suamimu, bukan pria asing yang baru saja kamu temui beberapa jam yang lalu. Lucu sekali kamu takut terhadap suami yang selalu melindungimu ini.


Widya tidak tahu sudah berapa kali ia mengucapkan hal itu pada dirinya sendiri. Ia berpikir kalau omelannya pada dirinya sendiri akan menghilangkan rasa kegugupan serta ketakutannya dipandang oleh Radit seperti ini.


"Kamu yakin nggak ingin memakannya juga?" tawar Widya, pura-pura bersikap tenang.


"Aku yakin," jawabnya singkat, tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Widya.


"Memangnya kamu nggak lapar? Oh, aku tahu! Kamu pasti sudah makan di luar sana tadi, kan? Makanya sekarang kamu nggak minat dengan pizza ini," tukas Widya, menatap penuh selidik pada Radit. "Ya sudah kalau kamu nggak mau, aku bisa menghabiskannya seorang diri. Kebetulan sekali aku masih lapar."


"Aku memang lapar, tapi...." Radit sengaja memberi jeda pada ucapannya, "rasa laparku nggak ada hubungannya dengan makanan. Ada hal lain yang menarik minatku."


Sambil mengatakan hal itu, tatapannya beralih ke bibir Widya dengan raut wajah penuh minat. Diperhatikannya baik-baik mulut Widya yang bergerak menikmati sepotong pizza di tangannya.


Menelan ludah dengan gugup, Widya bersikap seolah-olah tak menyadari maksud dari ucapan Radit padanya itu. Dengan sengaja ia mengalihkan pembicaraan ke topik yang akan membuat Radit hilang minat untuk melahap dirinya.


"Aku dengar kamu bertengkar dengan Gilang," ujar Widya, tertawa kecil. "Ya ampun, Dit, aku nggak menyangka kamu akan benar-benar bertengkar dengan Gilang karena memperebutkanku. Pantas saja kamu nggak mau mengatakan padaku penyebab dari luka di punggung tanganmu itu."


Melirik sekilas pada tangan Radit yang terluka, Widya tersenyum meledek pada Radit, yang memberengut kesal.

__ADS_1


"Pasti Mila yang menceritakan hal ini padamu," ujarnya, menatap curiga. "Kami nggak bertengkar karena kamu, aku cuma... pokoknya ada lah, kamu nggak perlu tahu. Perkelahian kami nggak ada sangkut pautnya denganmu, Gilang hanya memancing emosiku saja."


"Ya, memancing emosimu. Dia memancing emosimu dengan menyimpan fotoku, bukankah begitu, Suamiku?" ledek Widya, tergelak menahan tawanya.


Seketika mata Radit membulat besar, terkejut Widya mengetahui hal itu.


"Nggak usah kaget begitu, aku tahu semuanya. Suamiku yang malang, segitu sakit hatinya kah melihat foto istrinya di HP orang lain," tepuk Widya lembut di punggung tangan Radit yang terluka. "Nggak ada gunanya kamu mengelak, akui saja kalau kamu cemburu."


Jengkel dengan ledekan Widya yang tiada habisnya mengolok-oloknya, Radit menutup tangan Widya yang berada di atas tangannya dengan tangannya yang lain sembari meremasnya lembut. Kaget oleh remasan itu, Widya membelalak pada tangannya yang digenggam oleh Radit.


Alarm peringatan berbunyi nyaring di kepalanya saat Radit menatapnya dengan tatapan yang sangat menggelisahkan. Sebelum ia memikirkan cara melarikan diri dari situasi itu, Radit mengucapkan sesuatu yang sudah diduganya akan membuatnya ketakutan.


"Baguslah kalau kamu tahu, aku juga sudah muak dengan situasi kita ini," ujarnya, tersenyum manis pada Widya. "Apa kamu juga tahu, Istriku sayang? Gilang meremehkan pernikahan kita, dia merasa kalau masih ada peluang baginya untuk memilikimu."


"Berani sekali dia," ucap Widya gugup, ia berusaha terdengar marah. "Kamu tenang saja, aku akan mengatakan padanya sendiri kalau aku nggak ada minat sama sekali padanya."


Mencoba meloloskan diri dengan beranjak berdiri, Radit menahannya dengan menariknya untuk duduk kembali. Dia menggeleng dengan senyuman masih melekat di bibirnya.


Widya sangat tidak menyukai kata-kata itu, rasanya setelah ini Radit akan mengucapkan sesuatu yang akan membuatnya semakin merasa takut saja.


"Alangkah baiknya kalau kita segera memiliki seorang anak," lanjutnya riang, menurunkan tatapannya ke perut Widya. "Apa kamu nggak merasa, kalau sekarang ini sudah saatnya kita melangkah lebih maju lagi dalam pernikahan ini. Dengan begitu semua orang akan sadar kalau kamu sudah menjadi milikku seutuhnya, bukankah begitu, Sayang? Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang kalau aku ini sungguh malang, hmm?"


Telapak tangan Widya langsung berkeringat usai Radit menyelesaikan perkataannya itu. Sudut bibirnya berkedut, mencoba untuk tersenyum, yang sayangnya tidak berhasil dilakukannya. Tiba-tiba tubuhnya menggigil, yang tentu saja dirasakan oleh Radit juga.


"Apa kamu kedinginan? Sungguh pas sekali, aku siap untuk menghangatkanmu," lirih Radit, mengelus punggung tangan Widya dengan sensual.


"Aku nggak kedinginan!" seru Widya panik.

__ADS_1


Menggelengkan kepalanya, Radit menatap tak percaya pada Widya. "Jangan bohong. Aku bisa merasakan kalau kalau sekarang ini tubuhmu sedang gemetaran. Jangan takut begitu, aku cuma ingin menghangatkanmu saja. Kebetulan sekali aku juga butuh kehangatan darimu."


"Kalau kamu bisa merasakannya, tentunya kamu juga pasti menyadari kalau gemetar tubuhku ini nggak ada hubungannya dengan udara dingin," balas Widya, semakin merasa gugup setiap ucapan yang dilontarkan Radit padanya.


Sebelum Radit sempat mengucapkan sesuatu untuk membalas perkataan Widya, lampu rumah mereka tiba-tiba menyala. Kaget oleh kejutan itu, Radit menengandah menatap langit-langit rumahnya. Melihat ada kesempatan untuk melarikan diri dari cengkraman Radit, yang perhatiannya teralihkan oleh cahaya lampu, Widya dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman Radit.


Tanpa menoleh ke belakang, ia berseru pada Radit kalau sekarang sudah waktunya bagi mereka berdua untuk tidur. Mengunci pintu kamarnya, Widya bersandar di pintu kamarnya dengan jantung berdegup kencang.


"Kamu belum membersihkan meja makan, Wid!" teriak Radit, mengingatkan Widya pada tumpukan sisa makanan yang ditinggalkannya.


Menunduk menatap tangannya yang kotor akibat memegang pizza tadi, Widya menghembuskan napas gemetar. Sial! Ia lupa untuk mencuci tangannya. Mengedarkan pandangannya pada sekeliling kamarnya, Widya berharap akan menemukan tisu untuk mengelap tangannya. Sayangnya, ia tidak menemukan satu tisu pun di dalam kamarnya.


"Keluarlah dari kamarmu dan bersihkan tanganmu itu. Kamu nggak mungkin 'kan tidur dalam keadaan tangan kotor begitu?" Radit mengetuk pintu kamarnya. "Tenang saja, aku nggak akan menyerangmu. Masih ada hari esok."


Suaranya yang terdengar geli di balik pintu kamarnya, membuat Widya menjadi kesal. Kali ini perasaan gugup dan takutnya sudah menguap entah ke mana.


"Berhentilah mengucapkan sesuatu yang menakutiku!" sahut Widya ketus.


"Aku nggak berusaha menakutimu. Aku menyampaikan sebuah fakta, Sayangku."


"Jangan memanggilku seperti itu! Kamu membuatku semakin gugup saja dengan memanggilku semesra itu."


"Lalu kamu mau mau dipanggil apa, si Putri Bawel, begitu?" cetus Radit, kali ini dia yang jengkel oleh sikap Widya. "Keluarlah, jangan bersembunyi seperti pecundang begitu. Kalau kamu takut dengan kehadiranku, aku akan masuk ke dalam kamarku supaya kamu merasa nyaman."


Menempelkan telinganya di pintu kamarnya, Widya ingin memastikan kalau Radit menepati ucapannya itu. Terdengar suara deritan pintu di samping kamarnya. Sepertinya Radit tidak berbohong padanya, dia memang masuk ke dalam kamarnya agar Widya mau keluar dari persembunyiannya.


Membuka pintu kamarnya perlahan, Widya lega tidak menemukan keberadaan Radit di luar sana. Kemudian ia pun berjalan ke arah dapur untuk membereskan kekacauan di meja makannya.

__ADS_1


"Sampai jumpa besok, Sayangku!" seru Radit, membuka pintu kamarnya secara mengejutkan di belakangnya.


Terhuyung lunglai ke samping, Widya menyandarkan tangannya di meja kecil agar dirinya tidak terjatuh karena sangat kaget mendengar suara Radit. Melihat kekagetannya itu, sepertinya telah membangkitkan rasa humor di dalam diri suaminya itu. Dia tertawa terbahak-bahak di dalam kamarnya, senang telah mengejutkan Widya untuk kesekian kalinya.


__ADS_2